๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kehidupan Lama
Seorang anak?
Aku tidak mempercayainya.
Jari-jariku tidak bisa berhenti gemetaran memencet nomor telpon ibuku. Aku sangat putus asa karena Mami tidak mengangkatnya.
Kebenciannya adalah hal yang sangat aku takuti di dunia, bahkan melebihi neraka. Karena, Mami tidak pernah marah padaku. Dia tidak pernah bicara keras padaku. Tidak pernah melarang apapun yang ingin aku lakukan. Dan setiap aku pulang, dia selalu menyambutku dengan senyuman.
Hal yang dulu selalu aku abaikan ketika aku kembali, sekarang menjadi hal yang sudah aku rindukan, sekalipun aku belum tahu reaksi apa yang akan Mami berikan ketika melihatku datang.
“Halo?” suara itu menjawab panggilanku yang penuh harapan, tapi bukan suara Mami.
“Mami mana, Gin?” tanyaku, sedikit lega, setidaknya telponnya diangkat.
“Ini Ivanna,” suara itu terdengar gusar, “Kenapa Abang tidak bisa lagi membedakan suaraku dengan Gina?”
“Mami di mana?” tanyaku sekali lagi.
“Mami sedang istirahat, Bang,” jawabnya. “Baru saja tidur…”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
“Apa Mami sakit?” tanyaku cemas.
Ivanna terdengar menghela nafas, “Ya…,” jawabnya lemas, “Sudah dua hari…”
“Kenapa tidak memberi tahu Abang?”
“Memang kalau diberi tahu Abang bisa langsung pulang ke sini?” cetusnya.
Aku terdiam.
“Apa Abang menelpon karena Sania?” tanya dia.
Aku masih diam.
“Dua hari lalu dia datang ke sini, sejak itu juga Mami tidak berhenti menangis…sampai aku dan Gina tidak tahu harus bagaimana. Kami dilarang meghubungi Bang Alan. Katanya biar Sania sendiri yang memberi tahu Abang,” jelasnya, “Bang Achen juga di penjara.”
“Di penjara? Kenapa lagi?”
“Biasa. Berkelahi di pasar,” jawab Ivanna terdengar acuh.
“Ada apa dengan kalian?! Kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahu Abang soal masalah ini?!” aku mulai emosi.
“Itu karena Mami tidak mau bicara dengan Abang,” Ivanna terdengar ketus. “Sekarang Mami sakit, tidak mau ke rumah sakit…dan dia…belum ingin bicara dengan Abang…”
Tenggorokanku terasa perih. Dan tubuhku menggigil. Aku tidak pernah takut pada apapun. Namun, sepertinya, kemarahan ibuku-lah yang membuatku sedemikian khawatir.
---
Aku menyeret tasku keluar melalui pintu saat aku menemukan Tyas berdiri di depan pintunya dan dia langsung menghampiriku dengan wajah lega.
“Kamu mau ke mana, Den?” tanya dia mengernyit melihat tasku.
“Pulang,” jawabku singkat.
“Maaf ya…,” ucapnya, mengangkat kepalaku untuk melihat seberapa menyesal ia telah mengacaukan apartemenku dengan sikapnya yang kekanakan. Meski aku tidak ingat lagi perasaan kesal saat ia berlalu dengan membanting pintu, aku masih merasa tidak ingin berurusan dengannya. “Kamu jangan pergi…”
“Aku harus pulang, Tyas ,” kataku, datar dan dia menggeleng-geleng, tampak mengira kepergianku karena sikapnya.
“Kenapa tiba-tiba ingin pulang?” ia mulai merajuk. “Aku janji tidak akan marah lagi, tapi tolong jangan pergi…”
“Aku pulang karena ada urusan penting. Kalau sudah selesai aku pasti kembali lagi ke sini…,” kataku.
“Urusan apa?” dia mendesakku.
“Ibuku sakit,” jawabku.
Dia mulai tersenyum padaku, “Kalau ibu kamu sudah sembuh, apa kamu akan kembali?” tanya dia lagi.
Aku mengangguk pelan sekali.
“Janji?”
Aku mengangguk lagi dan dia memelukku sangat erat. Aku membiarkannya berlama-lama menyentuhku, karena aku tidak tahu, apakah aku akan kembali kepadanya atau tidak. Aku bahkan tidak tahu akan pulang ke sini lagi. Karena betapa pun aku mencintai kota ini, aku tidak bisa menyebutnya tempat pulang, melainkan tempat lari. Sedangkan, apa yang bisa aku sebut sebagai rumah adalah kota kelahiranku – yang sangat aku benci.
---
Padang, Maret 2008…
Mami menatapku datar, sesaat setelah mengalihkan perhatiannya dari makanan di etalase.
Aku menghampirinya, tanpa tahu apa yang bisa aku katakan. Begitu turun dari taksi, aku masih memikirkannya, namun begitu melihat wajah Mami, semua kata yang telah aku susun sebaik-baiknya, hilang dalam satu kerlingan matanya.
Kedua adik perempuanku melotot seperti menyaksikan aku akan membunuh diriku dengan sengaja. Layaknya aku yang ketakutan, mereka juga merasakannya.
“Kamu sudah makan?” tanya dia, kembali menyiapkan makanan pesanan pelanggan yang sempat ia tinggalkan.
Setelah aku menghabiskan 4 jam dari Jakarta dengan perasaan cemas, Mami hanya menanyakan itu?, aku terkesiap saat Mami tidak lagi menoleh kepadaku. Melainkan Ivanna dan Gina. “Sedang apa kalian di situ?!” tegurnya, “Banyak orang yang mau makan”
Aku melihat sekelilingku. Memang ada banyak orang yang menunggu makanan mereka datang ke meja mereka.
Gina mendorong Ivanna untuk maju lebih dulu. Mereka mulai sibuk membantu Mami dengan keragu-raguan yang terlihat saat sesekali mereka menoleh padaku.
Aku bingung. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tasku.
“Kenapa kamu malah diam?!” Mami menegurku, “Sudah tidak biasa lagi kerja di warung nasi?”
Aku menghembuskan nafas, setidaknya lega, Mami tidak mengabaikanku.
Ivanna tersenyum ketika aku menghampirinya dan dia menyodorkan sendok nasi padaku agar ia bisa mengerjakan hal yang lain. Aku tersenyum, lalu tertawa pelan, sudah lama aku tidak menjadi bagian dari hiruk-pikuk warung nasi Mami yang ramai saat jam makan siang.
Kadang, aku terlalu menyepelekan hal-hal seperti ini. Bau nasi yang matang dan gulai buatan Mami. Menghirup aromanya yang khas, mengembalikanku pada kehidupan sederhana kami yang harmonis. Masa-masa yang tidak akan terjadi lagi, hal yang menguatkan kami pada saat yang paling menyedihkan sekalipun.
Aku sadar, Jakarta mengubahku. Tapi, apa yang aku lakukan sejauh ini, semata-mata bukan untuk diriku sendiri. Hanya saja, mungkin ibu dan adik-adikku sudah tidak membutuhkan semua uang yang aku dapatkan dengan terkungkung 15 jam sehari di gedung megah. Mereka mandiri sejak aku tidak pernah pulang dan mengetahui banyak hal telah terjadi tanpa sepengetahuanku, membuatku merasa bukan aku yang membuang mereka –melainkan akulah yang membuang diriku sendiri.
---
Komentar
0 comments