[Hal.1][Ch.1] A MAN WITH ROSES

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Red Roses Turned Black

Jarum jam sudah berhenti di angka 01.00 WIB. Sabtu dini hari, malam pun kian larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Saat kebanyakan orang menyebrang ke alam mimpi, di satu sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut –sebuah siklus sosial yang tetap hidup. Jakarta memang nggak pernah "mati" dari kehidupan malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian. Siapa pun bisa mengadu nasib di sini, tempat usaha milik seorang mafia yang dikenal di kalangan gamblers sering memanggilnya dengan sebutan Raja Mas. Di tempat ini, cukup dengan menitipkan uang satu juta di pintu masuk sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam. Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya. Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin Mickey Mouse. Puluhan pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan cepak.

Seseorang melangkah ke dalam dengan tenang, menyapa penjaga bertampang sadis itu. Tanpa perlu diminta tanda pengenal, ia diizinkan masuk, diikuti oleh seorang perempuan bergaun hitam dengan kunciran rambut yang tinggi di belakangnya. Dengan antusias, sepasang mata sipitnya mencari-cari tempat baginya untuk duduk dan melewatkan malam ini dengan mencari peruntungan. Ada satu sudut meja Blackjack, di mana hanya ada empat pemain –satu di antaranya adalah wanita dengan dandanan pekat di mata dan bibirnya yang merah darah.

Si pemuda pun menghampiri mereka –ingin ikut bermain bersama keempat orang itu dan seorang dealer cantik berompi hitam. Seorang pria di sebelahnya, melirik lalu tersenyum sinis.

"Ngapain kamu di sini, Nak?" tanya dia dengan ekspresi melecehkan. "Pulang sana. Besok sekolah"

Tapi, pemuda itu hanya menatapnya tanpa ekspresi dan kemudian dealer membagikan kartu pertama untuk masing-masing pemain. Sedangkan wanita yang bersamanya hanya tersenyum simpul karena permainan telah dimulai.

Si pemuda mendapatkan sebuah kartu yang nggak terlalu bagus –tujuh wajik, pria di sebelahnya tersenyum lebar karena mendapatkan satu kartu kerajaan –queen. Yang di sebelahnya lagi, mendapatkan angka yang lebih rendah –lima keriting, wanita ber-make up tebal mempunyai kartu sembilan sekop. Dan yang di ujung sekali mendapatkan kartu kerajaan juga –jendral hati. Pemuda lalu  melirik kartu perempuan kucir kuda di sebelahnya – dia mendapatkan kartu As hati.

Mereka mulai pasang strategi karena dealer juga memiliki satu kartu As keriting.

Kartu kedua dibagikan dan hampir semua pemain sudah mulai ragu karena dealer bisa saja menang. Si pemuda mendapatkan empat hati –ia nggak terlalu kecewa, yang di sebelahnya mendapatkan dua sekop dan seketika menjadi gusar karena itu bukan kartu As, wanita berlipstik merah mendapatkan sembilan hati dan nyaris tanpa ekspresi, sedangkan yang di ujung menerima tiga wajik dan mulai gelisah, sedangkan perempuan kuncir kuda mendapatkan lima wajik.

Pemuda itu mulai menghitung.  Sebelas angka untuknya, enam belas untuk si kuncir kuda, dua belas juga untuk si pria angkuh di sebelahnya, split  untuk si wanita ber-make up tebal karena nilai kartunya sama, dan tiga belas untuk pria di sebelah wanita itu. Saatnya bagi mereka untuk membuat keputusan.

"Hit!" kata pria yang berada di ujung dan dealer memberikan satu kartu lagi. Dan tiba-tiba ia mendecak kesal karena yang keluar adalauh kartu kerajaan. Ia pun langsung tersingkir.

"Split!" kata di wanita menor, dan ia mendapatkan dua kartu sekaligus untuk masing-masing nilai delapan yang ia dapatkan. Ia pun tersenyum karena salah satunya merupakan kartu kerajaan –king keriting, dan satu lagi hanya lima wajik.

Pria sinis di sebelah sang pemuda, makin gusar saja karena wanita di sebelahnya mendapatkan nilai delapan belas dan setidaknya  ia masih bisa menang walaupun nggak ada yang tahu kartu terakhir dealer. "Hit!" katanya dan ia pun mendapatkan satu kartu kerajaan lagi –jendral sekop. Kesal, ia pun langsung melemparkan kartu itu ke atas meja. Harusnya ia mendapatkan sembilan untuk bisa menang di taruhan terakhirnya. Sambil mencak-mencak, ia meninggalkan meja itu dan sepertinya dia sudah agak mabuk.

Si pemuda baru tersenyum. Ia sudah memperhatikan semua kartu yang keluar dan menghitung di kepalanya. Kartu mana kiranya yang akan keluar jika ia memutuskan untuk hit. Tapi bukan itu masalahnya. Dealer hanya akan menang telak jika dia mendapatkan satu kartu kerajaan atau kartu bernilai sepuluh. Kemungkinannya besar, karena kartu sepuluh belum keluar dan bisa saja berada di tumpukan paling atas yang akan dibuka oleh dealer. Tapi, jika dia yang mendapatkan kartu angka sepuluh, dia akan memenangkannya. Ini hanya permainan keberuntungan dan ketepatan, pikirnya.

"Double down!" putusnya dan semua orang sudah bisa menebaknya. Tapi, nggak ada yang menyangka bahwa kartu berikutnya adalah sepuluh hati. Blackjack!

Dealer itu tersenyum –bocah yang beruntung, kata dia. Setelah membuka kartu terakhirnya delapan keriting.

Perempuan kuncir kuda tertawa pelan. Ini baru pemanasan, akan banyak orang yang duduk di meja ini bergantian saat permainannya memanas!

Dua jam pun berlalu. Ruangan mulai ramai diisi oleh pria-pria berdasi. Kepingan-kepingan cip sudah menumpuk di hadapan si pemuda yang masih tenang-tenang saja di kursi panasnya. Sekali ia melirik jam tangannya kemudian, ia merasa sudah saatnya pergi karena beberapa jam lagi pagi akan datang. Ia selalu nggak ingin menghabiskan semalaman di sini.

Saat meninggalkan meja itu, semua orang memandangi langkahnya. Semua orang bertanya? Siapa dia? Siapa pemuda yang selalu beruntung itu? Tapi, ia hanya melangkah, menghembuskan asap rokok dan meninggalkannya di belakang, selangkah demi selangkah ia melewati semua mata penjaga. Perempuan rambut kuncir kuda itu masih mengkutinya membawa serta kepingan cip dalam sebuah tas besar untuk segera ditukarkan menjadi uang. Ia tampak tak peduli betapa banyak pun lembaran uang yang mereka hasilkan malam ini. Ia hanya ingin keluar dari tempat terkutuk itu.

"Erris!" panggil perempuan berambut kuncir kuda itu sebelum ia sempat membuka pintu mobilnya.

Pemuda yang dipanggil Erris itu hanya menoleh, tanpa menjawab.

"Makasih ya," ucap perempuan itu padanya dengan wajah sedih. "Terima kasih udah mau bantuin kita…"

"Udahlah, Kak Sari…" katanya, suaranya pelan dan tenang. "Setelah ini… aku hanya mau kalian hidup tenang dan jangan bikin masalah lagi"

Perempuan itu kemudian tertunduk sampai ingin menangis.

"Bilang sama Mama, kalau semuanya udah di rumah, aku pasti pulang," katanya sembari menarik pintu mobil Honda Jazz putihnya. Ia tampak nggak bakal menumpangi kakaknya pulang. Walaupun masuk ke tempat itu bersama, tapi sebenarnya mereka datang dengan mobil yang berbeda.

Kakak perempuannya itu pun, tersenyum, "Nanti, lo bawa Uki 'kan?" tanya dia, penuh harap.

Erris menggeleng, "Dia nggak bisa datang," jawabnya, murung.

"Kenapa?" tanya Karla lagi, tampak nggak mengerti bahwa sebenarnya hubungan adiknya dengan seorang gadis bersahaja yang bernama Uki itu sudah kandas. Mereka tampak nggak akan kembali bersama dari jawaban Erris yang lesu.

"Sekarang, Kak Karla pergi ke tempat orang itu dan berikan uangnya," kata Erris berpesan padanya, sebelum ia masuk mobil. "Aku pergi dulu"

Perempuan itu masih berdiri di sana menyaksikan adiknya yang murung akhirnya berlalu. Kemudian, ia pun menuju ke sebuah mobil yang menunggunya nggak jauh dari tempat ia melepas Erris dengan perasaan bersedih.

"Erris mana?" tanya seorang perempuan berambut pendek dan lurus yang duduk di belakang setir mobil sedan tahun sembilan puluhan itu.

"Dia udah pergi," jawab Karla sambil melempar tas berisi uang itu ke jok belakang. Lalu ia pun ikut naik setelah mesin dinyalakan. Lalu tanpa sadar Karla menghela nafas, "Gue…baru sadar sekarang kalau Erris udah dewasa," katanya tiba-tiba dan perempuan yang menyetir di sebelahnya heran. "Bentar lagi dia pasti menikah dan punya keluarga sendiri… sedangkan kita…"

Perempuan itu diam saja, tampak membenarkan.

"Dia nggak selalu ada di saat kita butuh dia, kalau kita bikin masalah lagi, Ta…" sambungnya lagi dengan sedih. "Kita nggak bisa minta tolong buat ngebayar utang judi kita terus…"

"Gue pikir juga gitu, Sar…" kata perempuan bernama Manda yang nggak lain juga adalah kakak perempuan sulung Erris. "Padahal kita udah bikin dia menderita sama kelakuan dan sikap kita. Dia juga sayang banget sama Mama yang pemabuk, penjudi dan kasar. Mungkin karena itu nasibnya mujur, dan mungkin udah saatnya kita biarin Erris untuk hidup… seperti yang dia inginkan…"

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments