๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Grenade
Aku membuka mataku. Kemarin seperti tidak pernah terjadi, aku merasa waktu seakan terhenti. Aku melirik jam dinding yang suaranya terdengar begitu jelas. Mungkin karena rumahku sepi.
Aku keluar dari kamar Achen yang berantakan –satu-satunya tempat yang bisa kuhuni sementara ini. Bersabar dengan kebiasaan joroknya.
Mami dan kedua adik perempuanku punya kedai nasi di salah satu sudut jalan kampung Cina. Mereka berada di sana dari pagi hingga malam, sedangkan Achen keluyuran entah ke mana dengan motor beru Tyas nyaring yang membuatku tidak bisa tidur ketika ia pulang tengah malam. Lalu menyelinap dengan bau alkhohol dan rokok yang menyengat.
Ponselku berbunyi berulang kali sehari. Itu membuatku jengkel. Bukan padanya. Tapi, pada diriku sendiri. Aku tahu, aku tidak mungkin memberinya harapan seperti itu di saat tidak ada yang bisa kulakukan untuknya. Harusnya dia mengerti, aku tidak benar-benar peduli padanya, karena aku tidak pernah memberi balasan sedikitpun.
Aku menghapus semua pesan itu tanpa pernah membacanya. Yang ada di pikiranku adalah, dia yang pasti mengajakku bertemu. Dia tidak berbeda dengan pemaksa yang berpikir bahwa aku adalah sesuatu yang mudah didapatkan.
Entah, pikiranku sendiri membuatku merasa bersalah karena mungkin saja, dia bukan gadis seperti itu. Tapi, aku juga memiliki seorang pacar, dan seorang wanita yang butuh tanggung jawab. Dia tidak akan punya tempat di manapun di hatiku.
Ayu tidak tahu bahwa aku adalah masalah. Ayu tidak tahu aku bukan lelaki lajang yang bebas berkencan dengan gadis seperti dirinya. Ayu tidak tahu aku sudah menjadi seorang ayah. Aku tahu, Ayu terobsesi padaku sejak itu. Tapi, aku tidak mau ambil pusing.
Aku melempar ponselku ke kolong tempat tidur, agar tidak mendengar suaranya lagi. Ada banyak hal yang membuatku merasa sangat terganggu.
Tapi, dia memaksa masuk ke dalam kehidupanku yang kelam dan terjebak di dalamnya. Di saat yang sama, aku memaksa bayangan Ayu keluar dari otakku setengah mati. Aku tahu, memang ada yang salah dengan diriku sejak pertama kali melihatnya. Namun, aku sudah memutuskan. Selesaikan semuanya dengan Sania, kembali ke Jakarta menemui Tyas .
---
“Kamu tidak membuat masalah dengan perempuan murahan yang dulu pernah kamu pacari bukan?” tanya dia mencurigai dari seberang sana.
Aku tertawa dalam kebingungan seolah dia akan datang ke sini karena tahu perhatianku mulai terbagi, “Perempuan murahan yang mana, Tyas?”
“Mana aku tahu…,” balasnya. “Jadi…kapan kamu kembali ke sini?”
“Minggu depan. Kenapa? Kamu rindu?” candaku.
“Sudah terlambat kalau mau bertingkah seperti ABG, Den…,” balasnya dengan bisikan yang terdengar seperti tawa. “Jangan-jangan karena kamu lahir dan besar di sana, kamu jadi teringat masa lalu. Nostalgia dan... mungkin juga bertemu mantan pacar waktu SMA? Mungkin”
“Kalau bertemu dengan mantan pacarku, aku mau apa?”
“Aku tidak tahu.”
Aku diam, mendengarkan apa yang selanjutnya akan dia katakan.
“Oh ya, Den…aku…juga ingin minta maaf…,” katanya dengan pelan dan lembut. Dia jarang bicara padaku dengan nada semanis itu, kecuali saat dia benar-benar butuh atau merasa sangat salah.
“Minta maaf soal apa?” tanyaku, aku harap dia tidak meminta sesuatu yang tidak bisa kulakukan saat ini.
“Ng… soal …mobilmu…,” jelasnya terbata-bata dan aku sudah langsung tahu apa yang akan dia katakan beberapa detik kemudian, “Aku menabrak pagar rumah orang lain... bagian depannya agak... rusak…”
Aku menarik nafas, merasa tidak heran karena aku tahu dia baru mendapatkan SIM setelah usaha yang cukup panjang. “Kamu sudah membawanya ke bengkel?” tanyaku, berusaha menyingkiran pikiran tentang kap depan mobilku ringsek tidak berbentuk.
“Sudah …,” jawabnya masih ragu-ragu, “apa kamu marah?”
Aku tidak mau memikirkan soal mobil walaupun itu sempat membuat kepalaku berdenyut. Bahkan sebelum ini aku bisa lupa, punya mobil dan tinggal di apartemen dengan kontrak tiga juta sebulan.
“Kapan kamu pulang? Rumah sepi tanpa kamu…”
“Iya…,” pikiranku mulai menerawang jauh. “Aku tahu. Tunggu sebentar lagi.”
Aku menarik nafas panjang. Meskipun harusnya aku lega tapi aku tidak merasa demikian. Karena aku meragukan semuanya akan selesai dalam waktu tiga hari. Aku menarik nafas sekali lagi, kuharap dapat menenangkanku untuk beberapa saat. Aku hanya kecewa karena semuanya tidak semudah yang aku kira.
Pintu tertutup. Aku tidak bisa keluar. Walaupun tidak ada yang melarang aku pergi, kakiku hanya terasa berat melangkah. Jadi, aku duduk selama beberapa jam di sisi tempat tidur, memandang ke pintu.
Adakah tempat yang bisa kudatangi untuk lari dari dunia yang terasa sesak ini? Aku sudah tidak mengenal kota ini lagi, aku tidak ingin mengingat apapun tentangnya dan, aku tidak tahu harus pergi ke mana.
---
Seminggu kemudian...
Ponselku berbunyi lagi. Aku kesal setengah mati karena tidurku terganggu. Aku mulai meraba-raba saku celanaku dan mengeluarkan benda itu cepat-cepat. Jika itu Ayu, aku lebih memilih tidak mengangkatnya. Tapi, dia sudah tidak menghubungiku dua hari ini –lebih baik dia membenciku daripada mengetahui duluan bahwa aku memang seperti ini.
Aku yang kehilangan kaca mataku, mendekatkan layar ponsel ke wajahku. Untuk melihat dengan jelas, nama siapa yang muncul di layar.
Tyas .
“Halo?” aku menyapa, sambil menggosok-gosok mataku yang perih.
“Kamu sedang apa?! Aku mencoba menelpon kamu dari tadi! Kenapa kamu tidak pernah mengangkatnya?!” teriaknya.
“Aku sedang tidur, Yas. Ada apa lagi?” tanyaku malas-malasan sambil berguling ke samping, menghadap dinding yang dilapis poster Nirvana super besar.
“Kamu biasa tidur berapa jam di sana?!” teriaknya lagi, sudah dipastikan sedang marah besar.
Aku tidak menghitungnya, yang jelas aku sudah menjadi pemalas yang benar-benar malas. Aku tidak suka keluar rumah atau nonton TV. Aku tidak peduli apa-apa.
“Aku sudah menelpon dari empat jam yang lalu supaya kamu bisa menjemputku ke bandara! Ujung-ujungnya aku pulang naik taksi!” gerutunya, “Sekarang katakan di mana alamat rumahmu, biar aku saja yang ke sana!”
Tubuhku terduduk, aku seakan ingin melompat dari tempat tidur karena terkejut. “Kamu sudah di Padang?” tanyaku, meyakinkan diriku.
“Aku tidak punya jadwal kuliah seminggu ini, daripada bosan di sana, lebih baik aku pulang. Lagipula kamu berjanji akan segera pulang. Tapi kamu tidak pernah pulang!” Tyas melanjutkan gerutuannya, “Kamu tidak lupa kan Padang juga adalah kampung halamanku?”
Aku menghembuskan nafas lelah.
“Kamu sepertinya tidak suka aku pulang…,” celetuknya, mulai lagi.
“Kenapa tidak mengatakannya dari kemarin?” tanyaku berusaha tenang.
“Dari dua hari yang lalu aku juga sudah mengirim pesan dan menghubungi kamu, Den! Tapi, kamu tidak pernah mengangkatnya dan membalas pesanku! Aku curiga pasti ada sesuatu di sana!”
Aku menyeka kepalaku dengan tangan, aku ingat aku menghapus semua pesan masuk tanpa membacanya lebih dulu. Tanpa peduli itu dari siapa. Karena aku selalu mengira itu Ayu.
“Kamu membuat aku khawatir. Kemarin orang dari kantor mencari kamu. Harusnya kamu sudah masuk kerja kemarin…,” jelasnya.
“Nanti saja bicaranya…,” aku sedikit mengeluh, karena tiba-tiba kepalaku sakit, “Sekarang kamu berada di daerah mana?”
Aku melupakan pekerjaan, semua yang aku butuhkan untuk tetap sibuk. Kedatangan Tyas membuat semua yang telah kupikirkan dengan teliti menjadi berantakan. Namun, inilah saatnya, aku meluruskan semua kesalahpahaman Tyas tentangku.
---
Komentar
0 comments