[Ch. 6] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Walking on ice so thin

Aku selalu mengenang saat-saat  di mana semuanya masih terang. Canda dan tawa bersama dia. Menghadapi kampus yang seolah tidak lagi bersahabat dengan kami. Tapi, dosen pernah bilang, jangan biarkan perlakuan orang-orang di sekitar mempengaruhi kita. Wira mengajarkan aku untuk tidak terlalu peduli sama ucapan orang lain. Meskipun kadang, aku jadi kesal dan ingin membalas. Rasanya aku tidak ingin lagi dijadikan sasaran oleh mereka. Mentang-mentang  selama ini aku selalu diam untuk menghindari masalah.

“Benar-benar rusak tuh si Wira. Dulu macarin anak orang kaya sekarang macarin cewek bispak”

Jangankan cewek-cewek, para cowok pun berkomentar.

 “Hahaha, masa sih?”

“Aku satu SMA sama dia. Gayanya sok serius tapi  sebenarnya matre. Macarin cewek kaya yang nggak cantik-cantik  amat karena adiknya banyak”.

“Mulai ngegosip? Kayak cewek aja banyak omong!”.

“Hahaha, tanya deh sama si Ben kalau nggak percaya. Dulu kita satu sekolah”.

“Males ah! Ngapai ngurus urusan orang! Tapi, enak juga tuh si Wira”.

“Ngiri?!”.

“Ya nggaklah! Cewek bispak juga kok!”.

Telingaku panas. Detak jantungku semakin keras. Aku tidak seharusnya mendengarkan mereka karena yang mereka katakan itu sama sekali tidak benar dan aku harus membantahnya.

“Emang kalian lihat sendiri?!” tegurku menghampiri mereka.

Kedua cowok itu kaget karena mereka pikir tidak ada yang mendengar semua omong kosong mereka. Mereka menatapku tegang dan mundur selangkah demi selangkah saat aku mendekat. Seperti ingin menghindariku supaya orang lain tidak memperhatikan mereka.

“Aku tanya apa kalian pernah lihat sendiri kami ngapain?!”

Mereka tidak menjawab. Ekspresi mereka menunjukan seolah aku ini cewek gila dan harus dihindari sebelum mereka malu karena dimaki-maki.

“Cewek sinting...” ejek mereka sambil ketawa lalu pergi.

Meninggalkan aku yang sedang marah dan ingin sekali melampiaskan kekesalan. Di sisi lain juga Wira mengalami masalah yang sama. Inilah awal kesulitan yang membuat satu persatu menjadi kacau dan berantakan.

“Aku udah bilang sama kamu jangan diladenin! Kalau diladenin mereka tambah menjadi-jadi. Nanti kita sendiri yang capek!”

“Tapi, mereka bilang macam-macam  soal aku, soal kamu! Kita nggak seperti yang mereka omongin!”

“Cukup hanya kita yang tau. Nanti juga mereka berhenti sendiri...”

Aku menggeleng. “Nggak, Ra...” kataku, “Kayaknya ini bakal jadi masalah besar buat kita...”

Wira diam.

“Aku malu banget, Ra...” kataku lagi setengah menangis. “Nggak ada seorang pun yang mau percaya sama kita. Aku nggak bisa hidup tenang kalau mereka terus nuduh aku yang nggak – nggak, dan aku nggak bisa mengelak dari apa yang mereka omongin. Cuma kamu yang tau aku nggak kayak gitu...”

“Gimana aku bisa tau, Bita...” balas Wira. “Aku sendiri juga bingung...”

“Apa maksud kamu, Ra? Kamu masih belum percaya sama aku?”

Cinta itu butuh pembuktian. Memang tidak salah jika harus begitu. Tapi, bukankah sangat tidak adil untuk aku yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan oleh Mama-ku dan menjalani hidup seperti ini yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh mereka yang selalu memandang sebelah mata?

“Aku harus gimana?” ia malah bertanya padaku di saat aku juga ingin menayakan pertanyaan yang sama.

Seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis.

Waktu berlalu dengan cepat. Aku melalui banyak hal bersama Wira, banyak kenangan, banyak masalah dan air mata. Namun aku selalu berhasil bertahan. Tapi, merubah diriku tanpa kusadari. Aku tidak bisa lagi menenangkan diri di saat menghadapi masalah dan ini selalu muncul saat aku mendengar orang-orang  bilang sesuatu yang tidak baik soal kehidupanku. Aku sudah berusaha utuk menjalani hidupku dengan baik, tapi mereka menjadikan latar belakangku untuk mencap bahwa aku sama rendahnya dengan pekerjaan yang dilakukan Mama. Aku tidak pernah mengganggu mereka. Aku tidak pernah menyinggung orang lain, tapi kenapa mereka lakukan itu padaku?

Semuanya nggak lagi semenyenangkan seperti saat pertama kali. Aku pergi sama Wira ke tempat-tempat yang biasa kami datangi. Pergi makan, belanja dan jalan-jalan. Dulu kami selalu punya hal menarik untuk dibicarakan dan membuat kami tertawa. Tapi, makin lama di saat tidak ada lagi hal lucu yang bisa membuat kami kembali akrab seperti dulu. Seolah terpaksa menjalaninya, seolah tidak bisa mundur dari apa yang sudah dijalani, aku merasa Wira seperti itu.

Wira mulai jarang menelpon. Aku mencoba untuk tidak mempermasalahkannya karena sudah sering ketemu di kampus. Tapi, kami jarang pergi ke luar untuk jalan-jalan  dan mendekatkan diri. Kupikir karena kami sudah berada di awal semester tujuh dan ada yang lebih penting baginya juga bagiku pada saat ini. Ini seperti jarak. Jarak yang membuatku tersiksa karena makin terasa bahwa aku tidak pernah memiliki hatinya. Selama ini aku hanya berpura-pura  tidak merasakannya lantaran tidak ingin sakit hati karena sikapnya. Aku mengingkari bahwa putus bagi Wira bukan masalah, tetap melanjutkannya juga tidak masalah.

“Nggak terasa, sebentar lagi kamu jadi sarjana, sayang” Mama senang setiap kali membicarakan kuliahku yang hampir selesai. “Kamu bisa kerja di perusahaan asing...Duh, pokoknya mama senang...”

Aku tersenyum. Lalu melirik layar handphone-ku, tidak ada pesan masuk. Padahal aku sudah beberapa kali kirim SMS. Aku ingin tau dia sedang apa. Karena dia selalu bilang misalnya sedang tiduran, baca buku atau nonton bola. Aku menaruh handphone –ku  di atas meja. Aku juga mulai tidak memberitahunya soal apa yang kulakukan dan pergi ke mana. Selain tidak ada gunanya juga buang-buang  pulsa. Tapi, di saat aku butuh, aku jadi sedih. Setidaknya dia tanya sekali supaya aku senang ternyata dia selalu ingat aku.

“Dua hari ini mama ada di rumah” kataku memberitahu Wira.

“Emang kalau di rumah mama kamu ngapain aja?”

“Masak...ngerjain semua kerjaan rumah pokoknya”

“Oh”

Kadang kami jadi  membiacarakan sesuatu yang tidak penting di saat tidak ada yang perlu dibahas. Aku tidak suka dengan suasana seperti ini. Kaku dan tidak ada lagi canda tawa. Entah kemana perginya semua kebahagiaan seperti yang dulu. Yang mengisyaratkan ini adalah cinta sejati. Tidak  pernah ada pertengkaran serius.

Wira tidak seperti seorang pacar kebanyakan. Dia tidak pernah menemani aku belanja dan membantu memilihkan barang-barang  yang mau kubeli. Dia hanya berdiri di luar dan bilang bahwa dia tidak pernah mau tahu dalam urusan belanja. Dia tidak pernah memberiku sesuatu seperti hadiah atau apa lah. Walaupun sepele hal-hal  itu sebenarnya penting bagiku. Karena aku ingin seperti pasangan lain yang kelihatan bahagia. Padahal hubungan kami bukanlah hubungan yang hanya untuk main-main. Apa salahnya Wira memberiku sesuatu supaya aku senang? Tapi, sepertinya dia sama sekali tidak peduli.

Teman sekelasku, Amel, sibuk memamerkan pemberian pacarya kepada teman-teman  dekatnya, sebuah kalung cantik tanda cinta. Aku jadi iri.

Dulu pasti dia pernah kasih sesuatu sama pacarnya. Tapi, kenapa sama aku nggak? Apa aku nggak lebih berarti?

Aku pulang sendiri dan Wira mengambil jalan yang lain. Dia memang tidak suka berada di suatu tempat terlalu lama karena pembosan. Padahal aku ingin bersama lebih lama. Apa dia tidak merindukan aku di saat kami tidak bisa ke mana-mana? Aku selalu punya pertanyaan-pertanyaan  sepele yang membuatku uring-uringan  sendiri. Tapi, masalahku bukan hanya dia.

Aku tidak berdaya.

Satu kali, aku menangis. Menelponnya berulang kali. Karena aku dilanda masalah yang membuatku ketakutan. Aku mengajaknya bertemu karena tidak tahu harus mengadu ke siapa. Mama sudah pergi dengan buru-buru  karena tidak ingin melihatku lebih tertekan karena masalahnya. Tubuhku gemetaran. Aku menunggu dia, tidak sabar sambil sesekali menengok ke pintu.

Lalu Wira muncul dan kaget melihat rumahku berantakan.

“Kamu kenapa?!” Wira cemas. Ia menghampiriku dan aku kembali menangis “Ada apa barusan?”

Masalah lama dalam bentuk baru. Aku sudah menduga itu akan terjadi lagi. Di saat seorang ibu-ibu  datang bersama anak-anaknya ke rumah kami untuk mengamuk dan melampiaskan kekesalan mereka pada Mama. Mereka juga memaki kami dan mengobrak-abrik  seisi rumah sampai puas lalu pergi dengan kata-kata  kotor.

Semua tetangga melihat dan mendengar keributan itu. Karena malu mama segera pergi tanpa bilang sesuatu padaku. Tidak  ingin menjelaskan lebih jauh bahwa mama menikah siri dengan seorang pria beristri dan mempunyai 3 orang anak. Aku tidak pernah tau bahwa hubungan itu sudah berlangsung 2 tahun belakangan dan menjawab semua pertanyaan kenapa mama sangat jarang bisa menemaniku.

Wira tidak komentar waktu aku cerita padanya. Dia diam saja seolah tidak terpengaruh tapi yang pasti dia sudah lama mempertimbangkannya. Apa yang akan dia lakukan mungkin sudah terbayang olehnya. Dan aku tidak pernah mau tau karena sangat mencintainya.

Aku takut jika dia meninggalkan aku.

“Mamamu kemana?” tanya Wira.

Aku mengangkat bahu. “Biasanya mama menghilang cukup lama...”

“Terus?”

Aku tidak menjawab.

“Wira...walaupun kamu tau aku kayak gini kamu nggak akan ninggalin aku kan?” aku bertanya padanya di saat aku benar – benar membutuhkan perhatiannya.

“Nggak” jawabnya tersenyum padaku.                                                      .

Sekilas itu meyakinkan aku bahwa kami untuk selamanya. Sudah ditakdirkan sebagaimana Wira mau menerima keadaanku yang seperti itu. Menghapus pertanyaan-pertanyaan  yang selalu muncul dalam benakku akan sikapnya yang meragukan. Namun, hanya untuk sementara.

“Aku sayang kamu, mana mungkin aku ninggalin kamu” katanya saat memelukku dengan erat dan membuatku menangis.

Jika saat itu tidak ada dia, pasti akan lebih berat bagiku untuk kembali tersenyum. Kusadari, mungkin sifatnya yang terlalu cuek tidak bisa kupahami dan harusnya aku tidak boleh berpikir macam – macam. Ada banyak hal yang harus dipikirkan Wira. Masa depan dan apa yang selanjutnya ia lakukan untuk mencapai tujuannya.

Aku sempat terenyuh beberapa saat dalam pelukannya sebelum aku kembali mengingatkannya bahwa aku tidak ingin kami melangkah terlalu jauh sebelum saatnya tiba. Wira mengerti namun dia selalu bilang bahwa selama ini kami menjalaninya dengan cara yang terlalu biasa. Tidak  ada lagi gaya pacaran seperti itu sekarang. Aku melakukan hal yang tidak seharusnya kulakukan tapi bagiku asalkan tetap menjaga hal yang paling berharga tidak akan ada masalah.

“Apa kita nggak ngelakuin kesalahan, Ra?”

“Jangan dipikirin”

“Apa semua orang pacaran pasti kayak gitu?”

“Nggak tau juga...mungkin...”

Semua orang pacaran pasti melakukannya. Kurasa. Bagaimana mungkin mereka bisa menjaga mata dan hati mereka di saat menghabiskan waktu dengan berdua saja? Anggap saja seperti sesuatu yang biasa sebelum para gadis menyesali apa yang mereka lakukan. Terlalu banyak cerita soal mereka yang tidak bisa meminta pertanggungjawaban di saat nasi sudah menjadi bubur. Yang dipermalukan dengan dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan hamil. Atau yang tertangkap basah saat melakukan hal yang tidak senonoh. Jika aku sampai mengalaminya hancurlah semua.

Tapi, cinta itu tidak pernah kenal dengan penyesalan. Cinta hanya kenal hasrat untuk memiliki satu sama lain. Tanpa kusadari aku memiliki hasrat seperti itu karena merasa bahwa sesuatu yang hilang di antara diriku dengan dirinya adalah kedekatan emosional.

Yang ada di pikiranku hanyalah kepastian bahwa kami akan bersama selamanya. Tuhan mempertemukan kami untuk jatuh cinta dan suatu saat akan membina sebuah keluarga. Sebuah harapan naif yang bisa saja hancur berkeping-keping.

“Mama kamu sudah balik?”

Aku menggeleng. “Kemarin mama telpon belum bisa pulang sampai keadaan tenang”

“Kapan?”

Aku angkat bahu. “Biasanya cukup lama...soalnya kejadian ini baru pertama kali...Mama nggak pernah menikah siri sama orang lain...”

“Aku boleh main ke rumah nggak?”

Aku terdiam. Kembali teringat apa yang pernah kami lakukan sebelumnya di saat rasanya aku mau gila karena masalah yang menimpa keluargaku. Apakah Wira nggak sedang mencoba memanfaatkan situasi yang ada? Lalu aku tersenyum getir. Hal seperti itu selalu terjadi berulang-ulang  dan tidak akan pernah ada rasa puas. Dosa memang hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan berkali – kali. Itu sangat manusiawi.

Aku sudah janji pada Mama tidak akan melakukan kesalahan yang akan menyeretku ke dalam penyesalan seumur hidup.

Tapi, aku tetap membuatnya marah dan shock ketika menemukan Wira di rumah lagi.

Mama histeris dan dia menarik tanganku. Lalu menamparku dengan keras. Memberiku pelajaran berharga bahwa jika sempat itu terjadi kupastikan bahwa aku akan segera bunuh diri tidak lama setelah itu. Karena di depan kami segudang masalah berat sudah menanti.

“Keluar kamu!” hardik mama ke Wira yang ketakutan.

Wira dalam posisi yang sama sekali tidak bisa menjelaskan apalagi membela diri.

Aku tidak menyangka padahal aku sudah memastikan bahwa Mama tidak akan kembali dalam waktu dekat. Tapi, aku salah.

Wira terpaksa pergi. Sementara aku harus menghadapi kemarahan mama seperti yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Mama menarikku ke kamar mandi. Di sana ia mengguyurku berkali – kali.

“Cukup mama yang harus seperti ini!” katanya dengan emosi dan terus menyiramku dengan air.

Aku duduk di sudut kamar mandi sambil menangis, memohon supaya mama berhenti menyiramku karena aku kedinginan.

“Kamu tahu seperti apa kerjaan mama?! Kamu tahu susahnya kayak apa?!”

Aku menggeleng – geleng. Menyesali kesalahanku.

“Kalau mama ceritain kamu nggak akan sanggup dengar, tahu kamu! Mama juga nggak harus cerita ke kamu! Supaya kamu nggak perlu pikirin mama! Supaya kamu bisa fokus belajar! Supaya kamu bisa jadi orang baik, nggak seperti mama, tahu?!”

“Maafin aku, ma...”

Mama berhenti sejenak. “Sejak kapan?! Sejak kapan kamu mulai bawa dia masuk ke kamar?! Sudah berapa kali?! Sudah berapa kali, Bita?!”

Aku nggak jawab karena takut.

“Ayo jawab, Bita! Sejak kapan?!”

“Aku...aku nggak sejauh itu sama Wira, Ma...” jelasku gemetaran.

“Nggak sejauh itu gimana kamu?! Udah jelas apa yang mama lihat!”

“Iya, tapi aku nggak ngelakuinnya, Ma!! Sumpah, aku nggak ngelakuinnya...”

Mama terdiam lalu meninggalkan aku di sana begitu aja.

Aku terus menangis kedinginan. Waktu keluar dari kamar mandi Mama sudah tidak ada. Dia pergi lagi. Mungkin untuk menenangkan diri, untuk melupakan yang dia lihat barusan memang sangat mengecewakan. Tapi, kejadian seperti itu mana mugkin bisa lupa.

Aku belum berhenti menangis saat handphone –ku  berbunyi dan rupanya Wira.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya terdengar gelisah dan cemas.

Aku mengangguk. “Aku takut, Ra...”

“Kamu jangan nangis lagi. Besok aku bakal bicara sama Mama-mu” ujarnya.

“Kamu mau bicara apa sama mama? Mama udah benci sama kamu, Ra...”

“Mau nggak mau aku harus bicara sama dia, aku laki – laki. Nggak mungkin aku biarin kamu ngadapinnya sendirian. Pokoknya kamu sabar aja dulu, besok kita selesain semuanya sama mama kamu...”

“Aku takut, Ra...aku nggak pernah lihat mama kayak gitu. Aku bingung...”

“Aku ngerti kok. Pokoknya sekarang kamu tenang dulu. Besok kita omongin lagi ya?”

Aku tidak menjawab dan terus ketakutan.

“Walaupun Mama kamu nggak suka sama aku, aku tetap nggak akan ngelepasin hubungan kita...”

Aku terus memegang kata-kata itu seperti janji.

 ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments