[Hal.39] [Ch.8] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Wah, hebat!” aku memandangi lembaran kertas itu dengan kagum. Sebuah design gaun terusan ala Eropa dengan sentuhan modern, warnanya hijau muda lembut yang cocok dipasangkan dengan lingkaran bunga. Aku jadi nggak sabar ingin memamerkannya ke Rexi tapi dia belum kembali dari toilet,  “Kenapa kakak nggak jadi fashion designer aja?”

Kak Audrey tersenyum padaku, entah mengapa kesannya terlihat begitu getir. “Aku nggak punya banyak pilihan,”  kata diam tetap tersenyum dan aku heran. “Begitu juga sama Rexi,”

“Maksudnya?”

Kak Audrey masih tersenyum, mengalihkan perhatiannya sejenak sebelum kembali menatapku. “Ini pertama kalinya Rexi ngenalin cewek ke aku,”  kata dia, sedikit membuatku ge-er.

“Maksudnya cewek yang kayak aku ya…,” bodohnya yang aku bilang. Tapi, aku memang nggak tau harus bilang apa Kak Audrey lagi-lagi sengaja bikin aku senang dengan kata-katanya yang terdengar seperti sanjungan.

“Maksud kamu apa sih?” dia tertawa. “Kamu nggak boleh rendah diri gitu dong,”

“Ya habis…,” aku tersenyum lebar,  mengangkat bahu sebelum memandang diriku sekilas. “Aku kan nggak cantik, Kak….”

“Peraturan dari mana kalau pacarnya Rexi itu harus cantik?” tanya dia, kembali terdengar menyanjung. Dia mengingatkan aku sejelek apapun diriku, aku tetap bisa jadi pacarnya Rexi. Yah, harus aku harus meyakinkan diriku sekali lagi sekarang aku, Ellody, adalah pacar dari Rexi Adam Prawira sejak di tempat kostum –itu minggu lalu. Sejauh ini, aku masih merasa itu mimpi dan aku ingin seseorang membangunkanku. Karena duduk di sini nggak bisa dipercaya –dan sosok Kak Audrey yang baik ini nggak nyata.

Tapi, saat akhirnya Rexi muncul juga, aku benar-benar yakin bahwa aku nggak sama sekali nggak sedang tidur atau ngelindur.

“Kalau dia suka sama kamu, berarti ada sesuatu yang menurut dia menarik melebihi penampilan dari luar,”  kata Audrey, sedikit mendongak dan suaranya pelan, karena Rexi mendekat. Lalu tersenyum penuh arti.

“Ngapain sih ngomong pakai bisik-bisik segala?” tegur Rexi curiga.

Aku dan Kak Audrey sama-sama tersenyum padanya.

“Jadi…kita bisa pergi sekarang?” tanya Kak Audrey ke adiknya itu sambil berdiri.

Aku heran. “Ke mana?’’, tanyaku bingung, sementara Rexi sudah menarik tanganku agar segera pergi. Kami meninggalkan cafรฉ itu sama-sama dan menuju ke sebuah tempat lain yang sepertinya sudah menunggu kami.

Sebuah rumah jahit yang kelihatannya professional dan pastinya mahal. Katanya kostum Dr. Coppelius Rexi dijahit di sini. Karena designer di tempat ini temannya Kak Audrey. Hari ini, aku nggak ulang tahun, tapi seperti dapat kado yang sangat istimewa. Di sana, mereka membuat ukuran badanku dan disesuaikan dengan design-nya Kak Audrey. Di luar, saat seorang penjahit mengukur bahuku, Kak Audrey terlihat bicara sama temannya soal design yang ia buat.

Aku melihat Rexi banyak tersenyum hari ini, seolah senyumnya itu adalah senyumku. Seolah kami sama bahagianya hari ini.Andai saja, aku nggak nolak jadi Coppelia, pakai kostum bagus akan lebih berkesan sebagai pemeran utama, disandingkan dengan pacar pula. Pasti deh jadi raja dan ratu impian di pensi nanti. Apa boleh buat, aku sama sekali nggak nyangka, sekarang aku dan dia adalah sesuatu.

“Coba kalau kamu yang jadi Coppelia…,” kata Rexi, saat kami menunggu obrolannya Kak Audrey sama temannya selesai.

Apa yang dia pikirkan sama dengan yang aku pikirkan. Aku hanya tersenyum. “Diana lebih cocok kok,”  kataku. “Karena itu bakatnya…bukan aku. Lagian, dia ingin dikenal. Tapi, nggak pernah berani untuk nggak tau malu kayak aku….”

Rexi malah tertawa.

“Kalau aku sih, jangankan gara-gara jadi Coppelia, dimarahin sama Bu Mita aja udah bikin aku terkenal banget. Belum lagi, disetrap di luar karena nggak ngerjain PR,”  kataku lagi dan tiba-tiba Rexi mengelus rambutku. Aku jadi malu sendiri, tapi sudah mulai biasa. Harusnya. Supaya bisa lebih dekat, dan lebih dekat lagi. Karena setiap ada Rexi di sampingku, keluhan tentang hidup yang nggak adil ini seketika berganti menjadi harapan semoga bisa terus seperti ini. “Tapi, pensi tahun depan, aku harus jadi pemeran utama,”

Aku jadi nggak sabar ingin ke sekolah dan bertemu, setiap hari.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments