[Hal.30] [Ch.6] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 6 - I Fall Deep

Ellody

“Kemajuan si Rexi kayaknya bagus,”  komentar Andin.

Aku nyengir. “Siapa dulu dong mentornya? Guee…,” kataku, sambil bertolak pinggang dan tiba-tiba seseorang menyenggol sikuku sambil melewatiku.

Rexi, dia datang lagi dengan buku bacaannya yang ngebosenin. Black Hole by Stephen Hawking. Oh-my-God! Dia langsung duduk di kursinya, seolah nggak melakukan sesuatu yang menyinggung.

“Iiis!” aku menggerutu.

“Siapa suruh kamu berdiri di jalan?” celetuk dia.

Andin tertawa, dan aku segera menyeretnya pergi.

“Gue lapar, kantin yuk!” ajakku dan Andin terpaksa ngikut karena aku benar-benar maksa. Kalau Rexi dan bukunya, udah ada di kelas, kita seolah kembali ke jaman TV hitam putih. Kebetulan aku juga lapar.

“Tungguin gue!” dan Genta selalu ketinggalan di belakang.

Hari ini lumayan cerah. Aku punya sepanjang hari ini untuk santai karena latihan drama lagi libur. Beberapa anggota klub kesenian mulai sibuk dengan dekorasi panggung dan pemilihan kostum. Soalnya…pensi kita kurang dari sebulan lagi. semuanya harus diselesaikan tepat waktu. Aku nggak terlalu peduli lagi dengan dramanya. Sejauh ini, nggak ada lagi masalah berarti selain…masalah Rexi yang belum juga merasa pede kalau ditonton ratusan orang nanti. Meskipun nggak pernah mengeluh, tapi dari rautnya yang lemas setiap selesai latihan, dia selalu menyandang beban yang berat yang nggak seharusnya dia pikul.

“Hari ini lo off kan?” tanya Genta padaku.

Aku mengangguk. “Ya, kenapa? Hari ini ke mana?” balasku langsung bersemangat.

“Hm…ke mana ya…,” Andin kelihatan berpikir, tapi aku tahu itu cuma pura-pura dan dia berniat godain aku. “Kita nggak punya rencana ke mana-mana sih, karena lo itu selalu sibuk,”

“Yeeee….gue kan emang sibuk,”  cengirku, mendadak kesal. “Mulai lagi deh nyebelin….”

“Iya deh iya,”  Andin menggerutu. “Gue tau lo sibuk. Sibuk latihan drama, sibuk kerja sambilan, sibuk nulis, sibuk melukis, dan…sibuk sama Rexi,”

“Yah!” seruku, terbahak. “Cemburu sama Rexi!”

“Siapa juga yang cemburu?” cetus Andin, ikutan terbahak dan Genta cuma mengernyit heran. Memang sih nggak ada yang lucu, tapi itu juga pantas diketawain. “Gue heran deh sama lo.”

“Heran kenapa?” sekarang malah aku yang heran, maksudnya Andin apa? Apa lagi sih yang nggak berjalan sesuai keinginan?

“Lo nggak ngerasa aneh gitu?” Andin mulai menatapku serius begitu juga Genta yang menunggu Andin jelasin apa yang dia sebut dengan aneh.

Andin malah menggeleng-geleng. “Gue lupa kalau lo masih anak-anak…,” katanya dengan mengecewakan dan berhenti menatapku serius.

“Ih, Andin, apaan sih?!” omelku sambil mendorong-dorong lengannya.

“Vmur lo berapa?” tanya dia tiba-tiba.

“Bentar lagi tujuh belas tahun,”  jawabku, mendadak bingung. “Kenapa?”

“Pernah jatuh cinta?” tanya dia cepat, menjurus, dan tepat kena kepalaku.

Aku sih tahu yang namanya jatuh cinta tapi…

Andin mendengus. “Pasti nggak pernah,”  kata dia melirik Genta di sebelahnya, terus bertanya ke dia. “Menurut lo El normal nggak sih?”

Genta angkat bahu. “Lo tanya aja sendiri,”  jawabnya angkuh.

Andin ketawa lagi sebelum memandangku dengan serius lagi. “Lo boleh menguasai setiap perasaan di dunia ini,”   katanya dan aku semakin nggak ngerti. “Senang, sedih, benci, kangen dan segala macam, semua itu ada di dalam tulisan dan lukisan lo. Tapi kayaknya ada satu yang nggak pernah lo sadari,”

“Apa?” aku bertambah bingung.

“Cinta,”  jawab Andin segera dan aku terdiam, terhenyak, membisu dan membatu. Dan empat hal itu menjadikanku seperti patung hidup.

Cinta?

“Lo ingat dulu pernah bilang kalau Rexi keren?” tanya dia, lagi-lagi membuatku semakin bingung tapi aku mengangguk pelan, biar Andin meluruskan semuanya, supaya aku ngerti, apa hubungan cinta dengan Rexi –cowok yang aku anggap sebagai…

Ups, sebagai apa?

“Dan dia selalu berada dalam jarak kurang dari satu meter dari lo dua jam lima kali dalam seminggu di klub kesenian,”  Andin melanjutkan. “Dari luar kalian tuh kayaknya lebih dari teman dan kita semua tahu nggak satupun yang pernah ada yang sedekat itu sama Rexi,”

“Terus?”

“Yah, kalau lo normal lu bakal suka sama dia-lah!” kata Genta, dia merobek semua kebingungan itu jadi dua, tapi menimbulkan pertanyaan lain di kepalaku, suka?

“Terus kalian pikir gue nggak normal, gitu?” aku jadi kesal. “Gue sama Rexi?”

Andin mengangguk-angguk sementara Genta diam, dengan santai melahap makan siangnya –bakso dan kuah bening.

Aku jadi ingin tertawa. “Itu nggak mungkin,”  kataku. “Gue tahu yang namanya jatuh cinta walaupun gue belum pernah ngerasain! Gue sama Rexi itu nggak mungkin! Oh-My-God Andin, Genta, gue suka sama Rexi?” aku menggeleng-geleng sambil terbahak lagi. “Dia itu Rexi Adam Prawira,”

Andin dan Genta terdiam.

“Gue nggak mungkin suka sama dialah. Lagian apa?” sambungku. “Levelnya ketinggian buat gue. Nggak kebayang tau gue sama dia tuh dekat trus pacaran dan dia bakal ngatur gue dalam hal sekecil apapun termasuk model rambut. Yang ada buku-buku komik gue bakal diganti sama bukunya Stephen Hawking. Oh-My-God! Mana gue mau?!”

Mereka masih diam. Dan aku perhatikan mereka mulai tegang, seolah baru sadar kekeliruan mereka soal aku atau…ada sesuatu di belakangku.

Seketika aku berbalik, ternyata Rexi sudah ada di sana.

“Memang kenapa kalau saya Rexi Adam Prawira?” tanya dia, suaranya datar namun terdengar ketus.

Sial!, tenggorokanku seperti baru menelan biji salak. Satu kata maaf saja bahkan sulit terucap apalagi meralat kalimatku yang barusan. Terlalu panjang untuk diklarifikasi.

Rexi marah. Dia langsung pergi, tanpa bilang apa-apa lagi. dan aku jadi kesal sama diriku sendiri, harusnya aku nggak mengatakan hal-hal seperti itu lagi!

“Rexi?!” bodohnya aku malah mengejar dia, walaupun aku nggak tahu harus bilang apa. Paling nggak harus minta maaf. Tapi, dia berlari terlalu cepat dan di ujung lorong, dia sempat berhenti untuk membuang sesuatu di tong sampah –buku Black Hole-nya Stephen Hawking. Ternyata, aku benar-benar bikin dia kesal…

Semua ini gara-gara Andin. Kenapa dia ngomong yang nggak-nggak? Aku memang nggak pernah pacaran, bahkan juga belum pernah jatuh cinta. Tapi, aku tahu jatuh cinta itu apa! Mereka bikin aku seolah-olah aku ini bego, nggak peka dan kurang perasaan! Bukannya nggak pernah mimpi punya pacar bahkan aku juga bertanya-tanya seperti apa rasanya punya seseorang yang dekat dengan kita bukan seperti teman atau sahabat, tapi seseorang benar-benar dekat atas dasar rasa ‘suka’. Dan aku nggak pernah membayangkan itu dengan Rexi –Rexi Adam Prawira. Mendengar namanya saja, aku sudah merinding. Anak kelas atas yang orang tuanya menjadi donatur terbesar tiap tahun, dalam satu semester ada lima cewek yang dia tolak dengan ketus sampai nangis –Monalisa termasuk, dan nggak ada yang bisa bergaul sama dia karena intelejensinya terlalu tinggi (?).

Aku… hanya membayangkan seorang cowok biasa yang mungkin mengerti seni –yang mana kriteria Rexi sangat jauh dari itu. Tapi,...

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments