๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
M.O.S
Jakarta, Juli 2005…
MOS terasa lebih seperti 'Masa Operasi Sadis' bagi anak-anak yunior yang baru menginjakan kaki di sekolah baru mereka. Meski pun tahu rasanya 'disiksa' selama seminggu di awal tahun pelajaran baru, Erris yang sudah resmi jadi Ketua OSIS nggak bisa menghentikan rencana keisengan teman sesama pengurus OSIS-nya. Karena ibarat hukum alam, korban suatu saat juga bisa menjadi pelaku. Memang masa MOS identik dengan balas dendam saat yunior akhirnya menjadi senior.
"Ingat, nggak boleh over," katanya pada teman-temannya yang sedang menyusun kegiatan saat MOS nanti.
Senin depan akan ada seratus lebih murid kelas satu yang akan ikut dalam program tahunan itu. Sebagian besar persiapan sudah rampung oleh Wakil Ketua, Imam, yang lebih aktif daripada Erris. Bagaimana pun, Erris ditunjuk sebagai Ketua karena punya pendukung paling banyak –sebagian besarnya, adalah cewek, dan berstatus murid teladan karena sering juara umum.
"Oke, ada lagi yang mau sumbang pendapat?" tanya Erris kepada anggotanya dengan wajah tenang dan datar.
Seorang cewek yang duduk di kursi paling sudut mengacungkan tangan.
"Ya, silakan" kata Erris membiarkannya bicara.
"Gimana kalau di acara penutupan ada acara nyanyinya?" tanya cewek itu dengan gaya manis. "Biar seru, semua boleh nyumbang lagu"
"Ya, baik. Kita serahkan ke forum," Erris menanggapi sembari mengedarkan pandangannya kepada teman-temannya. "Bagaimana menurut kalian?"
"Boleh sih" seorang anak cowok ikut menanggapi, melirik ke cewek pencetus ide. "Tapi, nanti yakin nggak bakal ada yang nguasain pentas karena dia merasa suaranya paling oke?"
Cewek itu langsung pasang wajah gusar. Seolah tuduhan itu ditujukan padanya.
"Ini acara MOS, bukan PENSI, Cassandra" celetuk salah seorang yang lain ke cewek itu.
"Tapi, boleh juga. 'kan kasihan juga anak-anak itu habis MOS pasti banyak yang capek dan ngeluh" kata seorang cewek lagi yang duduk di sebelah Cassandra. Ia menatap Erris sungguh-sungguh, seperti berharap Erris memutuskannya saja sendiri daripada minta pendapat. Karena ia tahu, Erris akan didengarkan oleh anggota yang lain. "Udah saatnya kita menghapus kesan kalau MOS itu ajang balas dendam, ajang penyiksaan buat para yunior. Ya 'kan? Jadi nanti kita bisa saling menghibur sebelum kelas dimulai"
Erris mengangguk, cewek bernama Melia itu ada benarnya juga. "Jadi… bagaimana?" ia menyerahkan keputusan itu kepada forumnya lagi.
Sebagian sudah ada yang mengangguk setuju.
"Ya udah. Kalau begitu, kita voting" putus Erris, sambil berdiri dan bersiap mengumpulkan suara. "Yang setuju sama acara nyanyi di penutupan, angkat tangannya"
Kurang dari lima menit lebih dari separuh peserta rapat mengacungkan tangannya.
"Dan yang nggak setuju?" tanya dia kemudian walaupun tahu jumlahnya nggak seberapa.
Setelah semua melihat hasilnya, dipastikan mereka akan membuat acara penutupan MOS yang dijamin lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Setelah kesepakatan diambil, forum pun bubar. Erris mengemasi barang-barangnya dari atas meja saat seseorang tiba-tiba menghampiri.
"Makasih ya, Ris. Lo juga setuju sama ide gue," ucap Melia dengan senyum manis.
Erris hanya mengangguk, tersenyum simpul, "Itu keputusan forum kok," katanya dengan tatapan tenang dari balik kaca mata yang terpasang di hidungnya yang mancung. "Ide itu emang bagus"
Melihat reaksi Erris yang hampir biasa, Melia agak kecewa. Jangankan senyum, menatap ke mata lawan bicara saja, tatapannya masih saja datar. Seolah dia itu nggak peduli orang lain mau bagaimana di depannya. Dia membalikan badan dan pergi. Selalu begitu di saat orang lain mengajaknya bicara. Ia nggak akan mengeluarkan lebih dari lima kata jika nggak ada hal yang penting yang harus dibicarakan. Benar-benar cowok yang berkarakter, kata Melia sambil senyum-senyum sendiri menyaksikan Erris berlalu dari hadapannya.
"Nah lho!" seseorang menegur dan bikin Melia terkejut.
Cassandra, sahabat baiknya, malah cekikikan, "Lo nungguin apaan, Mel? Nungguin dia nembak lo?!" canda dia, meledek.
Raut Melia berubah murung. Ditembak?, mimpi itu masih kejauhan. Erris bahkan nggak tertarik untuk ngobrol walaupun sebentar. Menurutnya, Erris nggak akan menembaknya dengan ungkapan cinta, tapi pakai senapan yang bikin dia langsung mati di tempat. Soalnya, sampai sekarang, sudah lebih setahun saling mengenal, nggak ada tanda-tanda Erris tertarik padanya. Padahal di kelas satu mereka sekelas, duduk bersebelahan pula, tapi Erris hanya menatapnya biasa sekalipun Melia mencoba untuk sedikit perhatian. Semua orang di kelas saja tahu, kalau dia naksir Erris, tapi kenapa Erris seolah nggak merasakannya? Kenapa hatinya sedingin itu?
Tapi… begitu Melia menemukannya sedang bersama teman-teman yang kabarnya sudah akrab dengannya sejak SMP, Melia baru bisa melihat tawanya dan Erris menjadi sedikit banyak bicara. Rasanya, ingin bergabung juga dengan kelompok itu tapi… mereka berbahaya. Prestasi dan reputasi Erris bertolak belakang dengan ketiga temannya –Rory, Damar dan Laras, mereka tukang buat masalah.
Setiap jam istirahat siang mereka berkumpul di kantin. Erris sering datang terlambat karena tugasnya sebagai Ketua OSIS mulai membuatnya sibuk, terlebih saat tahun ajaran baru akan dimulai. Saat liburan naik kelaspun, ia terpaksa ke sekolah untuk rapat persiapan MOS. Dan entah mengapa, di mana ada Erris di situ pula ada mereka. Memang, Erris sering ditumpangi sedan BMW milik Rory dan sahabatnya itu selalu sedia mengantar ke mana pun. Mereka benar-benar sahabat yang nggak terpisahkan.
"Udah deh, Mel! Nggak usah cemberut terus!" kata Cassandra. "Lo harus pedean dikit dong di depan Erris!"
Melia diam saja. benar, perasaan suka ini membuatnya malu. Tapi, bagaimana caranya mendekati kelompok itu jika satu-satunya cara bisa akrab dengan mereka adalah berteman dengan teman-temannya?
"Lo ikut gue deh!" ajaknya. "Kita samperin mereka"
"Eh, tapi, Cas…"
Cassandra menarik tangannya, "Udah deh. Lo tenang aja. Gue sama Rory lumayan akrab kok" ujar dia. "Kita bakal sekelas lagi!"
Terpaksa Melia manut, menghampiri kelompok yang lagi duduk di kantin itu. Kalau sudah di dekat mereka hawanya terasa berbeda. Selama ini orang tahu, kalau kelompok itu susah di dekati seolah mereka itu kelompok eksklusif. Nggak sembarang orang yang bisa bicara dengan mereka apalagi duduk di meja yang sama.
"Hai, Ror, lo juga datang?" sapa Cassandra sok akrab saat Rory ternyata malah mendecak.
Perkenalkan, Angel Florissa Wiradilaga, nama yang terlalu cantik buat cowok garang yang duduk di sudut. Badannya tinggi tegap dan kulitnya agak gelap. Tapi, lesung pipinya dalam. Tipe yang sebenarnya sudah lama diidam-idamkan Cassandra sejak masuk sekolah ini, karena sebagai bonusnya cowok yang dipanggil Rory sama teman-temannya ini super tajir –ayahnya seorang direktur rumah sakit. Dia mengendarai BMW seri terbaru ke sekolah walaupun SIM-nya masih dipertanyakan. Tapi, siapa peduli, dia punya senyum yang menawan, berbanding terbalik dengan kelakuan minusnya.
Pertama, dia tukang bikin masalah, disenggol dikit langsung mengamuk. Suka ngelaba saat pelajaran, berargumen dengan guru belum lagi pernah membentak kepala sekolah (*jangan ditiru ya). Semua karena nama Wiradilaga yang terkenal dan dihormati, dia bisa berbuat seenaknya. Kedua, paling malas belajar dan mengerjakan PR tapi ajaibnya bisa mengerjakan soal-soal ujian. Ada yang mengira dia dapat contekan dari Erris tapi nggak ada yang bisa membuktikannya. Salah seorang guru pernah menyarankan padanya untuk menggunakan sepuluh persen saja kecerdasannya untuk melakukan hal yang berguna tapi dengan mantap dia menjawab 'nggak perlu pujian dari orang-orang untuk jadi lebih baik' dan guru pun hanya bisa mengelus dada. Ketiga, bagi cewek-cewek ini adalah kekurangan Rory yang paling 'nggak banget' –dia nggak suka cewek. Bukan berarti nggak normal, tapi dia paling risih kalau ada cewek centil yang dekat-dekat dengannya.
"Ampun deh…" dengar saja dia menggerutu sama teman-temannya saat melihat Cassandra bertingkah sok akrab.
Melia yang sadar, jadi malu sendiri sama Erris. saat Laras dan Damar saling tertawa.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rory ketus padanya.
"Lo galak amat sih!" Cassandra cemberut. "Gue Cuma mau say hi aja kali. Kebetulan Ketua OSIS juga di sini"
"Tapi, ini bukan tempat anak-anak OSIS!" celetuk Rory lagi.
"Cas, kita pergi aja yuk…" ajak Melia saat Cassandra benar-benar mati gaya. Dia nggak menyangka akan diusir oleh Rory. Lalu dengan buru-buru mereka segera pergi.
"Lo kelewatan banget, Ror" kata Laras, mengingatkan.
"Apaan?!" celetuk Rory tambah gusar. "Gue bรชte tahu, nggak di mana-mana cewek itu ada! Ngekorin gue, di kelas, di kantin! Bikin gue keki!"
Erris memperhatikan langkah mereka yang buru-buru menjauh. Dia sih tahu kalau Melia suka padanya, tapi pura-pura jadi orang yang nggak berperasaan. Kalau nggak suka, juga nggak mungkin dipaksakan bukan? Lalu Erris kembali mendengarkan perdebatan teman-temannya.
"Kasihan juga cewek seksi gitu lo bentak-bentak! Ntar lo kualat lagi, dapat cewek galak yang suka marahin lo, Ror" ejek Damar.
Laras menyipitkan matanya ke Damar. Kayaknya agak terganggu dengan kata 'seksi' barusan. "Seksi?" dia mengernyit. "Rok gue kurang pendek ya sampai lo bilang mereka seksi?" cetusnya, seketika Erris dan Rory cekikikan.
Damar langsung diam. Seperti dikutuk jadi es batu, dia membeku di samping Laras.
"Elo tuh yang kualat!" cetus Rory, sebelum cekikikan lagi.
Dengan acuh, Laras melirik Erris setelah dia bikin Damar duduk nggak nyaman di sampingnya. "Mereka anak OSIS juga, Ris?" tanya dia.
"Yah…" jawab Erris yang nggak terlalu bersemangat hari ini. Kalau bukan karena acaranya besok ia nggak akan mau ke sekolah. Dia lebih suka tidur di rumah siang-siang begini.
"Gimana persiapan MOS-nya?" tanya Laras lagi.
"Udah sembilan puluh persen. Kalau bukan karena ada yang usul bikin acara nyanyi di penutupan pasti udah kelar" jelasnya. "Kayaknya emang suasana MOS itu harus diubah. Toh kita juga pernah jadi korban senior yang balas dendam"
"Iya juga sih", komentar Laras dan mereka mulai nyambung. "Gue jadi ingat waktu MOS SMP gue dibentak-bentak sama senior cuma gara-gara duduk kecapean"
"Lo terima dibentak-bentak?" tanya Rory.
"Ya enggaklah! Gue ngelawan sampai dilaporin ke guru" jawab Laras, "Buntutnya jadi panjang banget. Lo sama Damar mana ngerasain disiksa waktu MOS, soalnya jangankan disiksa ngelihat tampang kalian yang udah kayak preman itu aja semua udah pada takut"
"Sialan banget lo, Ras, bilang gue kayak preman!" celetuk Rory, tapi dia tertawa. "Gue nggak ikut MOS waktu SMP karena liburannya kelamaan. Nyokap gue keenakan belanja sampai lupa pulang"
"Nyokap lo masih kayak gitu, Ror?" tanya Damar mulai tertawa.
"Masih cantik," jawab Rory ikut tertawa juga. "Nyokap lo? Masih galak?"
Damar nggak jawab. Ia masih tertawa nggak jelas di saat Laras dan Erris sudah diam –setiap mereka membicarakan soal ibu, mereka memilih nggak ikut ngatain. Walaupun punya sosok ibu yang nggak seperti kebanyakan ibu, mereka nggak saling menceritakan kelakuan buruknya.
Tersadar, Damar dan Rory langsung diam. "Jadi… kita cabut sekarang yuk!" ajak Rory sambil berdiri mengambil kunci mobilnya dan mulai bergerak.
"Yuk!" sahut Laras ikut berdiri diiringi oleh Damar yang langsung merangkul bahunya.
Mereka pun sama-sama berjalan menuju ke parkiran yang jaraknya nggak terlalu jauh dari kantin. Siang ini mereka nggak punya rencana jalan ke mana-mana karena Erris sudah bilang dari tadi bahwa ia sudah harus di rumah begitu rapat OSIS-nya selesai. Dengan senang hati, Rory pun mengantarnya pulang.
***
Komentar
0 comments