๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Lo nggak bisa jaim dikit kek di depan cowok lo?” Andin kelihatan illfeel sama caraku tertawa atau bercanda. “Nggak manis banget deh….”
Aku hanya mencibir sebelum melirik Rexi yang sibuk baca buku dan nggak peduli sekitar. Aku senang, dia duduk di sampingku. Nggak peduli pendapat orang dan gosip orang soal aku atau pilihannya yang payah. Dia nggak perlu meragukan kekuatanku menghadapi mereka yang iri. Aku sudah sangat terlatih untuk mengabaikan mereka dan berlalu seakan perkataan mereka itu nggak bisa menyentuhku. Namun, ada sebuah ancaman yang aku terima dari seseorang yang hampir aku lupakan belakangan.
Monalisa. Dia kembali datang dengan senyum sinis dan kata-katanya yang seolah bisa merobek dinding pertahananku. Dia nggak datang sebagai cewek yang cemburu karena pernah ditolak Rexi, tapi seseorang yang merasa paling tahu Rexi…dan masa lalunya. Aku bahkan nggak pernah tahu kalau dulu mereka satu SMP. Dia pikir akan sangat mengerikan bagiku untuk tahu apa yang nggak pernah Rexi ceritakan padaku tentang masa-masa yang mungkin saja nggak dia ingat lagi –atau sengaja nggak diingat.
“Lo nggak usah bangga ya…,” kata dia dan aku hanya memandangnya, menunggu apa lagi yang dia katakan untuk membuatku risau. Sejak kelas satu dia selalu berhasil mempermalukanku seolah aku nggak pantas ada di sekolah ini. Baru selesai masalah di klub kesenian dan itu membuatnya seolah-olah lenyap, dia muncul lagi di depanku.
Aku pura-pura nggak mendengar. Aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong, seperti menghadap tembok yang bersuara ketus.
“Lagian nanti nasib lo juga sama kayak Wanda,” katanya, memberitahu kalau sebelum aku, ada seorang cewek yang ada di dekat Rexi.
Tentu ekspresiku berubah. Nama yang nggak dikenal –apalagi nggak pernah disebut-sebut Rexi sebagai mantannya. Asing bagiku, tapi menohok saat disambung dengan kata-kata ‘nasib’. Tapi, apapun yang aku dengar sampai rasanya kepalaku ini mau pecah–karena seperti radiasi nuklir, nama itu bergentayangan dengan cepat di antara bibir-bibir penggosip, aku merasa masa lalu seseorang nggak pantas dihakimi apalagi dikait-kaitkan sama orang yang nggak ada hubungannya.
***
Aku dan Rexi sama-sama fokus dan sibuk untuk gladi resik. Dan akhirnya, aku mengenakan kostum impian itu. Meskipun hanya mendapat giliran di adegan terakhir pernikahan Franz dan Swanilda. Kata Kak Audrey, aku akan tetap diperhatikan walaupun tampil hanya kurang dari lima menit di panggung.
Tirai dibuka, aku menunggu di belakang panggung. Sama sekali nggak ada perasaan deg-degan saat sebelum aku bersama kelompokku keluar dan meramaikan pesta dalam adegan akhir. Tapi, saat aku berada di panggung itu, aku hanya merasa lain. Tempatku memang bukan di sini, tapi di depan kanvas. Walaupun ada banyak orang yang berpendapat, aku bisa melakukannya –meski dengan caraku yang nggak biasa, aku merasa jadi aktris itu bukan prioritas.Tapi, aku membuat sebuah janji sama Bu Mita, tahun depan, aku nggak lagi jadi pemanis dengan kostum luar biasa, melainkan bintang utama.
Aku nggak akan lagi muncul paling belakangan dan terlihat sekilas sebelum tirai ditutup. Aku akan begitu menikmati saat-saat di belakang layar sesaat setelah pementasannya selesai dan teman-teman yang lain terlihat gembira, nggak seperti saat ini –aku berdiri paling pojok, dan memperhatikan mereka melompat-lompat kegirangan lalu berpelukan. Rexi menyatu dengan mereka, membalas pelukan beberapa orang yang menyalaminya, serta cewek-cewek yang berkerumun di sekitarnya. Sebelum dia menghampiriku dan tersenyum. Dia tampak nggak peduli, sekarang semua perhatian yang tadi terpecahmenjadi satu –padaku.
Hanya dengan kostum ini, kami terlihat sama –dalam fantasi tentang Coppelia, tapi bagiku kami tetap saja berbeda. Dalam sesaat, suara-suara mereka yang bergembira lenyap dalam kepalaku, begitu juga dengan band anak kelas lain yang mulai bermain di depan. Nggak peduli pada siapapun yang melihat, Rexi meraih tanganku, menggenggamnya.
***
Komentar
0 comments