[Hal.41] [Ch.8] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Aku bisa, Ellody,”  katanya di telingaku, masih terasa sisa nafasnya yang tersengal setelah penampilannya yang memukau. “Aku bisa ngelakuin sesuatu yang nggak pernah aku   bayangin sebelumnya….”

Aku mengangguk-angguk, sedikit merapat  ke dekatnya. Ikut bahagia, meremas genggamannya pada jari-jariku. Ini nyata, sangat nyata bagiku.

“Makasih…,” ucapnya lagi, dengan tawa yang  lepas.

Tapi, tiba-tiba kami dihampiri.

“Rexi, foto bareng dong!” seru beberapa orang cewek yang terpaksa harus Rexi ladeni dengan murah senyum dan…mengabaikanku sejenak.

Kedua sahabatku baru muncul dan mereka menghampiriku. Mereka tetap memujiku walaupun penampilanku nggak sebagus kostumnya.

“Kostumnya kereen…cantik!” kata Andin merangkulku dengan gembira.

Tapi, aku mulai merasa nggak senang. Andin dan Genta ikut melihat apa yang ada di depan mataku. Aku mulai nggak suka karena ekspresi Rexi yang terkepung di antara cewek-cewek itu mulai gelisah. Dia memang nggak suka didekati dengan cara se-ekstrim itu lagipula, aku –pacarnya tentu punya alasan untuk merasa nggak suka. Lebih-lebih Genta menyikutku, karena cewek-cewek itu mulai berkelakuan nggak wajar. Mereka menggandengnya, menempelinya, pegang-pegang wajahnya, dan nggak menghargai aku yang berdiri di sini sejak tadi. Aku makin kesal, karena mereka juga nggak sadar, Rexi ingin menghindar. Tapi terjebak!

Jangan panggil aku Ellody, kalau aku nggak bisa menghentikan tingkah konyol mereka itu. Soalnya, aku lebih berhak dan mereka harus tahu itu.

Seperti pisau tajam, aku meretas barisan mereka yang rapat dan desak-desakan di depan jepretan dan kedip flash kamera. Begitu kuraih tangan Rexi, aku segera menariknya keluar. Menembus mereka yang terkejut dan histeris. Aku berlari secepat yang aku bisa, tanpa melepaskan tangan Rexi. Kita harus kabur!

“Rexi!!” mereka menjerit dan di luar dugaan ternyata mengejar.

Ternyata aku harus bersabar lebih banyak karena punya pacar sekeren ini.Aku menoleh ke belakang, dan Rexi tertawa. Kelompok itu berada di belakangnya mungkin sekitar sepuluh orang atau lebih sekarang berusaha mengejarnya hanya untuk foto bareng selagi Rexi berkostum Dr. Coppelius. Ya ampun, mereka benar-benar sudah gila!

Aku dan Rexi melewati lorong sekolah yang mendadak gaduh oleh suara kaki kami yang berlari dan menggema pada setiap jengkal dinding. Menoleh ke belakang sekali lagi, cewek-cewek itu belum juga menyerah. Sementara kami masih saja tertawa, nggak pernah terbayang akan berlari seperti ini, di pensi pula.

Langkahku terhenti karena lelah. “Mereka gila ya…?” kataku tetap tertawa sambil mengatur nafas.

Rexi juga tertawa dan ia membungkuk sambil bersandar ke dinding beberapa saat sebelum kelompok itu melihat kami.

“Itu dia!” seru salah seorang seperti panglima perang yang ingin  mengerahkan semua pasukannya untuk menyerang. Lalu menyerbu bersamaan, dengan kamera dan jeritan histeris. “Rexi!!”

Aku sangat lelah, benar-benar nggak sanggup berlari lagi. Tapi, kali ini, Rexi yang menarikku pergi untuk menghindari mereka. Hingga akhirnya kami bertemu dengan ujung koridor, pilihan satu-satunya adalah naik tangga ke lantai dua, dan itu lebih melelahkan lagi. Sesampainya di atas sempat berhenti sebentar untuk mengambil nafas, tapi suara langkah kaki mereka di tangga yang terdengar mendekat membuat kami harus berlari lagi, menyusuri lorong yang sepi dan tiba-tiba…

“Tunggu!” aku menahan langkahku dan menoleh ke belakang, lingkaran bunga di kepalaku terjatuh.

Dengan cepat Rexi berbalik dan mengambilkannya, lalu berlari lagi karena kelompok itu sudah naik. Kami berbelok ke kanan melewati kelas-kelas yang kosong. Entah kenapa Rexi membuka semuapintu kelas yang kami lalui satu persatu hingga sampai di ujung lorong. Di ujung koridor kami bingung; ke mana kami akan sembunyi sementara mereka semakin dekat?

Rexi memilih sebuah kelas yang posisinya di tengah. Aku nggak tau apa yang dia pikirkan saat menarikku masuk. “Ssst…,” desisnya, mulai melangkah pelan ke sudut kelas di mana kami bisa sembunyi dengan aman, sementara.

Suara langkah kaki mereka semakin dekat. Mungkin mereka sedang memeriksa kelas-kelas lain. Ternyata Rexi sengaja membuka semua pintu untuk membuat mereka bingung.

Aku merapat ke sudut, karena Rexi bergeser semakin rapat.

“Ssst…,” desisnya lagi agar aku nggak membuat suara sekecil apapun –bahkan aku harus menahan nafas. Ia mengawasi pintu yang terbuka yang terlihat di bawah meja.

Suara-suara itu sekarang semakin jelas. Kaki-kaki mereka tampak berdiri di depan pintu. “Mereka ke mana sih?” mereka saling bertanya.

Aku menutup mulutku, menekan suara sekecil apapun dari desahan nafasku yang tersengal. Sedangkan Rexi kelihatan tegang. Matanya terus mengawasi lewat kolong meja dan celah-celah sampai suara mereka nggak terdengar lagi. Menoleh padaku ia masih bisa tertawa pelan sementara aku hampir mati lemas. Setelah memastikan kami cukup aman, Rexi segera berdiri masih dengan menggenggam tanganku, lalu mengajakku berlari lagi.

“Itu Rexi!” salah seorang yang melihat kami keluar dari kelas mengendap-endap berteriak. memancing perhatian teman-temannya yang memeriksa kelas di ujung koridor. Serentak, mereka mengejar lagi.

Kami kembali menuruni tangga ke lantai satu. Melanjutkan pelarian ke tempat yang paling jauh, di mana mereka nggak akan menemukan kami. Aku sudah nggak sanggup lagi berlari. Nafasku sesak dan kakiku sakit sekali, ditambah sepatu tumit yang menyiksa ini. Pada saat kami akhirnya berhenti dan entah di mana, rasanya seperti mau pingsan. Pandanganku mulai kabur, tapi masih bisa melihat Rexi terduduk mengatur  nafasnya.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments