๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku mulai cemas nggak karuan. Padahal, ketahuan nggak mengerjakan PR saja mungkin nggak pernah sampai merengek begini. “Gue harus gimana dong?” tanyaku, kebingungan.
Andin sekarang menghela nafas lelah, seolah daritadi kita bicara panjang lebar tapi nggak ada hasil. Padahal aku baru bilang satu kalimat yang kemarin Rexi teriakan di depanku –tapi dengan suara yang amat pelan. “Lo nanya gue…,” kata-katanya kedengaran nggak berperasaan. “Tanya perasaan lo sendiri,”
Aku melirik Genta, cukup terlihat ingin mengadu karena lagi-lagi Andin kelihatan nggak mau bantu. “Lo nggak ngimpi kan?” tanya dia.
Kenapa ya bicara dengan dua orang sahabat belakangan ini jadi sia-sia? Seolah kesalahanku nggak termaafkan. Satu lagi, tatapan Genta itu kok kayak melecehkan aku? Ujung-ujungnya aku merasa terusir lagi dari mereka memperlakukan aku seperti gadis penjual korek api yang nggak boleh pulang sebelum jualannya habis. Tapi, aku kesasar di lorong yang lurus saat menemukan Rexi menuju tepat ke arahku dan balik badan sebelum dia melihatku.
Aku sadar sikap aku menggelikan untuk diriku sendiri –atau lebih konyol lagi jika Rexi sempat melihatnya. Seolah kita nggak akan ketemu di tempat lain, latihan drama misalnya. Aku lumayan kaget ternyata dia sudah kembali ke panggung sama Diana. Aku pun duduk di kelompok ‘pengiring’ yang dipakai cuma untuk meramaikan terus melambai bersamaan begitu tirai ditutup –supaya dramanya kelihatan keren gitu. Aku memperhatikannya dengan serius –sadar, Rexi sudah berusaha sejauh ini supaya dia bisa, terlalu sia-sia dia mundur untuk masalah yang…yah bisa dibilang sentimennya sendiri.
Kelihatannya setelah Rexi bilang sesuatu yang mencengangkan, giliran dia yang belagak lupa. Dia mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang kemudian ia lemparkan ke dalam tas sebelum dia sadar aku sudah berdiri di sampingnya dengan senyum bodoh. Ya, ingat kan saat aku pasang muka tembok mendekati cowok-cowok keren di sekolah demi Coppelius? Seperti itulah ekspresiku yang sekarang, seolah nggak ada masalah. Poker-face.
“Aku senang kamu datang latihan,” kataku.
Dia menarik nafas, sebelum meraih tasnya dan menyandangnya. “Nggak ada hubungannya sama kamu kok,” kata dia, menatap ke segala arah, kecuali wajahku. “Saya datang atau nggak datang, sebenarnya juga nggak ada hubungannya sama kamu,”
Aku mengernyit. Dan tiba-tiba seseorang menghampiri kami.
“El!” Diana memanggilku, dengan nafas tersengal, ternyata ia baru berlari dari panggung hanya untuk mengejarku. “Kamu sibuk nggak hari ini?”
“Nggak, kenapa?” tanyaku, sejenak membiarkan Rexi berusaha mengabaikanku meskipun kenyataannya kakinya masih berdiri di situ seolah masih menunggu sesuatu dariku. Aku, toh, juga nggak punya kata-kata lagi jika dia memang kelihatan nggak mau bicara.
“Kita ke tempat sewa kostum yuk,” ajaknya. “Kamu ditinggal sama yang lain. Yah…kamu tau sendiri mereka masih mempermasalahkan asal muasal aku bisa main….”
“Emang ada? Bukannya kostum bikin sendiri?” tanyaku.
Diana menggeleng-geleng. “Kalau dibikin bisa lama,” jelasnya. “Kamu bisa temenin aku kan?”
Aku mengangguk, lalu Diana menoleh ke Rexi yang pura-pura nggak ada. “Kamu ikut nggak?” tanya dia. “Bukannya kamu juga mau cari kostum?”
Rexi nggak langsung jawab –dia malah menatapku sebelum akhirnya mengangguk. Lalu terpaksa bilang sama supirnya yang menunggu di depan supaya pergi duluan. Sementara aku berpikir, aku, Diana dan Rexi komposisi yang aneh pergi bertiga saja. Jadi sekuat tenaga aku menyeret Andin yang harusnya sudah pulang. Tapi, jadinya semakin ngawur karena Rexi tetap jadi cowok satu-satunya, sehingga dengan memelas aku juga minta Genta ikut walaupun dia sempat kabur. Untung sahabat itu tetap sahabat, sekalipun marahan atau ribut.
Tapi, mungkin ini pertama kalinya buat Rexi jalan kaki sampai ke halte terus naik bus yang penuh sampai harus berdiri. Beberapa kali ia kelihatan gelisah dengan sekitarnya di mana berbagai macam orang kelihatan sama –bersabar oleh bau terik matahari dan sempitnya ruang untuk bernafas.
***
Komentar
0 comments