๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Setelah sarapan aku kembali ke depan TV, memutar Fox Movies lagi. Film Transcendence sudah main sekitar sepuluh menit –aku juga sudah nonton film ini dengan Ruby. Jadi ingat Johnny Depp aktor favoritnya. Ruby selalu beranggapan hampir semua filmnya bagus. What’s Eating Gilbert Grape tahun 1993 adalah yang terbaik dari semuanya dan dia menontonnya berulang-ulang.
Saat itu hobi menontonku sudah mulai berkurang karena ketegangan antara aku dan Ruby soal Alex. Aku mulai jarang menghabiskan waktu bersamanya karena Alex sering berkunjung. Ketika Ruby menonton film itu entah untuk yang ke berapa kalinya, Alex datang dan menemaninya lalu aku harus melihat mereka bermesraan di sofa. Yang terpikirkan olehku kemudian mereka pasti begitu setiap aku nggak ada; menandai setiap tempat –ruang tamu, dapur, kamar tidur, setiap sudut rumah yang mungkin telah menjadi saksi keintiman mereka.
Sekarang, aku malah jadi rindu saat-saat menghabiskan waktu bersama kakakku sebelum kami mengenal Alex. Di ruangan yang senyaman ini aku merasa begitu kesepian....
Handphone-ku berbunyi, memecah lamunanku tentang apa yang dilakukannya saat ini. Setelah aku nggak ada pastinya dia mendapatkan kebebasan dengan Alex tanpa perlu merasa bersalah.
Valde mengirimku sebuah pesan.
Aku sedikit panik saat berlari ke pintu depan dan kemudian mengintip keluar lewat door viewer.
Dia memang sudah berada di depan pintu.
“Hai,” dia menyapaku dengan senyum lesung pipinya. Dia nggak mengenakan seragam kerjanya setelan kemeja dan jaket, dengan bawahan jeans hitam dan sepatu kets, serta ransel besar di punggungnya.
“Kamu ngapain?” tanyaku khawatir.
Bagaimana kalau Nial tiba-tiba pulang? Dia bisa membuat Valde dipecat!
“Aku habis shift malam dan tadi pergi ke minimarket dulu,” jelas dia, lalu menyodorkan sesuatu –sebuah kantong plastik besar berisi belanjaan.
Aku mengintip ke dalamnya –ada banyak mie instan dan soda kaleng!
“Kemarin kamu bilang kangen sama mie dan soda ‘kan?”
Aku benar-benar nggak tahu harus bicara apa. “Val, makasih banget...,” hanya itu yang terucap karena aku senang sekali.
“Aku pergi kuliah dulu ya...,” katanya masih dengan senyum menawan itu. “Oh ya, di dalamnya juga ada keripik kentang.”
Aku mengangguk-angguk dengan gembira di saat yang sama ingin menangis terharu. Valde melambaikan tangannya dari kejauhan sebelum ia masuk ke dalam elevator.
Dia nggak pernah berubah. Selalu memperlakukanku dengan manis.
Saat itu... apa jadinya ya kalau aku nggak mendengarkan Ruby?
Harus aku akui, masakan Nial memang enak. Orang itu bisa memasak menu yang berbeda setiap harinya. Tapi, pesona mie instan cup selalu di hati. Anak konglomerat seperti Nial nggak akan mengerti bahwa makanan yang menurutnya nggak sehat ini juga bisa membawa kegembiraan yang hakiki. Mie instan adalah makanan sejuta umat! Dia pasti nggak tahu itu.
Huh! Dasar orang kaya!
***
Komentar
0 comments