๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kami berdiri berjauhan –dari ujung ke ujung seperti orang asing.
“Aku sama Valde udah kenal lama tapi dia bukan pacarku. Cuma... kebetulan ketemu karena dia kerja di sini...,” jawabku, merasa nggak nyaman dengan sikap dingin dan sindirannya yang terkesan masih ingin mencampuri urusanku.
Ah, kenapa juga aku harus klarifikasi padanya?! Memangnya kenapa kalau aku dan Valde punya hubungan?
Begitu tiba di apartemen, kami duduk di meja makan seolah nggak terjadi apa-apa. Ya, mau mengobrol apa lagi? Rasanya aku sudah mengatakan dengan jelas padanya apa yang membuatku seringkali ingin melarikan diri dari sini. Kalaupun mengobrol semua yang terlontar dari bibirnya hanya kritikan dan kalaupun aku mencoba mencairkan suasana, aku hanya akan menanyakan hal-hal nggak penting yang akan membuat dia gusar.
Tapi, untuk steak daging sapi yang enak buatannya, aku bisa berdamai. Sedikit.
“Sesuatu yang nggak teratur itu bukan hal yang bagus,” dia berkata tiba-tiba saat aku menikmati makan malamku dengan rasa syukur yang tersisa di hatiku akan dirinya. Sepertinya itu pembelaan diri soal keluhanku terhadap semua kebiasaannya yang harus aku ikuti.
Aku diam. Aku benar-benar akan menutup mulutku kali ini. Aku bersumpah. Perdebatan tadi dengannya membuatku kepalaku sakit sampai ke ubun-ubun. Aku baru saja merasa lega karena perutku terisi dan nggak mau kehilangan selera makan –aku baru menggigitnya sedikit!
“Kalau kamu mau tahu, aturan Mama-ku lebih parah. Sejak kecil aku harus hidup dengan caranya,” jelas dia.
Bagaimana mungkin aku bisa nggak memberikan komentar? Dia membicarakan tentang keluarganya –manuver yang cukup menarik untuk didengar!
Tapi, aku menahan diri karena dia kelihatan belum selesai.
“Jadi... apa yang aku lakukan itu... hanya soal kebiasaan...,” sambungnya lagi dan aku jadi nggak ingin mengomentarinya.
Yang aku inginkan hanya makan; perutku memang lapar karena terlalu banyak berteriak dan emosi.
Aku mengangguk. Baik, masalahnya sudah selesai sekarang. Aku bisa makan dengan tenang. “Aku minta maaf karena ngomong yang enggak-enggak,” kataku.
Ironis. Kenapa aku berpikir terlalu jauh tentang apa yang dia rasakan terhadapku sementara semua yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa baginya? Sama seperti aku dengan trauma di masa lalu akan kekerasan, Nial juga menyimpan semacam trauma karena ibunya lebih perfeksionis dibandingkan dia sendiri. Dia terbiasa untuk rapi, sebagaimana aku terbiasa untuk menjauhi masalah.
Orang kaya dan orang miskin memang jauh berbeda ya? Trauma mereka lebih aneh.
“Tapi... apa kamu... nggak bisa santai sedikit?” tanyaku dengan sedikit hati-hati. Dia bisa saja tersinggung dengan pertanyaanku ‘kan?
Dia menatapku; sepertinya belum benar-benar paham dengan maksudku.
“Mandi air hangat itu bisa meredakan stress. Ah iya, kamu yang tiap hari bisa ngerasain itu mana ngerti?”
“Apa?”
“Begitu aku keluar dari sini, aku nggak bakal bisa lagi mandi air hangat tiap hari. Di tempat tinggalku nggak ada bathtub, shower apalagi air hangat buat mandi. Adanya cuma bak penampung air, toilet jongkok, ember dan gayung. Kamu tahu, aku juga pernah tinggal di tempat yang kamar mandinya dipakai bareng. Kadang kalau ada yang lupa nyiram habis pakai, bau banget.”
Nial mengerutkan dahi. Sepertinya dia tengah membayangkannya dan kemudian merasa jijik. “Harus ya kamu ngomongin hal-hal jorok saat lagi makan?”
“Aku cuma jelasin yang harus kamu tahu kok.”
“Memangnya kamu stress selama tinggal di sini?” dia bertanya.
“Kamu sama sekali nggak sadar?”
Dia mengerutkan dahi. “Aku menghindar supaya kamu bisa punya ruang dan bebas mau ngapain,” jelasnya, dan itu membuatku ingin tertawa.
Aku menghela nafas. Sebenarnya siapa sih yang bodoh?
“Aku nggak mau karena melihatku di sekitar kamu, ada perasaan nggak nyaman karena... aku laki-laki...,” sambung dia.
Apa sih maksudnya?
“Memangnya kenapa kalau kamu laki-laki?”
Rautnya tiba-tiba berubah gusar. “Kamu benar-benar bodoh ya...,” dia bergumam. Lalu berdiri dari kursinya, tampak ingin menghindariku padahal kami belum selesai bicara.
Aku masih berpikir keras saat dia mengambil minuman di kulkas dan tampak ingin meninggalkan dapur.
“Kamu pikir aja sendiri!” celetuknya kemudian pergi ke ruang rahasianya dan langsung menutup pintu dari dalam.
Dia sangat membingungkan! Memangnya kenapa kalau dia laki-laki? Aku sama sekali nggak merasa kalau dia laki-laki yang membahayakan –hanya kata-katanya saja yang bikin sakit telinga.
Pengalaman waktu kecil dan juga saat bekerja di coffee shop memang membuatku cukup waswas dengan gerak-gerik orang di dekatku. Aku hanya nggak tahan dengan laki-laki bertato. Ayahku punya tato di seluruh bagian tubuhnya; punggung, dada dan kedua tangannya. Kedua tangan itulah yang dia pakai untuk memukuli aku, Ruby dan Mama tanpa ampun.
Dalam setiap mimpi burukku, aku sering melihat lengan bertato itu; gambarnya, harimau yang sedang mengaum memperlihatkan kedua taring yang tajam. Singa yang terlukis di tangan kanannya itu hidup, mengaum dan menerkamku.
Komentar
0 comments