๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rahasia Terakhir
Wajah Reggina terlihat gusar saat pertama kali aku membuka mataku. Aku mencoba bangkit dengan semua tenagaku yang terkuras entah oleh apa, namun aku nyaris tak merasakan kedua tanganku.
“Your wife is a psycho...,” dia berkata sambil menatap ke depan dengan marah.
Aku baru menyadari bahwa kedua tanganku terikat; begitu ketat. Mungkin tak ada darah yang mengalir sampai ke ujung jariku. Reggina juga diikat dan Triz yang tampak lemah bersandar ke sisinya. Adikku menderita asma.
Magisa ‘menumpuk’ semua anggota keluargaku di sudut kamar tidur. Aku heran bagaimana cara dia mengumpulkan mereka semua di sini selagi aku tidak berada di rumah.
“Triz?!”
Tapi, dia tak bergerak sama sekali.
“Aku tahu dari dulu kalau adik iparku nggak suka sama aku,” suara Magisa terdengar menusuk dan kudapati dia duduk di meja riasnya dan habis berdandan;tidak dia tidak benar-benar berdandan. Dia memoles matanya sampai benar-benar hitam dan memakai lipstik merah menyala dengan tidak beraturan. Keseluruhan dia terlihat seperti orang sakit jiwa.
Aku masih berusaha mempercayai ini: istriku menculik adik-adikku, dengan meracuni makanan lalu menyekapnya di kamar dalam keadaan terikat; setelah itu dia membubuhkan obat tidur di dalam sup yang dia sebut sebagai makan siangku. Aku berharap ini adalah mimpi seperti biasanya di mana Magisa memang melakukan hal-hal yang absurd; mencekikku atau menuduhku tidur dengan perempuan lain dengan wajah menyeramkan. Kurasa mimpi itu merefleksikan kenyataan yang sebenarnya.
“Harusnya kamu bersyukur, aku nggak meminta Sid menceraikan kamu,” balas Reggina. “Aku menyesal nggak melakukannya.”
Magisa tertawa lalu berdiri dan mendekati kami. “Kalian benar-benar keluarga yang kompak ya?”
“Apa yang mau kamu lakukan, Gi?” celetukku. “Kamu mau membunuh semua orang yang ada di sini?”
“Kalau diperlukan.”
“Kalau kamu nggak berencana membunuh kami semua, kenapa kamu seperti ini?!” aku berteriak padanya.
“Aku cuma mau ngasih pelajaran sama kalian! Aku ini nggak bodoh! Aku tahu semua yang kalian sembunyikan! Aku cuma nggak habis pikir, apa karena selama ini aku diam kamu bebas melakukan apa pun di luar sana, Sid?!”
Sosok aslinya yang emosional pun keluar. Dia mendekatiku menarik kerah bajuku dengan kasar hingga aku berada jauh dari Reggina dan Triz.
“Sid...,” Triz memanggilku dengan suara parau. Melihat raut wajahnya yang ketakutan membuatku berontak. Aku harus melepaskan mereka!
“So, your sister won’t tell you the truth?” dia menyeringai sambil menoleh ke arah Reggina. “Harusnya Reggie mengatakan semuanya dari awal jadi kamu punya alasan yang tepat untuk kembali sama Saira kamu tercinta.”
Reaksi adikku saat dituduh adalah diam. Dia terus menatap Magisa dengan tajam; seakan jika tangannya tidak terikat dia akan menjambak Magisa.
“Dunia ini nggak adil, Sid,” Magisa menatapku seolah dia sedang terluka. “Semua orang mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan tanpa usaha apa-apa. Sementara aku? Aku berusaha keras tapi aku malah nggak dapat apa-apa. Di saat aku mendapatkannya pun, selalu ada yang mencoba merampasnya dariku....”
“Karena obsesi kamu jadi gila...,” celetukku.
“My only one obsession... is you...,” dia menegaskan; tatapannya berubah tajam. Kali ini rautnya begitu bengis. “Tapi, apa? Kamu suka gadis cantik seperti Saira yang digilai banyak cowok di sekolah. Kamu mendapatkan dia dengan mudah. Kalian tidur bersama; seolah-olah sedang menjalin hubungan yang serius. Bagiku itu nggak akan menyakitkan, kalau saja Saira nggak bilang sama aku sesaat sebelum dia mendorongku sampai jatuh ditangga?”
Magisa mulai mondar-mandir seperti seorang ratu yang jahat dengan obsesinya yang gila.
“Aku nggak akan bisa mendapatkan kamu karena kamu nggak suka dengan gadis jelek seperti aku, dan aku juga nggak bisa bergabung dengan perkumpulan sialan mereka yang idenya itu berasal dariku!” Magisa mulai menggebu-gebu; menguak rahasia lain yang lebih mengejutkanku. “Kamu tahu betapa menyakitkannya itu? Tapi, harusnya dia tahu, kalau akhirnya kamu menikahi aku! Sayang, dia sudah masuk penjara lebih dulu....”
“Jadi, kamu tau itu...?” hatiku seakan tercabik mendengarnya.
“Ask... your... sister...,” dia berbisik di telingaku lalu terkekeh sambil kembali menatap Reggina.
Aku menoleh ke belakang, di mana adikku tampak khawatir. “Sejak... kapan...?” tanyaku.
Reggina tidak menjawabku.
“Kenapa kamu nggak bilang, Reg?” aku bertanya lagi, dengan amarah yang menggumpal di dadaku. Tak pernah aku semarah ini padanya. Adikku juga bahkan penuh dengan rahasia.
“Andai aku tahu lebih cepat, kamu nggak perlu sampai harus menikah sama perempuan gila ini...,” hanya itu yang Reggina katakan tanpa berani menatap wajahku.
Magisa terbahak lagi. “Kamu pikir kamu seorang perencana yang hebat, Reg?” dia menghampiri Reggina yang selalu buang pandang darinya. “Kamu harusnya tahu, seorang arsitek adalah perencana yang hebat dan itu adalah aku.”
“Ya, kamu hebat dalam menyuruh orang mencelakai orang lain,...” sambung Beatriz. Air mata mengotori wajahnya yang memerah. Dia ketakutan sekaligus marah pada istri yang harusnya sudah kuceraikan sejak lama. Nafasnya tersengal dan dia masih mencoba untuk berbicara dengan lantang. Kondisinya mulai tampak mengkhawatirkan.“Tapi, kamu nggak bisa melawan takdir,... kamu hanya... orang gila!”
Aku khawatir bila tiba-tiba asmanya kambuh. Adikku mengidap asma yang cukup parah dan tadi Vanessa memberitahuku bahwa obatnya masih tertinggal. Aku punya firasat buruk soal itu terlebih ruangan itu benar-benar tertutup rapat.
Magisa tertawa seperti iblis. “Ya, aku memang gila...,” akunya sambil melotot pada kami. Matanya yang dilingkari hitam seperti panda tampak begitu menakutkan.
“Triz?!” Reggina menjerit tiba-tiba.
Beatriz jatuh dalam keadaan sesak nafas!
“Oh, My God, Triz?!”
Magisa tampaknya juga terkejut. Keadaan Beatriz mungkin di luar dugannya sehingga dia tak bisa menyembunyikan paniknya. Aku beringsut ke dekat adikku yang mulai kejang karena tak bisa bernafas. Kurasakan tubuhnya mendingin. Aku bahkan tak bisa menyentuhnya karena tanganku terikat dengan kuat. kami hanya bisa menyaksikan Beatriz melawan asmanya yang kambuh tak terkendali.
Kami tidak lagi memperhatikan Magisa yang hanya berdiri di sana memperhatikan bagaimana ruangan itu menjadi sarat dengan teriakan histeris.
“No, Triz! No!” pekik Reggina saat Triz akhirnya tak bergerak lagi di dekatnya. “Triiiiiz!!!”
***
Tahukah bahwa Magisa tidak benar-benar ingin membunuh orang? Dia melakukan itu karena dia gila. Kegilaannya itu membuatnya tidak sadar bahwa unjuk diri yang dia lakukan itu bisa berakibat serius bagi orang lain dan dirinya sendiri. Aku tidak pernah meragukan kemampuannya berkamuflase selama ini.
Aku ingat di sekolah dia membentuk gerakan anti-bullying. Dia merencanakan itu untuk menyerang balik musuhnya dan mendapatkan citra yang positif. Akhirnya dia berhasil. Tapi, dengan meninggalnya salah seorang murid yang bernama Ananda hari itu, membalikan keadaan sehingga menjadi tak berpihak padanya. Kejadian itu bukannya membuat Magisa jera dengan pencitraan berlebihan akan dirinya, namun membuatnya semakin gila. Dia meginginkan hal yang lebih besar lagi.
Aku juga ingat saat dia muncul di pintu apartemenku dan mengajakku mengikuti teman-teman Saira kurasa dia mendapatkan simpatiku sejak itu. Tahu-tahu dia berada di Australia saat pemakaman ayahku; mengatakan hal-hal yang terasa benar dan menceritakan perjuangannya tentang impian yang dia buat. Dia pernah berkata tidak ingin memulai sesuatu yang baru di atas kebohongan; tapi sebenarnya dia sedang berbohong lagi padaku.
Dia memanfaatkan kelemahanku sehingga aku melakukan kesalahan itu; menikahi dirinya.
“I love you, Sid...,” Magisa memelas. Menatapku dengan mata merah dan bengkak. Penyesalan bertumpuk di wajahnya yang putih pucat. Dikiranya ekspresi macam itu akan membuatku kembali padanya. Setetes air mata kembali menetes di pipinya yang memutih.
Aku hanya menatapnya dengan iba. Apa yang bisa kukatakan?
Selama lima tahun kami bersama; kami pernah bahagia. Namun, semua itu berdiri di atas kebohongan. Aku menjadi suami yang baik, setia dan ada untuknya, karena kupikir dia sudah jauh berubah. Dia sudah membuang masa lalunya yang buruk dan menjadi pribadi yang lebih baik; tapi tetap saja dia membiarkan obsesinya terus meracuninya. Dia membiarkan kebencian merasuki pikirannya.
“Please...,” Magisa kembali memohon dari balik jendela kaca itu. “Keluarkan aku dari sini. Maafin aku, Sid.... kita bisa memulai semuanya dari awal lagi...,”
Aku menggeleng dengan pelan dan tertunduk. “Kamu ingat ini bukan pertama kalinya kamu mengacau dengan drama yang kamu buat sendiri,” kataku, dengan tenang. “Satu nyawa melayang karena semua tuduhan kamu....”
Magisa berontak dengan merengek. “I’m sorry...,” isaknya. “I’m sorry....”
“Maaf kamu nggak akan mengembalikan apa yang kamu rampas dari Saira, nggak akan mengembalikan Ananda, dan nggak akan mengembalikan Beatriz,” kataku lagi. “Juga nggak akan mengembalikan waktu yang aku habiskan untuk membahagiakan kamu....”
“I’m sorry...,”
“Kamu terlalu banyak berbohong...,”
“I said, I’m sorry!” Magisa berteriak dengan suaranya yang parau. Lalu ia menangis lagi; lebih keras lagi. Dia masih mencoba memaksaku untuk menerimanya.
Tapi, aku harus membiarkannya di sana. Tak tahu apakah dia akan sembuh dari penyakitnya. Sakit mental mungkin bisa disembuhkan. Tapi, kebencian tidak akan pernah ada habisnya.
Aku mengirim istriku sendiri ke rumah sakit jiwa. Di sana akan lebih baik baginya. Ada dokter dan perawat yang akan memperhatikannya. Proses hukum belum bisa berjalan atas dugaan penculikan, penyekapan, dan penganiayaan hingga satu nyawa melayang sampai dokter bisa membuktikan bahwa Magisa tidak mengalami gangguan jiwa. Aku masih belum bisa mempercayai bahwa istriku merencanakan semua ini sejak Retha memberitahunya bahwa aku bertemu dengan seorang perempuan; bayangkan dia menyiapkan rencana itu dalam waktu singkat. Namun begitu, Magisa sudah lama mengintai.
Setelah dipikir lagi, aku meragukan apa yang membuatnya depresi adalah penolakan ibu Saira terhadap hasil karyanya. Teringat reaksi Saira yang berkata seolah Mama-nya tidak mungkin se-kekanakan itu, aku rasa... Magisa sudah mengetahui tentang pertemuanku dengan Saira di Australia, dan karena itu dia merasa depresi. Membuat skenario baru; dia hancurkan maket yang sudah dia buat sedemikian rupa untuk menunjukan bahwa dia begitu tertekan; dan sialnya, aku mempercayainya saat dia mengarang cerita.
Magisa tahu betul tidak semudah itu bagiku untuk lepas dari Saira. Dalam diam, dia mungkin saja memikirkann sebuah pembalasan terlebih setelah tahu bahwa adikku sengaja mengirimku mengajar di sekolah itu karena Sunny ada di sana. Dia mungkin kesal atas kecurigaanku bahwa Sunny mungkin saja adalah darah dagingku. Karena itu dia melibatkan semua anggota keluargaku. Tapi, apa pun yang mungkin dia rencanakan untuk memberiku pelajaran berharga, kematian Beatriz tidak sesuai dengan perhitungan.
“Siiiiiiiiiid!” jeritannya bergema sepanjang lorong rumah sakit sementara aku terus melangkah. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. “Sid, jangan tinggalin aku....”
Seorang perawat laki-laki menghampiriku. Dia menyodoriku sebuah surat yang harus kutanda tangani.
“Dia akan baik-baik saja ‘kan?” tanyaku pada perawat itu dan perawat itu mengangguk. Lalu kusempatkan sejenak melihatnya untuk terakhir kali.
Magisa dengan baju putih khusus untuk orang gila tidak dapat bergerak leluasa. Tangannya terbungkus di dalam lengan baju yang ujungnya diikat ke belakang. Baju khusus itu dimaksudkan agar Magisa tidak menyakiti dirinya atau melakukan hal yang membahayakan nyawanya. Karena berontak, dia terpaksa ditarik oleh dua orang perawat sekaligus.
Aku bertemu dengan keluarganya di depan. Mereka tampak tidak marah padaku walau aku sudah menyampaikan keputusanku.
“Kami turut berduka cita, Sidney...,” kata Ibu Magisa padaku dan ayahnya menepuk bahuku dengan pelan.
Aku mengangguk dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.
Setelah ini aku akan mengurus perceraian. Mungkin ini kelihatan kejam dan tanpa perasaan. Tapi, aku sudah mencapai ambang batasku.
***
Adikku, Beatriz-Margriet Adams meninggal dunia di usia 23 tahun karena asma. Dia tidak terselamatkan karena kami tidak memberinya obat segera. Aku tidak menyangka ini harus terjadi padanya. Dengan kesedihan mendalam, aku dan Reggina kembali ke Australia untuk menyiapkan acara pemakamannya.
Sampai detik adikku dimakamkan di samping ayahku, aku masih tidak percaya bahwa Triz yang tidak banyak bicara dan manja itu telah pergi untuk selamanya. Kejadian itu begitu singkat. Aku begitu marah pada diriku karena semuanya adalah salahku.
Seminggu setelah pemakaman, suasana rumah kami masih sunyi. Reggina masih sering menangis mengenang adik yang selama ini selalu bersamanya dan tidak pernah pergi ke kantor lagi.
“I’m so sorry...,” aku mendekati satu-satunya adik perempuanku yang berusaha saling menghibur. Lalu berlutut dan menunjukan penyesalanku. “Kalau bukan karena aku, ini nggak akan terjadi....”
Reggina terisak makin keras dan tertunduk sedih.
Sulit untuk menerima kepergian Beatriz yang terlalu cepat.
Tapi, ia menatapku, walau ia juga terisak, ia masih memberiku sebuah senyum. Dengan pelan dia mengusap wajahku. “You’ve been good, honey... you’ll always be....” katanya dan aku tak bisa lagi menahan tangisku. Aku ikut tertunduk hingga bahkan menangis dengan suara keras.
Aku masih tak mengerti, kenapa harus adikku yang mendapatkan imbas dari kesalahanku?
“Aku harusnya memberitahu kamu lebih awal tentangnya...,” kata Reggina. “Tapi, Triz melarangnya, karena dia nggak ingin menghancurkan rumah tangga kamu.... Aku nggak memberitahu dia semuanya....,”
Pedih di hatiku merambat dengan sangat cepat.
“Aku nggak mengatakan semuanya karena... takut hal yang lebih buruk akan terjadi...,” sambung dia; dan kembali meringis. “Aku menyesal....”
Reggina mengangkat kepalanya untuk menatapku. “Orang yang dibunuh Saira berteman dengan Magisa, Sid...,” katanya dan jantungku tiba-tiba berdetak keras. “Karena dia terbunuh, sulit untuk mencari kebenaran bahwa Magisa yang meminta dia menculik Saira. Magisa tahu Saira ke sini untuk mencari kamu....”
Semua menjadi masuk akal. Pantas saja Magisa begitu paranoid dengan kembalinya Saira. Aku ingat kata-katanya saat kami baru pindah ke Jakarta. “Aku takut dia kembali sewaktu-waktu untuk menghancurkan kita....”
Dia memiliki ketakutan yang begitu besar pada apa yang telah dia lakukan pada Saira. Untuk itu dia selalu merasa takut. Untuk itu dia selalu merasa curiga padaku.
Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Tak tahu ke mana aku bisa melampiaskan kemarahanku saat ini. Semua hal tiba-tiba saja membuatku marah.
“Sidney...,” Reggina mengusap bahuku. Mungkin ia tahu amarah sedang bergejolak di dadaku, dan ia berusaha menenangkanku dengan tatapannya yang memohon. “Kita sudah melalui hal yang buruk... lupakanlah semuanya....”
Aku telah dibohongi ratusan kali. Harusnya kali ini aku bisa membela diriku bahwa aku pun tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi, malah di saat aku sudah mempunyai kesempatan, aku tak berdaya oleh permintaan ibuku.
“Sid, kita tahu ini sangat berat buat kamu, tapi sudahlah... kamu sudah melepaskan satu masalah dari hidup kamu dan jangan mengundang masalah yang baru...,” Reggina hanya menatapku sedih. “I’m sorry, Sid...,” ucapnya. “Cut it out. I tried my best to help you but now we can’t take it anymore....”
Perlahan tapi pasti, semuanya berubah. Jakarta, Indonesia, adalah negeri terlarang bagiku. Aku sudah bersumpah di hadapan ibu dan adikku bahwa aku tidak akan kembali ke sana. Di samping itu juga, jika kupaksakan apa yang bisa kutemui di sana?
Saira bisa saja akan menikah dengan orang lain dan Sunny akan memanggilnya ayah. Aku akan tetap tinggal sebagai ‘Pak Guru’ di dalam kepalanya dan suatu saat nanti dia juga akan melupakan sosokku. Aku sudah membayar mahal untuk bisa bersama perempuan yang kucintai dan anak yang tidak akan pernah tahu siapa ayahnya; yaitu dengan nyawa adikku. Aku sudah tidak tahan lagi.
Sejak itu, hal kecil pun terasa begitu memuakkan. Aku pulang ke Double Bay hanya untuk membakar semua foto pernikahanku atau apa pun yang mengingatkanku pada perempuan yang kutinggalkan di rumah sakit jiwa. Aku tak ingin mengingatnya sedikitpun namun kata-katanya yang seolah benar itu terngiang. Itulah yang membuatku mempercayainya; itulah yang membuatku benar-benar kehilangan kesempatanku.
Kebetulan-kebetulan itu adalah takdir; takdir yang akhirnya menunjukan bahwa aku telah lama berdiri di atas penderitaan orang lain. Dan untuk itulah aku dihukum.
Aku Sidney Adams, memiliki kekayaan yang tak pernah habis. Aku bisa membeli semuanya dengan uangku. Aku bisa melakukan apa saja yang kusukai. Bahkan jika saat ini aku membunuh orang, aku tidak akan pernah masuk penjara. Tidak ada yang berani melawanku. Aku memliki semua yang orang inginkan di dunia ini tapi... aku... aku tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Aku tidak bisa menikahi perempuan yang paling kucintai; aku juga bahkan tidak berani menemui anakku seperti seorang pengecut.
Itulah aku. Itulah aku.
***
Aku membuka mataku. Pecahan mimpi yang baru saja kulihat tersapu oleh suara pintu yang terbuka disambut dengan suara botol yang berguling di lantai. Aku terkejut, ada penyusup! Namun, ketika aku bangkit yang kutemukan adalah sesosok perempuan kantoran dan berkaca mata tengah mendekat ke arahku. Dia tampak mengamati sekitarnya, sebelum dia kembali fokus kepadaku.
“Oh My God, you look like shit...,” komentarnya sambil mengitari meja yang penuh dengan sampah untuk bisa sampai ke tempatku.
Menyadari bahwa dia hanyalah adikku, aku kembali menjatuhkan badanku di atas sofa. Cahaya matahari rupanya telah mengisi seluruh ruang dan aku sedikit kecewa ini sudah siang. Aku menatap langit-langit rumahku sejenak sebelum tersadar bahwa Reggina sudah kembali seperti semula. Ah, aku sudah lama tidak pulang. Aku juga tidak menemui siapa-siapa sejak itu.
“You’re back?” aku bertanya sambil mencari-cari sesuatu di antara botol-botol minuman yang sudah kosong. Aku melihat sekaleng bir yang sepertinya belum kosong. Tapi mengetahui kaleng itu ringan sekali membuatku kesal sehingga aku membantingnya ke sudut ruangan. Aku kehabisan minuman di saat aku begitu haus.
Reggina terdengar menghela nafas. Ketika aku memandangnya, dia terlihat begitu kecewa. Adikku sudah kembali ke kantor dan bekerja; hidup normal seperti sedia kala.
“Semua orang harus bangkit,” jawab dia. “But, unfortunately, you were never home.”
Aku hanya tertawa sinis. “My home is here...,” jawabku dengan malas.
Reggina kembali menatapi sekitarnya. “This place smells like hell,” balasnya. Lalu menghela nafas. “Kamu menghalau semua orang dari kehidupan kamu dan menghilang. Kalau kamu nggak bisa melepaskannya, bukan begini caranya.”
“Terus aku harus gimana?” tandasku.
“Kamu mempunyai kehidupan, Sid...,” dia berkata.
“Kehidupan yang mana?!” teriakku. “Kehidupan mana yang kumiliki saat ini?!”
Reggina memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatapku. “Aku ke sini bukan untuk berdebat dengan kamu,” kata dia, berusaha tenang dan tampaknya masih ada lagi yang ingin dia katakan padaku. Mungkin saja banyak.
Selama aku di sini, aku tidak pernah ingin bertemu siapa pun. Aku memutus komunikasi dengan keluargaku hingga bahkan aku tak tahu lagi entah berapa lama waktu yang telah bergulir di tempat ini. Aku membiarkan dunia di luar sana berputar sedang di duniaku ini, matahari telah lama tenggelam dan tak pernah kembali. Semuanya gelap.
“Take this,” kata Reginna padaku seraya menyerahkan sesuatu; sebuah handphone. “Kamu meninggalkannya di rumah.”
“Aku nggak membutuhkannya,” kataku. Memangnya siapa yang akan kuhubungi dan siapa juga yang akan meneleponku?
“Sepertinya aku sudah mengatakan hal yang salah,” dia kembali memulai pembicaraan di saat aku ingin melanjutkan tidurku oleh karena kepalaku yang berat.
Aku pikir aku sudah terbiasa dengan rasa sakit ini karena aku tidak pernah tertidur lelap jika tidak mabuk terlebih dahulu. Dan botol-botol kosong itu adalah saksi bisu bahwa aku tak pernah berhenti berusaha mengubur kenanganku dalam-dalam. Dalam pikiranku, aku telah berlari sangat jauh dari kenyataan yang kubenci tapi ketika terbangun, aku kecewa karena ternyata aku tak ke mana-mana. Aku tak pernah beranjak dari kenangan itu.
“Kami pikir dengan mengatakan ‘lupakan’ kamu akan memulai semuanya dari nol,” dia melanjutkan. “Tapi, aku keliru, Sid, kamu nggak memulai apa-apa dan malah semakin terpuruk. Aku pernah lihat kamu begitu kacau sebelum Daddy meninggal, tapi nggak separah ini....”
“Pergilah...,” kataku. Aku tak tahan dengan ocehan adikku yang seolah ingin mengatur semuanya lagi. Aku sangat trauma dengan hal itu. Aku hanya ingin sendiri, dengan diriku. Aku tak membutuhkan orang lain untuk mengatakan apa yang harus kulakukan walau aku sendiri tak tahu apa yang harus kulakukan.
“Sid,...” adikku mulai terdengar memohon agar aku mendengarkannya. “Kamu nggak bisa seperti ini terus....”
“Just... go away, Reggie...,” kataku sambil menunjuk ke pintu.
Reggina menatapku sambil mengerutkan dahinya. Dia tampak kecewa tapi aku tak mau melihatnya dulu. Aku tidak ingin bertemu siapa pun. Dia tidak berkata apa-apa lagi padaku namun dia meninggalkan sesuatu di atas meja sebelum pergi dengan wajah kesal. Sebuah surat dengan amplop putih bertuliskan nama dan alamat rumahku. Surat itu ditulis oleh Saira dan dikirim lewat pos; bahkan dijaman yang sudah secanggih ini dia masih menulis surat?
Dengan tidak sabar, aku merobek amplopnya dan mendapati surat hampir setebal sebuah buku. Aku mulai membaca halaman pertama dengan tangan yang gemetaran.
Dear Sidney,
Aku baru mendengar kabar duka tentang keluarga kamu. Tapi, aku menulis surat ini bukan karena hal itu. Maaf, setelah hampir satu tahun berlalu, aku baru bisa mengirimnya. Percayalah, Sidney, ini bukan karena aku sengaja untuk bersembunyi. Aku hanya merasa lelah dengan segala hal yang harus kujalani untuk melanjutkan hidupku. Semuanya terasa sangat berat.
Ingat, aku pernah janji nggak akan ada rahasia dan nggak akan menghilang. Aku menyesal nggak menepati janjiku sehingga aku kembali merasakan kehilangan yang sama sewaktu kamu akhirnya pergi dari sini. Dan kali ini, aku akan mengajak kamu untuk kembali pada semua yang pernah kita tinggalkan. Kita bertemu pada waktu-waktu yang sangat terbatas dan seolah kita ini harus selalu lari dari sesuatu yang akan memisahkan kita. Tapi, saat ini, aku merasa kalau kita nggak terlalu banyak bercerita tentang apa yang terjadi.
Pertama kali aku ketemu kamu di sekolah, aku pikir kamu adalah ancaman. Kamu melihatku bolos dan pasti mengadukanku ke guru, aku kaget kamu nggak melakukan itu. Kamu datang dengan cara yang sangat mudah dalam hidupku. Kamu melihatku dengan cara yang berbeda. Kamu nggak peduli dengan rok pendek yang biasa aku pakai ke sekolah, nggak seperti anak-anak lain yang suka sekali melotot. Saat berdiri di samping kamu aku kelihatan seperti pencuri kecil yang takut dihukum. Jadi aku merokok supaya kamu nggak meremehkan aku.
Sidney, aku pikir saat itu bagian terbaik dalam hidupku setelah semua kejadian buruk yang menimpaku adalah kamu. Kamu bilang kamu percaya sama aku sekali pun orang bilang kalau aku bukan gadis yang baik. Kamu melihatku sebagaimana aku ingin dilihat oleh orang lain. Itu adalah perasaan paling berharga yang pernah aku miliki.
Aku tertawa pada kalimat terakhir sebelum aku melanjutkan ke paragraf lain yang juga tak kalah panjang. Aku akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membaca semuanya sampai selesai. Kupikir ini adalah rahasia terakhir Saira....
What They Say About You -End
Komentar
0 comments