[Hal.6][Ch.3] A MAN WITH ROSES

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

"Wah ada maniak kecil nih!" ledek salah seorang dari mereka dan disambut tawa meledek yang keras. "Ngapain masuk toilet cowok?!"

Gadis itu hanya merengut, sebelum ia berlari keluar dengan muka merah padam. Kalau seandainya  bisa menulis sebuah buku harian, ia akan menceritakan satu hari yang sial ini –hari pertamanya menjadi seorang murid SMA.

Hari ini hari pertama MOS di SMA tapi juga menjadi hari tersial baginya seumur hidup. Memang, tadi pagi sebelum berangkat semuanya sempurna. Atribut aneh dan ribet sudah ada dan tinggal pakai. Tapi, entah kenapa, karena sebuah sedan BMW Silver yang ngebut ia kecipratan sial dari jalanan yang bolong. Bajunya basah kena lumpur. Penderitaannya belum berakhir, karena di gerbang sudah diusir duluan sama senior reseh yang sok cantik. Untung ada seorang kakak kelas baik dan ganteng yang menyuruh masuk. Tapi, sekali lagi, hari Senin ini nggak berpihak padanya. Ia kesandung dan menimpa si kakak kelas yang baik itu sampai warna baju mereka jadi sama –coklat susu dengan bau menjijikan. Niat membantu membersihkan bajunya malah jadi heboh saat semua tahu ia masuk toilet cowok dan bikin geli yang lain. Sumpah, ia memang nggak sadar kalau itu tempat cowok 'ngelapor' karena terlalu panik.

Dengan cepat, kelucuan itu tersebar karena ada yang sempat mengambil gambar saat-saat gadis bernama Rukia itu berada di toilet cowok dengan kamera handphone.

Tahu rasanya menjadi selebritis dengan cara memalukan dalam satu hari? Bak komet nama Rukia melejit di kalangan senior yang sudah melihat foto konyolnya di toilet cowok yang tersebar lewat Bluetooth. Karena foto itulah para senior langsung mengenalinya dari noda di bajunya yang sudah seperti lukisan abstrak. Begitu melihat Rukia, mereka langsung tertawa meledek. "Ini nih anak yang udah bikin heboh pagi-pagi?!"

Ya benar, dia orangnya. Seorang cewek bertubuh pendek –sekitar 156 cm, berkulit gelap dan berponi rata. Mungkin, ia bakal kelihatan sama dengan anak-anak lain kalau seragam putihnya nggak kotor. Ada yang melihat dengan perasaan jijik padanya, ada juga yang memandangnya geli sembari membayangkan bagaimana ia berani masuk toilet cowok di saat tempat itu diisi oleh cowok-cowok yang lagi buang air. Padahal sumpah, dia nggak lihat apa-apa! Kalau dia bilang, itu nggak sengaja, apa ada yang mau percaya? Lagipula apa pentingnya menjelaskan yang sebenarnya kalau semua orang sudah berpikiran jelek tentangnya?

Ah, sudahlah, ini hanya MOS. Masa sekolah yang sesungguhnya adalah hari-hari setelah MOS yang terkutuk ini. Badai pasti berlalu. Ini belum apa-apa. Kalau menangis, artinya senior reseh itu menang!, pikirnya mencoba mendengarkan arahan dari seniornya yang sedang mengumumkan apa yang harus dibawa buat besok.

"Rukia?!" namanya pun dipanggil dan ia terkesiap mengacungkan tangannya.

"Ya, Kak!" sahutnya sambil berdiri dengan ragu-ragu. Semua mata yang tertuju padanya hampir tertawa dibuatnya. Selain karena wajahnya suda berantakan, atributnya pun sudah dipakai sembarangan, baju kotor yang nodanya sudah mengering, membuatnya seperti seorang gembel pengemis di lampu merah –lengkap degan ember kuning di kepala.

Ia mencoba untuk berdiri tegap.

Senior perempuan itu geleng-geleng kepala. Sebelum membacakan perintah untuknya. "Kamu! Besok harus bawa kedelai borokan, buah upacara, nasi jelek, guling sobek pakai darah, dan roti Jepang tawar!"

Hah? Gadis itu melongo. Kedelai borokan? Buah upacara? Nasi jelek? Guling sobek pakai darah? Roti Jepang tawar? Memang ada ya barang-barang yang namanya aneh begitu?

"Itu teka-teki" kata seseorang di sampingnya begitu ia kembali duduk dengan penuh tanda tanya di kepala. "Kedelai borokan itu artinya tempe"

Ia masih melongo. Menatapi seorang gadis –sesama anak baru, yang duduk di sebelahnya.

Gadis itu tersenyum. "Mereka mau mereka kita memecahkan teka-tekinya dulu sebelum kita bawa besok", jelas dia lagi. Lalu mengulurkan tangannya, "Gue Sasha. Lo?"

"Uki", ia pun membalas uluran tangannya sambil tersenyum lega –dari dua puluh kepala di sini, baru satu orang ini yang mengajaknya bicara. Kelihatannya Sasha itu baik, pikirnya. "Terus, buah upacara itu apa?"

Sasha mendengus, "Ya buah apel-lah! Buah apa lagi?" balasnya.

Uki sedkit berpikir keras, sebelum ia cengengesan lagi. "Oh iya, benar juga!" katanya mulai semangat lagi. Dua dari lima barang sudah terpecahkan. "Thanks ya…"

"Sama-sama" dia tersenyum lebar sebelum kembali acuh. Sepertinya dia belum dapat 'perintah' dari senior. Dan Uki mulai memikirkan teka-teki selanjutnya.

Nasi jelek? Memang ada nasi yang bentuknya jelek? Oh, mungkin nasi aking! Bentuknya kan jelek karena sudah basi dan baunya menyengat lagi. Tapi, mau dicari ke mana nasi aking itu? Senior itu ada-ada aja!

"Nasi jelek itu nasi goreng" sambung Sasha lagi tiba-tiba sambil melirik Uki. "Jelek itu bahasa Sunda, artinya goreng. Lo nggak tahu?"

Uki menggeleng dengan polos. "Aku 'kan orang Jawa," jawab dia. "Terus kalau guling sobek rasa darah apa?"

Sasha tampak berpikir sebentar. Kayaknya dia nggak tahu juga. "Yang jelas itu pasti makanan," jawab dia singkat.

"Kenapa mereka semua mintanya makanan?"

"Ya buat dimakan-lah!"

"Emang mereka nggak bisa beli sendiri?"

"Ya ampun, mereka bukan nggak bisa beli sendiri. Tapi, makan makanan hasil ngerjain orang itu nikmat! Itu udah penyakit senior waktu ospek. Sebenarnya itu Cuma untuk nyari alasan ngerjain kita. Kalau kita nggak bawa, kita bakal dihukum habis-habisan sama mereka. Pilih mana? Bawa makanan yang harganya nggak seberapa itu, atau dikerjain sampai nangis darah?"

Uki diam selagi Sasha menatapinya –menahan tawa. Tuh, kan dia juga tertawa! Bikin Uki tiba-tiba jadi makin minder.

"Kalau ngelihat hari pertama lo yang udah tragis banget, kayaknya dikerjain pun lo udah biasa ya?" kata dia dan bikin Uki cemberut.

Siapa yang mau dikerjain sambil dipermalukan?, Uki kembali menyesali bajunya yang kotor –sumber dari semua kejadian memalukan yang dialaminya. Coba deh kalau Uki ketemu lagi sama BMW silver itu, pasti dia bakal kempesin bannya!

"Senior sini emang paling reseh," kata Sasha. "Jangan sampai besok lo jadi target mereka lagi"

"Mudah-mudahan deh. Mukaku udah terkenal di mana-mana," balasnya dengan murung.

"Emang kenapa sih lo bisa sampai masuk toilet cowok?"

Uki mendengus. "Panjang deh ceritanya" kata dia, teringat ekspresi senior cowok yang bajunya ikut kotor gara-gara Uki nggak sengaja menimpanya –yang jelas kakinya disandung cewek reseh sok cantik itu "Pokoknya aku nggak sengaja"

"Gue tahu lo cuma lagi sial," ucapnya tapi wajah Uki masih kelihatan masam.

Bagaimana pun kejadian memalukan itu harus dilupakan walaupun orang-orang nggak akan lupa. Entah mimpi apa dia semalam. Padahal sebelumnya ia begitu bersemangat membayangkan sekolah barunya –sebuah sekolah SMA di Jakarta yang sebagian besar muridnya adalah anak-anak menengah ke atas. Pindah ke Jakarta belum pernah terbayang oleh Uki yang menghabiskan seluruh masa kecilnya di Semarang bersama ayah dan ibunya, serta kakak perempuannya Nola. Tapi, begitu terpengaruh sama yang namanya tayangan TV, Uki mulai bela-belain untuk bisa sekolah di Jakarta mengejar mimpinya. Katanya banyak kok anak singkong yang akhirnya sukses.

Tapi, kesuksesan ini buatnya terlalu awal –maksudnya sukses bikin semua orang di sekolah ini menertawainya sampai terkenal. Besok, entah apa lagi yang terjadi kalau senior itu belum bosan menjadikannya bahan lelucon. Jadi ingat serial Taiwan Meteor Garden. Kurang lebih nasib Uki sama seperti San Cai yang di-bully seantero kampus. Tapi, mungkin saja nasibnya lebih parah. Karena ini nyataaaaa!

"Sasha Eliana!" giliran Sasha mendengarkan permintaan senior pun tiba.

Ia segera berdiri. "Ya Kak!" sahutnya.

"Kamu, besok bawain Spongebob coklat lembek, buah homo, dodol sapi, bulan sabit, dan gulali tawar", kata senior itu.

Uki hampir tertawa mendengar istilah-istilah itu. Senior di sekolah ini memang kreatif! Apalagi buat mengerjai yunior!

"Apa lagi tuh?" tanya Uki padanya.

"Brownis, jeruk, sosis, pisang dan kapas" jawab Sasha cepat.

Lho kok? Uki sempat terkesima. Sepertinya Sasha nggak perlu repot-repot menebak apa yang harus dibawa buat besok.

"Itu udah permainan kuno" jawab Sasha sambil tersenyum "Itu istilah yang udah biasa dipakai setiap MOS. Waktu SMP juga gue pernah disuruh bawa gituan. Sebenarnya sih gampang, tapi kita disuruh putar otak dulu, kalau nggak bisa nebak udah pasti kita dikasih hukuman"

"Tapi, aku punya dua lagi yang nggak aku tahu artinya…" Uki kembali cemberut.

"Apa namanya tadi?" tanya Sasha.

"Guling sobek rasa darah, sama roti tawar Jepang"

"Guling sobek rasa darah itu udah jelas makanan. Kalau roti tawar Jepang…" Sasha kembali berpikir, walaupun dia sudah bisa menebaknya dengan pasti. "Itu pembalut, Ki"

"Hah? Ngapain aku disuruh bawa pembalut?" Uki kaget. "Memangnya mereka mau pakai?"

Sasha menarik nafas. "Ternyata mereka udah niat buat ngerjain lo," kata dia dengan wajah menyesal. "Yang gue tahu, anak yang disuruh bawa benda-benda nggak lazim itu pasti bakal dikerjain"

Lutut Uki tiba-tiba jadi lemas. "Mereka mau ngapain gue emang?"

Sasha nggak menjawab. "Good luck aja deh, buat lo", kata dia.

Apes dah!, gerutu Uki. Sampai MOS dibubarkan sekitar jam satu siang, Uki masih gelisah. Hari pertama saja sudah tertekan, bagaimana besok? Pantas insiden waktu MOS sering jadi berita di TV –ya karena ulah senior yang kelewatan sama yunior. Dan Uki nggak mau jadi kesekian tampil di TV karena diplonco sama seniornya di sekolah. Ia juga nggak ingin kena gejala stress karena pembunuhan karakter yang mereka lakukan!

Menjelang jarum jam bergerak ke angka dua, Uki baru bisa bernafas lega karena hari ini sudah cukup. Sudah cukup memasang muka tembok seolah dia nggak tahu malu saja. Padahal dalam hati, ia ingin gali lubang dan mengubur kepalanya di sana. Tapi, lapangan sekolah barunya ini begitu luas sampai Uki terkesima pada gedung-gedung kelas yang berdiri kokoh. Ada satu jam besar berbentuk bulat di tengah-tengah dinding gedung yang menghadap ke gerbang utama –mirip sekolah yang ada di Jepang. Memang, sekolah ini kualifikasinya termasuk tinggi di Jakarta. Kalau nggak pintar-pintar amat, atau nggak kaya-kaya amat jangan harap bisa masuk sini. Nah, Uki sendiri? Dia beruntung bisa masuk walaupun keluarganya sederhana. Mungkin inilah nasib –nasib yang sedikit dipaksakan. Setelah ayahnya jual tanah di kampung, mereka punya uang untuk bisa menyekolahkan Uki di sini. Menurut mereka Uki haruslah mendapatkan yang terbaik untuk masa depannya. Tapi, nggak ada yang tahu apa yang mungkin terjadi. Karena Uki sama sekali nggak pintar, apalagi cantik. Baru menginjakan kaki pertama kali saja, cobaannya sudah kayak pendosa yang nggak akan diampuni.

Walaupun di hari pertama sudah sial bertubi-tubi, semangatnya sejak pagi masih ada walaupun Cuma sisa-sia, palingan cukuplah untuk pulang jalan kaki karena kosannya nggak jauh dari sini. Lagian ini Cuma MOS, begitu selesai sekolah dimulai, senior-senior itu nggak akan bisa mengerjainya lagi. Uki memandang daftar barang-barang yang harus dia bawa besok. Apa sih artinya guling sobek rasa darah? Makanan apa yang rasanya seperti darah? Nggak ngerti deh maunya senior, ia pun mendecak kesal lagi dambil melewati area parkir yang sudah mulai sepi karena anak-anak sudah banyak pulang karena nggak tahan dengan panasnya terik matahari yang bikin kulit terbakar. Kalau Uki sih nggak akan peduli kulitnya jadi tambah hitam –memang sudah bawaan dari lahir.

Tiba-tiba saja matanya menemukan sesuatu di parkiran. Bagaimana nggak? Di antara mobil yang berjejer rapi dan rata-rata Cuma merek Jepang, ada satu yang mencolok –sebuah mobil sedan berwarna silver yang kelihatan mentereng karena berlogo lingkaran putih biru seperempat alias BMW. Pelan-pelan Uki mendekat ke mobil itu untuk melihat nomor plat cantik yang mempunyai seri tiga digit itu. ya,  ia langsung ingat! Mobil sialan inilah yang membuatnya sial sedari pagi!

Aha! Ketemu kamu, mobil kampret!, serunya kegirangan dalam hati.

Uki mulai mondar-mandir di depan sedan itu sambil memikirkan sebuah pembalasan –ya iyalah, pembalasan! Mumpung lagi sepi, pikirnya lalu jongkok dengan mengendap-endap sambil mulai celingak-celinguk memastikan nggak ada yang melihatnya memutar pentil ban BMW itu dan kemudian…. "Ssssssssssh…" anginnya pun terbebas.

Rasain!, serunya puas sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang jahil. Biar kamu nggak bisa pulang sekalian!

***

"Gimana sih kejadiannya?" tanya Rory sambil cekakak-cekikik lagi. Seakan warna coklat di baju Erris itu jadi motif baju.

Erris hanya menatapnya kesal.  Rasanya ingin menjawab kalau itu salah Rory yang bikin orang lain sial dan Erris menerima karmanya. Jadinya, ia harus tampil dengan seragam kotor saat pidato. Jelas semua orang pada heran, Ketua OSIS yang biasanya rapi dan klimis maju ke depan dengan seragam kotor. Malu-maluin! Dalam sejarahnya sekolah di sini, ini pertama kalinya ia terlihat memalukan! Dan itu berkat si cewek kecil –eh, bukan, Rory!

Sekarang, semua orang sibuk menertawakan seorang cewek bernama Rukia yang sempat membuntutinya masuk toilet cowok. Memang niatnya membantu, tapi… siapa suruh sampai ikut masuk toilet cowok? Tapi, dia nggak peduli bajunya sendiri kotor dan malah membantu Erris membersihkan bajunya. Benar, dia memang cewek aneh.

Erris bersiap untuk pulang sama teman-temannya lagi –seperti biasa naik BMW Silver yang terparkir khusus di tempat yang aman.

"Lo tunggu di parkiran, gue mau nyari Laras sama Damar dulu" kata Rory padanya sebelum berlari pergi.

Erris pun menuju ke parkiran sendirian –masih gusar dengan seragamnya yang kotor. Tapi, nggak disangka ia kembali melihat cewek itu dari kejauhan! Sepertinya dia telah melakukan sesuatu. Yap, cewek aneh itu baru saja selesai mengempesi salah satu ban mobil Rory! Apa?! Dia berani?! Erris lebih kaget lagi saat tiba-tiba cewek itu mengeluarkan sesuatu dari saku roknya! Sekeping koin yang kemudian ia geruskan ke body samping mobil Rory!

"Hey!" teriak Erris dan seketika membuat cewek itu membelalak.

Ia tertegun di sana. Tampaknya syok, karena aksinya ketahuan! Sama Ketua OSIS lagi. O ow, gadis itu tampak gentar begitu dihampiri.

Erris melirik ban sebelah kanan mobil Rory yang sudah bergelambir. Gadis itu benar-benar membalas dendam. Tanpa ragu Erris pun menghampirinya, dengan cepat ia tarik gadis itu dari sana.

"Aduh!" jeritnya kesakitan saat ditarik Erris ke suatu tempat. Untung nggak ada yang lihat. "Sakit! Aku mau dibawa ke mana?!"

Begitu sampai di parkiran motor, Erris pun melepaskannya dengan kesal. "Kamu ngapain sih?!" tanya dia gusar.

Uki sempat terlihat khawatir. "Gara-gara mobil itu aku jadi sial!" jawabnya menggerutu. "Bikin kakak sial juga!"

Erris sedikit mengerti perasaannya. Tiba-tiba jadi merasa bersalah dan bingung. Memang salah Rory yang suka kebut-kebutan itu. Tapi, menemukan gadis itu merusak mobil sahabatnya ia juga nggak terima.

"Aaaaaaaaaargh!", teriakan kesal Rory tiba-tiba terdengar –menggelegar ke segala penjuru. Pasti dia histeris gara-gara menemukan ban mobilnya kempes dan catnya digerus.

Khawatir, Erris pun memberanikan diri mengintip ke parkiran khusus mobil. Terlihat, Rory menendang ban depan mobilnya keras-keras sambil mencak-mencak.

"Siapa sih yang punya kerjaan?! Pingin gue hajar tuh orang!" teriaknya lagi selagi Damar kelihatan memeriksa ban dan Laras mengamati goresan yang lumayan panjang itu.

Yang rusak bukan mobil kepunyaannya, tapi kenapa malah Erris yang pusing kepala. Belum lagi, cewek itu ikut-ikutan ngintip di belakangnya. Bikin dia jadi emosi.

"Udah deh! Kamu pulang sana!" kata Erris padanya sebelum Rory sadar kalau pelakunya masih di sekitar mereka.

Uki merengut. Sebelum ia pergi, ia masih merasa heran. Kenapa dia disuruh pergi? Padahal ia juga ingin lihat siapa pelaku utama yang menyiapkan paket lengkap super sial untuknya hari ini. ternyata, dia hanya seorang cowok bengal yang mungkin biasa dimanja. Masih SMA saja sudah bawa BMW versi terbaru –benar-benar kehidupan genset, eh… jetset maksudnya!

Tapi, ia puas membalas cowok ugal-ugalan itu walaupun dia bakal mengulangnya lagi. Hanya saja yang bikin heran, kenapa si Ketua OSIS menyuruhnya pergi dan bukannya malah melaporkan ke guru? Cowok yang misterius, dan  seperti itu pula tatapan matanya –membuat orang yang menatapnya tertawan dan mendengarkan semua ucapannya.


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments