๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Cowok itu langsung ngacir begitu pulang sekolah. Dia nggak mungkin lupa masih ada latihan beberapa kali lagi.
“Lo berdua kok gitu sama gue?” aku menegur mereka lagi.
Andin menoleh. “Gue nggak peduli ya gimana perasaan lo sama Rexi karena itu bukan urusan gue,” dia ikut-ikutan ketus sekarang, seakan aku satu-satunya yang patut disalahkan atas menghilangnya Rexi dari latihan drama dua hari ini. “Tapi, lo pikir aja sendiri, dikatain begitu di belakang siapa yang nggak sakit hati?”
Rexi kok kekanakan gitu sih?!, aku sendiri juga kesal, belum lagi perasaan takut kalau aku juga disalahkan oleh yang lain…
“Terus gue harus gimana?” tanyaku, bingung dan sedih.
“Tau, ah!” celetuk Andin.
Aku melirik Genta yang diam, yang seolah nggak diizinkan berpendapat sama Andin yang memojokanku. Akhirnya siang ini aku sama sekali nggak berani duduk bareng mereka di kantin saat istirahat siang. Latihan drama pun jadi molor sampai satu jam karena Rexi belum muncul juga sampai seseorang memberitahu kalau dia lihat sendiri Rexi pulang dengan jemputannya. Dengan umpatan dan wajah khawatir dari kru, latihan pun batal lagi.
Besok pagi, wajah Rexi kelihatan kembali nggak bersahabat. Seolah ia kembali menjadi dewa yang nggak tersentuh. Ia melindungi diri dengan tabir yang nggak bisa aku tembus hanya dengan kata maaf. Sehingga aku butuh lebih dari sekedar kata maaf –kejujuran.
“Asal kamu tau, Rexi Adam Prawira nggak cocok ada di sana,” kata dia, dingin, tanpa menatap ke arahku sedikitpun. “Drama nggak cocok untuk Rexi Adam Prawira,”
“Jangan gitu dong…,” aku bertambah gentar aja. “Aku cuma kelepasan ngomong….”
Rexi menoleh, tapi menusuk. “Saya tau kamu,” kata dia, kembali ke lembaran buku yang diabaca –yang jelas bukan black hole itu lagi, kelihatan seperti buku pelajaran. “Kamu tipe yang mau ngelakuin apa aja asalkan misi kamu berhasil. Bahkan sampai mau jilat ludah sendiri,”
“Rexi, aku minta maaf…,”
“Kenapa kamu minta maaf? Kamu benar kok,” kata dia, tersenyum, tapi sinis. Lalu ia berdiri dari kursinya, berhadapan denganku, membuatku semakin takut saja. Takut, kata-kata berikutnya makin menyakitkan…. “Kamu datang ke sini, karena kamu takut pensinya gagal dan semua anggota klub kesenian bakal nyalahin kamu. Dan itu di luar kamu menyadari kamu bisa berpendapat apa aja soal orang di sekitar kamu, seperti kamu menafsirkan mereka dalam kata-kata dan warna. Seolah-olah hanya kamu aja yang punya perasaan terhadap segala sesuatu, tapi saya nggak,”
“Bukan gitu!” bantahku cepat”Aku cuma nggak tau cara ngadapin omongannya Andin soal kita!”
“Emangnya kenapa dengan kita?!” balas dia, lebih cepat lagi,dalam satu satu ketukan tongkat dirigent, “Kenapa kamu kayaknya terganggu banget?! Kamu nggak suka seolah saya ini makhluk aneh yang berkeliaran di sekitar kamu!”
“Bukan gitu, Rexi!” bantahku lagi. “Aku nggak ngerti maksud kamu apa!”
“Kalau bukan karena ngerasa terancam pensinya gagal kamu nggak akan datang ke sini sampai mohon-mohon segala kan?! Apa cuma itu artinya saya buat kamu?!” Rexi berteriak, aku syok.
“Rexi!” aku balas berteriak. “Kenapa kamu ngomongnya ngelantur sih?! Aku nggak ngerti!”
“Saya sayang sama kamu!” teriakan terakhir Rexi membuatku terdiam, dengan mulut menganga dan mata membelalak.
Aku berharap aku salah dengar, tapi belum sanggupaku bersuara untuk bertanya apa maksudnya sekali lagi, Rexi keburu pergi. Biasanya dia pergi dengan marah, dengan sikap menjengkelkan yang seolah nggak menghargai orang, atau meninggalkan bau ‘dreamy’ yang menghanyutkan, tapi kali ini nuansa itu bertambah dengan nada kekecewaan pada suaranya yang bergema di dinding. Sesakit itu aku menyakiti hatinya dengan kata-kata yang bahkan nggak sadar aku ucapkan –hanya untuk mengungkapkan kalau aku…aku sebenarnya terlalu takut jatuh cinta sama seorang Rexi Adam Prawira?
***
Komentar
0 comments