๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku sengaja karena dalam pikiranku hanya itu yang ingin kulakukan saat ini. Bukannya pulang ke tempat asalku. Aku nggak mengerti dengan diriku saat ini. Apartemen ini bukan rumahku, tapi aku nggak mau pergi.
“Kenapa kamu nangis?” tanya Valde lagi karena aku nggak juga menjawabnya. “Kamu dimarahin Nial lagi?”
Aku mengangguk. Ya, dia selalu marah-marah. Namun, kali ini aku bertengkar dengannya. Padahal selama ini aku nggak mau begitu. Karena... kadang-kadang aku merasa dia sebenarnya memperhatikanku. Dia melarangku mandi air hangat tiap hari karena nggak ingin aku tergelincir. Dia menyuruh aku makan sayur –persis seperti Mamaku dulu. Semua keinginannya itu, aku tahu, kalau itu untuk kebaikanku juga. Namun... aku... merasa kalau semua itu berlebihan –berlebihan karena aku bukan siapa-siapanya. Dan perhatian semacam itu...hanya membuatku salah paham.
Aku sudah memikirkannya sejak tadi –sejak aku meninggalkan apartemennya sambil menangis. Aku marah padanya, sangat marah karena aku nggak tahu apa arti diriku baginya. Bukankah dia bisa saja menyembunyikanku di tempat lain hanya supaya nggak perlu berurusan denganku?
Semua yang dia lakukan mulai membuatku khawatir –khawatir kalau aku akan jatuh semakin dalam ke lubang hitam yang nggak berdasar itu. Sedangkan dia? Dia nggak mungkin menyukai orang sepertiku.
***
Valde membelikanku soda kalengan. Tadi dia sempat mengajakku keluar tapi aku menolak. Lagipula aku juga merasa nggak ingin jauh-jauh dari tempat ini. Aku masih takut apalagi ketakutan itu juga dirasakan Nial saat dia mencariku keluar.
“Makasih...,” ucapku menerima hadiah kecilnya.
“Kali ini dia marah gara-gara apa?” tanya dia kemudian dan aku menggeleng sambil berusaha untuk tersenyum menunjukan bahwa aku sudah lebih baik dari sejam yang lalu. “Jangan bilang karena kamu pergi buang sampahnya lama.”
“Kenapa sih kamu selalu aja bisa tahu?” tanyaku.
Valde tertawa kecil. “Ya, kalau orang yang kenal tipenya sih... juga bakal bilang begitu...,” katanya. “Aku juga jadi nggak enak.”
Aku ikut tertawa, lalu mengangguk-angguk. Betapa terkenalnya dia sebagai manusia yang paling menyebalkan. Tapi, kenapa aku justru malah tertarik padanya sedangkan aku tahu kalau itu akan sia-sia.
“Kalau kamu nggak sanggup, kenapa kamu nggak berhenti aja? Masih banyak kok tempat kerja lain yang memperlakukan kamu dengan manusiawi.”
Ya...
Andai aku bisa berterus terang ke Valde tentang apa yang terjadi. Dia bukan bossku. Dia bukan siapa-siapaku. Dia hanya....
“Di sini kamu rupanya?” suara itu lagi.
Kali ini aku nyaris mati berdiri.
Aku nggak tahu kapan aku akan terbiasa dengan ini –kemunculan dia secara tiba-tiba menghancurkan kedamaianku setelah beberapa saat lalu dia membuat duniaku terguncang seperti gempa bumi.
Dia mencariku lagi?
“Aku masak steak buat makan malam,” katanya; seolah-olah itu hal yang wajar untuk dia sebutkan hanya untuk menarikku pulang ke apartemennya.
Aku membatu. Menatap Valde dengan perasaan nggak enak, aku kira aku harus pamitan padanya. “Val, aku balik dulu ya....”
Valde langsung mengangguk-angguk mengerti. Tapi, aku juga merasakan kalau dia sedikit kebingungan. Mungkin saja dia sudah tahu kebohonganku dan Nial sialan kenapa malah bersikap seolah-olah dia... adalah pacarku?
Aku mengikuti Nial kembali ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Sekali kutoleh ke belakang, aku masih menemukan Valde termangu memandangiku.
Ya Tuhan, bagaimana sekarang?
***
Komentar
0 comments