[Hal.5] [Ch.3] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Jatuh Cinta

Aku mengeluh sambil memejamkan mataku yang terasa perih. Kepalaku yang sakit tidak pernah membaik selama sebulan. Itu selalu terjadi ketika aku berhadapan dengan komputer dan huruf-huruf mengecil dalam penglihatanku.

Seharusnya kamu mulai memakai kaca mata,” komentar Tyas , karena dia bisa dengan jelas membaca tulisan di layar komputer sementara aku tidak. “Apa sudah pernah diperiksakan ke dokter?”

Aku menggeleng. Aku bahkan tidak punya waktu mengurus masalah kesehatanku. Sebelumnya aku merasa beruntung tidak pernah menderita sakit yang benar-benar parah sekalipun aku hanya tidur 6 jam setiap hari.

Aku sedikit tidak rela ketika aku harus memakai kaca mata. Benda sekecil itu mengubah tampilanku secara keseluruhan.

“Kalau kamu tidak mau memakai kaca mata, kamu bisa memakai soft lens,” ujar Tyas saat aku meninggalkan kaca mataku tanpa sengaja karena belum terbiasa.

Aku mengikuti sarannya. Namun, membayangkan benda kecil dan tipis itu masuk ke mataku, cukup menakutkan.

 Tyas  memaksaku memakainya. “Sayang sekali, ketampanan kamu jadi hilang karena memakai kaca mata…,” candanya dengan soft lens di ujung jarinya yang akan dia masukan ke mataku. “Jangan khawatir. Kamu akan terbiasa dengan ini nanti....

“Tidak…,” aku menggeleng, mataku masih dapat melihat bahwa benda itu mungkin akan membuat penglihatanku bertambah parah.

Dia mendekat untuk menakut-nakutiku, “Ayolahkamu harus memakainya…,” kata dia.

“Aku tidak mau!” tandasku beringsut ke belakang dan dia mendekat, terlihat serius akan menempelkan benda itu ke mataku.

 Tyas  memaksa untuk sekedar mempermainkanku.

Aku tahu dia tidak akan mengarahkan ujung jarinya yang sudah mengkontaminasi soft lens itu ke mataku. Di saat yang sama, aku menyadari kami sudah sedemikian dekat.

Mataku memang buram, tapi ekspresinya menatapku masih sangat jelas dalam penglihatanku. Sebelum dia mendekat dan soft lens yang ada di ujung jarinya terbuang entah ke mana.

Dia menginginkan aku. Aku juga menginginkannya saat itu untuk alasan yang pasti. Nafsu.

---

Pagi, seperti biasanya, aku terbangun. Aku masuk kamar mandi, menenangkan diriku, sebelum bersiap-siap ke kantor. Rutinitasku tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Namun, menemukan Tyas di tempat tidurku, aku merasa aneh.

Aku meringis. Harusnya, aku tetap di tempatku. Memandangi dia dan deritanya dari kejauhan. Karena aku tahu tidak ada yang bisa kuberikan padanya, selain diriku tanpa perasaan cinta. Begitu pula dirinya yang mungkin menganggap aku pelarian terbaik karena aku nyaris tidak pernah menuntut apa pun darinya.

“Pacar baru apa? Jangan bercanda!” suara Tyas terdengar jenaka dari ruang tengah. Ia asyik menelpon sampai tidak menyadari kedatanganku. “Aku hanya sedang bosan dengan Bobby. Itu saja.

Aku berdiri di dekat pintu, berusaha tidak membuat suara. Bahkan bernafas pun aku lakukan dengan sangat pelan.

“Ada satu orang yang sedang mendekatiku sekarang,” ia melanjutkan, duduk di sofa sambil mengutak atik siaran TV. “TentuApa kalian pernah dengar aku bersama laki-laki yang bukan tipe ideal?”

Aku sangat penasaran dengan kriteria yang dia maksud.

“Dia lumayan tampan dan mapanApa kalian tahu, dulu dia pernah menyatakan cintanya tapi aku malah menolaknya?” candaannya membuat aku tersenyum getir. “Ya... masalahnya cuma satu. Beda agama. Orang tuaku pasti tidak akan setuju

 Tyas  sudah salah paham tentangku, tapi aku tidak pernah berniat meluruskannya. Aku membiarkan keyakinannya tentangku bertahan sampai ia tertelan kata-katanya sendiri.

Hubungan seperti itu, walaupun sepele namun sedikit menyenangkan. Berbagi dunia rahasia, sisi tergelap kami yang menderita. Dia semakin menjerumuskanku, aku tahu. Namun, aku tidak menolak saat dia menawarkan sebuah hubungan tanpa ikatan perasaan.

---

Aku mendengarnya mengaku dan itu mengubah segalanya, kecuali perasaanku yang membeku sejak Dian pergi.

“Apa kita tidak bisa seperti orang lain?” tanya dia, saat mataku hampir tidak bisa menahan rasa kantuk. “Maksudku…aku ingin ada sesuatu yang mendasari kita untuk melakukan hal-hal seperti ini…”

Aku tidak memenyangka dia melanggar peraturannya sendiri.

 Tyas  memelukku dengan erat, “Aku mencintai kamu, Den,” katanya setengah berbisik, sambil mengangkat setengah tubuhnya untuk menatapku, membuatku terjaga sepenuhnya saat kepalanya, jatuh di dadaku. “Aku masih menyesal karena menolak kamu…dan…aku pikir dengan menjalani hubungan dengan orang lain, aku bisa melupakan kamu…tapi, melihat kamu lagi, aku semakin tidak bisa melakukannya…”

Aku tidak bicara, hanya membelai rambutnya lembut. Dan dia begitu tenang.

“Aku dan Bobby sering bertengkar karena dia tahu, aku masih mencintai kamu,” sambungnya, “Kamu mengerti kan kenapa, aku tidak ingin Bobby melihat kamu?”

“Terus?” aku terdengar pasrah, menunggu ujung pengakuannya. Namun sudah terbaca olehku.

 Tyas  bangkit, “Kamu tidak lucu, Dennis!” gerutunya dan aku tertawa.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak di posisi yang bisa menentukan kami akan punya sebuah hubungan atau tidak. Seperti yang aku tahu selama ini, aku dekat dengan seorang perempuan hanya dalam waktu beberapa bulan, sebelum dia meninggalkanku karena tidak sanggup berkomitmen denganku.

“Aku sering tidak punya waktu karena pekerjaanku di kantor sangat banyak. Apa kamu tidak keberatan?” tanyaku, bernegosiasi.

Tidak apa-apa. Aku juga sibuk ingin jadi psikolog anak…,” katanya, “Tapi, kita bisa bertemu seperti ini kan?”

Aku menarik nafas panjang. Aku tidak punya banyak pilihan. Aku hanya tidak ingin gagal karena itu membuatku gila setiap saat.

---


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments