[Hal.4] [Ch.2] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku melihat tagihan kartu kreditku setelah merasa aku harus membayar banyak hal. Aku terkejut bukan karena aku tidak sanggup membayarnya karena jumlahnya sangat besar tapi karena mengetahui bahwa Dian tidak pernah memakainya.

Aku merasa cukup mengenal Dian. Latar belakang dan darimana dia berasal. Satu kesimpulan, dia tidak berasal dari keluarga kaya mana pun yang bertitel ningrat. Tapi, setiap bertemu denganku dia selalu mengenakan pakaian mahal dan bagus, yang aku pikir ia beli dengan uangku.

Aku hanya tidak pernah tahu, apa yang dia lakukan saat aku bekerja.

“Sayang…,” dia memanggilku dengan suara manja yang biasanya selalu dapat mempengaruhiku dalam hitungan detik. Kedua tangannya melingkar di pundakku dan tubuhnya bersandar di punggungku dengan mesra. Mengajakku melakukan sesuatu di saat aku harus menyelesaikan sisa pekerjaanku di rumah.

Aku tidak menjawab beberapa saat, sebelum mengecup pipiku, dan itu membuatku jengkel. Aku menarik tangannya yang memelukku, melepaskan diri dari sihirnya yang menawanku selama ini.

“Kamu dari mana?” aku bertanya padanya.

“Aku dari rumah…,” jawabnya, menatapku heran. Ketenangan di wajahnya tampak seperti bidadari terluka dan aku jadi meragukan apa yang pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri sebelum ini. “Memangnya dari mana lagi?”

Aku hanya menatapnya.

Dian menghadapiku dengan baik dan itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan dengan mudah terhadapku. Kurasa karena dia tahu di mana kelemahanku. Dalam beberapa saat kemarahanku mereda tanpa kusadari. Aku sangat mencintainya.

Tapi, justru karena aku mencintainya, rasa sakit itu tidak tertahankan lagi.

Aku tersenyum miris ketika menghampirinya dan dia menggodaku seperti pelacur. Aku mengambil tempatku, memperlakukan dia seperti selayaknya, sebagai pelacur. Aku tahu, aku menyakitinya, tapi dia adalah sisa-sisa dari seorang pria tua kaya yang membelikan semua barang-barang mahal yang ia kenakan saat menemuiku.

Aku mengakhiri kegilaanku dengan menyeretnya keluar hanya dengan seprai ditubuhnya.

“Dennis?!” ia memberontak dan aku menyeretnya lebih kuat untuk membawanya sampai ke pintu.

Dian merengek. Aku berharap saat itu aku tuli agar suaranya tidak membuatku terpengaruh. Dia harus merasakan sakit yang sama denganku.

“Dennis, jangan!” pintanya berusaha mempertahankan  seprai di tubuhnya sambil melepaskan tangannya dariku.

Aku mengatakan pada diriku berulang kali. Dia pantas mendapatkannya. Aku mencintainya, tapi dia menghancurkanku setelah dia menjadikanku lelucon selama itu.

Ketika aku menutup pintu dan menguncinya, Dian masih berteriak. Menggedor-gedor pintu, memanggil namaku dengan putus asa.

Aku berdiri di pintu, dengan perasaan tidak berdaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tidak pernah merasa sehancur itu. Aku nyaris putus asa, ketika mendengar suaranya yang memohon.

“Aku mencintai kamu, Dennis…,” kata-katanya terdengar melalui celah pintu, nyaris membuatku berubah pikiran. “Aku hanya mencintai kamu…”

Aku memejamkan mataku, dan tanganku mengepal dengan kuat. Aku tidak tahan seakan ingin mengubah segalanya kembali. Tapi, kilasan saat dia naik mobil pria itu dan mereka berakhir di sebuah hotel bintang lima, meracuni kemaafan yang akan dilontarkan bibirku. Pikiranku tidak dapat menerimanya, tapi perasaanku terluka sampai aku ingin menangis.

Pada akhirnya, aku kembali ke kamar, memunguti semua pakaiannya dan aku melemparnya keluar. Agar ia bisa memakainya dan pergi dari apartemenku segera.

Dian sangat hancur. Tapi, aku tidak bisa menerimanya lagi. Melihat wajah cantiknya yang berantakan, aku sadar, nafsuku-lah yang begitu mencintainya.

---

Aku telah terjerumus sesuatu yang pernah selalu kuhindari. Sehingga aku tidak bisa mencintai dengan cara yang aku inginkan. Seperti pasangan yang menghabiskan waktu berdua untuk jalan-jalan, makan di suatu tempat, nonton film dan membiacarakan rencana ke depan. Dalam hubungan yang aku jalin dengan beberapa teman perempuanku, tidak ada saat-saat seperti itu.

Setelah hari-hari yang berat itu berlalu, aku memutuskan untuk pindah. Karena Dian masih sering datang untuk memohon agar aku memaafkannya dengan mengakui bahwa dia dan pria itu sudah berakhir. Aku tidak meragukannya, tapi membayangkan selama ini, aku meniduri pelacur –adalah hal paling menjijikan yang pernah kulakukan. Jadi, aku berusaha tidak peduli. Meski dia mempermalukanku di depan penghuni apartemen lain yang melihat kami ribut tiap sebentar.

Aku mempunyai reputasi yang buruk, sejak aku mencampakannya dengan sehelai seprai di tubuhnya. Aku membuang perasaanku dengan mengingat semua hal yang dia lakukan di belakangku, dan sejak itu tidak pernah lagi menjalani hubungan atas dasar cinta.

Namun, bertemu Tyas lagi, seperti sebuah kejutan.

Aku tengah menyeret tasku masuk ke apartemen baru yang jaraknya cukup dekat dengan kantor, ketika aku melihat Tyas baru keluar dari pintu sebelah. Kami akan hidup bertetangga.

Sebuah kebetulan yang tidak disangka. Dia sudah lebih dewasa, dari saat aku terakhir melihatnya. Dan ketika dia mengulurkan tangan untuk sebuah persahabatan, aku menerimanya dengan senang hati. Lagipula, tidak ada yang bisa aku harapkan dari gadis angkuh seperti dirinya – selain karena dia sudah punya seorang pacar yang sering bertandang ke tempatnya dan kadang menginap.

---

Aku terjaga tengah malam, mendengar suara ribut-ribut yang aku pikir adalah suara TV yang aku lupa mematikannya. Tapi, ruang tengah gelap sama sekali. Tidak ada satu pun sumber cahaya yang menuntunku keluar. Aku berjalan tertatih dengan langkah dan mata berat seperti ada setan yang bergelantungan di kelopak mataku.

Aku membuka pintu pelan-pelan dan suara itu terdengar makin jelas.

 Tyas  dan pacarnya bertengkar lagi. Aku menutup pintu dan kembali ke kamar. Karena aku tahu mereka memang seperti itu.

Pagi-pagi, aku terbangun dengan sakit kepala yang ingin meledak. Aku berdiri di depan cermin buram, melihat diriku beberapa saat sebelum keluar dan menjalani siklus kehidupanku pasca pemulihan dari rasa tersiksa dan benih-benih penyesalan yang timbul akibat rasa kesepian.

Aku melihat Tyas , tersenyum padaku. Sama-sama keluar dari apartemen.

“Hei…,” sapanya, dengan manis.

Aku balas tersenyum, “Kamu mau ke mana?” tanyaku.

Dia memperlihatkan beberapa buku yang dia bawa, “Kuliah…,” jawabnya.

Lalu kami mengambil langkah yang sama, dan berpisah di lobi. Aku naik mobilku dan dia naik ke mobil pacarnya dengan pura-pura tidak mengenalku.

Dia sudah mengatakan padaku, pacarnya sangat pencemburu. Tyas tidak bisa mengakui bahwa aku adalah seorang teman. Meski begitu, aku tidak merasa keberatan. Kami hanya bertemu di depan dan mengobrol sebentar lalu menjalankan agenda masing-masing.

Aku tidak pernah ikut campur urusan pribadinya sekalipun aku tahu apa yang terjadi hampir setiap malam. Aku merasa tergangggu, karena dinding yang membatasi rumah kami tidak dapat menahan kerasnya suara jeritan dan tangisan Tyas yang kesakitan.

Keesokan pagi, Tyas keluar dari pintu sebelah. Tetap tersenyum padaku seolah tidak terjadi sesuatu.

Aku tidak bertanya. Membiarkan dia pergi dengan mobil yang sama setiap pagi.

---

Tengah malam, aku kembali terjaga. Aku jarang mendapatkan tidur yang nyenyak sejak pindah ke sana. Tapi, aku tidak berniat pindah dan mencari lingkungan yang lebih nyaman.

Suara pintu yang dipukul berkali-kali membuatku gusar. Aku melompat dari tempat tidur dengan sedikit mengeluh.

 Tyas  terlihat ketakutan sekilas dalam penglihatanku yang kabur sebelum ia menyeruak masuk dan ia menutup pintu rumahku dengan tergesa-gesa. Tanpa mengatakan sesuatu ia melewatiku begitu saja.

Apa kamu sedang tidur?” tanya dia yang langsung menemukanku menguap.

Aku mencerna semua yang kulihat di wajahnya. Rasa cemas dan sakit, bersamaan, seperti baru dikejar psikopat yang haus darah. Serta ada luka lebam yang membiru di pelipisnya.

Dia ingin bersembunyi.

“Maaf…,” ucapnya dengan suara gemetaran dan aku tidak berkomentar.

Aku nyaris kehilangan empatiku karena mengetahui dia membiarkan dirinya disiksa seperti itu. Aku tidak menanggapi masalah yang dia ceritakan dengan serius secara terang-terangan. Aku membiarkan dia tinggal di tempatku sampai bosan.

Namun, begitu aku kembali dari kantor dia masih berada di sana. Seperti menungguku dan sambutannya sangat manis. Aku tidak peduli dari sudut pandang mana ia menilaiku, sampai ketika dia memelukku dan menangis di punggungku. Hanya itu yang bisa aku berikan.

 

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments