[Hal.9] [Ch.5] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ayu Raima

Orang bilang, aku seperti ayah. Tidak hanya wajahnya yang mirip, cara bicara dan bersikap juga mirip ayah. Waktu kecil itu adalah sebuah kebanggaan, karena aku sangat dekat dengannya. Sekarang, aku melihat ada satu lagi penerus kami. Seorang bocah tiga tahun, anakku. Dia benar-benar mirip denganku. Bagaimana aku akan memenyangkal bahwa dia bukan bagian dari diriku?

Bocah itu menatapku asing. Dia tentu belum menyadari bahwa kita  punya seraut wajah yang sama. Ketika dia menghampiriku, lututku gemetaran. Aku yang biasanya tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukan dalam setiap keadaan berbeda, terdiam, terpana, berusaha menemukan satu kata saja untuk mengeluarkanku dari gelembung yang membuatku tidak dapat bernafas. Beberapa saat kemudian, aku tersadar dan tak lama, udara kembali mengisi rongga dadaku. Aku tersenyum, meski ibunya belum merubah caranya memandangku – sinis.

Semua sudah berubah. Aku seringkali mempertanyakan ke mana sosok Sania yang pernah aku cintai setengah mati. Tapi, akan sama jawabannya tentang ke mana perginya Alan yang terlihat bodoh dan miskin itu. Keduanya sama-sama menghilang ditelan waktu.

“Namanya siapa?” aku bertanya pelan pada bocah itu.

“Laka…,” jawabnya dengan polos.

Aku nyaris meneteskan air mata ketika mengusap kepalanya yang berambut hitam lurus. Seperti rambutku.

“Namanya Raka,” ralat Sania.

Aku mengangkat tubuhnya untuk memeluk bocah itu. Ada perasaan aneh yang menyelinap diam-diam dalam diriku. Aku tidak tahu persis kenapa rasanya aku ingin menangis. Mungkin  karena membayangkan selama ini, aku hidup bebas, aku tidak pernah memikirkan orang lain. Dan mengetahui selama itu aku telah menjadi seorang ayah tanpa kusadari, menimbulkan semacam perasaan bersalah.

Tapi, Sania, memang sengaja tidak memberitahu apa-apa. Dia pernah mengatakan, bahwa dia benar-benar terpaksa melakukannya. Seandainya, anak ini tidak mirip denganku, maka selamanya aku akan sangat berdosa, karena tidak pernah tahu.

---

Sania tertawa antara rasa percaya dan tidak bahwa aku sudah memutuskan semuanya sesuai pemikiranku. “Aku mendapatkan masalah dari semua anggota keluargaku gara-gara ini, Lan,” katanya, “Apa yang akan kamu katakan pada mereka soal keputusan ini?”

“Aku melakukan ini hanya untuk Raka, bukan kamu apalagi keluargamu, Nia,” cetusku, “Bukannya itu tujuan kamu memberitahuku? Supaya Raka diakui dan bisa memakai namaku?”

Sania diam, entah apa yang ada di pikirannya namun, setiap aku melihat ke matanya –setiap  dia memandangku, aku merasa seperti dikejar oleh bayangan yang tidak mengizinkanku tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak. Dia bahkan seolah tidak membiarkanku bernafas dengan lega.

“Atau kamu…memberitahuku hanya supaya kamu bisa melampiaskan kekesalan?” tanyaku, kemudian, mendapati ekspresi kesalnya padaku seolah ia mampu membunuhku dengan tatapan itu.

Dia mengalihkan matanya, karena aku membalas dengan cara yang sama. Dia berpura-pura memperhatikan Raka yang sedang makan es krim di sampingnya dan mengelap coklat di mulutnya yang belepotan.

“Aku tidak siap dibuang oleh keluargaku kalau ikut agama kamu,” katanya kemudian.

“Aku tidak pernah mengatakan kamu harus melakukan hal-hal seperti itu,” celetukku, “Aku yang akan mengalah. Dan aku hanya minta satu hal, jangan pernah menyebut bahwa aku seorang ayah yang tidak bertanggungjawab.

Sania mengernyit, “Apa maksudmu?” dia masih tertawa sinis.

Sania dan keluarganya memang tidak pernah tahu, bahwa ayahku orang pribumi. Mereka juga tidak tahu, hal yang pertama kali diperdengarkan ketika aku dan adik-adikku lahir ke dunia adalah suara adzan dan qamat. Tapi, hal-hal seperti itu, seolah tak pernah terjadi dalam hidup kami, begitu ayah pergi.

Aku memandang Raka, aku tidak ingin dia sepertiku. Meski mitos daerah pernah mengatakan bahwa seorang anak laki-laki sulung yang mirip dengan ayahnya sudah ditakdirkan untuk terpisah, jika tidak dapat hidup bersama, maka maut akan memisahkan mereka. Mitos itu telah berlaku dalam hidupku dan aku tidak ingin terjadi pada Raka.

---

Mami terlihat kecewa. Dia tidak lagi marah dengan memaki seperti kemarin-kemarin. Namun, mengabaikanku adalah satu-satunya cara agar ia tidak berurusan denganku lagi.

Aku sedih, saat ia bahkan tidak mau melihat ke arahku. Sebelumnya dia pernah mengatakan, tidak apa-apa pada akhirnya aku menikah dengan perempuan pribumi, bahkan yang beragama Islam. Karena ia tahu aku tidak pernah tertarik pada ‘sesama’. Tapi, Sania adalah pengecualian.

Keluargaku trauma pada hinaan mereka di masa lalu. Dan aku malah berjalan ke arah mereka. Meski aku katakan bahwa aku tidak akan menemui mereka secara resmi, dan satu-satunya hal yang harus aku lakukan adalah membawa Sania dan Raka pergi. Mereka suka atau tidak.

“Ini Padang, Lan…,” kata Mami, mengingatkan, “Kamu tidak bisa membawa anak perempuan orang begitu saja dari keluarga mereka”

Aku lupa soal itu. Adat.

Orang Padang, menganut system matrinial di mana hanya anak perempuan mendapatkan warisan turun-temurun seperti rumah dan tanah. Sedangkan anak lelaki hanya mengawasi. Anak perempuan adalah penerus dari kaum mereka. Mengetahui bahwa Sania adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga pasti akan menyulitkanku. Keluarganya tentu tidak akan melepaskannya.

Pada akhirnya, aku malah meragukan keputusanku dan ide Achen seketika melompat keluar dari benang kusut di kepalaku. Uang.

---


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments