[Hal.32] [Ch.6] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Malam semakin gelap saja. Seolah matahari nggak akan datang besok pagi. Tapi, sekalipun besok adalah minggu, aku dengan konyolnya berharap bahwa besok adalah Senin –hari ke sekolah, atau mungkin satu hari dapat melompat seperti time slip. Atau berharap, Senin nggak akan datang dan dengan begitu aku nggak akan bertemu Rexi. Tapi, gimana bisa terus berharap seperti itu, sementara kata-katanya terus terngiang seperti kaset rusak, belum lagi ekspresinya ketika dia berteriak di depan wajahku? Marah dan kecewa serta putus asa…

Anjing tetangga sebelah terus-terusan menggonggong. Dan setiap binatang menakutkan itu menggonggong, aku punya firasat kalau dia melihat sesuatu yang manusia nggak bisa melihatnya. Seperti sesosok yang nggak kasat mata dan mungkin mengintai seorang gadis yang tinggal sendiri. Rasanya aku mau melempar anjing itu dengan batu supaya dia diam, supaya aku bisa tidur. Tapi, aku terlalu takut membuka gorden jendela cuma untuk mengintip –karena seseram apapun hantu, ia nggak lebih menakutkan dari rampok atau pemerkosa.

Setelah memeriksa setiap pintu dan jendela, aku kembali duduk di sisi tempat tidur. Menghadap dinding yang penuh dengan lukisan –guratan tanganku sendiri, yang menciptakan sebuah dunia lain di mana harusnya kesendirianku jadi nggak berarti. Lukisan terakhir bisa kuselesaikan walaupun aku nggak terlalu puas dengan hasilnya –sebuah lukisan yang kubuat hanya dengan memandang rel kereta api yang lurus yang biasa kulewati  sebelum naik bus ke sekolah, yang mengasosiasikan sebuah tujuan yang sangat panjang menuju masa depan. Ujung jalan yang tampak seperti ilusi sama halnya dengan masa depan yang belum jelas. Ada sebuah tabir yang menghalangi kita untuk melihat seperti apa sebuah rupa masa depan. Ya, semakin hari, aku semakin mencemaskannya, bila hidup nggak menentu seperti sekarang. Setiap aku memandang lukisan itu, aku selalu sedih.

Semua karya-karyaku hanya koleksi pribadi yang nggak berharga, yang tergeletak  di sudut –tersandar pada dinding lusuh yang dipenuhi kolase foto-foto lama yang mulai suram dimakan waktu. Ada yang menjadi sampah karena nggak kunjung terselesaikan, dan aku membiarkannya karena kecewa –pikiranku membuat segala kesedihan yang tersirat di sana menjadi nyata, nyata untuk dilihat. Sayangnya, hanya aku yang bisa merasakannya dan orang-orang yang nggak mengerti, hanya menganggap guratan itu seperti tulisan cakar ayam anak TK yang nggak terbaca.

Gimana bisa aku menunjukan semua ini ke Rexi? Dia terus-terusan bertanya, lukisan apa yang sedang aku kerjakan. Aku hanya menjawab belakangan terlalu sibuk dan nggak sempat melukis. Rasanya begitu bertolak belakang sama apa yang pernah kukatakan dengan bangga padanya –aku bisa melakukan banyak hal dalam sehari. Yah, latihan drama itu membuatku terjebak dalam keharusan-keharusan yang sebenarnya bisa saja aku tinggalkan. Namun, seolah ada yang merantai kakiku untuk nggakpeduli. Harus akuakui, Rexi memang membuat aku duduk di sana sebagai penonton yang selalu gembira saat latihan, lalu membayangkan seperti apa jadinya ‘kerja keras’-ku membawa seorang ‘dewa’ ke pementasan.

Aku telah mengubah banyak hal, seperti seorang pelukis yang memperbaiki hasil karyanya yang gagal dan ia terikat secara emosional dengan apa yang ia kerjakan sampai akhir. Secara teknis, keberadaan Rexi di sanalah yang membuatku larut dalam keingintahuan itu, seperti candu yang nggak bisa berhenti. Seolah kita masuk ke hutan, lalu tersesat di dalamnya. Aku selalu ingin tahu, apa dia bisa? Apa dramanya bakalan sukses? Memang nggak bisa dilepaskan dari kesan pertama yang aku tahu sejak pertama melihat dan mengenalnya, juga mendengar namanya yang booming di sekolah. Rexi dan drama, siapa yang pernah membayangkannya?. Tapi, nyatanya cowok ini selalu ada di sekitarku dan aku nggak tahu, jika menurutnya kita sedekat itu –seperti apa kiranya kita terlihat di cermin kehidupan yang nggak bisa berbohong?

Malam itu aku mimpi. Mimpi tersesat di hutan yang dalam. Tapi, rasanya lebih seperti tersesat di dalam perasaan seseorang dengan labirin-labirin yang rumit. Namun di dalam sana, aku bisa melihat bunga bermekaran di sisi mana pun tanganku menyentuh menelusuri setiap lorong hijau. Hingga pagi hari, aku seolah masih dapat mendengar gema suaranya terakhir aku bicara dengannya. Lalu aku duduk di depan kanvas putih dengan menggenggam kuas. Seperti kerasukan oleh suara yang menawanku hingga Senin yang akutunggu atau yang akuharap nggak pernah datang, mengembalikanku ke sekolah.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments