๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ch. 2 - Gadis Sebelah
Tinggal di Amerika, tidak semenyenangkan kedengarannya. Kehidupan di sini lebih ajaib dibandingkan dengan Jakarta yang kadang membuatku mengelus dada. Tentang kebiasaan orang-orang dan keseharian mereka. Tentang perkumpulan persaudaraan dan bagaimana itu menjadi kebutuhan mendasar bagi seseorang yang ingin sekali menjadi bagian dari sesuatu.
Sekembalinya, dari sana, aku seakan tidak menjadi diriku lagi. Aku sudah terbiasa menjalani hidup bebas dan memikirkan diri sendiri. Tapi, aku tetap hidup dalam bayangan mengerikan tentang kesepian dan penderitaan panjang. Ada semacam perasaan haus yang aku temukan di dalam diriku saat aku tidak bisa menjaga mataku dari hal-hal di sekelilingku. Menjelang wisuda aku sudah tidak lagi menjadi mahasiswa yang kurang pergaulan dan pendiam. Aku bergaul dengan beberapa orang gadis dan salah satunya adalah Tyas .
Kami bertemu di pesawat saat sama-sama berangkat dari Padang menuju Jakarta setelah liburan semester berakhir. Aku adalah laki-laki yang baru saja menemukan cahaya di langit dan menuju ke arahnya, sedangkan Tyas adalah gadis 18 tahun yang mengundang kegelapan ke dalam hidupnya. Namun begitu, aku merasa dia tidak seperti gadis-gadis kebanyakan.
“Kamu berasal dari mana?” tanya dia mengajakku bicara di jam-jam melelahkan itu.
Aku meliriknya dan memperhatikan wajahnya. Ya, aku langsung mengakui bahwa dia cantik dan kelihatan berkelas. Dan salah satu penyakit gadis berkelas yang paling lazim ditemui adalah mereka rata-rata suka memakai pakaian yang cukup terbuka.
“Padang,” jawabku, tenang. Menghadap ke depan, mengalihkan pandanganku dari tubuhnya yang tidak berbeda dari gadis-gadis perkumpulan Sorority.
Tyas mengernyit. “Aku juga orang Padang,” katanya, “Dan…setahuku tidak ada orang Padang yang pakai salib di lehernya”
Aku menoleh padanya, menemukan ia tertawa seakan itu tidak menyinggungku. Tapi, dia benar. Orang Padang, yang dikenal sebagai orang Minang, semuanya beragama Islam, kecuali mereka yang sengaja keluar.
“Kamu Cina ya?” dia menebaknya begitu saja.
Aku tidak menjawabnya. Aku hanya merasa dia menyebalkan dan seenaknya. Dia datang dalam hidupku tanpa permisi setelah pertemuan-pertemuan yang disengaja selanjutnya.
---
Sebelum wisuda, aku mengungkapkan bahwa aku menyukainya. Aku melihatnya tertawa beberapa kali sebelum menggeleng. Aku tidak kecewa saat dia menyatakan alasan kenapa dia menolakku. Karena aku sudah tahu akan seperti itu.
“Aku suka kamu, Dennis. Tapi,…aku tidak mungkin ikut kamu dan kamu juga tidak mungkin ikut aku,” jelasnya, menepuk bahuku sekali, “Setelah ini kita tidak bisa jadi teman lagi…”
“Kenapa?” aku baru merasa kecewa, dan menyesal, seharusnya aku tidak mengatakan itu karena pengakuanku pasti akan mengubah segalanya.
Aku melihatnya menarik nafas.
“Akan sangat berat menyadari berkali-kali bahwa kita pernah saling menyukai,” kata dia.
Aku mengerti, setelah satu anggukan pelan, aku membiarkannya pergi. Aku melanjutkan kehidupan baruku sebagai karyawan sebuah firma. Lalu bertemu Dian, seorang gadis yang nyaris aku nikahi atas dasar cinta.
---
Aku memang berhubungan dengan banyak perempuan tapi tidak cukup berani menyebut diriku sendiri sebagai seorang playboy. Aku hanya memacari gadis yang aku suka, namun tidak berharap banyak dari siapapun yang ada di dekatku. Aku menyebutnya cinta, sebelum aku menyadari alasan sebenarnya aku menginginkan seseorang untuk ada di dekatku. Untuk meredakan rasa haus karena aku sudah tahu bahwa sekali pernah melakukan, pasti akan ada kali berikutnya. Itu sangat manusiawi sampai aku tidak sadar itu menjerumuskanku dan kemudian menjelma menjadi penyakit yang akut.
Aku mencintai Dian, mungkin karena dia cantik dan mampu memuaskanku. Namun, satu kali aku tersentak ketika dia bertanya kapan pertama kali aku tidur dengan seorang gadis. Aku tersenyum, Sania tidak bisa disebut seorang gadis. Dia istri orang dan aku menyadari rendahnya perbuatan yang aku lakukan.
"Kenapa?” aku balas bertanya.
"Kamu tidak tahu kalau kita harus aman?” tanya dia lagi. Mengingatkan aku bahwa setiap berhubungan dengannya aku harus memastikan tidak melakukan kesalahan.
Tampaknya, Dian tidak ingin terikat denganku. Hanya saja, pikiranku kembali ke saat-saat itu.
Aku tidak pernah memikirkan apa yang aku dan Sania lakukan sejak aku pergi darinya. Tapi ingat, aku dengan pengetahuan seadanya berhubungan dengan seorang perempuan. Aku mengabaikan pikiran buruk jika seandainya perbuatanku yang rendah meninggalkan jejak.
Dian tidak pernah mempermasalahkan semua kebiasaanku. Aku pikir dia benar-benar mencintaiku, sekalipun kami berbeda. Aku memberikan semua yang dia inginkan walau dia tidak pernah memintanya. Uang dan kartu kredit yang bisa dia pakai untuk membeli semua yang dia inginkan. Dan dia tampak bersedia ikut kemana pun aku pergi. Tapi ternyata aku keliru.
---
Komentar
0 comments