๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Begitu drama dimulai, penonton agak tenang. Tirai dibuka, terlihat Starla dipapah seorang laki-laki yang berkostum ala Eropa jaman dulu untuk duduk di kursi. Lalu mereka menari-nari seolah-olah laki-laki tampak mengendalikan si gadis boneka.
Gue baru tahu kalau Coppelia yang selalu dibahas oleh Gladys dan Starla itu adalah cerita sebuah boneka yang dibuat oleh seorang pembuat boneka jenius bernama Dr. Coppelius. Mereka menyebutnya The Girl with Enamel Eyes. Dr. Coppelius selalu memajang Coppelia yang terlihat duduk manis membaca buku di balkon rumahnya dan sebenarnya punya obsesi untuk bikin boneka itu hidup. Lalu Franz seorang petani yang melihat Coppelia jatuh cinta padanya dan mengira Coppelia adalah manusia. Pacar Franz, Swanilda cemburu. Dia kesal melihat Franz menggoda Coppelia. Dia lalu menyelinap ke rumah Dr. Coppelius untuk cari tahu siapa Coppelia dan kaget saat melihat sebuah ruangan penuh boneka yang bisa begerak seperti manusia. Dan di satu lemari yang tertutup dia menemukan Coppelia yang selama ini bikin dia cemburu. Ternyata cewek cantik yang selalu kelihatan membaca di rumah Dr. Coppelius itu hanyalah sebuah boneka dan kejeniusannya itulah yang membuat Coppelia seperti hidup.
Gue ngerasa kalau cerita yang satu ini unik dari dongeng-dongeng yang pernah gue dengar. Lucu juga. Apalagi aksi penari-penari yang bikin semua penonton –termasuk gue, ketawa. Meskipun, ada beberapa hal yang agak mengganggu seperti kekompakan pemain yang kurang dan dekor panggung yang kelihatan dipaksain. Apa boleh buat, ini cuma acara pensi. Mereka lebih fokus menghibur semua pengunjung daripada mendalami unsur seni di dalamnya. Rasanya, kalau ada pertunjukan Coppelia sungguhan, gue jadi pingin nonton.
Pementasannya selesai di suasana sebuah pesta pernikahan Franz dan Swanilda. Semua pemain sekarang bermunculan satu persatu dari belakang panggung dan berbaris. Mereka berpegangan tangan, mengucapkan terima kasih, lalu memberi penghormatan dengan membungkuk, dan tirai pun ditutup bersamaan dengan tepuk tangan penonton.
Saat hampir semua penonton berkomentar satu sama lain, gue ditarik Gladys melewati mereka karena dia ngerasa penting untuk nyamperin adiknya di belakang panggung. Yang bener aja, begitu ngelihat Nela, Gladys senang nggak karuan. Starla juga histeris, karena tepuk tangan yang meriah tadi. Dia mengejar Gladys untuk memeluknya. Mereka berdua girang, begitu juga pemain-pemain lain yang ngerasa kalau pementasan mereka sukses berat. Belakang panggung itu rame, penuh sama anak-anak yang tertawa saling berpelukan dengan bangga.
Sayangnya, kalau Gladys udah berdua sama adiknya, gue seolah nggak ada. Kalaupun dia lihat gue ada, paling dia nyuruh gue untuk nunggu, sementara dia ngurus kepentingan adiknya itu. Sebenarnya sih nggak ada masalah, toh karena ortu mereka jauh. Dan dengar-dengar Starla kecewa banget karena mereka sibuk trus nggak bisa datang ke pensi-nya. Pantesan, gue terus-terusan ditagih –karena sekarang termasuk orang yang dekat sama mereka. Gue senang, paling nggak untuk bagian itu, gue masih dianggap. Tapi, lain halnya kalau sebenarnya gue nggak lebih dari sekedar pajangan.
Gue nggak sadar, entah sejak kapan tiba-tiba gue dideketin sekelompok cewek yang minta foto bareng.Mereka berkerumun dan gue mulai bingung. Tangan gue digandeng dan tiba-tiba diteplokin? Seolah-olah gue pemain utama yang berhasil bikin orang-orang terpukau. Gue memang digilai cewek, tapi nggak pernah sampai dipepet ramai-ramai gini sama anak SMA, sampai gue nggak bisa hitung lagi berapa orang yang berusaha untuk nemplokin gue! Tapi, yang nggak gue ngerti, sekitar gue menjadi pemandangan tanpa suara. Gue pandangin wajah-wajah anak SMA itu, mereka kelihatan nyata…sekaligus samar-samar.
Tiba-tiba lengan gue ditarik! Gue ditarik keluar dari kerumunan itu sama seseorang. Seorang cewek bergaun hijau dengan lingkaran bunga di atas kepalanya. Dia berlari tepat di depan gue dan gue ngikut. Lama-lama rasanya, seolah gue ngejar dia, ngikutin ke mana dia pergi. Melewati halaman sekolah, lorong-lorong yang sepi –dan gue mulai takut. Seketika langkah gue terhenti, sadar keganjilan yang gue kejar hanya halusinasi yang sering bikin gue kesasar.
Nggak ada kesunyian di sekitar gue –malahan lorong itu dipadati sama anak-anak yang mengurus keperluan pensi mereka. Mereka lalu lalang di sekitar gue dan entah kenapa beberapa saat lalu gue ngelihat kalau lorong itu sepi. Sosok yang gue kejar itu lagi-lagi menghilang dengan ninggalin banyak pertanyaan –selalu seperti itu. Dan entah kenapa, belakangan makin menjadi-jadi, terutama saat gue ada di sekolah ini. Gue semakin nggak ngerti, kenapa harus ada hubungannya sama tempat ini?, gue terus-terusan bertanya sambil noleh ke belakang gue –kira-kira penglihatan milik siapa yang gue lihat setiap kali gue ke sini?
Di ujung lorong –kelihatan sesuatu yang dipajang di dinding yang bisa kelihatan dari tempat gue berdiri. Gue menajamkan penglihatan gue untuk bisa melihatnya dengan jelas, menyingkirkan anak-anak yang menghalangi pandangan gue untuk tau persis –gambar siapa yang dibingkai dan kelihatan kontras pada dinding putih yang hanya ditempeli kata-kata mutiara itu. Gue menyusup di antara anak-anak yang melewati gue dengan hiruk pikuknya yang kembali gue abaikan –sekali lagi hanya buat cari tahu kenapa gue selalu ngerasa aneh dengan suasana tempat ini.Dan sekarang, lukisan itu.
Lukisan seorang laki-laki, kelihatan tidur dengan nyandarin kepalanya di sandaran kursi yang diduduki dengan posisi kebalik. Lukisan itu bikin gue terpana dengan heran.
“Hei!” suara itu bikin gue kaget setengah mati.
Gue lihat ke belakang, seorang wanita paruh baya kelihatan nggak senang menuju ke arah gue.
“Lukisan itu nggak boleh dipegang,” kata dia, beberapa langkah sebelum dia sampai di hadapan gue dan gue sendiri terkejut, kenapa gue menyentuh lukisan itu?
Rupanya dia cuma seorang guru yang kebetulan lewat yang lagi mengamankan koleksi ‘berharga’ sekolah seolah itu monument peringatan yang harus selalu dikenang dari tahun ke tahun. Yah, harus gue akui, lukisan itu bagus dan bisa ‘dibaca’ oleh orang awam.
“Kamu siapa?” tanya wanita itu, memandangi gue dari ujung kaki ke ujung kepala, seolah penampilan gue ini mirip preman yang bakal mengacau di acara hari ini.
“Saya… cuma kebetulan berkunjung,” jawab gue, agak ragu tapi guru itu masih aja mengernyit, seolah kehadiran gue mengganggu.
“Ini bukan lingkungan untuk umum. Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya dia, menginterogasi seolah curiga kalau gue bakal maling lukisan itu.
“Lukisannya bagus, dari jauh kelihatan… makanya saya mau lihat,” jawab gue asal-asalan sambil ngeles, dengan senyum yang mudah-mudahan bikin ibu-ibu ini berhenti memandang gue skeptis. Sumpah itu ngebetein banget, tapi nggak mungkin dong gue nyolot sama guru ini?
Si ibu ikut ngelihatin lukisan itu, lalu senyum. “Ya, lukisan ini pernah menang lomba,” kata dia, seolah mengenang sesuatu yang bikin dia senang. Sebuah kenangan yang kayaknya bikin dia teringat sama sesuatu atau mungkin seseorang.
Gue ngangguk, pura-pura ngerti, pura-pura dengerin seolah itu penting buat gue. Tapi, di sepanjang lorong, cuma sisi ini yang dipasangi dengan lukisan. Sepertinya lukisan ini spesial. Oh, gue melewatkan sesuatu –sebuah label terpasang tepat di bawah lukisan berikut penjelasannya. Lukisan yang diberi nama ‘Dewa’ itu dibuat oleh seorang siswa bernama Ellody dan di sudut lukisan ada tanggal yang menerangkan kapan lukisan itu dibuat, 26 Desember 2006. Lukisan ini dipajang sebagai kenangan-kenangan tentang seorang siswa yang pernah mengangkat nama sekolah dengan memenangkan lomba melukis.
“Pelukisnya alumni sini ya, Bu?” tanya gue.
Ibu itu mengangguk, lalu tersenyum. “Dia murid yang paling sering bikin saya marah,” kenangnya. “Dia bukan murid yang patuh sampai seisi sekolah pun mengakui itu. Tapi, dia pekerja keras dan nggak mudah menyerah,”
Yah, dari ceritanya dan ekspresi ibu itu menceritakan sang murid istimewa itu, gue tau kalau anak itu mungkin juga jadi murid kesayangannya.
“Sayang, dia meninggal dunia muda,” kata dia lagi, mendadak sedih.
Gue kaget. Meninggal?, lalu gue lihat lagi lukisan itu. Dan mendadak ngeri, jangan-jangan lukisan ini dihantui?! Tapi, siapa sosok yang dia lukis ini?
Tiba-tiba HP gue bunyi! Shit! Gladys pasti nyariin gue. Nggak lama dia datang nyamperin gue berdua sama Starla setelah dia nanya-nanya gue di mana –kayak orang cemas gitu. Entah perasaan gue aja, ngelihat dia mengatur nafas atau dia memang kesel banget sama gue.
“Kamu ke mana sih?” tanya dia agak gusar, sementara adiknya malah bertanya-tanya.
“Ada apa, Bu Mita?” tanya Starla ke gurunya itu.
Ibu itu tersenyum. “Nggak ada,” jawabnya. “Saya pergi dulu,” lalu dia ninggalin kita.
Nela merhatiin gue dan lukisan itu dengan wajah heran. “Kak Ferre ngapain di sini?” tanya dia.
“Nggak, cuma ngelihat-lihat doang,” jawab gue, berusaha tenang sementara gue perhatiin wajah Gladys udah bete banget. Mungkin karena repot nyariin gue, tapi sekarang gue bisa bilang apa?
“Ih, Kak, kalau di sini jangan suka sendiri-sendiri,” kata Nela, dengan ekspresi ngeri yang nakut-nakutin. Lalu ngelirik lukisan di belakang gue. “Lukisan itu serem tau?”
Gue mengernyit. “Apa karena pelukisnya udah meninggal?” jawab gue, lalu ketawa.
Nela mengangguk lugu. “Ih, serem deh pokoknya!” kata dia, lalu menarik Gladys. “Yuk!”
***
Komentar
0 comments