๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Namun, setiap aku merasa lelah bertengkar dengannya, dia selalu mampu membuatku melupakan setiap pertengkaran yang terjadi. Karena kami selalu bersama, berpegangan tangan, dan… dekat. Setiap bersandar padanya, aku seakan mampu membuang semua egoku untuk melakukan semuanya sendiri.Rasanya, nggak ingin kerja sambilan atau melakukan hal lain.
Saat dia melihat buku catatanku yang habis dicorat coret, dia heran. “Kamu sama sekali nggak bikin catatan?” tanya dia seolah meastikan lagi bahwa yang ia lihat di lembaran itu memang bukan catatan.
Aku mencoba tersenyum, sedikit malu, aku juga nggak tahu dia akan melihatnya. “Aku…nggak tahu harus nulis apa…,” kataku.
Rexi menggeleng-geleng nggak percaya. “Terus kamu mau belajar pakai apa nanti?” tanya dia.
“Kan masih ada buku paket. Masa sih kita repot-repot menyalin ulang isi buku paket? Kan nggak efisien,” kataku cengar cengir.
Rexi menutup buku catatanku tanpa komentar lagi. “Gambar kamu sih bagus,” kata dia. “Tapi, lebih bagus lagi kalau bikinnya nggak di buku catatan,”
“Sorry…,” ucapku, masih tersenyum lebar tapi agak takut kalau tawa inosen itu malah bikin kesel.
“Oh ya, ngomong-ngomong soal gambar…,” Rexi nggak kelihatan bakal menceramahi aku saat dia menatapku serius begini –memang sih dia selalu serius, tapi sorot matanya itu kelihatan intens, dibandingkan dari saat dia memperhatikan pelajaran di kelas. “Kamu pernah janji mau kasih lihat lukisan kamu ke aku kan?”
Aku menepuk dahiku. “Oh, iya!” kataku, lalu tertawa-tawa. “Aku lupa! Habisnya kemarin-kemarin kita sibuk banget sama pensi,”
“Jadi… apa sekarang aku bisa lihat?” tanya dia semakin serius.
Aku nggak yakin. Tapi, kalau aku beralasan hanya supaya dia nggak melihat rumahku yang berantakan, di lain hari juga pasti dia akan menagih. Aku tahu Rexi yang harus selalu mau tahu soal aku. Dia memang perhatian dan aku senang selama itu nggak membuat kami bertengkar. Aku masih ragu-ragu saat Rexi menyuruh supirnya pulang duluan dan kita harus naik bus selama setengah jam. Turun di halte terdekat dari rumah, melewati gang kecil perkampungan pinggiran dan menyusuri rel kereta api kurang lebih sepuluh menit jalan kaki. Aku mulai merasa nggak enak sama Rexi yang harus panas-panasan siang bolong, hanya demi lukisan-lukisan yang…bukan sebuah mahakarya itu. Sesekali aku perhatikan dia mengernyit kepanasan, kulitnya yang putih memerah ditambah keringat yang terus mengalir walaupun ia terus menyekanya.
Aku khawatir jika aku nggak menunjukan sesuatu yang layak dilihat nanti. Habisnya…
***
“Sorry!” aku buru-buru masuk ke rumah dan mendahuluinya untuk menyingkirkan tempat sampah di pojok yang sudah penuh sekali. Aku memasukannya ke dalam kantong besar di dapur dan kembali dengan sebotol air mineral yang aku ambil di kulkas. “Berantakan ya….”
Rexi sudah berdiri di depan dinding yang penuh dengan kolase foto dan ia tercengang. Lalu melirikku. “Kamu yang nyusun foto ini?” tanya dia.
Aku menggeleng. “Ayah…,” jawabku, ikut memandangi dinding itu”Foto-foto itu juga udah di sana sebelum aku lahir,”
“Ayah kamu fotografer?”
“Nggak juga sih. Tapi, itu foto-foto lama yang sengaja dicetak hitam putih,” jelasku. “Kayaknya sih sengaja biar bisa disusun menjadi sebuah lukisan wajah,”
Rexi tersenyum, menyentuhkan ujung jarinya ke salah satu foto –fotoku waktu masih bayi. “Ini wajah siapa?” tanya dia lagi, memandang kolase foto itu keseluruhan dengan mundur beberapa langkah.
“Ibu,” jawabku, lalu menghela nafas sedih.
Rexi pun diam dan aku mulai bingung. Di rumah ini memang nggak ada apa-apa, selain tumpukan lukisan di kanvas yang tergeletak mengenaskan di lantai. Noda-noda cat minyak yang mengeras dan nggak bisa kubersihkan di mana-mana. Di ruang yang nggak terlalu luas ini, aku hanya punya sampah-sampah yang dulunya berharga sekarang menjadi sia-sia karena aku nggak menyelesaikannya.Tapi, ada satu lukisan yang menarik perhatian Rexi. Ia menemukannya di dekat jendela dan masih tertutup oleh kain putih. Sebuah lukisan yang belum sempat kupindahkan dan masih tersandar pada standar-nya.di dekat kursi, masih berserakan palet dan cat yang pernah kupakai. Rexi menyingkap lukisan itu perlahan,” Hutan?” tanya dia tanpa mengalihkan perhatiannya dari sana.
Aku sedikit malu. Yah, lukisan itu aku selesaikan dalam waktu sehari saja, setelah mengalami mimpi yang indah. Aku nggak beranjak dari depan kanvas, aku nggak minum dan nggak makan, dan yang jelas begitu selesai, aku rubuh dan terbangun di pagi hari dalam keadaan dehidrasi. Tapi, hari itu aku harus ke sekolah, nggak sabar ingin bertemu dengan orang yang membuatku bermimpi sampai seperti itu. Dia yang sekarang memandangi lukisan itu seolah dapat merasakan bahwa hutan itu adalah dirinya dan perasaannya, yang membuatku tersesat di dalamnya…
Tapi, gimana cara jelasin padanya, bahwa keberadaannya itulah yang membuat aku bisa menyelesaikan sebuah lukisan yang membuatku puas? Apa dia akan tertawa dan mengira aku gombal?
“Kamu,” kataku, berdiri di belakangnya, sama-sama memandang hijaunya pepohonanoleh cat minyak yang telah mengering itu. “Hutan itu adalah kamu,”
“Aku?” dia melirikku sejenak.
Aku mengangguk. “Tenang, damai, dan menyesatkan….”
Rexi mengernyit, kelihatan protes. “Menyesatkan?”
“Aku mimpi ada di satu tempat yang aku nggak tau di mana…,” jelasku dengan suara pelan, berdandar ke punggungnya dan memejamkan mata untuk mencoba mengingat kilasan itu lagi. “Tapi, indah banget…rasanya …seperti kesasar tapi, aku lihat jejak kakiku berubah jadi bunga yang mekar sepanjang jalan, dan aku berlari sejauh-jauhnya untuk bisa melihat bunga-bunga itu ngikutin langkahku….”
Rexi diam. Sambil meraih tanganku dan memegangnya, menarikku lebih rapat dengan punggungnya.
“Itu setelah kamu tiba-tiba teriak kalau kamu sayang sama aku…,” sambungku. “Aku nggak sadar kalau… sejak kita kenalan, paling nggak saat kita mulai bicara soal drama itu, aku…mulai terjebak sama cara berpikir kamu dan sikap kamu yang…bikin aku nggak ngerti…maksudku, kenapa ada ya orang yang rasanya nggak tersentuh? Bikin aku selalu kepikiran gimana cara bicara sama orang ini, gimana dia itu paling nggak mendengarkan sebelum komentar….”
“Nggak tersentuh?”
“Kamu nggak sadar itu cara orang-orang melihat kamu?”
“Nggak….”
Aku diam.
“Dari kecil, aku udah biasa nggak peduli pendapat orang lain atau apapun yang mereka lakuin selama itu nggak ada hubungannya sama aku. Aku nggak ingin punya masalah yang bikin hidup aku susah. Dan aku juga nggak ingin melibatkan orang lain kalaupun akhirnya aku harus punya masalah,”
“Memangnya kamu punya masalah yang sampai harus ngelibatin orang lain?”
Rexi hanya diam saja. Sebelum ia menoleh sedikit ke belakang. “Aku senang jadi inspirasi kamu untuk melukis, karena selama ini kamu cuma nganggap aku tukang ngatur,” jelasnya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa. “Setiap orang memang butuh sumber inspirasi,” kataku. “Aku kaget kalau ternyata sumber inspirasiku itu kamu, seorang cowok yang suka bikin cewek patah hati,”
“Aku nggak mungkin terima setiap cewek yang bilang suka sama aku..”
“Ya sih, tapi juga bukan dengan cara yang nyakitin, kali. Ingat Monalisa dendam sama kamu..”
Rexi malah ketawa lagi. “Terus harus gimana?” tanya dia.
Aku hanya mendengus.
“Sekarang, aku punya alasan kan?” kata dia lagi, sambil berbalik untuk melihatku. “Kamu,”
Jika kita berdua saja, semua terasa lebih baik. Nggak ada rencana ke depan, hanya dengan terus menjalani apa yang ada sekarang di depan kita. Walaupun, sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku sedikit kepikiran.Aku mulai menerawang ke langit-langit saat kita diam dan tiba-tiba ingin melakukan sesuatu daripada seperti ini. Maksudku, sepanjang siang di sini berdua dengannya kita hanya bicara nggak penting, atau jika mood-nya sedang nggak bagus, dia akan menyuruhku belajar. Aku beruntung kalau kita nggak sampai ribut gara-gara aku nggak mau mengerjakan soal yang dia kasih. Tapi, lebih beruntung lagi kalau kita nggak perlu harus belajar dan bisa seperti ini, duduk berdekatan. Saking dekatnya itu membuat kita kadang-kadang tersesat; setiap kali aku memandang wajahnya itu, sama seperti memandang kelopak-kelopak bunga putih yang mekar oleh sentuhanku dalam mimpi itu –sangat indah.
Andai aku bisa membawanya ke dalam kenyataan untuk bisa terus dipandangi. Sebuah lukisan yang bernyawa…
***
“Kenapa tiba-tiba mau melukis aku?” tanya dia heran, saat aku melepas lukisan terakhir yang sudah jadi dari standarnya dan menggantinya dengan yang baru –sebuah kanvas yang belum tersentuh oleh warnaku. “Bukannya kamu bilang kamu nggak melukis orang?”
Aku nggak menjawab. Sibuk menyiapkan peralatanku di dekat kanvas; kursi, palet, kuas dan cat minyak. Dan aku memang nggak peduli apapun jika sedang ‘mabuk’ begini. Aku hanya tersenyum “Kamu duduk aja di sana, oke?” kataku, meminta sebelum duduk di tempatku, dan Rexi dengan patuh ikut duduk di belakang kanvasku. Setelah dia ragu-ragu melepas kaos yang ia kenakan, aku baru tahu kalau cowok ini memang punya struktur tulang yang menakjubkan. Dibungkus oleh kulit seperti porselen –aku saja perempuan, nggak sehalus ini. tapi, mungkin, karena dia adalah seorang tuan muda yang kaya yang seumur hidupnya nggak pernah berpanas-panas di bawah terik matahari dan selalu berada di ruang tertutup dan ber-AC, putih seperti vampir.
Ini bukan lukisan yang bisa selesai dalam sehari seperti ‘hutan’ itu. Karena aku melukis sebuah objek yang bergerak –entah karena dia capek, bicara atau tertawa, aku harus tetap mabuk untuk bisa menyelesaikannya sampai akhir.Aku nggak pernah mengizinkan Rexi melihatnya sebelum lukisannya selesai. Selama tiga hari ini, dia duduk di sana, dengan kursi yang terbalik dan ia menjatuhkan kepalanya pada sandaran kursi begitu ia mengantuk dan bosan. Dia pikir saat aku nggak lagi menyuruhnya datang menjadi model, lukisannya sudah selesai, tapi aku butuh lebih dari seminggu sampai warnanya sempurna. Lalu dengan sedikit malu-malu, aku membuka kain penutup lukisanku yang sudah selesai dua minggu kemudian.
Potret wajahnya yang sedang tertidur. Saat dia berdiri di sana –di samping lukisan itu, aku melihat dua keindahan yang nyata dan perlahan mimpi pertama tentangnya nggak lagi kuingat.Dia tersenyum, terkesima pada kedua tanganku yang ia genggam erat. Entah gimana dia melihat lukisanku, dia tampak memahami bahwa di mataku saat ini ia adalah hal terindah yang pernah aku miliki seumur hidupku.
Rexi memelukku, sangat erat sampai aku nggak bernafas. Aku sesak, namun dia nggak melepaskanku. Mimpi saat melihat wajahnya nggak lagi menyesatkanku dalam labirin itu, tapi ketika dia menatapku, dia seolah menyadarkanku apapun yang terindah aku lihat di dalam mimpiku tentangnya nggak lebih indah dari menatapnya saat ini dan merasakan cintanya. Dia mengucapkannya berulang kali di telingaku saat aku menangis dalam rasa sakit yang manis menggerogoti tubuhku dalam dekapannya. Dan keesokan pagi aku adalah seseorang yang berbeda.
ooOoo
Komentar
0 comments