[Hal.42] [Ch.8] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku pastikan nggak ada lagi orang-orang yang mengikuti kami sampai ke sini. Panas membakar wajahku yang berkeringat, aku takut make-up-nya luntur dan wajahku akan kelihatan lebih jelek lagi dari saat nggak memakainya. Tapi, dalam sesaat angin meniupkan kesejukan.

Oh iya, tempat di mana kita bisa melihat langit lepas tanpa batas adalah sebuah tempat yang paling tinggi –atap. Sebuah tempat terasing yang jarang didatangi karena nggak ada yang suka berjemur di bawah matahari siang-siang begini. Tapi, hari ini panasnya nggak terik  walupun langit nggak berawan adalah warna biru paling cerah yang pernah kulihat sepanjang bulan ini dan silaunya matahari nyaris membutakan. Dan aku bersama seseorang –dibawahnya,  yang memakaikan kembali lingkaran bungaku di kepala.

Terima kasih, Tuhan, untuk hari ini. Akan kuingat selamanya, sekalipun waktu dapat melunturkan kenangan…

“Aku harap kita lari-larian begini karena kostum Dr. Coppelius-nya aja. Karena kalau besok-besok di sekolah mereka ngejar-ngejar kamu lagi, aku nggak kuat…,” kataku padanya dan sama-sama tertawa.

Rexi menggeleng dengan dahinya yang ia benturkan ke dahiku. Kedua tangannya membingkai kepalaku dan aku menggenggam jemarinya erat.

“Kenapa aku?” aku sudah lama ingin menanyakannya, tapi…yah, ini pertama kalinya sejak aku mengerti arti kata ‘jadian’, belum pernah ada kesempatan yang begitu menyenangkan seperti ini untuk bicara –serius. Sambil membayangkan, apa yang baru saja kami lalui, masih belum apa-apa jika nanti akan muncul banyak orang yang menentang.

Dia menggeleng. “Aku nggak tau…,” jawabnya, sesekali masih mengendalikan nafasnya dan aku bisa merasakan, getaran di dadanya oleh jantung yang berdetak keras setelah berlari dan sekarang karena begitu dekatku, seolah seirama dengan jantungku. Begitulah aku mengartikan saat ini, saat yang mungkin hanya terjadi satu kali; mengenakan baju yang nggak biasa dan berlari seperti sepasang pengantin selebritis yang kabur dari paparazzi. “Aku senang setiap kamu ada di samping aku…dan aku nggak ingin kehilangan itu….”

Aku ingin tertawa terbahak, kata-katanya masih terdengar kaku, tapi, berarti bagiku. “Apa kita akan terus begini, Rexi?” tanyaku, menatap ke dalam bola matanya yang hitam pekat dan terkadang menyesatkanku dalam perasaan yang ia tunjukan setiap kali dia membalasnya.

“Ya…,” jawab dia. “Aku janji, apapun yang terjadi nanti, kita nggak akan pisah, kamu ngerti?”

Aku mengangguk, mendengarkan kata-katanya seperti titah seorang dewa.

“Asal…,” sambung dia, mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan senyum tipisnya yang membuatku penasaran, asal apa?

Aku menunggu, dan beberapa detik saja menjadi nggak sabar. Pandainya dia membuatku bertanya-tanya dan resah dalam sekejap.

“Asal kamu bilang kalau kamu sayang sama aku…,” dia berbisik di telingaku dan betapa manisnya itu saat dia tertawa sementara aku tersipu malu. “Karena sejak kita bersama, aku belum pernah kamu bilang gitu ke aku..”

“Apa itu penting banget?” jawabku tertunduk, dan Rexi berusaha tetap membingkai wajahku dengan kedua tangannya, agar nggak menduduk dan terus menatapnya. Seolah nggak ingin aku menyembunyikan sesuatu dalam rautku. Aku melihatnya mengangguk, dan tertawa malu. “Seperti janji pernikahan?”

“Ya, lebih baik,”  kata dia, mulai berubah serius.

Aku berdehem, sambil menyingkirkan tangannya dari wajahku agar kita sama-sama berhadapan dengan tegak dan hanya berpegangan tangan satu sama lain.Juga saling menatap. “Kamu dulu deh,”  kataku. “Di mana-mana juga cowok duluan yang ngucapin janjinya….”

Rexi menarik nafas, membersihkan tenggorokannya, lalu menatapku lekat-lekat. “Ini adalah sukacita melampaui semua kegembiraan yang lainnya. Hari saat mimpi yang aku takutkan untuk diimpikan menjadi kenyataan. Semua kebahagiaan ada di sini, dan harapan, dan kepastian. Hari ini, kita mulai membentuk sebuah kehidupan. Satu yang terbaik melebihi semua yang bisa kita buat sendiri,”

Aku nggak percaya bahwa kata-kata itu terlontar dari bibirnya. Rexi yang aku tahu bukan orang yang romantis, tapi… aku tahu bahwa dia mengerti cinta, melebihi diriku yang hanya pernah melihat sesuatu seromantis ini di film.

“Cinta menutupi segala sesuatu, percaya pada segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menghadapi segala sesuatu, cinta nggak pernah berakhir,”  sambungnya, mempererat genggamannya pada jemariku yang mulai berkeringat dan gemetar hebat. Sampai rasanya ingin menangis. “Walaupun kita belum punya cincinnya, karena hari ini terlalu mendadak, tapi… bayangkan sesuatu melekat di sini…,” katanya, mengangkat tangan kiriku dan mengelus punggung jari-jariku. “Sesuatu yang nggak bisa dilihat tapi ada, seperti cinta, melingkar, mengikat erat, menyatukan kita seperti air dan minyak, berbeda tapi bisa hidup berdampingan….”

Aku terhenyak. Merasa ada sebuah cincin di jariku yang ia sentuh dengan tangannya.

“Kata orang cincin adalah simbol kuno yang diberkati dan sederhana. Bulat seperti matahari di atas kita, seperti mata, seperti lengan yang sedang merangkul. Melingkar seperti cinta yang diberikan datang kembali lagi dan lagi. Simbol ini akan mengingatkan kita kalau cinta kita seperti matahari yang menyala, seperti mata yang harus melihat dengan jelas, dan seperti lengan yang sedang merangkul adalah rahmat yang ada di dunia ini. Mencintai adalah mengambil resiko terbesar dari semuanya, adalah memberikan masa depan dan kebahagiaan seseorang ke tangan orang lain, adalah membiarkan diri sendiri untuk percaya tanpa mengenyampingkan, adalah menerima kerentanan…demikian aku mencintai kamu,”

Tanganku basah dalam genggamannya. Tapi, ia kelihatan belum akan mengakhiri janjinya.

“Aku Rexi Adam Prawira. Aku janji akan mencintai Ellody, si cewek puitis, berbakat, berisik dan gila ini sepenuh hati selama hidup, selama-lamanya,”  ucap dia, memberi jeda sebentar, masih dengan menatapku untuk satu kalimat lainnya. “Aku sayang kamu Ellody….”

Aku terkesiap. Nggak ada satu pun yang bisa kukatakan, seolah Rexi mencuri kata-kata yang harusnya milikku karena akulah yang puitis, bukan dia; ia mencurinya langsung ke dalam hatiku,” Aku salut soal sentuhan-sentuhan kecil yang bisa mengubah cara aku melihat. Dalam satu jam aku berubah dari tampilan sederhana dan inosen jadi lebih ke tampilan dongeng…,” aku tertawa, satu kali, sebelum mata dibalas dengan mata. “Aku suka efek dongeng yang dibuat oleh bunga-bungaan ini, baju ini, walaupun sederhana sepertinya itu ingin bilang ‘cantik dan elegan’, benar-benar kayak gaun untuk menikah. Hari ini…bukan hanya sekedar hari kita, tapi ini juga waktunya merayakan sesuatu yang mungkin masih jauh buat kita sekarang, waktunya berterima kasih untuk sebuah awal….”

Rexi tersenyum, masih menggenggam tanganku dan ia mempereratnya dalam sesaat.

“Saat aku lihat kamu,semua hal-hal yang bikin aku cemas jadi hilang, kupu-kupu dalam perutku pergi. Cuma agak menghibur, saat aku tahu apapun yang terjadi kita akan melewatinya sama-sama. Bersama selamanya,”  sambungku, di ujung senyum yang membuat dia mendekat selangkah. “Aku  Ellody, berjanji akan mencintai Rexi Adam Prawira selamanya walaupun… mungkin dia nggak akan tahan, karena aku berisik, gila dan ternyata nggak lebih puitis dari dia sendiri tapi jelas aku sangat sangat berbakat, sepertinya juga kita akan banyak bertengkar soal buku Stephen Hawking atau komik Candy Candy… dia akan komplen soal model rambut dan PR-ku, tapi aku tetap akan mencintai Rexi sampai takdir menentukan di mana waktu kita berhenti….”

Aku mendekat selangkah dan Rexi menyambut tubuhku yang ia rangkul seperti bulatan cincin nggak terlihat yang mengikat kita sekarang.Sebelum itu benar-benar menjadi rapat, aku belum mengakhiri janjiku.

“Aku sayang kamu, Rexi…,” ucapku yang kemudian terbungkam, setelah janji terucap dan ciuman keduanya yang terasa manis. Aku ingin memiliki hari ini selamanya di fikiranku. Saat aku nggak ingin melepaskan pelukannya karena takut dunia di luar dari sini kehidupan yang nggak menentu, mengambil dia. Aku ingin selalu seperti ini, di dekatnya, juga menyentuhnya seperti ini…

“Tapi…,” kataku tiba-tiba. “Ngomong-ngomong dari mana kamu bisa nyusun kata-kata yang ajaib gitu?”

Rexi tertawa satu kali. “Dari buku yang pernah aku baca…,” kata dia, sedikit malu. Pantas saja…

“Kamu bisa hafal?” aku masih nggak percaya.

“Karena itu bagus...,”

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments