[Hal.27] [Ch.15] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Tak Akan Kembali

Rasanya ada seseorang yang mengikuti. Aku menoleh ke belakang dan dia berdiri di sana, tersenyum. Seolah membiarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan, meski dia tahu aku akan tetap membiarkannya di sana. Menjadi bayang-bayang kesepian yang tak pernah damai.

Dia menari dalam langkahnya, mengikuti aku yang terus berjalan ke depan. Ketika langkahku terhenti di depan pintu, ia terdiam di belakangku. Hingga aku membuka pintu dan masuk, ia berhenti menari dan membiarkanku hilang.

Hujan jatuh di atas puncak kepalanya. Membasahi rambut panjangnya dan baju putih yang dia kenakan. Di depan pintu, ia masih berdiri dan aku menyaksikannya dari balik gorden jendela.

Saat merasakan ada yang memelukku erat, aku yakin bahwa aku aku tidak akan membiarkannya masuk. Rasanya seperti itu. Aku menolaknya dengan memejamkan mataku erat-erat, dan setelah membukanya, dia telah lenyap dalam hujan.

“Dennis?” suara Melissa membangunkan aku yang tertidur di kursi di depan jendela.

Aku terkesiap. Beberapa kali mengerjapkan mata, aku sadar sepenuhnya mimpi itu berusaha mengembalikanku pada masa laluku.

“Raka sudah tidur ya?, tanyaku.

Melissa mengangguk. Aku mencium aroma kopi yag baru ia tauh di atas meja. Membuatku menggeliat dan dia bersandar di dadaku selama beberapa saat, sebelum tubuhku terasa ringan. Dia menyingkir secara mendadak.

 “Kenapa?” aku menegurnya.

Dia menggeleng lalu melempar pandangan ke jendela di mana hujan telah mengalihkan semua perhatian kami pada suara gemuruhnya yang terdengar menyedihkan.

“Bagaimana kalau tiba-tiba Ayu kembali?” tanya dia, kemudian menatapku lekat-lekat, “Apa kamu akan tetap ada di sini?”

“Dia tidak akan kembali.,” balasku. Sedikit bersedih karena aku sudah berhenti untuk berandai-andai. “Jika dia ingin kembali pasti sudah dari  kemarin-kemarin kan?”

Melissa tersenyum simpul, lalu kembali menatap jendela, “Tapi, tidak ada yang bisa mengalahkan takdir,” kata dia, lalu beranjak dari sisiku,  “Aku pikir…kamu terlalu mencintai dia dan kadang menganggap kalau aku adalah dia…”

Aku terdiam lagi dan Melissa menghela nafas.

“Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi nanti…,” dia menatapku sungguh-sungguh, lalu tertawa pelan, dan menggeleng-geleng, “Kalau tiba-tiba dia datang, dan membawa kamu pergi, aku harus bagaimana? Apa yang bisa aku lakukan setelah itu?”

“Kamu ini kenapa?”

Melissa menjauh, tanpa mengulangnya lagi, “Aku harus kembali ke kantor. Besok aku ke sini lagi…”

Aku mengangguk, lalu menuntun langkahnya mengantarnya sampai ke pintu.

“Besok aku ajak Raka keluar ya?” katanya padaku, di depan wajahku sambil membelai rambutku, “Kamu kan lembur, pasti pulangnya telat…”

Aku mengangguk, menatapnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba melihat Tyas lagi.

“Lihat di sini kita punya siapa…,” Tyas dengan senyum sinisnya menyadarkanku bahwa seharusnya aku sudah harus pindah dari apartemen ini. Ini bukan pertama kali dia menggangguku. “Sepertinya kehidupan kamu menyenangkan…”

Melissa yang kesal hendak menghampirinya, seakan ingin menjambak rambutnya. Tapi, aku lagi-lagi menahannya. Menarik lengannya, agar mereka tidak bertengkar dan keadaan semakin memburuk. Meski aku tahu, Tyas tidak akan berhenti sebelum ia selesai mengatakan apa yang membuat mulutnya gatal.

“Punya pacar yang bisa menerima kalau kamu punya anak, dan bukannya Ayu yang bahkan tidak pernah suka dengan anak-anak,” celetuknya, lalu terkekeh.

Aku hanya menatapnya dan Melissa sudah tidak tahan ingin menghampirinya.

“Tapi, ngomong-ngomong soal Ayu, apa kamu tidak tahu kabar dia baru-baru ini?” tanya dia, mendekat selangkah, tampak ingin menyentuhku dengan ucapan sarkastisnya, “Memalsukan nama supaya bisa jadi relawan, dianggap mati dan hilang, sekarang… dia masuk rumah sakit jiwa, kamu tidak tahu?”

“Kamu jangan gila!” celetukku.

Melissa masih tampak ingin memberinya pelajaran lewat amarah di matanya.

“Aku tidak pernah bohong, Dennis. Kamu selalu tahu aku tidak pernah bohong,” dia terkekeh lagi, “Apa yang tidak mungkin aku tahu soal dia? Kita berteman dengan orang-orang yang sama, tidak mungkin aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, sekalipun aku sudah di sini…”

Eh, dengar ya,…,” Melissa menunjuk ke wajahnya, hendak mengatakan sesuatu.

“Yang tidak ada hubungannya tolong diam!” potong Tyas dan ia menatapku serius, mengabaikan Melissa ia mendekat selangkah ke arahku, “Dia cacat, sakit dan lebih dari itu juga sakit jiwa…”

Aku tidak mempercayainya. Sedikitpun tidak. Walau aku tahu Tyas bukan seorang pembohong. Apa yang dia katakan selalu kebenaran yang kadang menyakitkan sampai rasanya ingin kutolak.

 Tyas  mundur beberapa langkah, dengan seringai itu lagi –seolah ia adalah pemenang akan sesuatu yang tengah ia mainkan, “Apa ini cinta yang kamu banggakan sampai kamu meninggalkan aku demi perempuan yang sekarang sakit jiwa karena kamu membuangnya sama seperti kamu membuang aku?!”

“Aku tidak membuangnya, Tyas!” teriakku, membalas kata-katanya, “Kamu jangan sok tau!”

“Terus apa?!” balasnya, “Semua orang tahu dia dicampakan pacarnya. Dia gila karena itu. Kalau kamu tidak percaya dengan omonganku kenapa kamu tidak membuktikannya sendiri?!”

---

Kepalaku terasa sangat sakit. Entah, sepertinya tidur yang terlalu lama tidak membuatnya terasa lebih baik. Sejak Tyas mengatakan hal-hal menyakitkan itu, aku tidak bisa tenang walaupun sejenak. Aku seolah terus membawanya. Ke mana pun aku pergi.

Aku melihat kalender di atas meja. Tanggal itu lagi, 12 Agustus. Aku melihat sebuah kue tart coklat berbentuk bulat dengan lilin angka tiga puluh satu di atasnya. Dihiasi oleh bulatan-bulatan yang terbuat dari coklat putih dan ada tulisan selamat ulang tahun di atasnya.

Raka duduk, di depanku menunggu aku meniup lilin dan dengan begitu ia bisa makan kue sebanyak yang dia inginkan.

“Ayo potong kuenya, Yah!” dia mendesakku tidak sabar dan memukul-mukul meja dengan girang.

“Sebelum potong kue harus tiup lilin dulu,” ujar Melissa menaruh beberapa piring dan garpu di samping kuenya. Lalu membelai kepala Raka yang tiba-tiba cemberut.

Raka makin tidak sabar, menunggu Melissa duduk di sampingnya dan mereka mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Pantas saja, kemarin Melissa bilang ingin membawa Raka. Mereka pergi berbelanja untuk menyiapkan hari ini. Membeli kue, minuman dan topi warna-warni serta terompet yang mereka tiup saat menyambut kedatanganku di pintu.

Ruang tengah di penuhi pita-pita warna warni yang menggantung di langit-langit. Ada banyak balon di lantai yang membuat Raka tenggelam di dalamnya.

Rumah ini terasa hidup untuk pertama kali, setelah biasanya hanya ada aku dan segala hal membosankan tentang diriku. Dan juga, inilah kali pertama ulang tahunku dirayakan. Di mana aku meniup lilin di ujung nyanyian ulang tahun dan tepuk tangan riang sambil mengucapkan sebuah permohonan –jika itu memang benar-benar dikabulkan.

Aku ingin punya sebuah keluarga yang utuh dan hidup bahagia –selamanya.

Raka dan Melissa bertepuk tangan, begitu asap kecil dari lilin menari meliuk-liuk di depan wajahku sebelum menghilang. Melissa menyodorkan pisau agar aku segera memotong kuenya karena Raka semakin tidak sabar ingin mencicipi kuenya.

Aku memberi suapan pertama untuknya dan ia memejam dengan nikmat karena menurutnya kue itu enak sekali. Aku juga menyuapi Melissa dan kami tertawa. Tertawa sambil minum soda berwarna coklat yang ia beli dari supermarket.

Namun, ada sesuatu yang menggangguku ketika mendengar suara kaleng soda yang ditarik tutupnya. Bunyi seperti ‘Cesss…’ yang panjang begitu udara masuk ke dalam kaleng yang dibuka. Aku ingat pada suara tawa ketika aku membukakannya untuk Ayu. Aku ingat ketika aku mengguncang-guncang kaleng itu lalu melepas tutupnya dan menyemprotkan busanya pada Ayu.

Sebuah permainan konyol yang mengembalikan saat-saat pertama kali aku menciumnya. Seolah itu terulang kembali, tapi di depanku saat ini adalah Melissa yang tertawa di antara balon-balon bersama Raka. Mereka memanggil-manggil dengan melemparkan beberapa balon kepadaku.

Tapi, teleponku berbunyi. Hanya beberapa saat setelah aku berada di antara balon-balon itu merayakan hari ini. Hari bahagia di mana separuh nyawaku melayang karena sebuah kabar kematian.

Kabar kematian Ayu…

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments