๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku dan Tyas pernah bahagia. Walau sering bertengkar dan dia memukulku, atau mengunciku di luar karena kesal. Amarahnya adalah sesuatu yang mengerikan. Bahkan aku belum menjadi suaminya secara resmi, tapi dia memperlakukanku seperti aku adalah miliknya. Hanya miliknya.
Tyas memiliki rasa cemburu yang tinggi. Dia memeriksa handphone-ku tiap sebentar dan memastikan aku tidak meladeni beberapa perempuan yang mendekatiku. Aku mengajaknya menikah tapi dia menolakku dengan mengecewakan.
“Kuliahku belum selesai…lagipula menurut kamu, apa kita mungkin menikah?” dia membuatku terbungkam.
Aku trauma, kejadian dengan Sania terulang sekali lagi dalam hidupku. Dan aku tidak ingin merasa terkutuk karena selalu jatuh cinta pada perempuan pribumi.
Aku berpikir semakin dalam, dan mulai sibuk memusingkan di mana hubungan kami bermuara. Tapi, Tyas mulai sibuk dengan kuliah dan teman-temannya seolah itu adalah kebutuhan wajib seperti bernafas, makan dan minum. Aku mempelajari sikapnya selama hidup denganku. Tapi, aku menghindari perdebatan sengit tentang kesalahanku yang selalu menjadi persoalan besar.
Hidup berdua tidak mudah dijalani saat masing-masing mempunyai perbedaan visi dan misi. Aku menyebutnya egois dan dia menyebutku egois. Kami saling berteriak dan memaki. Tyas melempar barang dan aku keluar dari rumah. Dia tidak mengizinkanku masuk sampai aku minta maaf.
Aku tidak tahu apa yang aku lakukan selama itu. Yang aku ingat, selama dua tahun aku tidak pernah pulang. Aku tidak pernah merasa sangat merindukan kampung halamanku. Saat Natal atau Lebaran tiba berlalu seperti kilasan mimpi semalam yang bahkan tidak dapat kuingat lagi. Aku tidak pernah merayakan keduanya, meski tema kota berubah-ubah dari hijau lalu merah, aku tidak dapat membaca kegembiraan setiap orang yang merayakannya.
Ibuku menelpon, dan aku merasa senang karena dia sangat memperhatikanku. Meski aku selalu berkata tidak sempat pulang karena sibuk. Entah sejak kapan, aku merasa membuang bagian dari diriku – mereka, hingga aku tidak tahu lagi aku berasal dari mana. Meski kehidupan keluargaku sudah lebih baik, aku merasa masih ada yang kurang.
Aku tidak tahu itu apa.
---
Aku pulang lebih awal dan menemukan Tyas di dapur sedang memasak.
“Kamu sedang apa?” tanyaku cukup terkejut.
Tyas memasak?
“Aku kira kamu pulang jam sembilan lagi…,” kata dia terkejut melihatku. “Aku bosan dengan makanan dari luar”
Aku tertawa sekali, “Aku tidak tahu kamu bisa masak,” kataku melihat apa yang sedang dia kerjakan.
“Orang Padang macam apa yang tidak bisa memasak?” balasnya dengan bangga sambil cengengesan. Ia sedang menggoreng daging fillet di atas wajan sambil menyiapkan cabe giling segar dalam blender.
“Dagingnya hangus, Yas!” kataku, begitu menemukan daging gorengnya sudah berwarna coklat tua. Aku menaruh barang-barangku di atas meja, dan mengambil sendok untuk mengangkat daging goreng yang kelihatannya sudah tidak bisa dimakan.
Ekspresi Tyas sangat gusar melihatku, “Ini semua gara-gara kamu!” seru dia, memukul lenganku.
“Aku?!” balasku. “Apinya terlalu besar!”
“Jangan sok tahu! Kenapa kamu harus pulang cepat? Lihat, semuanya jadi kacau! Aku sudah menyiapkan ini dari pagi!” tuntutnya merengut dan melempar semua bahan makanan yang sudah dia siapkan ke lantai.
Semuanya berserakan, aku menarik nafas panjang. Bagaimana orang yang begitu emosional bisa menjadi psikiater?, aku menyaksikannya meninggalkan dapur dengan perasaan marah lalu membanting pintu depan. Bunyinya terdengar keras seakan seisi gedung akan runtuh.
Tyas kembali ke apartemennya karena tidak ingin membereskan kekacauan yang ia buat. Perlakuan dia yang seenaknya sering membuatku kesal tapi aku belum pernah melampiaskan kemarahan pada siapapun atau apapun. Aku mengendalikan emosiku dengan baik atau aku memang telah mati rasa. Mungkin sejak aku tahu setiap berdebat dengannya, dia selalu benar dan aku selalu salah.
Aku mulai lelah setelah awalnya aku tidak begitu peduli karena jarang menghabiskan satu hari penuh dengannya. Namun, melihatnya datang ke rumahku sesuka hatinya mulai terasa tidak menyenangkan kecuali untuk bagian dia menyelinap tengah malam ke kamarku dan membangunkan aku dengan sengaja. Selalu saja, itu dapat meredakan perasaan kesal dan bosanku terhadapnya. Lain halnya jika kami tidak pernah tidur bersama, aku akan mengunci pintuku rapat-rapat – tidak akan pernah membiarkannya masuk.
Apa alasanku bertahan lebih lama? Dia menolakku seakan aku tidak pantas untuknya. Dia menganggapku seperti perhiasan di depan teman-temannya. Bodohnya, aku tersenyum seakan tidak punya rasa malu. Awalnya aku tidak begitu peduli dengan siapa aku akan menikah, -selain karena ia harus perempuan berwajah cantik. Aku tidak dapat membayangkan hari-hariku yang terikat dengan Tyas seumur hidup.
Dia tidak mengenalku. Dia tidak tahu masa laluku. Dia tidak menyadari kegilaanku. Dan dari sekian banyak ketidaktahuannya tentangku, dia tidak tahu –aku tidak suka disebut Cina, adalah hal yang membuatku kesal. Karena itu selalu menjadi alasan kenapa dia tidak bisa mencintaiku sepenuhnya. Dan entah jika dia tahu semuanya, masihkah dia menyisakan sedikit perasaan untukku?
---
Suatu pagi, aku mengunci pintu. Aku ingin menghabiskan hari minggu dengan tidur siang untuk mencukupi kebutuhan tidurku yang berkurang karena sering lembur dan kegilaan bersama Tyas hampir setiap hari.
Telponku berbunyi, dan mengganggu tidur siangku yang sangat berharga. Aku bangkit dengan malas-malasan dari ranjangku yang berantakan.
“Alan?” sudah lama tidak ada yang memanggilku seperti itu –selain dari keluargaku. Suara perempuan yang samar-samar dapat teringat dalam memoriku. “Ini aku, Nia, kamu belum lupa kan?”
Aku tidak menjawabnya. Tapi, suaranya itu memberitahuku bahwa sudah 4 tahun semuanya berlalu. Dan pertanyaan yang seketika muncul di kepalaku, darimana dia mendapatkan nomor telponku?
“Apa aku mengganggu?” suaranya terdengar datar dan aku masih berpikir dengan banyak firasat buruk di benakku yang terguncang.
Masa lalu mengejarku dengan kecepatan tinggi hingga ia mendapatkanku kembali.
“Ada apa?” aku berusaha setenang dirinya.
“Dengar, Lan, sebelum aku mengatakan maksudku menghubungi kamu, kamu harus tahu kalau aku tidak akan melakukan ini kalau seandainya aku punya pilihan lain. Tapi, bagaimana pun juga kamu tetap harus tahu,” dia menjelaskan dengan tergesa-gesa, cepat dan membingungkan. Suaranya sudah tidak setenang saat ia menyapaku beberapa saat lalu.
“Tahu soal apa?”
Sania diam beberapa saat, namun terasa seperti satu jam lamanya. Perasaanku yang tidak baik menstimulasi jantungku berdetak lebih cepat. “Kita… mempunyai seorang anak, Lan,” katanya meniupkan badai ke arahku.
Aku melayang jauh bersamaan dengan rasa terkejut dan sakit. Hingga aku tidak dapat menarik nafas untuk hidup. “Apa maksud kamu?” aku meyakinkan diriku untuk memikirkan alibi agar dia keliru. Namun tak ada satu pun sanggahan yang muncul di otakku.
“Aku tahu kamu pasti akan menolak kenyataan ini, Lan,” kata dia, “Raka sudah 3 tahun. Kalau kamu meragukan aku, kamu boleh tanya ibumu…”
Sekarang petir menyambarku, “Apa?” nafasku tersengal.
“Kalau aku tidak menemui keluarga kamu, aku tidak mungkin bisa menguhubungi kamu. Lagipula, kalau mereka tidak percaya padaku, tidak mungkin mereka mau memberi nomor telpon ini,” katanya, “Selama ini aku diam, karena mungkin aku masih bisa menyimpan semuanya. Kamu mungkin tidak akan ingat dengan apa yang pernah kita lakukan dulu. Tapi, Lan, tidak ada yang bisa membantah, semakin Raka besar, semakin dia mirip denganmu. Aku sudah tidak tahan dengan omongan orang dan kasihan anak itu. Aku sudah bercerai dan semuanya berantakan…”
Tubuhku merinding. Keringat dingin mengucur deras di wajahku dan aku memang tidak dapat mengatakan bahwa Sania keliru.
Aku menyebutnya hukuman.
ooOoo
Komentar
0 comments