๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Nial saat ini mengenakan kaos lengan panjang warna biru dan celana panjang hitam.
Kenapa ya aku malah berpikiran yang aneh-aneh mentang-mentang dia pakai baju tertutup?
Aku duduk di sebelahnya –masih dalam jarak yang cukup jauh, sepenuhnya aku nggak lagi konsentrasi pada filmnya. Aku meringkuk di sisi yang bersebrangan dan menyandarkan badanku di lengan sofa, sesekali mengintip ke samping. Kami sudah berada di setengah film.
Dengan menopang kepalanya dengan tangan yang bertumpu di lengan sofa, Nial kelihatan bosan; padahal filmnya penuh dengan adegan kejar-kejaran dan tembak-tembakan yang seru.
Tuhan... kenapa dia keren sekali? Padahal cuma segitu saja!
“Kamu ngantuk?” aku menegurnya, alih-alih terus memandanginya sampai ngiler.
Dia menoleh padaku dan kalau gerak-geriknya itu adalah sebuah adegan di film, aku akan memencet tombol ‘pause’ berkali-kali.
Aku benci diriku yang plin-plan. Kadang aku benci, tapi kalau sedang suka-sukanya begini, aku bisa lupa diri kalau dia ibarat perhiasan di Cartier.
Kalau tiba-tiba aku mendekat, dia pasti akan menjauh dan bilang ‘Jangan dekat-dekat! Aku alergi sama cewek bodoh!’
“Kamu... sama sekali nggak punya baju selain bajunya Wanda?” dia bertanya; nggak lagi menoleh padaku. Sambil memperbaiki posisi duduknya, dia menghadap layar TV lagi.
“Kenapa?” balasku.
Aku punya firasat buruk bahwa dia akan mencelaku.
“Celananya terlalu pendek. Itu nggak cocok buat kamu,” katanya.
Baru saja aku merasa berdebar karenanya dia mulai lagi dengan satu keluhan baru lainnya. Aku kira dia sudah nggak punya bahan untuk menyindirku tapi ternyata cara berpakaianku juga bisa menjadi masalah sekarang.
“Makasih!” tandasku. “Tapi, aku memang nggak punya baju yang lain. Maaf kalau kamu kecewa.”
Nial bangkit dari sofa dan nggak lagi setenang tadi. “Paling nggak kalau kamu duduk, jangan suka angkat-angkat kaki,” katanya dengan gusar.
“Aku pikir penyakit tukang ngatur kamu udah sembuh!” balasku.
Nial tampak ingin mengumpat. “Kamu sadar nggak sih kamu nggak bisa pamer kaki seenak jidat di depanku?!” balasnya. “Aku ini laki-laki!”
Aku langsung dapat poinnya dan tiba-tiba merasa malu –ingin kabur, tapi di saat yang sama aku menyadari bahwa dia...mungkin punya minat terhadapku? Nggak tahu aku harus sedih atau malah senang.
Di dalam hatinya, pasti dia mengataiku bodoh lagi.
Memang.
Sekarang aku mengerti alasan kenapa dia lebih suka mengurung diri di ruang rahasia miliknya. Aku membuatnya nggak nyaman karena sliweran dengan celana pendek. Suasana tiba-tiba kikuk saat Nial membuang pandang dariku saat bicara. Kami baru saja membicarakan hal yang memalukan.
Aku harus keluar dari rasa canggung ini!
“Kenapa kalau Wanda yang pakai kamu biasa aja?”
“Kamu memang bodoh ya...,” dia bergumam.
Aku ingat mereka bisa dengan santai duduk di sofa dan saling menghujat seolah keseksian Wanda sama sekali nggak mengganggunya.
“Kamu bukan Wanda!” teriaknya. “Mau dia nggak pakai baju juga aku nggak akan terpengaruh!”
Kenapa dia harus bilang begitu padaku seolah-olah aku adalah kebalikannya?
Pertama kali aku mengenal dua orang ini –Wanda dan Nial, aku benar-benar mengira kalau mereka punya hubungan spesial. Dengan penuh rasa ingin tahu, aku sering memperhatikan gestur mereka saat berdua karena kupikir mereka sangat serasi. Aku pernah mengira kalau Nial menyukai Wanda ketika dia marah. Aku pikir itu rasa cemburu karena Wanda punya pacar. Tapi, bukan itu. Alasan Nial benci pada kekasih sahabatnya adalah karena dia memang brengsek.
Sekarang aku tahu Nial ternyata memandangku dengan cara yang berbeda –dan itu sangat mengejutkan. Di saat yang sama aku juga memandanginya dengan pikiran kotor bahkan dia memakai baju yang serba panjang.
Aku memang sudah gila.
“Terus... aku harus gimana...?” tanyaku. “Aku ‘kan juga nggak bisa keluar dari sini... kalau kamu nggak mau aku ada di sekitar kamu....”
“Bukan itu masalahnya...,” kata dia dengan lebih tenang dan tetap nggak mau menatapku. “Aku cuma....”
Aku benar-benar menunggunya bicara; bisa saja itu adalah ungkapan yang paling kutunggu. Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan tentangku.
“Aku kira... kamu bisa bersikap ke aku kayak kamu ke Wanda...,” kataku. “Kamu bisa santai ngobrol sama aku kayak teman biasa....”
“Aku udah bilang, kamu bukan Wanda...,” ucapnya, masih nggak mau memandangku.
Lalu seperti apa aku baginya?
“Aku mau keluar sebentar,” katanya.
Dia menghindar.
***
Komentar
0 comments