[Hal.4][Ch.2] A MAN WITH ROSES

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Asap rokok sudah tercium selangkah Erris masuk setelah membuka pintu depan. Telinganya sudah menangkap suara orang tertawa dan bersumpah serapah bersamaan. Ia menyebrangi ruang depan sambil memperhatikan betapa berantakannya ruang itu. Padahal tadi pagi, ia meninggalkannya dalam keadaan rapi. Ibunya sudah pulang setelah dua hari ini pergi, pantas udara di sini kembali menjadi sesak oleh asap rokok.

"Lu udah pulang, Ris? Tumben lo ke sini" tegur seorang wanita yang ia temukan di ruang tengah. Ia duduk sambil merokok di temani segelas minuman dan sepuntung rokok yang menyala di dalam asbak. Nggak hanya itu, ada seorang pria asing yang sedang bermain kartu dengannya.

Erris nggak menjawab. Akan lebih baik baginya nggak bicara dengan ibunya ketika dia sedang bermain. Lagipula nggak ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Ia hanya datang untuk memastikan bahwa ibunya sudah pulang.

Ya, inilah ibunya –ibu kandung yang melahirkannya. Ibu yang nggak seperti ibu yang seharusnya menjaga dan mengajarkan hal yang baik kepadanya.

Tapi, sebelum Erris lahir pun dia sudah seperti ini. Bertaruh dan berhutang sudah jadi kebutuhannya. Merokok dan minum sudah menjadi makanan pokok. Oleh karena itu, dia biarkan Erris tumbuh tanpa perhatian yang penuh.

Miris memang. Rory saja punya seorang ibu yang begitu perhatian padanya –padahal hanya ibu tiri. Seakan mematahkan anggapan bahwa ibu tiri adalah ibu yang kejam. Sedangkan, Damar juga hanya seorang anak angkat di keluarganya  juga mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ibu angkatnya. Lalu kenapa ibu kandungnya sendiri nggak? Ah, iya, masih ada Laras yang senasib dengannya –malahan jauh lebih pedih. Untuk itu, ia berhenti mengeluh soal ibunya karena wanita itu nggak pernah melarang apa yang ingin dia lakukan walaupun ia sangat pemarah.

"Itu anak lu, Ci?" tanya pria itu selagi Erris menuju ke kamarnya yang tepat menghadap ke meja judi ibunya.

"Iya, emang kenapa?" balas dia ketus, lalu mengambil rokoknya di asbak untuk menghisapnya lagi. "Cepetan bagiin kartunya!"

Pria itu dengan cepat membagi kartu tapi matanya masih mengawasi Erris yang sedang membuka pintu lalu menghilang di baliknya. "Lu pungut di mana tuh anak?" tanya dia lagi.

"Sialan lu, Jang!" balas dia. "Itu anak gue yang ngelahirin!"

"Masa?" balas pria itu terkekeh. "Kok dia nggak sama kayak si Manda sama si Sari"

"Bapaknya beda" jawab wanita itu acuh dan matanya tertuju ke kartu yang ada di tangannya.

"Ah, elu, Ci! Kerjaan lu emang tukang kawin…" celotehnya dan bikin Mama-nya Erris gusar.

 "Lu mau main apa mau ngomentarin gue sih?!"

"Ya elah, gitu aja lu marah, Ci…" kata pria itu. "Tapi, ngomong-ngomong anak lu itu kayaknya pintar. Kelas berapa dia?"

Wanita itu nggak berkomentar. Ia mencabut satu kartu dari tumpukan kartu di depannya. "Kurang tau gue" jawabnya acuh. "Tapi, dia juara kelas. Matematikanya jago"

"Oh ya?" pria itu semakin tertarik. Lalu ia menunjukan dua kartu di tangannya.

"Yah, duit gue habis!" keluh wanita itu saat melihat sepasang kartu dengan angka bagus milik pria itu sambil membanting kartunya dengan mendecak. "Lu ngajakin gue ngomong mulu, sial lu!"

Pria itu masih tertawa. "Lu bisa ngandalin anak lu buat terlepas dari utang-utang lu sama si Rudi, Ci"

"Jangan mikir yang aneh-aneh lu. Dia sekolah supaya nggak perlu kayak gue!" cetusnya.

"Sayang banget, kemampuan anak lu jadi sia-sia kalau nggak lu manfaatin" pria itu mulai merayu.

"Maksud lu apa, Jang?"

Suara mereka terdengar jelas walaupun pintu sudah tertutup. Setiap ada orang di rumah ini, nggak ada lagi ketenangan. Tapi, ia sudah terbiasa dengan bau asap rokok dan sumpah serapahan itu –meski tidak ditujukan padanya. Namun, sudah lama, Erris ingin meninggalkan lingkungan yang telah membesarkannya ini sebagai pribadi yang tertutup dan memendam.

Erris baru saja berbaring di tempat tidur

Erris mendengarkan mereka dengan seksama. Apa yang direncanakan orang ini terhadapnya?


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments