[Hal.36] [Ch.7] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Dan memang saat kuis, dia nggak datang. Gue lihat di bukunya, tertulis nama ‘Adjani’ –nama yang jadul. Gue nggak pernah ketemu sama cewek itu sebelumnya entah karena dia baru atau gue yang jarang masuk. Tapi, gue nggak perlu musingin itu sekarang. Kalau bukunya bisa gue pakai, ya ngapain juga harus nyalin catatannya? Gue mendadak senang, sebelum beresin buku-buku gue di atas meja terus meluncur ke parkiran. Karena jam empat, jamnya Gladys selesai ngantor.

Inilah yang selalu gue tunggu-tunggu setiap hari. Ketemu dan secara mendadak bikin mood gue jadi bagus. Dan selalu, ketika dia baru naik mobil gue, dia bakal manggil gue ‘Sayang’ sambil nyium pipi gue. Sesekali gue sengaja meleng, supaya kena bibir dan dia langsung ngedorong gue sambil ketawa malu-malu. Lama-lama jadi kebiasaan, setiap ketemu dia selalu memperlakukan gue dengan mesra, persis seperti yang gue inginkan.

Tapi, sayang, dia selalu menghindar kalau gue udah gawat darurat. Dan gue nggak pernah tau alasannya. Padahal, kalau kembali ke malam waktu dia mabuk dia kayaknya nggak keberatan –di mobil lagi. Yah, mungkin karena dia teler alias nggak sadar. Coba kalau dia sadar, mana tau gue ditendang.

Untuk sesaat gue mulai nggak peduli. Toh, hubungan ini bukan cuma buat begituan doang. Itu bukan standar yang harus gue penuhin untuk bahagia dalam hubungan ini. Meskipun nggak bisa tiap hari ketemu karena Gladys sibuk kuliah sambil kerja, gue senang setiap dia mau ngelakuin sesuatu dia selalu bilang ke gue dan sebaliknya. Sejauh ini, gue masih ngerasa nyaman…

***

“Lo nginap di mana semalam?” Tora udah suuzon duluan waktu gue nyamperin mereka dengan wajah sumringah.

Apa aneh gitu gue kelihatan senang? Mendadak gue langsung bete. “Sialan lo!” celetuk gue sambil ninju pangkal lengan dia. “Lo pada ngapain lagi sih? Arisan kemarin belom kelar juga?”

Bagas geleng-geleng kepala merhatiin gue daritadi. “Dari jauh lo udah berbunga-bunga gitu,”  komentarnya. “Ada apa sih semalam?”

“Ah, mau tau aja lo!” celetuk gue, sok misterius sambil melirik jam tangan gue –udah jam sembilan. Gue langsung berbalik. “Udah ah! Gue masuk dulu. Ngikutin kalian gue bisa jadi mahasiswa abadi, tau,”

“Ya elah!” Dannya cengengesan. “Bukannya itu cita-cita lo? Supaya lo bisa ngumpulin cewek-cewek dari yang paling yunior sampai senior,”

Gue cuma balas nyengir. “Lo bisa nggak sih berhenti mendiskreditkan gue?” cetus gue, rada sebal tapi yah, mereka cuma nggak tau aja dan…tetap harus dikasih tau. “Cewek gue cuma satu, kali,”

Ketiganya malah ketawa barengan, seolah gue barusan ngibul. “Yakin lo?” Tora paling kelihatan nggak percaya. Tapi, sebelum gue gila ngeladenin mereka, gue lebih baik ngacir. Dengerin mereka juga nggak ada gunanya!

Kelas gue harusnya udah dimulai dari lima menit yang lalu. Ini yang bikin gue malas kadang-kadang, dosennya sering telat. Tapi, kalau mahasiswa yang telat nggak boleh masuk lagi. Gue baru selesai balas SMS-nya Gladys dengan bilang kalau hari ini gue masuk kuliah sampai jam tiga nanti. Yah, walaupun sebenarnya kehadiran gue di sini cuma buat ngisi waktu karena nggak mungkin gue nungguin Gladys sampai dia selesai kayak kemarin-kemarin.

‘OKE, SAYANG. BELAJAR YANG RAJIN YA…’, itu isi SMS-nya Gladys yang gue terima barusan. Bikin gue girang nggak karuan, gue dipanggil ‘Sayang’?

Tiba-tiba gue dengar seseorang cekikikan di sebelah gue. Cewek yang tampangnya berantakan dan pakai kaca mata, dia ngelirik gue sambil nahan tawa. “Di SMS sama pacar ya?” goda dia.

“Apaan sih?!” gue kesal dan langsung nyimpan HP gue di kantong. Sumpah, gue nggak kenal sama cewek ini! yang bikin gue kesal tuh, dia seenaknya baca SMS gue! Melanggar privasi. Yang ada tuh, gue lumayan malu. Pertama dia baca SMS gue dan dia pasti lihat saat gue senyum-senyum sendiri sambil ninju ke udara. Hadeh!

Dia masih senyum-senyum lucu ke gue saat dosen kita datang dan gue baru sadar ternyata kelas hari ini penuh, makanya bisa ada seseorang yang duduk di sebelah gue. Dan selama dua jam itu gue sama sekali nggak betah duduk di sebelah cewek asing yang baru pertama kali gue lihat. Belum lagi mata kuliahnya bikin gue ngantuk, sumpah! Gue kesel banget, baru aja melayang ada aja orang yang matahin sayap gue sampai gue kembali ke darat. Parahnya, itu cewek jelek yang kunciran rambutnya aja nggak rapi dan ke kampus pakai kemeja yang kebesaran. Nggak banget! Gue nggak ngerti masih ada aja ya cewek model begini jaman sekarang?

“Besok ada kuis. Siapkan diri kalian, dan saya nggak ingin kalian melewatkan apapun, oke?” dosen wanita itu berseru di depan begitu jamnya habis.

Gue baru ngangkat kepala karena sempat ketiduran. Untung ada banyak kepala yang ngalangin penglihatannya Bu Ranti, kalau dia sempat lihat gue udah pasti kepala gue benjol dilempar spidol. Tapi, saat kesadaran gue udah benar-benar kembali seutuhnya, satu kelas hampir semuanya bubar dan gue sadar di buku catatan gue nggak ada apa-apa selain coretan nggak jelas yang gue bikin sebelum ketiduran.

Seingat gue, Bu Ranti bilang ada kuis. Mati gue!

Cewek di sebelah gue, kelihatan mau pergi. Setelah dia masih sempat ngelirik sambil ngetawain gue.

“Eh, tunggu!” panggil gue, sebelum dia pergi.

“Gue pinjem catatan lo dong!” kata gue.

Dia sempat mengernyit, mandangin gue heran, seakan protes.

“Kamu nggak bisa ngomong yang lebih sopan ya?” balas dia.

Kan udah jelas-jelas gue minta pinjem catatan? Ini cewek kelewat pintar atau bego sih? Kaca mata sama model rambutnya aja udah nggak meyakinkan.

Cewek itu mengeluarkan catatannya, lalu ngasih benda itu sambil senyum ke gue. Sehingga gue jadi heran, kenapa dia jadi mau ngasih bukunya?. “Nih,”  kata dia, dengan nada lunak. “Besok aja kamu balikin,”

“Besok ada kuis,”  kata gue, kalau gue bawa bukunya dia nggak bisa belajar dong. Gue nggak mau pengorbanan dari siapapun, apalagi dari seorang cewek yang nggak gue kenal dan dua jam sebelum ini malah melanggar privasi gue sampai ngetawain gue segala.

“Saya nggak tau saya bakal masuk atau nggak besok,”  kata dia berlalu, dengan acuh.

Cewek aneh, gue geleng-geleng kepala saat merhatiin dia ninggalin kelas.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments