[Hal.35] [Ch.7] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 7 - Coppelia

Ferre

“Lama ya?” Gladys bertanya begitu ia masuk dan gue segera ngidupin mesin.

“Nggak, baru satu setengah jam,”  jawab gue, tetap tersenyum walaupun sebenarnya gue merana ditambah deg-degan. Gue terus-terusan mikir tentang apa yang bakal gue jawab kalau Gladys nanyain soal malam itu. Apa gue bakal bilang nggak sengaja karena juga mabuk? Tapi, dia juga pasti bertanya-tanya, kalau gue juga beneran mabuk, udah pasti kita nggak pulang ke rumah masing-masing dan sama-sama bangun di kamar hotel dalam keadaan telanjang.

“Sorry ya, Ras…,” ucap dia, dengan wajah yang cukup menyesal, mandangin gue yang mati-matian berusaha tenang. “Lo udah makan belum?”

Gue menggeleng, dari kampus tadi gue emang belum makan apa-apa. Tapi, ngelihat dia bikin gue jadi kenyang. Ditambah lagi, hari ini Gladys pakai rok lagi. Saat dia duduk di samping gue, rok spannya itu agak naik dan kedua kakinya disilang –guebisa lihat sedikit apa yang semalam tersembunyi di balik celana jeans-nya. Memori itu kembali lagi dan untung dia lagi nelepon saat gue melirik ke samping.

“Mau ke sekolahannya Nela?” tanya gue, begitu dia selesai ngomong di telpon sama adiknya itu.

Dia menggeleng. “Mau pulang sebentar, ganti baju,”  jawab dia. “Gerah gue pakai ginian seharian,”

“Nggak apa-apa lagi,”  komentar gue supaya dia tuh ngerasa tetap cantik pakai baju apapun. “Oh ya, terus Nela?”

“Dia pergi sama temannya,”  jelas Gladys.

Gue nggak bertanya lagi dan fokus ke jalan menuju rumahnya.Gue nggak tahu apa yang bikin pikiran gue blank sejak pagi. Bangun tidur, gue dibangunin Bi Irah dan semua udah pada pergi. Di meja makan, cuma ada gue yang berusaha untuk nikmatin apa yang ada walaupun perasaan gue sama sekali nggak enak. Sebenarnya hari ini gue badmood, sumpah, di kampus gue sampai jutekin temen-temen gue yang kepo banget soal gue sama Gladys.

Mobil berhenti, Gladys langsung keluar. “Turun yuk,”  ajak dia dan gue ragu-ragu untuk ikut turun masuk ke rumahnya. Sebenarnya gue lebih memilih untuk nunggu di mobil kalau memang kita masih punya tujuan lain dan dia cuma ganti baju.

Tapi, gue tetap turun, ngikutin dia masuk ke rumahnya. Dan di depan pintu gue baru ingat, kalau di rumah ini dia tinggal sama adeknya sementara ortunya di Bandung. Dengan lemas, gue menyandarkan badan gue yang kecapean di atas sofanya yang empuk dan kebetulan lihat remot di atas meja. Langsung gue sambar dan TV-nya pun nyala. Gue mulai sibuk nyari siaran sedangkan Gladys baru keluar dari kamarnya dengan setelan jeans dan kaos. Dia nggak langsung nyamperin gue, tapi singgah dulu ke dapur ngambilin gue minum.

“Thanks…,” ucap gue ngambil kaleng soda itu dari tangannya.

Gladys udah duduk di samping gue dan gue sadar dia perhatiin gue sejak dia ngasih gue minum, sampai gue buka tutup kaleng minuman itu dan neguk sodanya sedikit. Tenggorokan gue seperti terbakar beberapa saat setelah minuman dingin itu lewat. “Kayaknya suntuk banget hari ini,”  dia bertanya dan gue nggak meragukan kalau dia memang perhatian banget sama gue. Inilah yang gue butuhin dari seorang cewek. “Dimarahin dosen?”

Gue ketawa lucu, mana pernah sejarahnya gue galau gara-gara dosen? Gue kuliah juga bayar kali, pikir gue sambil naruh soda kalengan itu di atas meja. “Nggak, gue nggak kenapa-napa,”  jawab gue, berusaha menghilangkan efek badmood yang gue bawa sejak pagi dan jadi tambah parah di kampus. Harusnya gue senang, gue bisa berduaan sama cewek yang gue suka. “Habis ini kita ke mana?”

Gladys terkekeh. “Yang jelas jangan ke tempat kemarin,”  jawab dia. “Gue bosen….”

Gue mengangguk mengerti. “Terus?” tanya gue, menatap wajahnya serius, dan gue ingin lama-lama kayak gini.

“Lo kan playboy, masa lo nggak tau ngajakin cewek ke mana?” balas dia, sedikit menjauh dari gue sambil ngakak.

Gue ikutan ketawa. Playboy? Ya ampun, ternyata dia juga tahu dan itu bikin gue rada malu. Ternyata imej jelek itu memang susah hilangnya. “Ntar lo nggak suka lagi,”  kata gue, sok keren.

“Kenapa?” tanya dia, kelihatan penasaran. “Emang lo biasa ngajakin cewek ke mana?”

“Lo nggak berharap itu mall atau restoran tempat nongkrong kan?” balas gue, sedikit mainin keingintahuan dia.

Gladys ketawa makin keras. “Gue tau maksud lo apa,”  kata dia dan gue nggak lebih dari sekedar mandangin karena gue suka saat dia ketawa. “Jadi lo punya cewek buat gituan doang?”

“Emang salah?” balas gue. “Nggak mungkin dong gue juga nikahin. Kalau kayak gitu mungkin gue udah punya istri sepuluh,”

Herannya, Gladys malah ketawa menjadi-jadi, sambil nepok-nepok bahu gue. “Gue salut sama lo…,” dia berkomentar.

“Tapi, itu sih dulu,”  kata gue, berusaha tenang, meyakinkan dia kalau gue nggak nganggap dia tuh sama kayak cewek-cewek sebelum dia dan gue nggak akan menjadikan Gladys sama seperti mereka –nggak akan pernah. “Gue udah nggak gitu lagi sekarang,”

“Lo mau ngerayu gue?” tanya dia.

“Emang gue barusan ngerayu?” balas gue, lalu ketawa lagi dan dia ikutan ketawa. “Lo sendiri yang bilang gue playboy, terus gue harus nyangkal supaya lo  mau sama gue? Nggak kan?”

Ketawa Gladys mulai pelan, begitu berhenti, akhirnya dia mandangin gue dengan cara yang serius lagi dan gue pun berhenti bilang omong kosong yang sebenarnya cuma punya satu tujuan. Bikin dia percaya sama gue, kalau gue bukan seorang playboy –dulu sih iya (harus gue akui). Gue meraih soda kalengan gue dan minum karena tenggorokan gue mendadak kering.

“Gue…sama sekali nggak punya pembelaan kalau lo sempat mikir negatif sama gue, yang udah kejadian nggak bisa diubah lagi,”  kata gue, sekarang udah benar-benar tenang dan Gladys kelihatan menyimak dengan seksama kata-kata gue yang penting. Gue hanya ingin mengatakannya dengan cara yang mudah plus dalam keadaan Gladys yang sadar sesadar-sadarnya. “Tapi, sekarang atau besok masih bisa gue perbaikin kan?”

“Terus kenapa gue? Kenapa nggak cewek lain yang mungkin ada waktu tiap hari sama lo dan bukannya cewek yang bikin lo nunggu seharian cuma buat ketemu sebentar?” tanya dia.

Gue angkat bahu, pelan, dan berusaha buat mikirin jawabannya. Gue nggak tau, yang jelas tau-tau perasaan gue udah terpaut sama senyumannya itu dan gue nggak pernah bisa lupa saat pertama kali ngelihatnya. Sejak malam itu, gue selalu mikirin gimana cara dapatin dia dengan cara yang wajar. Karena gue berharap, seseorang bisa mengalihkan perhatian gue dari bayang-bayang perempuan asing yang selalu muncul seolah dia memiliki masa lalu gue yang kelam, seolah dia bakalan menarik gue kembali ke saat-saat itu. Dan setiap gue bangun tidur, gue kadang merasa takut akan sesuatu yang nggak gue tau persis –gue nggak ingin seperti itu lagi.

Saat ini, gue berharap sama cewek ini untuk bisa mendampingi gue. Karena gue jatuh cinta. Gue bener-bener jatuh cinta sama Gladys dan gue nggak ingin kehilangan dia bahkan sebelum gue berhasil mendapatkan cintanya.

“Fer?” tegur Gladys dan dia menyentuh wajah gue yang tertunduk murung.

Rasanya ingin gue ungkapin semua perasaan gue, tapi…gue ragu. Apa kalau gue cerita masa lalu gue dia bakal ngerti?

Tapi, mungkin belum saatnya. Gue tersenyum, berusaha untuk terlihat tenang sekalipun kedua tangan gue ingin banget memeluk dia sebagai tanda gue memiliki hatinya. Dia lagi-lagi menatap gue seolah membalas perasaan gue, kadang gue khawatir, apa ini nyata? Lebih-lebih saat dia mendekat dan meluk gue erat, itu pertama kalinya gue bernafas lega sejak dua tahun ini.

“Lo mau nggak dengerin gue?” tanya Gladys begitu dia lepasin kedua tangannya dari bahu gue, dan dia bicara dengan suara yang pelan banget, sampai-sampai gue harus deketin telinga gue ke bibirnya. “Gimana pun juga, lo harus ngelakuin yang terbaik buat diri lo sendiri….”

Gue ngangguk dengan patuh.

“Nggak ada hidup yang nggak ada masalah, Ras…,” sambung dia. “Tapi, yang jelas, apapun itu lo nggak boleh terjebak di dalamnya,”

“Iya,”  kata gue. “Gue tau kok,”

Dia memeluk gue lagi. “Lo harus janji sama gue, rajin kuliah, nggak boleh main-main lagi,”  katanya, sambil ngusap-ngusap kepala gue, rasanya enak banget. “Biar cepat selesai, ya?”

“Iya…,” jawab gue, mendekap dia semakin erat. “Makasih udah mau perhatiin gue….”

Gladys ketawa lagi. “Ya iyalah…,” katanya. “Gue kan cewek lo.”

Gue seketika ngelepasin dia dari pelukan gue, mastiin kalau barusan dia bilang sesuatu yang daritadi gue tunggu-tunggu. Tapi, dia malah ketawa-ketawa aja saat gue berusaha serius. Sampai akhirnya gue tertawa sendiri dan meluk dia lagi, kali ini sebagai cowoknya.Nggak pernah gue ngerasa sebahagia ini sebelumnya, dan mulai detik ini pun gue janji nggak akan lagi menyia-nyiakan  apa yang gue punya. Terlebih, punya cewek secantik dan sebaik ini, adalah anugrah yang hanya bisa didapat kalau kita bener-bener berusaha dengan penantian yang panjang.

Hari ini adalah hari terindah sepanjang hidup gue! Begitu juga dengan hari-hari selanjutnya yang  bakal gue jalanin sama Gladys.

Pergi ke kampus nggak pernah rasanya sesenang ini. Entah gue sadar atau nggak sejak bangun pagi, sarapan, naik mobil ke kampus, gue senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Ketiga teman gue jadi makin kepo dan mereka mulai deh ngetawain gue.

***“Lama ya?” Gladys bertanya begitu ia masuk dan gue segera ngidupin mesin.

“Nggak, baru satu setengah jam,”  jawab gue, tetap tersenyum walaupun sebenarnya gue merana ditambah deg-degan. Gue terus-terusan mikir tentang apa yang bakal gue jawab kalau Gladys nanyain soal malam itu. Apa gue bakal bilang nggak sengaja karena juga mabuk? Tapi, dia juga pasti bertanya-tanya, kalau gue juga beneran mabuk, udah pasti kita nggak pulang ke rumah masing-masing dan sama-sama bangun di kamar hotel dalam keadaan telanjang.

“Sorry ya, Ras…,” ucap dia, dengan wajah yang cukup menyesal, mandangin gue yang mati-matian berusaha tenang. “Lo udah makan belum?”

Gue menggeleng, dari kampus tadi gue emang belum makan apa-apa. Tapi, ngelihat dia bikin gue jadi kenyang. Ditambah lagi, hari ini Gladys pakai rok lagi. Saat dia duduk di samping gue, rok spannya itu agak naik dan kedua kakinya disilang –guebisa lihat sedikit apa yang semalam tersembunyi di balik celana jeans-nya. Memori itu kembali lagi dan untung dia lagi nelepon saat gue melirik ke samping.

“Mau ke sekolahannya Nela?” tanya gue, begitu dia selesai ngomong di telpon sama adiknya itu.

Dia menggeleng. “Mau pulang sebentar, ganti baju,”  jawab dia. “Gerah gue pakai ginian seharian,”

“Nggak apa-apa lagi,”  komentar gue supaya dia tuh ngerasa tetap cantik pakai baju apapun. “Oh ya, terus Nela?”

“Dia pergi sama temannya,”  jelas Gladys.

Gue nggak bertanya lagi dan fokus ke jalan menuju rumahnya.Gue nggak tahu apa yang bikin pikiran gue blank sejak pagi. Bangun tidur, gue dibangunin Bi Irah dan semua udah pada pergi. Di meja makan, cuma ada gue yang berusaha untuk nikmatin apa yang ada walaupun perasaan gue sama sekali nggak enak. Sebenarnya hari ini gue badmood, sumpah, di kampus gue sampai jutekin temen-temen gue yang kepo banget soal gue sama Gladys.

Mobil berhenti, Gladys langsung keluar. “Turun yuk,”  ajak dia dan gue ragu-ragu untuk ikut turun masuk ke rumahnya. Sebenarnya gue lebih memilih untuk nunggu di mobil kalau memang kita masih punya tujuan lain dan dia cuma ganti baju.

Tapi, gue tetap turun, ngikutin dia masuk ke rumahnya. Dan di depan pintu gue baru ingat, kalau di rumah ini dia tinggal sama adeknya sementara ortunya di Bandung. Dengan lemas, gue menyandarkan badan gue yang kecapean di atas sofanya yang empuk dan kebetulan lihat remot di atas meja. Langsung gue sambar dan TV-nya pun nyala. Gue mulai sibuk nyari siaran sedangkan Gladys baru keluar dari kamarnya dengan setelan jeans dan kaos. Dia nggak langsung nyamperin gue, tapi singgah dulu ke dapur ngambilin gue minum.

“Thanks…,” ucap gue ngambil kaleng soda itu dari tangannya.

Gladys udah duduk di samping gue dan gue sadar dia perhatiin gue sejak dia ngasih gue minum, sampai gue buka tutup kaleng minuman itu dan neguk sodanya sedikit. Tenggorokan gue seperti terbakar beberapa saat setelah minuman dingin itu lewat. “Kayaknya suntuk banget hari ini,”  dia bertanya dan gue nggak meragukan kalau dia memang perhatian banget sama gue. Inilah yang gue butuhin dari seorang cewek. “Dimarahin dosen?”

Gue ketawa lucu, mana pernah sejarahnya gue galau gara-gara dosen? Gue kuliah juga bayar kali, pikir gue sambil naruh soda kalengan itu di atas meja. “Nggak, gue nggak kenapa-napa,”  jawab gue, berusaha menghilangkan efek badmood yang gue bawa sejak pagi dan jadi tambah parah di kampus. Harusnya gue senang, gue bisa berduaan sama cewek yang gue suka. “Habis ini kita ke mana?”

Gladys terkekeh. “Yang jelas jangan ke tempat kemarin,”  jawab dia. “Gue bosen….”

Gue mengangguk mengerti. “Terus?” tanya gue, menatap wajahnya serius, dan gue ingin lama-lama kayak gini.

“Lo kan playboy, masa lo nggak tau ngajakin cewek ke mana?” balas dia, sedikit menjauh dari gue sambil ngakak.

Gue ikutan ketawa. Playboy? Ya ampun, ternyata dia juga tahu dan itu bikin gue rada malu. Ternyata imej jelek itu memang susah hilangnya. “Ntar lo nggak suka lagi,”  kata gue, sok keren.

“Kenapa?” tanya dia, kelihatan penasaran. “Emang lo biasa ngajakin cewek ke mana?”

“Lo nggak berharap itu mall atau restoran tempat nongkrong kan?” balas gue, sedikit mainin keingintahuan dia.

Gladys ketawa makin keras. “Gue tau maksud lo apa,”  kata dia dan gue nggak lebih dari sekedar mandangin karena gue suka saat dia ketawa. “Jadi lo punya cewek buat gituan doang?”

“Emang salah?” balas gue. “Nggak mungkin dong gue juga nikahin. Kalau kayak gitu mungkin gue udah punya istri sepuluh,”

Herannya, Gladys malah ketawa menjadi-jadi, sambil nepok-nepok bahu gue. “Gue salut sama lo…,” dia berkomentar.

“Tapi, itu sih dulu,”  kata gue, berusaha tenang, meyakinkan dia kalau gue nggak nganggap dia tuh sama kayak cewek-cewek sebelum dia dan gue nggak akan menjadikan Gladys sama seperti mereka –nggak akan pernah. “Gue udah nggak gitu lagi sekarang,”

“Lo mau ngerayu gue?” tanya dia.

“Emang gue barusan ngerayu?” balas gue, lalu ketawa lagi dan dia ikutan ketawa. “Lo sendiri yang bilang gue playboy, terus gue harus nyangkal supaya lo  mau sama gue? Nggak kan?”

Ketawa Gladys mulai pelan, begitu berhenti, akhirnya dia mandangin gue dengan cara yang serius lagi dan gue pun berhenti bilang omong kosong yang sebenarnya cuma punya satu tujuan. Bikin dia percaya sama gue, kalau gue bukan seorang playboy –dulu sih iya (harus gue akui). Gue meraih soda kalengan gue dan minum karena tenggorokan gue mendadak kering.

“Gue…sama sekali nggak punya pembelaan kalau lo sempat mikir negatif sama gue, yang udah kejadian nggak bisa diubah lagi,”  kata gue, sekarang udah benar-benar tenang dan Gladys kelihatan menyimak dengan seksama kata-kata gue yang penting. Gue hanya ingin mengatakannya dengan cara yang mudah plus dalam keadaan Gladys yang sadar sesadar-sadarnya. “Tapi, sekarang atau besok masih bisa gue perbaikin kan?”

“Terus kenapa gue? Kenapa nggak cewek lain yang mungkin ada waktu tiap hari sama lo dan bukannya cewek yang bikin lo nunggu seharian cuma buat ketemu sebentar?” tanya dia.

Gue angkat bahu, pelan, dan berusaha buat mikirin jawabannya. Gue nggak tau, yang jelas tau-tau perasaan gue udah terpaut sama senyumannya itu dan gue nggak pernah bisa lupa saat pertama kali ngelihatnya. Sejak malam itu, gue selalu mikirin gimana cara dapatin dia dengan cara yang wajar. Karena gue berharap, seseorang bisa mengalihkan perhatian gue dari bayang-bayang perempuan asing yang selalu muncul seolah dia memiliki masa lalu gue yang kelam, seolah dia bakalan menarik gue kembali ke saat-saat itu. Dan setiap gue bangun tidur, gue kadang merasa takut akan sesuatu yang nggak gue tau persis –gue nggak ingin seperti itu lagi.

Saat ini, gue berharap sama cewek ini untuk bisa mendampingi gue. Karena gue jatuh cinta. Gue bener-bener jatuh cinta sama Gladys dan gue nggak ingin kehilangan dia bahkan sebelum gue berhasil mendapatkan cintanya.

“Fer?” tegur Gladys dan dia menyentuh wajah gue yang tertunduk murung.

Rasanya ingin gue ungkapin semua perasaan gue, tapi…gue ragu. Apa kalau gue cerita masa lalu gue dia bakal ngerti?

Tapi, mungkin belum saatnya. Gue tersenyum, berusaha untuk terlihat tenang sekalipun kedua tangan gue ingin banget memeluk dia sebagai tanda gue memiliki hatinya. Dia lagi-lagi menatap gue seolah membalas perasaan gue, kadang gue khawatir, apa ini nyata? Lebih-lebih saat dia mendekat dan meluk gue erat, itu pertama kalinya gue bernafas lega sejak dua tahun ini.

“Lo mau nggak dengerin gue?” tanya Gladys begitu dia lepasin kedua tangannya dari bahu gue, dan dia bicara dengan suara yang pelan banget, sampai-sampai gue harus deketin telinga gue ke bibirnya. “Gimana pun juga, lo harus ngelakuin yang terbaik buat diri lo sendiri….”

Gue ngangguk dengan patuh.

“Nggak ada hidup yang nggak ada masalah, Ras…,” sambung dia. “Tapi, yang jelas, apapun itu lo nggak boleh terjebak di dalamnya,”

“Iya,”  kata gue. “Gue tau kok,”

Dia memeluk gue lagi. “Lo harus janji sama gue, rajin kuliah, nggak boleh main-main lagi,”  katanya, sambil ngusap-ngusap kepala gue, rasanya enak banget. “Biar cepat selesai, ya?”

“Iya…,” jawab gue, mendekap dia semakin erat. “Makasih udah mau perhatiin gue….”

Gladys ketawa lagi. “Ya iyalah…,” katanya. “Gue kan cewek lo.”

Gue seketika ngelepasin dia dari pelukan gue, mastiin kalau barusan dia bilang sesuatu yang daritadi gue tunggu-tunggu. Tapi, dia malah ketawa-ketawa aja saat gue berusaha serius. Sampai akhirnya gue tertawa sendiri dan meluk dia lagi, kali ini sebagai cowoknya.Nggak pernah gue ngerasa sebahagia ini sebelumnya, dan mulai detik ini pun gue janji nggak akan lagi menyia-nyiakan  apa yang gue punya. Terlebih, punya cewek secantik dan sebaik ini, adalah anugrah yang hanya bisa didapat kalau kita bener-bener berusaha dengan penantian yang panjang.

Hari ini adalah hari terindah sepanjang hidup gue! Begitu juga dengan hari-hari selanjutnya yang  bakal gue jalanin sama Gladys.

Pergi ke kampus nggak pernah rasanya sesenang ini. Entah gue sadar atau nggak sejak bangun pagi, sarapan, naik mobil ke kampus, gue senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Ketiga teman gue jadi makin kepo dan mereka mulai deh ngetawain gue.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments