๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Intro - Kembang Api
Malam pesta kembang api, berlalu dengan cepat dalam ingatanku. Begitulah pergantian tahun terlewatkan begitu saja, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi, tahun ini terasa lebih menyedihkan.
Aku duduk di sofa selama berjam-jam, memikirkan apa yang telah kulakukan dan apa yang telah terjadi.
Tanpa terasa pagi menyambutku dan hujan mengguyur Jakarta . Lalu banjir membuat semua orang berduka.
Aku nyaris tidak merasakannya sekalipun semua orang di sekitarku mengeluhkannya. Jakarta sudah sering banjir sejak 30 tahun yang lalu. Aku tidak merasakan apapun. Aku tidak tahu kenapa.
Aku berangkat ke kantor setiap pagi, terjebak macet hampir satu jam lamanya. Aku mulai frustasi pada saat dikejar waktu namun tak ada toleransi dari rasa bosanku yang bagai hantu gentayangan. Aku memukul setir dengan kesal. Melepas kaca mataku untuk membersihkannya dari debu dan uap yang membuat pandanganku berembun.
Kota ini tak pernah berubah. Sudah delapan tahun aku menjadi warganya yang setia. Karena Jakarta selalu menerimaku bagaikan seorang ibu yang mencintai anaknya, seburuk apapun itu. Meski orang-orang mengatakan ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri, tapi bagiku tidak seperti itu. Atau hanya bagi orang sepertiku -yang kata orang-orang bernasib mujur.
Tapi, sebenarnya aku tidak seberuntung itu.
Aku tak ingin meninggalkan Jakarta, karena kota ini melindungiku dari orang-orang yang memanggilku Cina.
---
Aku tidak pernah memenyangka kepulanganku suatu kali di sambut dengan kemarahan. Aku punya seorang ibu, dan 3 orang adik yang sangat jarang tidak membuat masalah. Achen yang usianya 3 tahun di bawahku dan si kembar Ivanna dan Gina yang saat itu berusia 20 tahun.
Selama bertahun-tahun aku mengisolasi diri. Hidup sendirian, sibuk dengan pemikiran buruk akan hidupku yang seolah tidak punya tujuan.
Mami mengatakan padaku, percaya-lah pada Kristus dan dia memberiku sebuah pengingat akan kuasa-Nya. Sebuah kalung Kristus yang tak pernah kulepaskan dari leherku. Tapi, tak pernah meredakan peperangan di dalam diriku yang seolah terbagi menjadi dua. Yang satu ingin lari, dan yang satu lagi ingin menjadi dominan.
Seorang pastur pernah memberiku nasehat untuk sering ke gereja dan berdoa atas nama-Nya. Tapi, aku tidak melakukannya.
Aku mengalami hal yang demikian buruk. Satu hari sepi di Jakarta dalam dunia yang yang kuciptakan, seseorang menelponku. Memberitahuku sesuatu yang pada akhirnya menarikku keluar dengan paksa dari ruang isolasi yang kuciptakan dengan pemikiranku yang rumit.
Aku kembali ke kota itu. Untuk bertemu Sania. Perempuan itu membuatku terpana. Aku mencoba mempercayai apa yang kudengar dan kulihat di depanku. Seorang anak kecil berusia 3 tahun. Menyadari dia punya seraut wajah yang mirip denganku, membuat lututku gemetaran.
Aku dan Sania tidak pernah menjalani apa yang disebut dengan pacaran apalagi pernikahan. Bertemu dengannya lagi membuatku kembali ke masa-masa itu. Masa di mana kehidupanku rasanya begitu terkutuk karena terlahir sebagai Tionghwa.
Aku terlahir sebagai seorang muslim. Menjadi Katolik pada usia remaja setelah orang tuaku bercerai. Begitu juga adik-adikku. Ayah pergi meninggalkan kami dan Mami yang baru saja menjadi mualaf kembali kehilangan arah. Sehingga pilihan terakhirnya ketika itu adalah 'pulang' ke asalnya. Ayahku seorang muslim. Punya keluarga yang tidak mentolerasi perbedaan agama. Keluarganya adalah penganut Islam yang begitu kuat dan taat. Hal paling menyedihkan di masa kecilku adalah saat kami diabaikan oleh keluarga ayah saat lebaran. Kami seperti orang asing yang tak punya tempat. Di mana pun.
Demi ayah, Mami pernah tidak diakui oleh keluarganya. Kami hidup miskin, bukan cobaan yang berat tapi perkataan orang-orang adalah hal yang paling menyakitkan. Akhirnya orang tuaku menyerah pada perbedaan itu, pulang ke asal masing-masing.
Aku, Achen, Ivana dan Gina, masih belum memahami perpisahan. Aku terdiam memandangi ayah membawa satu tas besar, dan aku membantunya menyeret barang itu keluar.
"Jaga adik-adik kamu, Lan...,” itu yang dia katakan sebelum menghilang.
Aku terpana pada kepergiannya sebelum Mami menghampiriku.
"Mulai hari ini kalian sudah tidak punya ayah...,” jelasnya, dengan suara gemetaran.
Aku memandangi wajahnya yang pilu. Aku tahu hari-hari yang dia lewati sejak ayahku pergi, adalah derita panjang. Mami masih menjadi penganut islam yang setia beberapa tahun sebelum ia nampak sangat tidak tenang. Lalu seorang anggota keluarga mengajaknya kembali ke gereja.
Kami pulang ke rumah. Tapi, aku masih merasa tersesat. Saat Mami dan adik-adikku menemukan kedamaian mereka saat Natal, aku nyaris mati rasa. Ketika misa, aku hanya terdiam menatap patung Kristus di depanku.
Jika di dunia ini ada kemuliaan bagi setiap orang, kenapa tidak Kau tunjukan padaku?
Aku tahu Tuhan penuh cinta kasih. Aku mencoba mempercayainya sampai tanpa sadar aku berhenti.
Dan inilah hukuman bagiku yang pernah tidak mempercayai Tuhan.
---
Komentar
0 comments