[Hal.10] [Ch.5] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Padang, April 2008…

“Aku sudah bicara pada keluargaku,” kata Sania, dan aku masih setengah tidur, “Mereka…setuju. Karena mereka menyayangi Raka.

Aku tidak berkomentar, sama sekali tidak ada perasaan lega. Aku bangkit dengan sangat terpaksa dengan handphone masih di telinga. Otakku belum bekerja sepenuhnya, namun terbesit sebuah kata, ‘keliru’ dari bawah sadarku yang penuh logika.

Aku terdiam, di saat mulutku ingin mengatakan, rencana menikah dan lain-lain sepertinya harus ditangguhkan. Mengingat pernikahan berlangsung selamanya dan tidak terbayang bagaimana aku menjalaninya dengan wanita yang tidak bisa kucintai lagi.

Tapi, seorang lelaki harus memegang kata-katanya. Dan aku baru sadar, aku terjebak dalam keputusan yang salah.

“Bang!” Achen menyeruak dari balik pintu. “Apa kita akan pergi hari ini?!”

Aku ingat, aku minta bantuannya untuk mengantarku ke suatu tempat hari ini dengan motornya yang bersuara nyaring. Namun, hanya itu satu-satunya kendaraan yang ada di rumah.

Aku belum lagi memikirkan pekerjaanku sekalipun aku hanya punya 3 hari lagi sebelum masa cuti berakhir. Rasanya, aku akan melepaskan Jakarta dan semua embel-embelnya. Meski berat. Hal selanjutnya yang aku pikirkan adalah Tyas .Bagaimana cara memberitahunya?

Tapi, aku tidak pernah tahu, langkah kakiku ke sebuah tempat yang tidak kusangka, akan mengubah semua pendirianku setelahnya. Toko elektronik milik salah seorang kerabat jauh Mami. Di sana, aku bertemu seseorang seorang gadis pramuniaga. Takdir yang aku pikir hanya sebuah kebetulan.

---

Saat melihatnya dia tidak jauh berbeda dengan gadis pekerja toko kebanyakan. Dia mengenakan setelan kaos dan jeans. Tampak santai sementara sesama-nya begitu menarik dengan pakaian bagus dan dandanan mereka.

Aku tidak mengenalnya, tapi dia melihat ke arahku terlalu sering dan aku bisa membaca apa yang dia pikirkan setiap melihatku. Aku orang yang sempurna, mungkin untuk dia miliki atau sekedar dia impikan.

Dalam jarak yang cukup jauh dia memperhatikanku, di balik etalase -pura-pura merapikan sesuatu. Aku melihat ke arahnya dia terlihat bodoh saat terlambat untuk sembunyi dari tatapanku. Ketika dia membuat suara gaduh karena ada barang yang jatuh, semua orang memandang ke sana.

Bodoh…,” gadis pejaga toko yang bersamaku terdengar bergumam.

Aku menebak, dia mungkin baru lulus SMA, atau tubuhnya memang kecil. Tapi, bila dibandingkan dengan gadis seusianya, dia tidak secebol itu. Dia hanya punya perawakan seperti anak kecil, mungkin. Rambutnya hitam panjang, melewati bahu dan sedikit berombak. Kulitnya kecoklatan dan tiada riasan mencolok di wajahnya. Dia tidak cantik, juga tidak jelek. Namun sedikit menarik karena dia punya cara menatap yang mampu menyiratkan perasaannya terhadap sesuatu. Ataukah dari setiap bagian di wajahnya itu, sepasang mata dengan bola mata hitam dan bulu mata yang panjang membuat wajahnya menjadi unik.

Entah, aku sudah melihat banyak wanita cantik di sekelilingku dan mereka selalu identik dengan rambut pirang buatan dan lipstik, ditambah higheels.

“Bang!” tegur Achen menyikut punggungku, dan aku sedikit terkejut.

“Apa?” aku sedikit gusar menyahutnya, dan pelayan toko yang tadi sedang bicara terdiam menatapku. Sebelum tatapannya berubah menjadi centil dan aku geli.

“Jadi, yang mana?” tanya gadis itu padaku.

Aku limbung, aku menemukan beberapa merek laptop di atas meja.

“Terserah,” kataku, tenang dan kembali ke sudut di mana gadis kecil itu duduk.

Achen mengernyit, dia ikut memandang ke mana aku memandang. Dan sama-sama menemukan bahwa gadis itu –yang  tingginya tidak lebih dari 158 cm  itu sekarang tengah berbicara dengan orang asing yang ingin membeli sesuatu.

Achen cekikikan, ketika gadis itu tidak lagi melihat ke sini. Dia bicara dengan bule itu dengan Bahasa Inggris yang fasih. Aku saja, yang pernah tinggal di Amerika bahkan tidak bicara dengan bahasa sefasih itu.

Gadis pelayan toko sedang mengepak laptop untuk Gina, sementara aku kembali memperhatikan gadis itu beramah tamah dengan santainya. Aku mendengar dia mengeja namanya. Ayu.

Tapi, setelah bule itu meninggalkan toko, ia kembali menatapku sebelum ia akhirnya melakukan sesuatu yang lain –selain memandangku.

Aku menarik gagang pintu kaca setelah Achen keluar lebih dulu, saat merasa aku mungkin ingin melihat gadis itu tersenyum lagi padaku. Namun, aku tidak menoleh untuk memberinya sedikit harapan, karena itu pasti akan menyakitinya nanti.

---

Dia memang kelihatan bodoh, maksudku…dia tidak bisa menyembunyikan perasaan di saat ia harus melakukannya. Tapi, itu adalah peraturanku, bukan peraturannya. Dan aku merasa aneh ketika dia tertawa padaku sambil mengambilkan flash memory untukku.

“Kenapa kamu tertawa?” tanyaku.

"Tidak ada...,” dia tidak memandangku sama sekali, tapi masih saja tertawa, "Ada lagi?"

Aku menggeleng, terus memandangnya tidak peduli, dia akan menangkap basah aku tidak bisa berhenti melakukannya.

"Kamu sama sekali tidak bodoh,” aku berkomentar soal ejekan gadis menyebalkan yang tampak membuatnya terganggu beberapa saat kemarin.

"Oh,” dia hanya menatapku canggung dari balik etalase yang membuatku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi, aku merasakan keputusasaannya pada tempat ini, toko orang Tionghwa yang diketahui orang Minang sebagai tempat yang amat disiplin.

"Tidak ada orang pintar yang akan kelihatan rendah hanya gara-gara menghina orang lain,” kataku, sama sekali tidak berharap itu kedengaran keren.

"Terima kasih…,” ia mengangguk sebelum rautnya berubah lagi –malu-malu.

"Kamu tidak cocok kerja disini,” aku berkata dengan cukup tenang.

“Aku cuma lulusan SMA”

“Aku di Jakarta,” jelasku, “Di sana ada banyak orang yang mungkin tidak akan merendahkan kamu walaupun kamu tidak punya ijazah sarjana. Kamu tahu, itu cuma berlaku untuk orang-orang tertentu?"

"Jakarta itu jauh, apalagi jalan kaki dan aku tidak bisa terbang ,” kata dia, hanya menatapku dengan sedikit menyesal.

Aku  sedang berpikir apa yang akan aku beli selanjutnya di toko ini, agar punya alasan kembali ke sini.

Aku sedikit kekanakan. Maksudku, aku memang tidak terlalu tua untuk bermain-main dengan cara seperti itu – usiaku masih dua puluh sembilan tahun. Tapi, bedanya aku sudah mempunyai seorang anak lelaki berusia 3 tahun dan beberapa masalah berat yang harus aku selesaikan.

Aku sempat mengatakan pada diriku, ‘jangan dia’, tapi dia membuatku berubah pikiran saat suaranya memanggilku.

“Apa kita tidak akan bertemu lagi?” pertanyaannya sama dengan apa yang aku pikirkan.

Aku pikir itu sebuah pertanda.

“Kenapa?” aku menyembunyikan obsesiku terhadapnya yang seketika muncul di balik raut tenang.

Dia tampak canggung dan malu, tangannya terlihat gemetaran. Dia sangat manis. “Aku…cuma ingin tahu”

Pertanda bahwa setelah ini aku tidak akan bisa berhenti memikirkannya. Aku cukup bingung, dan ingat seberang jalan adalah tempat yang pertama kali kulihat saat aku merasa gusar pada diriku sendiri –karena seharusnya aku tidak kembali kesini - , lalu menunjuk ke sana. ”Nanti sore. Di depan sana,” kataku, sebelum pergi. Dan ia terlihat senang.

---

Achen melompat ke tempat tidur dan menindihku. Aku terkejut sekaligus sakit. Dia memang adikku, tapi tubuhnya lebih besar dariku dan berotot, serta bertato.

Kenapa Abang malah tidur siang?!” gerutunya.

Aku tidak sedang tidur. Aku hanya berpikir. Tepatnya kepikiran, kenapa aku mengatakan hal-hal seperti itu? Ekspresinya saat terakhir aku melihatnya, malah membuatku merasa bersalah.

Bukankah katanya mau pergi?” kata Achen, lalu memelankan suaranya, “Mami sedang tidak ada. Sebaiknya kita pergi sekarang.

Aku mengernyit. Aku sama sekali tidak ingin menemui siapapun hari ini, sekalipun sudah berjanji.

Kalian mau pergi ke mana buru-buru?” suara itu membuatku terkejut.

Ivanna sudah berdiri di pintu kamar dengan wajah menyeramkan dan mata sipitnya tampak mencurigai aku telah melakukan dosa besar.

“Mami hanya pergi sebentar,” kata Ivanna, “Kalau Bang Alan hilang lagi, aku akan mengatakan pada Mami kalau Bang Achen yang mengajaknyaLagipula kalian mau kemana? Sebentar lagi hujan.

“Bang Alan ingin bertemu seorang gadis!” Gina menyeruak masuk, melompat ke tempat tidur sambil tertawa dan menggodaku, “Ya kan? Ya kan?”

“Aah, anak kecil! Jangan sok tahu urusan orang!” celetuk Achen mendorongnya dari tempat tidur dan Gina merengek saat tubuhnya menghempas lantai.

Kepalaku jadi sakit. Adik-adikku memang seperti ini. Mereka berisik. Achen yang sembarangan, Ivanna yang pemarah dan Gina yang manja. Mereka selalu memanggilku ‘Abang’ dengan cara yang berbeda. Sudah enam tahun aku tidak lagi melihat mereka ribut dan membuatku  kesal. Selama itu, aku mencoba untuk tidak peduli. Aku memang egois.

Rasanya aneh. Melihat Achen menyeret Ivanna dan Gina keluar, lalu menutup pintu dan menguncinya. Aku tidak pernah tahu, walaupun sudah dewasa mereka masih tetap seperti itu. Bertingkah seperti anak kecil.

---

Aku tidak pernah menunggu seperti ini karena aku selalu tahu apa yang aku inginkan akan datang padaku. Aku mulai meragukan apa yang aku lakukan beberapa menit kemudian, ingin pergi tapi…dia sudah terlanjur melihatku.

Bila tiba-tiba aku pergi, aku benar-benar terlihat seperti pengecut! Parahnya, entah mengapa aku begitu peduli, biasanya tidak. Aku akan pergi jika aku mau, hanya saja dia sudah menyebrang jalan lalu berdiri di depanku.

Beberapa orang gadis, tengah memandang tepat ke arahku. Ini terlihat sangat menggelikan. Tapi, aku yang memulainya. Aku merasa pikiran, perasaan dan tubuhku tidak sejalan lagi. Mereka seolah memiliki keinginan lain di bawah sadarku.

“Ayo,” aku segera membalikan badan mengambil langkah cepat.

“Aku Ayu. Kamu?” dia bertanya sambil mengejar langkahku.

“Alan,” kataku tanpa menoleh. Aku tidak ingin dia melihat ekspresiku saat itu.

Aku sadar kelakuanku seperti remaja belasan tahun, tapi dia memang membuatnya seperti itu. Usianya 19 tahun dan dia tidak pernah bersentuhan dengan siapa pun sebelumnya. Aku merasa jika aku membiarkannya masuk, dia mungkin tidak akan mendapatkan pengalaman pertama yang menyenangkan.

Aku menghabiskan tiga jam ke depan bersamanya untuk berpikir. Aku selalu jatuh cinta dengan mudah dan sulit melepaskan diri setelahnya. Apakah itu akan terjadi sekali lagi?

---

“Aku tidak tahu harus memanggil kamu apa…,” dia berkata dengan gugup. “Kamu jauh lebih tua dariku…”

Aku tidak pernah merasa sebuah panggilan begitu penting.

“Panggil nama saja,” kataku. “Tidak apa-apa.”

Cukup hanya adik-adikku saja yang memanggilku Abang dengan suara mereka yang melengking.

Ayu mengangguk mengerti, sekali dan setelah itu diam lagi.

Aku melempar pandangan keluar dengan bosan. Aku sadar, bahwa aku tidak punya apa-apa untuknya. Bahkan aku kehilangan kata-kata wajar yang seharusnya aku ucapkan. Semua ini tanpa rencana.

Ini bukan diriku.

Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu. Aku dan kebiasaanku, tersistem dengan baik. Rona kota ini seakan mempengaruhi pikiranku. Aku cenderung pemalas dan penidur. Entah karena tidak ada yang bisa aku lakukan. Belum lagi gejolak di dalam diriku yang menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah hubungan cinta.

Aku menepuk pipiku sendiri, dalam khayalan. Jika aku membutuhkan seorang perempuan saat ini, rasanya aku telah keliru, pikirku sambil memandang Ayu yang sibuk memainkan sedotan dalam gelas yang berisi es batu di depanku. Dia hanya gadis kecil…

Namun, sepertinya alasan yang menguatkan aku berada di sini dengannya, bukan perasaan semacam itu. Hanya ingin tahu, apa yang dia pikirkan tentangku.

“Kamu tinggal di mana?” tanya dia padaku.

“Sekitar Kampung Cina,” jawabku.

“Di mananya?” tanya dia lagi.

“Dekat jembatan,” jawabku.

“Oh…aku sering ke sana, tapi cuma lewat,” katanya, tertawa pelan. “Kalau aku lumayan jauh dari sini, 20 menit naik angkutan umum.

“Kamu naik angkutan umum setiap hari?” tanyaku.

“Ya…,” jawabnya canggung dan berpikir lagi, “Oh ya, sudah berapa lama kamu tinggal di Jakarta?”

“Enam tahun,” jawabku.

“Enak tinggal di Jakarta?”

“Kenapa?” aku menatapnya serius.

“Tidak. Hanya bertanya. Soalnya aku tidak pernah ke mana-mana. Tinggal di sini kadang bisa membosankanku juga…tapi… kamu tahu orang tuaku tidak pernah mengizinkan aku pergi jauh-jauh kalau tidak dengan mereka…,” katanya, tertawa pelan –getir. “Tapi... sebenarnya kami juga hampir jarang bepergian jauh ke luar kota....”

Aku menyimak setiap ekspresinya saat aku minum dari kaleng soda yang sudah tidak dingin lagi. “Aku juga, selama dua puluh tahun tinggal di Padang tidak pernah ke mana-mana,” kataku, sekedar mengobrol. “Sekali keluar dari Padang, aku pergi sangat jauh.”

Ayu tersenyum, menatapku sebentar sebelum kembali ke gelas kosong yang ia mainkan dengan sebatang sedotan. Lalu menatapku lagi, “Kamu beruntung pernah meninggalkan Pulau Sumatera…,” komentarnya menghela nafas dengan singkat dan pelan. “Di sini tidak ada apa-apa…”

“Kamu tertarik untuk pergi dari sini?”

“Suatu hari. Pasti aku akan pergi dari sini.”

“Ke mana?”

Dia tersenyum sambil mengangkat bahu. “Nggak tahu. Keluar negeri mungkin...,” jawabnya.

Aku kembali melempar pandangan ke luar lewat dinding kaca yang memisahkan cafรฉ mall dengan kebisingan suara kendaraan lewat di pinggir jalan. Aku menatap ke sana hanya untuk mengalihkan perhatian dari rautnya yang kadang membuatku bingung. Aku tidak biasa dengan suasana seperti ini. Seolah ini adalah kencan pertama, entah, aku merasa aneh dengan suasananya. Aku tidak pernah pergi berkencan meskipun aku sudah berhubungan dengan banyak perempuan sebelumnya.

Tapi, sekali aku menoleh padanya, dia tampak sudah bosan. Sesekali ia melirik jam tangannya. Lima menit kemudian ia mengakhiri pergerakan waktu kami yang terasa singkat.

“Aku harus pulang sebelum jam tujuh,” jelasnya.

Aku segera berdiri dari kursiku. Lalu kita meninggalkan mall tanpa bicara. Dia juga tidak punya pertanyaan lagi. Aku sudah menepati janjiku dan selanjutnya aku tidak tahu harus bagaimana.

Ketika handphone-ku berbunyi tidak lama setelah aku memastikan Ayu pulang, aku ingat Tyas menungguku di Jakarta.

Aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Meski aku tidak tahu apa yang aku inginkan darinya. Rasa bersalah terhadap semua yang telah terjadi pada mereka yang pernah ada di sekitarku, adalah beban berat. Dan yang paling memberatkan dari semua akibat perbuatanku adalah adalah sikap Mami yang seolah menunjukan bahwa ia tidak ingin melihatku lagi.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments