[Hal.38] [Ch.8] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 8 - Dr. Coppelius

Ellody

Seorang cewek cantik, mungkin tingginya sekitar 165 cm kelihatan mendekat. Setelannya modis banget, antara rok selutut dan louse yang menopang posturnya yang langsing. Rambutnya pendek dan lurus dengan poni samping yang seksi. Di sekolahku banyak sih yang menyandang gelar cantik, tapi kalau dibandingkkan sama yang ini mereka beda jauh. Habis, kebanyakan di mata cowok, cewek cantik ideal itu adalah cewek berambut panjang agak pirang-pirang, badan langsing tinggi dan kulit putih. Menurutku, cewek yang tersenyum ke arahku ini adalah cewek paling cantik yang pernah aku temui, walaupun rambutnya model bob.

“Lama ya?” tanya dia, sebelum duduk di kursi kosong di dekatnya.

“Nggak, Kak,”  jawab Rexi, nada bicaranya melunak hingga aku sempat heran. “Aku sama Ellody baru datang kok,”

Aku melirik Rexi, tumben ngomongnya pakai kata ‘aku’, setelah selama ini dia selalu pakai kata ‘saya’ dan ‘saya’ –seperti orang tuasaja.

“Kenalin, Kak.Ini yang namanya Ellody,”  kata Rexi yang sempat menoleh padaku dengan canggung sebelum kembali memandang ke kakaknya itu.

Kak Audrey –begitu Rexi memanggilnya, tersenyum padaku. “Hai, Ellody, apa kabar?” dia mengulurkan tangannya dan aku meraihnya dengan grogi. “Kamu manis ya?”

Aku cuma cengengesan, baru sekali ini ada yang memujiku dan itu kakaknya Rexi lagi. Apa iya ya?

“Jadi…ceritanya kamu belum punya kostum?” tanya dia, terdengar perhatian sementara aku deg-degan dan meragukan sikapku sendiri, apa aku nggak terlihat kampungan dan malu-maluin? Tapi, jelas saja aku ini cuma cewek biasa yang beruntung. Kak Audrey kelihatan serius dengan pertanyaannya, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, selembar kertas dan pulpen.

Aku mengangguk, sesekali melirik Rexi yang tenang sekali. Yah, biasanya dia juga tenang, apa yang aku harapkan? Lagian perempuan ini kan kakaknya. Inilah sikap terbaik yang ia tunjukan ke kakaknya, padahal cewek yang di sampingnya ini… (sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata).

“Kamu mau kostum seperti apa?” tanya dia.

“Aku mau kostum yang biasa aja, Kak,”  kataku. “Habis, aku kan bukan peran utama kayak Rexi….”

Kak Audrey tertawa pelan.

“Nggak mungkin dong pengiring pakai kostum yang heboh banget…, bisa-bisa aku di-bully karena kostumnya lebih bagus dari pemeran utama…,” kataku bercanda sambil tertawa.

Kak Audrey ikut tertawa. “Kamu lucu juga…,” komentarnya dan aku cuma cengangar cengingir lagi. ya ampun, walaupun sadar aku ini malu-maluin, aku nggak bisa berhenti tersenyum. Takut, kalau terlalu gloomy, dia malah berpikir aku suram –seperti adik laki-lakinya. “Terus karena kamu cuma pengiring kamu nggak boleh pakai kostum bagus?”

Aku nggak bisa jawab. Nggak mungkin aku bilang teman-temanku di klub kesenian banyak yang aneh. Aku melengos sebelum melirik Rexi lagi dan dia memberiku senyum seolah mengatakan ‘semuanya beres’. Memang sih, awalnya deg-degan, tapi makin lama, Kak Audrey makin enak diajak ngobrol. Aku jelasin padanya, aku ingin kostum yang cocok dengan  lingkaran bunga di kepala –karena Rexi bilang aku cantik pakai aksesoris itu dan itu pertama kalinya aku dipuji sama cowok. Jadi, style yang itu harus diingat. Meskipun, Rexi mulai belajar mengejek.

Lama-lama aku mulai terbiasa duduk di dekatnya dan melihat wajahnya dari dekat. Atau kadang-kadang dia pegang tanganku, saat Kak Audrey sibuk membuat ilustrasi kostumnya. Aku deg-degan sampai Kak Audrey selesai dengan design kostumku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments