[Hal.5][Ch.3] A MAN WITH ROSES

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

First Time I Met You

Hari pertama…

"Kenapa lo, Ris? Dimarahin sama Nyokap lo?" tegur Laras yang duduk di jok belakang begitu dia naik.

Erris menggeleng.  "Gue nggak kenapa-napa," jawabnya. Berusaha untuk terlihat normal setelah kemarin ia dipaksa duduk di depan Mama-nya oleh pria yang nggak dikenal itu, mendengarkan omongannya yang provokatif sampai ibunya tergiur oleh keuntungan bermain di meja permainan Blackjack. Menurutnya dengan kemampuan matematika Erris, mereka bisa mengalahkan Bandar dengan teknik menghitung! Itu ide gila yang pernah Erris dengar! Dia nggak pernah bercita-cita menjadi penjudi!

"Semua siap?" tanya Rory yang mulai menekan gas lalu mereka melaju menuju sekolah –pastinya dengan kecepatan penuh.

Musik rock menggema di dalam mobil. Rory, Damar dan Laras tampak menikmatinya. Sedangkan Erris berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalahnya. Bagaimana pun ia nggak ingin terseret dalam lubang hitam itu walaupun selama ini ia tinggal di pinggirnya. Walaupun ibunya keras dan pemarah, tapi ia nggak pernah mengatakan bahwa ia ingin Erris seperti dirinya –ibu mana yang ingin masa depan anaknya hancur?

Tapi, kemarin dia mulai memaksa. "Lu harus belajar sama si Ujang," katanya memutuskan begitu saja. "Dia bakal bantuin kita buat mengubah hidup. Apa lu tahan tinggal di rumah jelek begini? Lu nggak malu sama temen-temen lu yang kaya itu?"

Rumah jelek? Minder punya teman-teman kaya? Erris nggak pernah berpikir bahwa semua itu adalah kekurangan. Menurut dia kekuranganya hanya satu, yaitu mau saja diperalat untuk tujuan orang lain yang pada kenyataannya bukan untuk membahagiakan dirinya sendiri. Erris hampir nggak bisa mengatakan apa-apa. Selain dari menatap ibu dan pria yang tak dikenalnya itu bergantian, ia nggak melakukan sesuatu untuk menolak. Sedang ia tahu, usianya belum cukup tujuh belas tahun dan ia sudah disuruh berjudi?

Sayangnya pilihan itu cuma dua, iya atau tidak. Dan ia sama sekali nggak bisa membayangkan ujung dari kedua pilihan itu –sama sekali.

"Wuhuuuuu!" Rory menjerit saat mobilnya melaju dalam kecepatan di atas 100 km/jam. Mereka pun sampai di sekolah lebih cepat dari biasanya walaupun tadi nyaris menyerempet seorang nenek yang berjalan di pinggir.

Erris mengabaikan segala bentuk tawa dan seruan teman-temannya yang gila. Sampai kemudian pandangannya tercuri oleh sesuatu di luar sana. Seorang gadis tertinggal di belakang, bajunya terkena cipratan air dari jalanan yang tergenang oleh mobil Rory yang melaju kencang. Ia menoleh ke belakang di saat yang lain menikmati suara mesin mobil Eropa yang meraung dengan indah saat Rory menginjak gas. Kasihan gadis itu, katanya sebelum ia kembali melihat ke depan. Sekolah mereka sudah dekat dan hari ini adalah hari pertama MOS untuk siswa baru.

Begitu mobil diparkir, mereka menghambur keluar dan disambut dengan suasana baru di tahun ajaran yang baru. Banyak sekali anak-anak berseragam SMP yang berwara-wiri di lapangan. Mereka memakai ember kecil yang dijadikan topi, kalung dari buah pete bersamaan dengan papan nama yang ditulis dengan spidol di selembar potongan kertas kardus, lengkap dengan tas dari karung goni. Nggak hanya itu,  kaos kaki juga belang-belang –sebelahnya menutup sampai ke betis sedangkan yang satu lagi hanya sampai mata kaki. Rambut anak cewek harus dikepang dua, diikat pakai sumbu kompor sedangkan yang cowok rambutnya harus dicukur cepak.

Mereka semua dikumpulkan di tengah-tengah  lapangan dan berbaris dengan rapi, selagi beberapa anggota OSIS menanti anak-anak yang terlambat di pintu gerbang dan mengabsen. Acara pembukaannya akan segera dimulai. Namun sepertinya masih banyak  yang berada di luar.

"Gimana, Ris?" tanya Imam yang sengaja menghampiri Erris yang ikut menunggu anak-anak baru. "Mending kita mulai sekarang aja. Ini jadwalnya udah molor lho…"

Erris hanya mengangguk dan kemudian mengikuti Imam.

"Apa-apaan nih?!" seseorang terdengar berteriak. Lagi-lagi Cassandra. Dia terlihat jijik pada seorang anak baru yang bajunya kotor. "Kamu nggak lihat yang lain pada bersih?!"

Lho bukannya itu anak yang tadi kena cipratan mobilnya Rory? Erris pun kembali dan membiarkan Imam pergi lebih dulu.

"Saya… kecelakaan, Kak…" ucap anak itu tertunduk lesu dengan lumpur di bajunya yang sudah parah sekali.

"Bau!" jerit Cassandra sambil menutup hidungnya. "Udah! Kamu pulang sana! Kalau belum ganti baju jangan harap kamu bisa masuk sini!"

"Ada apa sih?" tegur Erris yang menghampiri. Ia memandangi cewek malang itu dengan kasihan.

"Ini anak, lo lihat deh bajunya" kata dia menunjuk-nunjuk, cewek berbadan kecil dan berkulit gelap itu. "Kotor banget! Mana bisa dia masuk?"

"Udah, biar aja" kata Erris padanya. "Acaranya udah dimulai, kalau lo suruh dia pulang dulu, dia bisa telat"

"Tapi, Ris…"

"Masuk" kata Erris pada si kecil itu dengan mengabaikan muka sebal Cassandra.

"Ma… makasih, Kak…" ucap anak itu, bersiap pergi. Bagaimana pun dia cuma salah satu korban ugal-ugalan Rory pagi ini. Lagipula bukan salahnya sampai bajunya kotor begitu dan nggak akan adil jika dia di suruh pulang. Pagi-pagi saja dia sudah apes, apalagi nanti.

Erris pun segera pergi meninggalkan mereka karena dia harus memberikan pidato sebelum kegiatan dimulai.

"Aduh!" tiba-tiba anak itu menjerit lagi. Kakinya tersandung sesuatu dan hilang keseimbangan, sementara Cassandra tertawa –dia baru saja membuat anak itu hampir terjungkang dengan kakinya.

Erris baru menoleh saat ia tertabrak oleh sesuatu yang basah dan berbau lumpur. Tanpa ia sangka, noda kecoklatan itu menempel di seragam putihnya! Apa? Anak itu baru saja menimpanya?

"Ups!" cewek itu ikut kaget –baju kakak kelasnya, sekarang juga sama kotor dengan seragamnya. Ia menoleh ke belakang karena tahu cewek judes itu yang mengerjainya. Dasar!, gerutunya dalam hati tapi melihat kakak kelasnya syok, ia mulai takut walaupun juga bukan salahnya. "Aduh, Kak! Ma…maaf…."

Tapi, si kakak kelas itu malah langsung pergi dengan wajah gusar.

"Kak?!" gadis itu dengan rasa bersalahnya malah mengikuti si kakak kelas yang marah. "Kak! Maafin aku! Aku nggak sengaja!"

Erris hanya melangkah terburu-buru menuju toilet tanpa bilang sesuatu pada cewek itu. Dengan cepat ia masuk ke toilet khusus cowok dan cewek itu masih ngikut. Sontak beberapa orang cowok di dalamnya terkejut tapi cewek kerdil itu sama sekali nggak terpengaruh. Erris nggak sempat heran dulu karena seragamnya harus diciprat air sebelum nodanya mengering dan benar-benar nempel di sana.

"Dasar cewek aneh!" celetuk seorang cowok padanya sebelum mereka semua langsung mengancingi celana dan pada ngabur.

Erris ingin bilang sesuatu sama cewek itu supaya keluar karena udah bikin malu! Masa dia nggak malu masuk toilet cowok? Ya ampun, tapi marah-marah dan mengusir, bukan gayanya.

"Duh, gimana dong?" cewek itu panik sambil membantu menciprati baju Erris denga air keran dan membantu membersihkan. "Bajunya jadi ikut kotor!"

"Udah, nggak usah!" kata Erris menolak cewek itu pegang-pegang badannya. Padahal dia sendiri juga harus membersihkan bajunya yang kena lumpur lebih parah. Tapi, kayaknya dia nggak peduli. Erris Cuma bisa menarik nafas panjang –harus tenang, sebentar lagi pidato. Walaupun noda ini bakal merusak tampilannya, mungkin dia masih bisa menjelaskan kalau ada insiden pagi ini.

Setelah nodanya lumayan tersamarkan, Erris segera pergi ke acara pembukaan. Ia meninggalkan cewek itu di sana dan nggak lama, datanglah dua orang anak cowok lain yang sempat syok melihatnya termangu. Cowok-cowok itu membaca nama yang tertera di kertas kardusnya –Rukia, sebelum mereka terbahak-bahak!

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments