[Ch. 5] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Dunia yang Terbalik

Jika bisa memilih, aku pun tidak sudi utuk menjalani hidup seperti yang kujalani. Aku menganggap ini seperti kutukan. Kenapa aku yang harus membayarnya? Kalau aku bisa memilih, lebih baik, aku tidak usah dilahirkan. Tidak  perlu menahan malu dan bersembunyi seperti pencuri.

Aku mencoba untuk tidur. Walau masih pagi. Tubuhku terasa sangat lemah. Semalam aku tidak tidur karena terus mencoba untuk menelpon tapi tidak pernah masuk. Artinya jelas, bahwa dia tidak menginginkanku lagi. Besok, jika bertemu lagi, aku tidak tahu harus bagaimana, yang jelas aku tidak akan bisa menyembunyikan kesedihanku. Dan tentu teman – teman yang lain akan membicarakannya. Aku sama sekali tidak siap mendengar omongan mereka.

Rasanya tidak mau pergi ke kampus. Tidak  ingin kuliah lagi. Rasanya ingin menghilang. Ingin pergi ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalku. Tapi, aku tidak tau apakah aku akan sanggup melupakan apa yang telah terjadi. Pasti berat dan menyakitkan.

Lalu handphone-ku berbunyi pagi-pagi sekitar jam delapan di mana seharusnya aku sudah duduk manis di kelas dan melewatkan beberapa jam ke depan dengan belajar. Aku bisa dengar suaranya yang samar-samar  dari bawah bantal tapi aku sangat  malas untuk bangun lagi. Aku membiarkannya berbunyi berulang kali karena itu pasti Mama. Jika dia dengar suaraku yang serak dia pasti bertanya aku kenapa. Aku sama sekali tidak ingin mama tau masalahku karena itu pasti akan membuatnya ikut sedih. Dan yang pasti mama akan menyuruhku melupakannya segera. Aku tidak akan sanggup.

Ketika patah hati dunia seperti di ujung tanduk. Tidak  heran banyak yang memilih bunuh diri karena menurut mereka, mereka tidak akan sanggup menjalaninya seorang diri. Aku juga orang yang kesepian. Tapi, untuk bunuh diri rasanya terlalu naif dan berlebihan, hanya saja bagaimana caranya untuk menghilangkan perasaan sakit ini?

Handphone-ku berbunyi lagi beberapa jam kemudian. Mungkin sudah siang, pikirku sambil bangkit dan melirik jam dinding yang menunjukan pukul satu siang. Kelas hari ini sudah berakhir dan handphone –ku  terus berbunyi dengan tidak sabaran. Aku masih duduk di tempat tidur, mengucek-ngucek  mata lalu memandang bayanganku yang tampak menyedihkan terpantul pada kaca lemari di depanku. Rambutku acak-acakan  Wajahku pucat. Mata merah dan bengkak. Jika ada yang melihatku seperti itu, mereka pasti berpikir aku sudah gila. Kepalaku sakit, aku belum mau berdiri.

Rasanya aku dengar sesuatu selain lagu ‘Mr. Know it All’ dari handphone yang terus berbunyi. Seperti ada orang yang datang dan mengetuk-ngetuk  pintu.

Aku bangkit untuk berdiri. Pandanganku melenceng alias pusing tapi kupaksakan untuk melangkah keluar dari kamar, melewati ruang tengah dan pergi ke ruang tamu. Dan orang itu terus menggedor pintu seperti penagih utang. Atau jangan-jangan  memang mereka, pikirku khawatir. Lagipula mamaku tidak pernah datang siang-siang,  ataukah hari ini pengecualian karena sejak pagi aku tidak mengangkat telponnya. Jadi dia pun cemas dan pulang.

Waktu aku membuka pintu, ternyata bukan mama.

“Wira?” aku terkejut melihatnya berdiri di depan pintu.

“Kamu sakit?”, ia bertanya sambil mendekat dan menyentuh dahiku. “Panas...”

Aku belum lepas dari rasa heran saat dia menarikku masuk dan tidak sempat bertanya kenapa dia tiba-tiba  datang. Bukannnya semua sudah berakhir?

“Dari tadi pagi aku telpon kamu nggak ngangkat” katanya. “Kamu ngapain aja dari tadi? Tidur?”

Aku mengangguk. Di kepalaku ada banyak pertanyaan tapi tidak satu pun yang kuucapkan karena tiba – tiba  aku jadi lupa. Dia datang mencariku artinya masih mencemaskan aku.

“Udah minum obat?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

“Udah makan?” ia kembali bertanya.

Aku menggeleng lagi, lalu malah menangis karena senang. Kupikir dia tidak akan mau melihatku lagi. “Aku pikir kamu mutusin aku...”, kataku dengan lega.

Wira menatapku sejenak. “Udah, jangan dipikirin”, ujarnya.

Aku belum bisa berhenti menangis.

“Tapi, apa boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mengangguk-angguk. Apapun pertanyaannya aku akan jawab sebaik mungkin.

Wira nampak ragu-ragu. Pertanyaan seperti apa yang dia maksud. “Walaupun Mama-mu kerjanya kayak gitu, kamu... kamu nggak terpengaruh kan?” jelasnya dan membuatku cukup tercengang, kenapa Wira bisa punya pikiran seperti itu. “Yah...kamu tau maksud aku kan, aku cuma...”

“Aku nggak kayak gitu, Ra...” jawabku memohon agar dia langsung percaya. Itu pertanyaan yang menurutku konyol. Tapi, tentu Wira tidak pernah tau bagaimana sulitnya mama menjagaku. “Kalau aku juga kayak Mama-ku, aku nggak perlu kuliah kan? Mama-ku bahkan nggak ingin aku seperti dia makanya dia kerja keras supaya aku bisa sekolah tinggi...”

Wira kembali berpikir tapi belum mau menatapku. Ataukah dia memang tidak bisa percaya begitu saja. “Kamu nggak bohong kan?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng – geleng. Air mata terus mengalir dan tidak bisa berhenti. Aku pikir tadinya lega tapi kemudian aku harus menghadapi pertanyaan yang menyudutkan. Membuatku bingung harus bagaimana membuatnya percaya padaku. “Sumpah, aku nggak bohong, Ra...” aku meyakinkannya. “Atau aku harus buktiin supaya kamu percaya sama aku...”

Wira terdiam dan kelihatan kaget.

Aku juga diam. Menyadari bahwa aku baru saja mengatakan hal yang sangat bodoh.

“Emang kamu mau?” dia bertanya padaku, dengan datar. Seolah menantangku.

Aku sempat gentar. Rupanya ini nggak main – main. Aku jadi semakin bingung. Aku tidak bisa jawab karena hal yang kumaksudkan bisa saja terjadi karena ada kesempatan untuk itu. Aku gemetaran karena takut.

“Aku nggak sejahat itu” katanya kemudian. Dia tau aku terpaksa mengatakannya dan pasti dia pun juga tidak mau terkesan memaksa. “Udahlah, aku percaya sama kamu kok”

Ucapanya membuat aku seketika lemas. Apakah ketegangan benar-benar sudah berlalu? Aku terduduk di sofa dan menangis sejadi-jadinya  untuk melepaskan perasaan yang tadi begitu tertekan karena pertanyaan-pertanyaan  itu.

“Jangan nangis lagi” ujarnya.

“Gimana aku nggak nangis... kamu bikin jantungku seperti mau berhenti!”, rengekku. “Semalaman aku terus nelpon kamu tapi nggak pernah aktif”

“Kemarin aku udah bilang kasih waktu sebetar buat mikirinnya dulu” katanya.

“Semalaman itu lama. Siapa yang tau apa yang kamu pikirin. Yang ada di pikiranku cuma gimana kalau kamu ninggalin aku. Aku harus gimana?!” kataku. “Kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain, bisa aja kamu pergi, cari cewek lain trus lupain aku!”

“Aku nggak gitu” Wira membela diri. “Aku harus mikirin itu karena aku nggak nganggap ini main-main. Aku juga harus mikirin cara buat ngomong ke ayah. Kamu tau kan itu nggak gampang.” Jelasnya lagi. “Aku anak sulung. Semua keluarga aku suka menilai”

Aku langsung diam dan menghapus semua air mataku walau menetes lagi dan lagi.

“Sekarang kita jalani aja. Kalau semuanya dipikirin pacaran nggak akan ada enaknya”, ia berujar lagi.

“Kenapa sih kamu masih mau sama aku? Aku pikir bakal berat buat kamu nerima cewek yang nggak jelas kayak aku...”

“Aku nggak tau kalau suka sama orang itu harus ada alasannya” jawabnya santai. “Kamu, seandainya aku tanya kenapa kamu bisa suka sama aku, kamu tau jawabannya apa?”

Aku diam dan mencoba mencari jawabannya beberapa saat dengan mengingat waktu mulai megenalnya. Ya, aku bahkan tidak tau sejak kapan aku mulai suka memperhatikan dia. Dan yang jelas aku juga tidak tau kenapa aku bisa suka padahal Wira tidak sekeren dan sekaya Ben. Padahal dulu aku menginginkan seorang pacar yang kaya raya.

“Nggak tau kan?” tegurnya saat aku berpikir keras untuk sebuah pertanyaan yang tidak ada artinya.

Wira menarik nafas panjang saat duduk dan bersandar di sofa sambil memperhatikan sekelilingnya. Ini pertama kalinya dia masuk ke rumahku, biasanya Wira hanya pernah mengantar sampai di luar dan aku tidak pernah mengajaknya masuk. Kali ini dia datang sendiri dan tidak mungkin menyuruhnya cepat-cepat pergi. Aku juga tidak ingin dia cepat pergi karena masih belum percaya ternyata dia tidak meninggalkan aku.

 “Apa kamu nggak pernah merasa takut?” ia bertanya lagi.

“Udah biasa.” Jawabku. “Mau gimana lagi, demi kebaikan aku juga sih...”

“Pantesan kamu nggak pernah ngizinin aku masuk karena kamu takut diapa – apain...” katanya.

“Kamu ngomong apa sih?” cetusku. Aku sama sekali tidak ingin membicarakan hal yang bukan-bukan!

“Kamu bikin aku jadi curiga...” tiba-tiba  menatapku sengit.

Aku segera berdiri dan protes. “Emangnya kamu masih nggak percaya?!” teriakku karena tegang,

“Logikanya aja kalau nggak ada bukti orang nggak akan mau percaya...” celetuknya

Aku tidak bisa ngomong apa – apa. Aku bingung, jadi aku harus bilang apa supaya dia percaya?

Untunglah seseorang datang ‘menyelamatkan’ aku darinya.

“Sayang?!”

Aku terkejut setengah mati saat melihat Mama sudah ada di teras depan dan melihat kami. Aku kembali kebingungan, mama pasti marah karena setiap bicara di telpon dia selalu mengingatkan aku untuk tidak membawa pacar ke rumah. Selama ini aku berhasil melarang Wira dengan alasan yang selalu sama.

Mama masuk dan keringat dingin sudah mengucur deras. Mama memperhatikan Wira dengan penuh tanda tanya. Karena mama memang tidak pernah ketemu sama Wira langsung.

“Ada tamu ya?”

 “Ini Wira, Ma...” kataku canggung, “Dia yang sering aku ceritain ke mama”

Wira tersenyum ,”Aku Wira, Tante” dia memperkenalkan diri dengan sopan sambil salaman dengan Mama.

Mama tersenyum dan menyambut Wira dengan senang hati. Tapi, tentunya ia terheran – heran, aku melanggar peraturannya.

“Tadi Bita nggak masuk kuliah, Tante” Wira menjelaskan alasan keberadaannya di rumahku. “Kirain tadi dia kenapa – napa  jadi pulang kuliah aku langsung ke sini”

“Oh ya?” Mama kaget dan menghampiriku.

“Rupanya Bita sakit” lanjut Wira.

Mama tampak mencemaskanku. “Aduh, sayang, kenapa kamu bisa sakit sih?” tanyanya, “Kamu bikin mama cemas, tadi pagi mama telpon kamu nggak angkat...”

Ternyata mama juga nelpon. Aku tidak tau karena belum lihat handphone –ku sejak pagi.

Mama pulang bawa sesuatu.

“Kamu pasti belum makan ya?” tanyanya. “Mama tadi belanja, hari ini mama nginap di sini. Jadi mama mau masak. Kan udah lama mama nggak temenin kamu”

Aku senang. Hari yang kupikir akan suram menjadi menyenangkan.

Mama nggak marah karena Wira masuk ke rumah. kurasa mama pasti mengerti dan tampaknya dia nggak akan mempermasalahkannya. Lagian mama juga memberi sambutan yang bagus buat Wira dan menyukainya. Kupikir tidak akan ada masalah dengan izin mama. Tapi tentu dia akan tetap melarang Wira untuk masuk lain kali.

Mama selalu bilang untuk mengenalnya lebih jauh sebelum aku benar-benar memutuskan. Saat itu aku benar-benar  sudah yakin nggak akan merubah keputusanku.

“Kamu udah 21 tahun, Bita” kata Mama. “Mama nggak mungkin selalu kasih tau mana yang harus dan nggak kamu lakukan”

“Aku cuma nggak mau nanti mama nggak suka sama pilihan aku...”

“Ya gimana lagi, cuma kamu yang mama punya. Mama ingin kamu bahagia. Ketemu orang yang tepat, menikah lalu punya anak. Nggak ada yang mama harapin selain bisa melihat kamu bahagia” jelasnya hingga aku menangis. “Tapi, semua laki-laki itu sama”

“Maksud, Mama?”

“Sebelum dia dapat apa yang dia mau dari perempuan, mengemis pun juga mau. Tapi, setelah itu, kita nggak lagi jadi sesuatu yang berharga untuk dia puja. Makanya kamu harus hati-hati. Banyak laki-laki  yang nggak bisa menjaga matanya jadi kita perempuan yang membutuhkan cinta kadang nggak bisa lagi bedain mana yang cinta dan nafsu”

Aku nyaris tertidur mendengar ucapannya.

“Mama nggak perlu harus bilang setiap saat supaya pacar kamu nggak masuk ke rumah di saat mama nggak ada. Kamu tau itu salah, jadi sebelum ngerjain apapun harus dipikirin dulu, jangan sampai nyesal kalau udah terjadi” Mama kembali berpesan dan menegaskan aturannya. “Kamu bebas, Bita. Mama selalu nggak ada di dekat kamu untuk mastiin bahwa nggak terjadi apa-apa. Misalnya kamu bohong sama mama juga nanti yang nanggung akibatnya kamu sendiri. Kalau mama, paling cuma bisa nangis dan juga nyesal kenapa mama nggak ada di sisi kamu. Tapi, saat ini pun mama nggak bisa berrbuat sesuatu buat kamu. Yang pasti mama cuma mau kamu hidup baik-baik ...”

 ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments