๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kota Tua
Padang, September 2002…
Aku, jika mereka tidak melihat adik-adikku yang berkulit putih dan bermata sipit, mereka tidak akan tahu aku seorang Tionghwa. Aku duplikat ayah yang nyaris tidak ada bedanya. Seorang pria asal kota Padang Panjang yang terkenal religius dan Islami.
Aku membawa mereka keluar; untuk jalan-jalan atau membeli sesuatu yang mereka inginkan. Melewati perkampungan Cina yang menjadi kampung halamanku yang tidak pernah kutinggalkan sejak aku lahir.
Di lingkungan kami, pecinan yang ramai oleh bangunan tua, satu sudut jalan dipenuhi oleh pedagang makanan kaki lima. Aku menggandeng dua adik perempuanku yang menarik perhatian orang-orang. Karena mereka kembar, sama-sama berambut lurus dan berponi rata. Pedagang itu selalu menyapa dan menanyakan ke mana tujuan kami. Seperti biasa aku tersemyum melewati mereka sebelum perhatianku tertuju ke sebuah kedai beras di seberang jalan.
Dan aku melihat seseorang yang menarik bagiku. Dari tempat Ivana dan Gina membeli permen dan coklat. Yang terasa seperti ribuan kilometer jauhnya dan tak pernah bisa kutempuh.
Dia gadis yang berbeda. Dia selalu tersenyum dan ramah pada siapapun yang ia temui. Dia punya banyak teman. Dan aku sering melihatnya duduk sambil mengerjakan tugas sekolah di kedai beras milik ayahnya.
Aku terpaku menatap ke seberang sana sampai dia menyadari aku tidak pernah mengalihkan pandanganku darinya. Dia memandang ke arahku. Tersenyum dengan malu-malu. Aku merasa bahagia. Namun aku harus segera pergi saat seorang pria memanggilnya masuk ke dalam dan pria itu menatapku tajam.
Kami sadar kami berbeda dalam banyak hal. Latar belakang, taraf hidup, ras dan... agama. Terlebih ketika Sania mulai mengenakan kerudung dan itu makin memperjelas perbedaan kami. Namun mata dan hatiku saat itu hanya tertuju kepadanya. Meski diam-diam, satu kali aku mengirimkan surat lewat seorang anak kecil yang tinggal di sekitar sana. Mengajaknya keluar atau sekedar bertemu di mana tidak ada seorang pun yang tahu. Dia memberiku balasan esok hari melalui bocah yang sama dengan modal satu permen lolipop.
Aku bertemu dengannya, untuk yang pertama dan kami membicarakan tentang sekolah dan kegiatan membosankan selama di rumah. Tidak butuh kata-kata untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Dan tidak ada istilah 'pacaran' atau 'jadian' seperti jaman sekarang. Kami hanya anak jaman dulu yang tidak ekspresif. Apalagi tinggal di daerah seperti Padang, mayoritas sangatlah rasis kepada mata sipit.
Namun, aku tidak pernah tahu akan berhadapan dengan hal semacam ini. Ketika ayah Sania merampas surat yang sedang ditulis Sania untukku, itu membuatnya marah. Dan yang aku tahu, Sania menentangnya.
"Dia Cina! Orang kristen!” itu umpatan pertama yang pernah kudengar dari pria itu, "Apa yang orang katakan nanti kalau kamu berhubungan dengan dia?! Harusnya kamu belajar, sekolah yang betul! Lagipula apa?! Dia orang miskin! Kamu mau diberi makan dengan apa, Nia?!"
Setelah itu tak ada surat menyurat lagi. Aku tahu, aku menginginkan dia. Tapi apa yang bisa dilakukan remaja 19 tahun yang miskin sepertiku? Setiap pagi, aku bangun tidur lebih awal, mengantar adik-adikku sekolah. Mengurusi mereka saat Mami sedang jualan makanan untuk mendapatkan penghasilan. Aku telah mengubur impianku untuk kuliah, di suatu tempat yang gelap dan menghadapi realita kehidupan Tionghwa yang terkungkung di pecinan.
Dia mencintaiku tanpa memandang perbedaan mencolok antara seorang lelaki Tionghwa pengangguran dengan putri juragan beras yang seorang Haji. Aku menyadarkan dia, aku tidak akan menapaki jalan yang demikian rumit. Seperti orang tuaku yang akhirnya tercerai berai. Aku memikirkan adik-adikku yang telah kehilangan sosok ayah. Karena itu, aku melupakan dia. Tidak lama, aku tersakiti saat mendengar kabar Sania dinikahkan ayahnya dengan seorang lelaki kaya begitu lulus SMA.
Aku hancur di saat yang sama aku menemukan jalan keluar dari kehidupan kami yang serba susah. Aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jakarta berkat bantuan yayasan SMA-ku yang dulu. Dan sebuah kehidupan baru dimulai. Tapi, aku melakukan satu kesalahan. Satu kesalahan yang mengubah jalan hidupku untuk selamanya.
---
Padang, September 2004...
Aku pulang ke kampung halaman kedua kalinya sejak tinggal di Jakarta. Menapaki kembali jalanan di pecinan yang kubenci sekaligus aku rindukan.
Dalam dua tahun tidak ada yang berubah.
Kedai beras itu tetap di sana. Ditunggui oleh Pak Haji yang belum merubah caranya memandangku. Aku benci jalanan itu karena mengingatkanku pada setiap hinaan dan cacian yang dia lontarkan ketika aku tertangkap basah memandangi putrinya yang cantik.
Adikku, Achen, adalah preman jalanan sekarang. Dengan rambut yang dicat pirang dan tindik di pelipis kirinya. Dia berteman dengan beberapa orang preman pasar dan sering kali terlibat cekcok dengan mereka. Satu kali dia dipukuli karena perbuatan kurang ajarnya menyinggung salah seorang preman lain.
Hal yang selalu aku dengar sejak kecil kembali menusuk telingaku ketika aku dan ibuku sampai di kantor polisi.
"Dasar Cina!” teriak preman itu. "Yang namanya Cina sampai hari kiamat pun tetap Cina!"
Kedua adik perempuanku masih SMA. Mami masih berjualan makanan untuk membiayai mereka sampai aku lulus kuliah dan menemukan pekerjaan yang bagus. Aku cukup depresi keadaan keluargaku berubah drastis sejak aku meninggalkan mereka.
Mami tampak lebih kurus dan dia menua seiring berjalannya waktu. Aku tidak pernah bertanya padanya tentang apa yang terjadi saat aku tidak ada. Rumah kami terlihat sangat menyedihkan. Tidak ada renovasi dan ketika hujan turun deras semua ruangan harus tergenang air. Tidak ada tempat tidur yang nyaman ketika itu. Aku mulai berpikir keras. Aku harus menyelesaikan kuliahku lebih cepat dari seharusnya.
Di Jakarta aku belajar sepenuh hati dengan membayangkan Mami dan adik-adikku yang hidup menderita. Aku memaksakan diri untuk menyelesaikan S1 hanya dalam waktu 3,5 tahun. Namun, ada kalanya ketika aku patah semangat dan putus asa.
Di saat yang begitu rentan, aku bertemu Sania lagi. Di kedai beras. Di mana dia kadang duduk sore-sore dan ketika dia melihatku, dia tampak senang.
Gadis yang pernah aku inginkan setengah mati –dia masih perempuan yang cantik bagiku, walaupun ketika bertemu dengannya lagi perasaan ingin memiliki itu sudah hilang sama sekali. Namun tatapannya menyiratkan bahwa dia tidak bahagia. Sebelum itu aku tidak pernah memacari seorang gadis. Aku belum lagi menyukai seorang gadis sejak cinta pertamaku direnggut oleh perbedaan. Aku tidak bisa memperlakukan seseorang dengan manis. Namun, aku tetaplah seorang laki-laki.
Aku menginginkan dia untuk satu alasan yang tidak aku mengerti. Hasrat yang sudah lama aku lupakan. Dia membangkitkannya hanya dalam hitungan detik. Aku menyentuh dia, hal yang seharusnya tidak boleh aku lakukan. Aku tidak mencintainya, namun aku membiarkan diriku terbujuk rayu demi keinginan sesaatku. Untuk melarikan diri pahitnya kenyataan hidupku. Dia menyelinap keluar dari rumahnya dan aku menunggunya di ujung gang, pergi ke satu tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan mengganggu kami.
Lalu aku pergi meninggalkannya, di saat dia berpikir aku akan membawanya lari bersamaku. Aku hanya seorang mahasiswa yang depresi pada kerasnya kehidupan. Dia masih mencintaiku dan aku malah mengatakan hal yang kejam.
"Kamu sudah jadi istri orang,” kataku, "Aku terlahir sebagai Cina saja sudah begitu hina di mata orang-orang seperti kalian... Aku tidak mau lebih terhina lagi dari itu.."
"Tapi, Alan...,” Sania tampak berusaha mempercayai ucapanku.
Dia tidak bisa menerimanya begitu saja. Entah apa yang ia rasakan, aku tidak pernah mau tahu. Aku harus kembali ke Jakarta dan bersumpah tidak akan mengulanginya lagi nanti. Dan sebuah kejutan menantiku di Jakarta.
Aku pergi ke Amerika untuk studi banding selama 4 bulan bersama beberapa mahasiswa terpilih lain yang merasa begitu bahagia dan bangga. Namun, yang ada di pikiranku saat itu adalah, segera selesaikan dan mendapat gelar. Dengan begitu aku bisa merasa tenang. Tapi, hidup ternyata tidak seajaib itu hanya karena kita beruntung.
ooOoo
Komentar
0 comments