๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Tapi, dia malah ketawa. “Ternyata gitu ya rasanya naik bus?”
Aku mendengus, tuh benar kan? Aku ragu, jangan-jangan nginjak tanah juga nggak pernah?
“Kamu mau nyoba lagi?” tanyaku.
Dia langsung menggeleng. “Nggak!” jawabnya. “Bau banget….”
“Kalau gitu kamu nggak bisa jadi manusia,” kataku memutuskan sambil mendahului sementara yang lainnya udah duluan jalan di depan.
“Ellody!” panggil dia, sambil menyusul dan aku mempercepat langkahku, supaya dia berlari.
“Andin, tungguin!” seruku karena mereka benar-benar sengaja berlari untuk mempermainkanku. Aku menoleh ke belakang sekali, dan Rexi sekarang sudah jadi ‘setengah dewa lagi’.
Dia berlari mengejar kami, seperti bayangan mengejar matahari.
Aku nggak pernah tau ada sebuah tempat sewa kostum yang menyediakan banyak koleksi –lokal dan internasional, dari Roro Jongrang sampai Harry Potter. Seperti sebuah butik baju, ada barisan gantungan yang berjejer ke belakang. Teman-temanku menyebar, mencari apa yang ingin mereka temukan. Ya, aku ingat, aku juga harus memilih kostum sendiri walaupun cuma jadi pengiring. Diana dan Rexi mulai berdiskusi di satu sudut –mereka kelihatan kompak. Sedangkan aku, Andin dan Genta, coba-coba mencari kostum sekedar untuk membuat kita saling menertawai, seperti sebuah permainan.
Andin memakai sayap Tinkerbell dan mulai bergaya di depan cermin, sedangkan Genta di sampingnya bergaya ala Cowboy. Aku berusaha mencari kostumku sendiri tapi yang aku temukan hanya bandana bunga, harusnya di sini juga punya kostum Nirmala, walaupun jaman sekarang tokoh kartun lokal itu nggak seterkenal Shin-chan atau Nobita. Aku mulai mencari lagi, kali ini lebih serius. Aku ingin kelihatan beda dari pemain-pemain lain walaupun hanya seorang pemeran pembantu. Tapi, menemukan kostum yang cocok gampang-gampang susah, karena pilihannya terlalu banyak aku jadi bingung. Padahal rencananya aku mau bikin sendiri. Tapi,…
“Hei!” seseorang menegurku, sampai jantungku nyaris copot.
Aku mencak-mencak dengan kesal. “Uuh, Rexi!” jeritku, pada Rexi yang tahu-tahu ada di belakangku. “Kaget tau?!”
Dia tertawa. Sekarang, dia tertawa. Padahal, sejam yang lalu dia seolah nggak mau bicara denganku lagi.
“Kamu cari kostum apa?” tanya dia, berhenti tertawa sementara aku kembali memilah baju-baju yang digantung dalam plastik di depanku.
“Aku nggak tau,” jawabku, mulai melangkah, pindah ke sisi yang lain. “Kamu gimana? Udah ketemu yang cocok?”
“Sebenarnya saya udah punya,” jawab dia. “Di rumah,”
“Oh ya?” aku lumayan terkejut, ternyata dia serius juga mau main drama. “Dijahit sendiri?”
Rexi menggeleng, sambil mengikuti langkahku. “Bukan saya yang jahit. Tapi, idenya dari Kak Audrey,” jelas dia.
“Kak Audrey?” aku mengernyit, ini pertama kalinya Rexi menyebutkan nama orang lain yang nggak kukenal.
“Saya punya kakak perempuan,” jelas dia lagi dan aku mengangguk-angguk.
“Aku juga mau bikin sendiri sih. Tapi, belum dapat ide modelnya kayak apa…,” kataku, mulai berpikir tentang design baju untuk drama itu. Sebagian besar memilih gaun terusan seperti jaman dahulu yang ujungnya berenda dengan warna vintage. “Selera fashion-ku payah. Kamu lihat sendiri, aku nggak pernah pakai baju bagus,”
Rexi tertawa pelan. “Saya bisa minta tolong sama Kak Audrey buat bantuin kamu,” kata dia tiba-tiba dan aku seketika berbalik ke arahnya, nggak percaya. Barusan dia menawarkan bantuan?
Aku tersenyum. “Apa?” tanyaku sekali lagi, masih nggak percaya. “Minta tolong sama kakak kamu?”
Rexi mengangguk dengan yakin. “Dia pasti mau banget,” Rexi meyakinkanku.
“Aku nggak enak,” kataku, bingung tapi senang. “Kakak kamu memang suka jahit?”
Rexi sekarang tertawa. “Ya bukan tukang jahitlah! Cita-citanya Kak Audrey jadi fashion designer tapi nggak kesampaian,” jelasnya. “Gimana?”
Aku mengangguk. Sayang juga kalau bantuannya ditolak. Ini nih yang namanya sambil menyelam minum air. “Terus kapan kita bisa ketemu kakak kamu?” tanyaku, dengan senang hati.
“Mungkin besok,” jawab dia, tersenyum.
Aku balas tersenyum, dan jadi malu sendiri. “Makasih ya...,” ucapku tertunduk ragu-ragu untuk selanjutnya bingung. Seketika kata-kata dia Jumat lalu tiba-tiba bergema di kepalaku. Aku jadi khawatir, kalau aku mengangkat kepalaku dan melihat ke wajahnya, apa nggak akan ketahuan kalau sekarang aku deg-degan berdiri di depannya? Wajahku sudah pasti merah kayak kepanasan.
Rexi juga nggak mengatakan sesuatu, ia masih berdiri di sana dalam jarak kurang dari 50 cm dariku. Ini bukan pertama kali ada di dekatnya, tapi perbedaannya dari saat kita masih di latihan drama adalah aku nggak pernah tahu apa yang dia rasakan (padaku). Kepalaku baru terangkat dengan pelan saat dia meraih tanganku dan aku benar-benar malu! Nggak tahan lagi, aku pun berlari pergi untuk menghindar –hanya agar dia nggak melihat wajahku.
“Ellody?” Rexi mungkin kaget. Terlihat dia salah tingkah ketika aku sudah ada di ujung rak bajulalu malah tertawa. Tiba-tiba dia kesal dan mengejar. “Mau ke mana kamu?”
Aku hanya tertawa, sambil berlari. Menyelip di antara baju-baju itu agar ia nggak menemukanku. Dengan serius ia mengikuti jejak gerak yang aku tinggalkan pada kostum yang bergoyang-goyang.Tawaku mungkin tersimpan pada helaian-helaian yang aku lewati dan menggiring Rexi untuk menemukanku di jalan buntu. Nggak ada celah yang panjang untuk sembunyi, di ujung lantai, terlihat sebuah cermin yang memantulkan Rexi mendekat. Semakin ia mendekat, sekarang aku tau kalau tinggi tubuhku yang kurus nggak lebih dari bahunya dan ternyata Rexi punya dada yang bidang.
Dia menatapku sementara kedua tangannya menyentuh sesuatu yang ada di kepalaku untuk membetulkannya –lingkaran bunga Nirmala di kepalaku. “Cantik…,” dia berbisik padaku, dari dekat. Dan aku berusaha untuk nggak gentar saat memandang wajahnya, matanya dan rautnya.
“Rexi…,” suaraku gemetaran dan detak jantungku menjadi keras, seakan berontak padaku. Sentuhan tangannya di pipiku, membuatku terpana. Dia yang selama ini nggak bisa disentuh; aku bisa menyentuhnya dengan bibirku.
ooOoo
Komentar
0 comments