๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Bang Alan?!” suara Achen terdengar dari pintu masuk dan ia serta merta berlari ke arahku.
Aku tidak tahu harus tertawa, memeluknya atau bagaimana. Adikku benar-benar tidak kukenali lagi, namun hanya ada satu hal yang menandakan bahwa dia memang benar-benar adikku. Yaitu, caranya memanggilku.
Dengan tindik di pelipisnya, ia benar-benar seperti preman jalanan. Kepalanya plontos dan ada beberapa bekas luka jahitan di dahi dan bagian bekakang kepala. Achen terlihat seperti Frankenstein yang kurus. Dan pipinya yang tirus menunjukan bahwa ia sudah kecanduan narkoba.
Aku mengurut dada. Apa yang salah dengan hidup kami?
“Kapan Abang pulang?” dia bertanya, dengan tawa cengengesan seperti biasanya.
Aku menarik nafas, “Kemarin siang,” jawabku. Memandang sekelilingku, di mana penjaga mengawasi kami dan sorot mata mereka membuatku tidak nyaman. Mungkin karena ini pertama kalinya aku menginjakan kakiku di tempat seperti ini.
Tawa Achen masih terdengar, “Aku kira sudah tidak mau pulang kampung lagi…,” komentarnya.
“Chen, Abang akan mengeluarkan kamu dari sini, tapi kamu harus bersumpah tidak akan membuat masalah lagi”
“Tidak mau,” kata dia, “Hidup di sini lebih enak. Tidak perlu dengar Mami marah-marah. Tidak perlu ribut sama Ivanna.”
“Mami sedang sakit,” kataku dan menemukan Achen cukup terkejut.
“Apa itu parah?” tanyanya.
“Kalau tidak parah Abang tidak akan pulang….,” kataku meyakinkannya.
---
Orang-orang bemunculan entah dari mana. Mereka mungkin tetangga yang merasa terganggu oleh suara panci yang menghempas lantai dan teriakan Mami.
Aku shock, terpaku menatap ibuku yang marah dan melempari Achen dengan apa yang ia temukan di sekitarnya. Panci, sendok, gelas dan piring plastik. Apapun yang menimbulkan suara keras.
“Pergi kamu!” usirnya, “Mami sudah bilang jangan pernah kembali lagi ke sini!”
Aku mulai mengerti, tampaknya Mami sengaja membiarkan Achen di penjara untuk membuatnya jera. Tapi, aku malah mengacaukan semuanya.
“Kenapa kamu malah mengeluarkan dia?!” Mami menuntutku. “Biar dia mati di penjara! Mami tidak peduli!”
Achen ketakutan, dan ia tertunduk di hadapan Mami. Tampak menyesal namun sulit untuk menangisi keadaan.
Ibuku berwajah pucat. Ia memandangku lalu, Achen dan si kembar yang hampir menangis, “Kenapa kalian seperti itu?” suaranya terdengar merengek, “Apa kesalahan Mami sampai kalian jadi begini?”
Aku ikut tertunduk. Mencoba mengingat entah sejak kapan semuanya jadi seperti ini. Aku merasa bersalah, aku harusnya menjaga mereka, tapi malah menyelamatkan diri sendiri. Melihat ibuku seperti sekarang seperti melihatnya menyakiti dirinya sendiri. Aku tidak dapat mengatakan apapun. Aku kesal pada diriku yang tak dapat membuat keadaan membaik, padahal itulah yang seharusnya aku lakukan.
“Mami?!” jeritan Gina bergema, dan ketika kepalaku terangkat ibuku sudah rubuh di lantai.
“Mami?!” Achen berlari ke arahnya.
Aku tidak ingin kehilangannya…
Tuhan, jangan ambil dia sekarang, karena aku…belum melakukan apa-apa untuknya…
---
Gina masih menangis. Achen berdiri di dekat pintu, sementara Ivanna di dalam bersama Mami. Aku duduk dengan membungkukan badan. Kami sama-sama menunggu Mami mengizinkan kami masuk. Tapi, sepertinya kami akan pulang tanpa bisa bicara dengannya.
Sejam kemudian, Mami keluar dari ruang perawatan dengan Ivanna yang memapahnya.
Aku dan Achen serentak menghampirinya, tapi dia berisyarat dengan tangannya tidak ingin kami mendekat.
Langkahku terhenti di depannya sebelum aku menyingkir untuk membiarkannya lewat. Pergi meninggalkan rumah sakit dengan langkah tertatih yang pelan. Seperti kedua kakinya tidak dapat lagi menyangga tubuhnya yang lemah.
Gina mengikuti mereka.
Sementara aku dan Achen sama-sama menghela nafas lelah.
Aku meliriknya, dia tampak panik dan beberapa kali menyapukan tangannya di atas puncak kepalanya.
Kami dua orang anak lelaki tumpuan harapan yang gagal dengan mengecewakan. Apa yang aku punya untuk keluargaku, hanya sampah. Aku merasa semuanya sia-sia bukan karena tidak ada yang menghargainya, melainkan Mami tidak pernah merasa membutuhkannya melebihi diriku –anaknya. Bahkan aku tidak pernah memikirkannya.
Aku tidak dapat mengembalikan semua senyum dan perhatiannya itu
---
“Anak si Pak Haji yang sombong itu?” Achen membelalak. Lalu tertawa, sambil menggeleng-geleng dan menepuk punggungku sekali, “Hebat juga Bang Alan, sekali langsung jadi!”
Aku mendengus, bisa-bisanya dia mengatakan itu.
“Tapi, tidak apa-apa, Bang!” katanya santai, “Biar Pak Haji itu tahu rasa! Kualat dengan kata-katanya sendiri!”
Masalahnya bukan itu. Aku masih memikirkan apa yang akan kukatakan pada keluarga itu ketika menemui mereka.
“Bagaimana rasanya anak cucunya malah mirip dengan orang yang selalu dia hina. Namanya Pak Haji, tapi kata-katanya seperti sampah…,” sambung dia, dengan tawa sinis. “Orang yang tidak beragama saja, juga tidak separah itu.”
Aku masih diam, memperhatikan adikku merokok dan dia sangat menikmatinya.
“Bang Alan tidak usah takut! Masalahnya bisa selesai kalau mereka diberi uang,” ujarnya, “Dulu mereka selalu mencaci maki kita karena kita Cina, miskin, tidak tahu diri, bahkan lebih rendah dari sampah.”
Aku tidak pernah tahu, Achen masih menyimpan rasa dendam tentang apa yang kami alami waktu kecil. Saat itu juga aku sadar, apa yang membuatnya seperti ini, adalah semua perlakuan orang-orang terhadap kami. Aku sangat mengenal adikku – selain karena sama-sama lelaki, ada banyak hal yang kami hadapi bersama. Berbeda denganku yang menanggapi semua hinaan orang dengan diam, Achen sangat frontal terhadap siapa saja yang terdengar melecehkan kami.
Mungkin aku sempat lupa, dulu ia pernah melempari kedai beras Pak Haji dengan batu tidak lama dia memakiku di pinggir jalan karena putrinya. Pak Haji mendatangi rumah kami dan memaki-maki ibuku. Achen datang dari dapur dengan pisau yang akan dia hujamkan pada pria itu dan aku menghentikannya.
Pak Haji itu ketakutan saat meninggalkan rumah kami setelah ancaman Achen. Jika dia menghina kami lagi, maka ia akan membunuhnya. Tidak peduli setelah itu ia akan membusuk di penjara.
Aku juga ingat saat sekelompok anak pribumi merusuh di sekolah dengan meneriaki semua murid dengan julukan ‘Babi’. Beberapa orang sempat ribut sampai salah satu dari mereka melempar batu dan mengenai kepalaku. Aku pulang dengan kepala berdarah, dan tidak lama kembali bersama Achen yang mengamuk, mencari siapa pelakunya. Adikku memukul anak itu dan jika tidak ada yang menghentikannya, satu nyawa akan melayang.
Tanpa disadari, Achen memikul tanggung jawab yang harusnya dibebankan padaku. Setiap ada yang membuat adik kami menangis, ia sudah pasti tidak membiarkannya. Sementara aku dan kepengecutanku berada di belakangnya, setiap saat.
Hanya saja, Achen mungkin memang tidak ingin, aku mengotori tanganku dengan darah orang lain. Aku rasa itu telah menggantikan kepolosan anak-anak yang ada padanya ketika itu. Lagipula, jika aku seperti Achen, Mami mungkin akan lebih tertekan menghadapi kami.
Seperti saat ini. Ketika ia tahu, bahwa kami sama-sama telah rusak. Hal yang selalu aku takutkan sekarang hadir di hadapannya.
---
“Malam ini kita tidak bisa pulang,” kata dia merebahkan tubuhnya di pagar jembatan tempat kita duduk memandang sampai ujung sungai. “Kalau kita pulang dan Mami melihat kita, dia bisa sakit lagi…”
Aku tidak setuju, kecuali untuk pendapatnya soal Mami. Mungkin, kami harus membiarkannya tenang.
“Kita tidur sini saja, Bang,” katanya.
Aku mengernyit. “Tidur di jembatan?”
“Di sini tidak sama seperti Jakarta...,” ujarnya.
Ya, aku sependapat soal itu. Tentu tidak akan ada yang berani mengganggu, karena ada preman yang tidak takut mati di sini. Siapa yang mau cari masalah dengannya?
Aku tertawa pelan dan mengulangnya sekali lagi. Tidur di jembatan. Aku mungkin akan mengingat ini seumur hidup. Tapi, aku memang tidak akan tidur di sini – aku tidak bisa.
Satu persatu orang meninggalkan jembatan wisata, menyisakan lampu-lampu yang menyala terang. Suara kendaraan membuat bunyian nyaring yang singkat dan menghilang perlahan di ujung jalan. Tempat ini terasa asing, sekalipun tidak berada jauh dari lingkungan tempat aku lahir dan dibesarkan. Aku hanya tidak pernah duduk di sini berlama-lama.
Jembatan ini dinamakan Siti Nurbaya – legenda cinta mati yang abadi dan menjadi pameo kawin paksa. Dari jembatan, dapat terlihat Bukit Padang, tempat di mana perempuan dalam legenda dan cinta sejatinya dikubur.
Cahaya lampu kota memantul pada air sungai di bawah kakiku. Aku melihat beberapa kapal merapat di muara yang dapat terlihat dari tempat dudukku dan memperhatikan beberapa orang masih bekerja.
Achen sudah ketiduran dan sesekali bergerak ke sana ke mari. Tidurnya pasti tidak nyaman. Namun, ia tampak terbiasa tidur di mana pun. Asalkan dapat berbaring dan meninggalkan dunia ini sejenak.
Angin malam bertiup. Aku memeluk diriku. Aku tidak bisa tidur walaupun mengantuk. Pada akhirnya, aku melewatkan malam itu, dengan terjaga. Hingga semua lampu kota telah mati dan cahaya menelisik secara perlahan dari celah awan. Aku bersyukur, aku dapat berpikir dengan tenang selama itu.
---
Kemarin, aku mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada hidupku. Pada hidup adik-adikku. Meski Mami membesarkan kami dengan penuh kasih sayang. Namun, di saat yang sama ia harus berjuang dalam kenyataan pahit untuk mempertahankan hidup empat orang anak yang kehilangan ayah, juga hidupnya sendiri. Hidup kami tidak sesempurna ketika ayah masih ada.
Tidak seorang pun yang menyalahkan kepergian ayah, kecuali aku. Setiap dia datang melihat kami, aku memilih pergi dari rumah dan baru kembali setelah dia tidak ada. Sejak dia menghilang, aku tidak pernah bicara dengannya sekali pun hanya bertegur sapa. Aku tidak tahu apakah aku membencinya atau merasa kecewa.
Sekarang aku mengerti, aku hanya marah karena setelah dia pergi semua tanggungjawab diserahkan kepadaku sebagai beban di saat yang sama aku masih ingin bermain-main. Aku tidak pernah mengeluh pada ibuku, atau memarahi adik-adikku yang nakal dan menyusahkan. Aku lebih sering marah pada diriku, kenapa tidak melakukan semuanya dengan baik. Jika semua dilakukan dengan baik, maka tidak akan masalah.
Aku tidak sadar, manusia tetap manusia. Di satu sisi mempertahankan ego sedangkan di sisi yang lain harus mengalah. Dalam masa-masa rentan yang aku jalani, aku terbiasa mengenyampingkan semua keinginanku dan mengalah pada kenyataan. Pada akhirnya aku malah mengisolasi diriku, berpikir menjadi lebih baik dalam taraf berpikirku, karena aku tidak ingin orang lain melihat kelemahan yang aku sembunyikan.
Pada saat aku pulang, sekitar jam delapan pagi bersama Achen, Mami sudah tidak ada. Aku bertemu Ivanna yang sedang bersiap-siap menyusul Mami dan Gina yang masih uring-uringan di ruang depan rumah.
“Mami maksa tetap mau jualan hari ini,” kata Ivanna padaku, dengan caranya yang ketus. “Tadi aku sudah bilang Mami supaya istirahat tapi dia tidak mau”
“Apa Mami masih marah?” tanyaku.
Ivanna menghela nafas, “Ya…tapi bukan gara-gara masalah Abang. Tapi, Gina”
Aku melirik Gina yang tampak merengut dan merengek pada dirinya sendiri sambil tiduran di kursi.
“Di saat begini malah minta dibelikan laptop. Mami tidak punya uang sebanyak itu…,” omelnya.
“Laptop?” aku mengernyit dan tertawa sekali.
“Dari dua hari yang lalu dia sudah begitu, Bang…,” jelasnya. “Kalau maunya tidak dituruti dia akan merajuk sampai berhari-hari.”
“Biar Abang yang akan membelikannya,” kataku, dan…
“Sungguh?!” jerit Gina yang melompat dari kursi dan berlari ke arahku.
Ivanna mendengus, “Sebaiknya jangan, Bang! Mami akan marah-marah lagi kalau dia tahu Abang menuruti keinginan Gina!” protesnya. “Hari ini dia minta dibelikan komputer, setelah itu pasti akan minta dibelikan mobil juga!”
Dahi Gina berkerut memandang Ivanna. “Jangan iri!” cetusnya gusar.
“Iya. Setelah ini kita membeli mobil juga…,” kataku tertawa pelan sambil meninggalkan ruang depan.
“Memangnya Bang Alan punya uang?!” seru Ivanna.
Aku hanya tertawa-tawa sebelum menghilang di balik pintu kamar Achen. Aku punya semua yang mereka inginkan, tapi…tetap saja rasanya itu tidak pernah cukup.
Aku ingin tidur beberapa jam sebelum melakukan hal lain. Seperti, bertemu Sania dan anak itu, serta bicara serius dengan Mami, memenuhi keinginan adik-adikku dan hal-hal yang belum terpikirkan olehku. Tarikan nafasku, menyusupkan perasaan lega pada paru-paruku yang terasa sesak belakangan. Lalu berkata dengan lapang, akhirnya aku pulang…
ooOoo
Komentar
0 comments