๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Bad Liar
“Aku mau pergi,” katanya dengan cepat. Dia nggak akan duduk bersamaku di meja makan.
Aku nggak menjawabnya. Itu artinya aku akan sendirian –dia pernah bilang kalau dia bukan pengangguran. Ya memang, selama di sini aku juga nggak merasa kalau dia ada sampai aku bosan dan harus mencuri kesempatan untuk kabur sejenak cuma buat mengobrol dengan Valde.
“Pokoknya jangan bukain pintu untuk orang asing sampai aku pulang,” ia berpesan. “Dan jangan keluar sendirian.”
Aku mengangguk, membiarkan dia pergi.
Entah mengapa aku kehilangan nafsu makanku. Aku nggak menyentuh roti isi itu sama sekali dan memilih malas-malasan di sofa dan nonton film lagi.
Aku mencoba menelpon Valde tapi dia nggak menjawabnya. Mungkin dia marah, karena aku jelas-jelas ketahuan berbohong.
Aku nggak bisa tenang sebelum jujur padanya. Aku keluar beberapa kali untuk mencarinya sampai aku datang ke kantor pengelola untuk memastikan kalau sore ini Valde masuk.
Valde bertugas di lantai lima. Aku melihatnya sedang menyapu di koridor dan dia menyambutku dengan senyuman itu.
“Kamu nggak angkat telponku,” kataku menyapanya.
Valde hanya memberiku senyuman terbaiknya. “Kenapa kamu harus telpon kalau kamu bisa ketemu langsung?” balasnya; jawabannya cukup diplomatis tapi aku tahu kalau dia memang menghindariku.
“Aku kira... kamu marah, Val....”
“Marah? Kenapa?”
“Karena aku bohong....”
Ia tertawa pelan. “Terus kalau kamu bohong kenapa aku harus marah?” balasnya. “Aku bukan pacar kamu.”
Aku kira dia bakal mengabaikanku tapi kata-kata satirnya itu terdengar sangat menohok. “Semuanya nggak seperti yang kamu pikirkan...,” kataku.
“Apa pun yang sebenarnya itu sama sekali nggak ada hubungannya sama aku, Bellisa. Kenapa kamu harus merasa bersalah?” balas dia.
Dia benar. Dia nggak butuh penjelasanku karena toh kami nggak punya hubungan apa-apa. Aku hanya terganggu karena aku bohong soal apa yang aku lakukan di tempat ini tapi pertemuan terakhir kami di mana Nial tiba-tiba muncul dan bersikap mencengangkan sedikit membuat kacau. Valde satu-satunya teman yang kumiliki dalam penjara ini dan Nial seolah sengaja cari gara-gara denganku.
“Lagipula dari awal aku udah tahu,” sambung dia dan aku cukup terkejut. “Kamu bukan orang biasa bohong, Bell.”
“Aku terpaksa nggak bilang yang sebenarnya karena....”
“Aku nggak perlu tahu alasannya!” tukas Valde; kudengar nadanya sedikit naik. Dan perlahan dia mulai gusar. “Aku nggak di posisi orang yang butuh penjelasan soal hubungan kamu yang sebenarnya sama Nial. Aku nggak terlalu heran, Bellisa.”
“Kamu salah paham!”
“Salah paham soal apa? Soal ternyata kalau kamu tinggal bareng pacar kamu yang kaya raya?” celetuknya dan itu sangat menyakitkanku. “Kamu nggak perlu bohong hanya karena nggak enakan sama aku.”
“Val...,”
“Oh ya, aku belum bilang selamat ternyata kamu benar-benar berhasil ketemu sama orang yang bisa ngasih kamu apa aja.”
Aku menggeleng. Ingin aku katakan kalau dia bukan pacarku.
“Sebaiknya kamu balik ke atas. Aku nggak mau ada yang lihat kamu ke sini terus ngelaporin aku godain pacar orang,” tukasnya. “Orangnya Nial lagi.”
“Valde!” panggilku. “Dengerin dulu...”
“Tolong, Bellisa. Jangan bikin aku kena masalah,” kata Valde memintaku pergi secara halus. Dia mengemasi peralatannya dan membawanya pergi.
“Nial itu bukan pacarku! Sama sekali bukan!” teriakku.
Valde membalikan badannya. Tampaknya dia masih bersedia mendengarkanku.
Nggak ada pilihan lain, aku menceritakan semuanya ke Valde. Tentang mengapa aku bisa terjebak di sini bersama orang itu sekaligus kenapa aku mengatakan hal yang menyakitkan ketika menolak cintanya. Aku ingin sekali menunjukan padanya siapa aku sebenarnya.
***
Komentar
0 comments