[Ch. 7] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Tenggelam

“Belum balik juga?” tanya Wira seminggu setelah itu.

Aku menggeleng lalu menangis lagi. Aku dan Mama tidak pernah bertengkar hebat. Mama tidak pernah semarah itu sebelumnya. Tidak  pernah meninggalkan rumah dalam keadaan seperti itu karena masalah yang menyangkut diriku.

“Kalau mama kamu udah balik, kasih tau aku. Biar aku bisa ngomong dan selesain masalah kita,” katanya.

“Kamu mau ngomong apa sih?”

“Rencana ke depan kita setelah lulus nanti,” jelasnya.

“Rencana apa?”

“Kalau udah lulus aku mau cari kerjaan. Kalau aku nggak kerja aku mau kasih kamu makan apa nanti?” jelasnya lagi sambil tersenyum.

“Mau cari kerjaan di mana?”

“Ya di mana aja. Di mana aku bisa diterima dan gajinya juga bagus”

Itu sangat menghibur. Jelas, di saat aku merasa bahwa tidak ada harapan bahwa kami akan menjalani hubungan ini dengan bahagia. Aku senang karena Wira selalu memberi support di saat aku mengeluhkan kehidupanku yang tidak berjalan sesuai keinginan. Sama artinya memberi harapan buatku bahwa hanya dia yang bisa membuatku bahagia. Aku juga merasa bahwa hanya bersama dia aku bisa bahagia.

Cintaku tidak melihat bahwa dunia ini luas. Cintaku yang merasa bahwa suatu hari nanti menikah dan berkeluarga adalah satu – satunya  kebahagiaan abadi bagi seorang perempuan yang tidak ingin sendirian di sisa hidupnya. Terlebih jika hidupnya seperti aku.

Dia memelukku di saat aku akan terjatuh menangis lagi.

“Mau apa dia?” tanya Mama sinis.

“Mau ngomong serius sama mama soal aku...” jawabku ketakutan.

“Nggak perlu” tandasnya. “Dia nggak perlu ngomong apa – apa  ke mama. Dan mama nggak mau kamu sebut – sebut  nama dia lagi”

“Mama kenapa sih? Aku udah minta maaf. Wira juga mau minta maaf sama Mama...”

“Mama sudah bilang nggak mau dengar soal dia lagi, Bita! Kamu ngerti nggak sih?!”

Sikap Mama jadi dingin, acuh dan garang. Sejak kembali dia mengacuhkan aku dan tidak mau bicara jika aku tidak menyapanya duluan. Sikapnya membuatku gentar tapi masih belum terlambat untuk meluruskan masalah yang sedang melanda kami.

“Yang harusnya kamu pikirin itu bukan dia! Skripsi kamu gimana?! Udah kamu selesaiin belum?”

“Gimana aku konsentrasi kalau Mama masih marah sama aku...”

Mama memandang ke arahku cukup lama dan kelihatan mikirin sesuatu yang akan aku katakan.

“Memang dia mau bilang apa sama mama?” ia bertanya dengan suara yang lebih rendah. “Apa dia mau nikahin kamu?”

Aku mengangguk dengan ragu dan langsung tertunduk setelahnya.

“Kapan? Sekarang? Ya ampun, Bita. Mama mati – matian demi kamu supaya kamu bisa lulus kuliah terus dapat kerjaan yang layak demi masa depan kamu sendiri! Bisa – bisanya  kamu kepikiran untuk menikah!”

“Maksud Mama apa...” suaraku bergetar. Mama pasti akan mengatakan hal yang menyakitkan lagi buatku.

“Sampai kapan pun Mama nggak akan pernah terima dia!” Mama menegaskan.

“Kenapa, Ma?!”

“Kenapa sih kamu belain dia?! Oh, jangan-jangan kamu bohong sama Mama bilang kamu belum ngapa – ngapain  sama dia? Kamu takut dia ninggalin kamu makanya kamu minta tanggung jawab cepat – cepat?” Mama berdiri untuk menghampiri aku dan kemarahannya seperti mau meledak lagi seperti waktu itu. “Bisa – bisanya  kamu menyia-nyiakan semua yang udah mama lakukan buat kamu ya...?”

Aku menggeleng berkali – kali. Membantah. Menjelaskan maksudku yang sebenarnya meski aku bingung bagaimana cara mengatakannya agar mama mengerti bahwa aku mencintai Wira dan tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan dia di hatiku. Aku tidak mau siapapun selain dia, kalau bukan dia aku tidak mau, “Setelah lulus Wira mau cari kerjaan, aku juga...” jelasku. “Wira cuma mau mama tahu bahwa dia serius soal aku...”

“Kalau dia serius sama kamu, Mama nggak akan ketemu dia di kamar kamu! Kamu belum bisa bedain mana laki – laki  yang benar – benar  cinta sama kamu atau menunggu kamu tunduk sama dia?!”

Aku sudah tunduk. Aku sudah lama menyerah pada perasaanku. Karena saat Wira nggak tidak di dekatku aku merasa tidak berdaya. Aku tau itu salah. Tapi, suatu saat nanti aku juga mempunyai kehidupan sendiri dan mandiri. Mungkin inilah jalan yang diberikan Tuhan untukku agar bisa bahagia. Lagipula tidak ada hubungan yang tanpa masalah. Orang yang serius biasanya menghadapi banyak masalah sebelum akhirnya bisa bersama dan setelah itu juga mereka punya masalah yang jauh lebih rumit dari sebelumnya. Saat itulah cinta diuji. Setiap orang pasti mengalaminya, pikirku.

“Dia bilang begitu karena dia belum dapat yang dia mau dari kamu, Bita! Kamu nggak bisa lihat?! Dia tau kamu sendirian, kenapa dia masih berani juga masuk rumah ini? Itu jelas nunjukin bahwa dia bukan cowok baik – baik!” kata Mama. “Apa kamu nggak sadar, dia menganggap kamu sama rendahnya sama apa yang mama lakukan buat cari uang?!”

“Nggak, Ma...Wira nggak kayak gitu...”

Mama terdiam. Dia menjauhiku aku lalu duduk lagi di sofa tempatnya semula.

“Dia beneran sayang sama aku, Ma...”

“Sekarang terserah kamu! Kamu udah cukup dewasa untuk menentukan pilihan kamu sendiri! Toh nanti juga kamu sendiri yang rasain. Tapi, ingat satu hal, kamu harus selesain kuliah kamu. Dan satu lagi, jangan paksa Mama untuk terima dia lagi karena lihat wajahnya aja Mama udah nggak sudi. Jadi kamu jangan coba – coba  bawa dia ke depan Mama lagi, ngerti?”

Wira shock mendengarnya dariku. Aku tau dia tidak bisa menguasai dirinya di saat bingung. Tapi, lama kelamaan dia semakin santai menghadapinya. Padaku, Wira sekali lagi bilang, sebaiknya dijalani saja. Karena kita nggak pernah tau apa yang bisa terjadi nanti.

Aku kecewa dengan jawaban seperti itu dan menyulut pertengkaran.

“Aku hanya butuh kepastian, kalau kamu jawabnya kayak gitu sama aja artinya kamu nggak ingin lagi berhubungan sama aku!” kataku dengan emosi. “Artinya kalau pisah juga nggak apa-apa  buat kamu, iya kan?!”

“Emang aku ngomong nggak mau berhubungan sama kamu lagi? Kepastian itu bukan punya kita!” balasnya. “Kita sama-sama  tau ada hal yang lebih penting sekarang! Aku mau kuliahku cepat selesai jadi aku bisa cari kerjaan, buat kamu juga! Buat kita! Supaya kita bisa hidup nantinya! Harusnya kamu sadar aku butuh support bukan ditanyain hal-hal  kayak gini tiap sebentar! Kamu selalu mikirin perasaan kamu sendiri!”

Aku sadar sudah membuatnya tertekan sama ucapanku yang terus menuntut kata cinta. Aku bertingkah kekanakan dan kadang membuatnya nggak betah saat mengobrol lama-lama  denganku. Sebenarnya aku cuma mencemaskan bilamana nanti Wira berubah pikiran soal aku. Itu bisa saja terjadi karena aku sudah menimbulkan masalah yang berat dalam hidupnya. Karena itu aku selalu ingin Wira meyakinkan aku bahwa dia benar-benar  cinta padaku.

“Kita sudah bukan anak kecil lagi yang nggak harus bilang sayang tiap sebentar. Kita harus mikirin rencana ke depan supaya bisa lebih baik...” katanya.

Masalahnya, aku merasa...aku merasa tidak dianggap. Karena aku tidak pernah tau apa yang dia pikirkan. Maksudku, aku tidak harus bisa membaca pikiran orang karena itu absurd. Tapi, aku tidak bisa memahaminya karena dia seolah tidak memberiku kesempatan untuk lebih dekat. Setiap kuutarakan apa yang kupikirkan kami selalu berdebat. Meski tidak pernah bertengkar hebat, tapi perdebatan itu seakan bisa membunuhku. Hebatnya dia selalu tidak bisa memahami kata-kataku  yang jujur tentang perasaanku dan kuharapkan mendapat balasan berarti darinya tapi dia selalu menyalahartikan semuanya. Setiap berhadapan dengannya aku selalu kalah.

Aku tidak bisa menerimanya.

Seandainya waktu itu Mama nggak menemukan kami di kamar waktu itu, pasti kejadiannya akan lain. Wira tidak akan menjadi pelampiasan emosiku setiap kali aku merasa khawatir dengan nasib hubungan kami. Terpikir olehku untuk melakukan apa saja agar Wira mengerti bahwa aku sayang padanya lebih dari apapun di dunia ini. Bahkan melebihi Mama yang sudah melahirkan aku dan membesarkan aku dengan susah payah.

Itu adalah sebuah kesalahan besar yang pernah dilakukan seorang anak terhadap ibunya.

“Kenapa Mama nggak menghargai pilihan aku?” aku memohon agar Mama menghilangkan kebenciannya.

“Siapa yang nggak menghargai pilihan kamu?” cetus Mama acuh tak acuh. “Mama udah bilang terserah kalau kamu tetap mau sama dia tapi Mama tetap nggak akan pernah bisa menerima dia”

“Selama ini aku nggak pernah minta apa – apa  dari Mama, kenapa Mama nggak mau ngerti juga?! Restu Mama penting buat aku supaya aku bisa hidup dengan baik!”

“Ngomong apa kamu? Hidup dengan baik apanya? Kalau kamu tau mana yang baik atau salah nggak seharusnya kamu begini. Selama ini Mama yang ngurusin kamu! Yang nyekolahin kamu! Beli baju dan barang – barang  yang kamu pakai tiap hari! Hanya gara – gara  laki – laki yang baru aja kamu kenal dan bahkan belum kamu kenal sepenuhya kamu rela ngelawan Mama!”

“Kalau gitu Mama nggak usah lagi ngelakuin apapun untuk aku!” teriakku kesal dan kemudian kusesali itu selamanya di saat kenyataan berkata yang sejujurnya kepadaku.

Aku hampir tenggelam. Karena aku tidak bisa berenang. Aku terus menggapai – gapai  ketakutan. Air yang luas akan segera menelanku saat baru saja lapisan es yang tipis itu retak dan aku terperosok ke dalamnya. Kakiku tidak menyetuh dasar. Aku tidak bisa teriak minta tolong karena begitu aku membuka mulut, air yang tidak terkira banyaknya masuk ke tenggorokanku. Dingin. Aku sesak. Tapi, nggak tidak ada seorang pun yang menolongku.

“Kayaknya kita harus akhiri semuanya” itu yang dia katakan padaku di akhir perdebatan tentang perasaan.

“Nggak, aku nggak mau...” pintaku menangis dan kali ini benar – benar  memohon. Menyadari kesalahan yang kulakukan adalah wujud dari emosi tertahan di dalam diriku atas masalah yang kuhadapi selama ini. Begitu berat. Begitu menyakitkan.

“Di antara kita sudah nggak ada kecocokan lagi” Wira tampak bersikeras sama keputusannya yang menurutku hanya emosi sesaat dari ketidaksanggupannya menghadapiku. “Aku sudah capek”

‘Kamu bosan sama aku?”

“Aku nggak bosan sama kamu” jawabnya, “Tapi, aku bosan sama sikap kamu yang selalu marah – marah  sama aku tanpa sebab...”.

“Aku nggak tau harus gimana, Ra... masalahku banyak dan nggak tau harus gimana ngadapinnya...”.

“Aku juga punya banyak masalah! Nggak ada orang yang nggak punya masalah! Tapi, tergantung cara menyikapinya! Dewasa dong!” keluhnya. “Selama ini aku selalu support kamu supaya kamu bisa bangkit dari masalah. Kenapa kamu nggak bisa kayak gitu? Yang ada kamu selalu bikin aku patah semangat, bingung, nggak tau harus gimana. Setiap kali aku jadi serba salah!”.

Aku hanya menangis. Aku sama sekali tidak bahagia. “Jangan tinggalin aku, Ra...Aku mohon sama kamu, jangan tinggalin aku...”.

Aku dengar Wira menarik nafas panjang.

“Ya udah deh.” Katanya mengurungkan niat untuk pisah. ‘Tapi, kamu harus janji dengerin apa yang aku bilang”.

Aku mengangguk, “Iya, aku janji. Apapun akan aku lakuin buat kamu supaya kamu nggak ninggalin aku, Ra...”.

Apapun aka aku lakukan buat kamu...

Aku pernah membuat sebuah keputusan yang bodoh. Dan untungnya tidak kulakukan. Menyerahkan diri seutuhnya adalah kegilaan.

Sejauh mana hubungan itu bisa bertahan setelah melawan Mama yang terluka hatinya. Melawan orang yang telah menyerahkan seluruh hidupnya hanya untukku? Untuk kebahagiaanku? Mama meninggalkan aku untuk waktu yang sangat lama. Berbulan-bulan. Dan sama sekali tidak ada uang.

“Gila! Masa sih nggak balik – balik?” Ben kaget sewaktu aku sengaja mencarinya.

Kami sudah tidak sekelas lagi karena Ben harus mengulang di semester 4 dan aku jarang bisa melihatnya karena rentang jadwal kuliah yang jauh berbeda.

Aku menahan rasa malu saat mengatakan bahwa aku tidak punya uang untuk bayar tagihan listrik dan air yang udah menunggak 3 bulan dan terpaksa diputus. Sementara itu aku harus mengerjakan skripsi dan mempersiapkan banyak hal untuk bisa lulus. Aku juga tidak bisa mengandalkan Wira karena aku tau bagaimana keadaannya. Jadi aku tidak cerita masalah itu dan dia pun juga tidak pernah bertanya. Kami mulai jarang komunikasi karena Wira sibuk degan thesisnya sendiri.

“Kamu bisa nolong aku kan?” tanyaku lagi. “Kalau aku udah punya uang pasti aku ganti deh...”.

Ben mau menolong. Tapi, aku lebih dulu curhat tentang masalahku. Karena tentunya aku harus mejelaskan dari mana masalah itu muncul dan kenapa mamaku sampai tidak pulang – pulang. Membiarkan aku dengan situasi yang sangat sulit dan menyedihkan.

“Masalahnya gawat juga...” komentarnya.

“Gimana lagi. Semuanya mendadak. Aku  nggak nyangka mamaku bakal segitu bencinya sama Wira” kataku.

“Nggak akan berhasil deh kayaknya...”  gumam Ben. Lalu menatapku. “Kamu nggak akan berhasil selama Mama-mu nggak sudi”

“Nanti juga mama bakal nerima setelah lihat kami bertahan”

“Tapi, Wira hampir nggak pernah melakukan apa-apa  buat kamu. Kamu  sadar nggak sih kalau dia cuma mikirin dirinya sendiri?!”

“Tapi, dia serius kok. Dia udah rencanain semuanya setelah lulus...”

“Semua bisa bilang mau begini atau begitu nanti. Tapi, yang membuktikan itu cuma yang sekarang, Bit! Gimana sikapnya yang sekarang!” potong Ben.

Aku lagi – lagi  mengingkarinya.

“Buktinya sekarang kamu lagi susah dia nggak tau apa – apa”

“Itu karena aku sengaja nggak mau bilang!”

“Dia pacar kamu. Seharusnya dia tanya keadaan kamu atau langsung mastiin kamu nggak ada masalah!”

“Tapi, dia juga nggak bisa bantu aku soal uang, Ben!”

“Seenggaknya bisa cari jalan keluarnya sama-sama! Itu yang perlu bukan masalah uangnya! Uang bisa dicari!”

Aku terdiam lagi. Hatiku berontak, mengingkarinya. Semua yang dikatakan Ben sama sekali tidak sesuai sama yang sebenarnya. Tapi, siapa yang sebenarnya keliru?

“Dan...kayaknya kamu dipastiin ngulang,” sambug Ben. “Kamu nggak akan diwisuda tahun ini, Bit...”

Aku belum memikirkan apapun soal skripsi di saat orang – orang  sudah separuh jalan. Apa yang akan kutulis? Apa yang bisa kujabarkan? Tidak  ada apapun di kepalaku selain dia. Hanya Wira, Wira dan Wira.

“Aku capek, mau istirahat dulu. Kita ketemu besok aja” katanya sebelum mengakhiri pembicaraan di telpon.

Jatuh cinta kadang mengerikan.

Aku menangis. Hampir setiap malam aku menangisinya.

Aku terus menggapai-gapai. Berat tubuhku terus menarikku ke dalam air. Begitu tenagaku habis untuk bertahan, aku tenggelam.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments