๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Vdah deh, lo diem,” kata gue sambil balas ketawa dan masukin dia ke mobil karena dia mulai ngelantur. Dia masih ketawa nggak jelas saat gue udah di belakang setir dan siap ngantar dia pulang.
Ya, pulang. Rasanya kurang gentleman kalau manfaatin cewek yang mabuk untuk ngilangin sakit kepala yang nusuk ini. Bener-bener deh…kesabaran gue diuji hingga ke titik paling tinggi. Gue nggak ingin kesenangan ini berakhir hanya gara-gara satu malam yang penuh sama nafsu sesaat. Gue masih ingin besok dan besoknya lagi dan seterusnya dia minta jemput dan nungguin kesibukannya selesai hanya untuk bisa dapat kesempatan berdua. Walaupun kesempatan itu sekarang udah ada…
“Kita mau ke mana?” tanya dia.
“Pulang,” jawab gue. “Lo besok kerja kan?”
“Besok Sabtu!” kata dia setengah teriak, lalu ketawa lagi. “Gimana sih? Kok nggak tau? Lo pasti mabuk….”
Sinting nih cewek, pikir gue, mandangin dia ketawa girang kayak anak kecil yang dapat mainan baru. “Yang mabuk itu elo.” kata gue, sambil mutar kunci dan mesinnya nyala.
Dia ketawa makin keras. “Oh, gue lupa! Lo kan rajanya minum,” dia mulai ngelantur lagi. “Minum sebanyak apa juga nggak bakal mabuk,”
“Kata siapa?” balas gue dan kepala gue makin sakit.
Gladys mulai tenang dan mandangin gue selagi gue mastiin tangan-tangannya nggak jahil megang-megang gue sembarangan. Karena cewek mabuk biasanya agresif. “Kenapa lo mandangin gue sampai kayak gitu?” tanya dia, lagi-lagi kayak nantangin gue.
Gue terdiam sebentar. “Gue suka sama lo.” kata gue refleks. “Lo cantik….”
“Menurut lo…cewek mabok itu cantik?” tanya dia, mulai lagi ketawa nggak jelasnya dan gue bikin dia berhenti dengan mendekat, supaya dia sadar kalau dari tadi gue ingin banget sedekat ini. Gladys kembali tenang saat gue membelai kepalanya, ngerapiin rambutnya yang berantakan, supaya gue bisa lihat wajahnya dengan jelas.
“Gimana pun keadaan lo, menurut gue lo tetap cantik,” kata gue pelan, dan gue harap dia nggak mengartikannya sebagai rayuan gombal.
Gladys diam, membalas tatapan gue dan dia ngebiarin gue lebih dekat lagi ke wajahnya. Dia kelihatan nunggu, sementara gue masih ragu-ragu. Nyium cewek yang lagi mabuk? Apa gue nggak bakal ditendang? Gue mulai prasangka buruk dalam sesaat, tapi tangan Gladys mulai membelai wajah gue. Dan dia tersenyum lagi, sebelum akhirnya gue yakin nyentuh dia dengan satu ciuman.
Gue hanya berharap satu ciuman yang bisa mengubah semua yang ada di antara kami. Satu ciuman yang mengungkapkan semua yang gue rasain ke dia, supaya dia tahu kalau dia lebih dari sekedar yang gue inginkan. Dan gue harap, itu adalah ciuman terbaik yang pernah dia rasain…
“Ferre…,” dia berbisik di telinga gue manja, saat gue memeluk dia erat. Akhirnya gue dapetin perasaan itu –perasaan tenang dan lega kalau akhirnya kita bisa menjadi sesuatu.
“Hm…,” sahut gue pelan, sambil mengelus puncak kepalanya di bahu gue. Lalu gue lepasin dia sebentar untuk perhatiin apa yang mau dia bilang ke gue.
“Lo nggak boleh lagi…kayak orang bengong gitu…,” katanya. “Kalau lo punya masalah, lo bisa bilang ke gue….”
Gue ngangguk, ternyata dia penuhin keinginan gue yang ingin diperhatiin banget sama dia.
“Gue nggak mau ngelihat lo murung kayak tadi…,” ucap dia, dan mudah-mudahan dia sadar.
“Iya…,” kata gue pelan, tanpa ragu mengulangi ciuman itu lagi. Perlahan gue terbawa karena dia nggak nolak.
Si cupid kembali melancarkan serangan panah asmaranya ke jantung gue, ke jantung Gladys juga. Bertubi-tubi sampai gue hilang kesadaran dan cewek yang bikin gue jatuh cinta setengah mati duduk di pangkuan gue. Gue kembali kesasar seperti tadi malam saat gue mimpi Gladys dan kita ngelakuin hal ini –fantasi gue emang gila. Di luar sadar, terus berpegangan erat dan saling membutuhkan. Sakit kepala gue nggak berkurang dan nafas gue pun sesak, dan gue terus mendengar desahan cewek itu di telinga gue. Dia bergerak-gerak kayak orang gila.
“Nggak apa-apa nih di mobil?” gue bertanya ragu-ragu di telinganya, dan dia ngangguk sambil memeluk tubuh gue erat-erat, rapat banget dan nggak ada celah buat gue bergeser. Dengan hati-hati, gue naikin kaos oblongnya pelan-pelan, takut-takut kalau dia mendadak sadar dan protes. Tapi, udah terlambat parnonya kalau tiba-tiba gue jadi urung. Jelas-jelas dia yang mancing…
Kepala gue makin sakit, setelah gue lempar kaos oblongnya ke belakang –sialnya Gladys masih pakai tanktop. Jadinya malah kayak ngupas bawang. Dia merapat lagi ke gue kayak magnet dan besi, gue mulai narik lagi dari ujung tanktopnya dari bawah ke atas.
Tapi, gue harus ingat cewek ini mabuk! Dan ini di mobil! Di parkiran pula! Masa sih?! Gimana kalau tiba-tiba mobil gue diketok?!
“Dys…,” gue mendorong tubuh Gladys yang masih nempelin gue, menghentikan ciuman dia yang mematikan walaupun resikonya sakit kepala gue nggak hilang-hilang.
Itu sih masih belum seberapa kalau dibandingin, disuruh turun sama sekuriti dan dibawa kepos ke polisi. Kayaknya sakit kepala ini masih bisa ditoleransi. Tapi, cewek ini terlalu lunglai. Namanya juga mabuk. Dia masih nempelin gue, nyandar dengan lemas ke gue. Bener, making love sama cewek mabuk itu nggak bakalan enak. Jadi, gue balikin dia ke tempatnya, karena dia udah teler dan ngantuk berat.
Nela kelihatan kaget waktu ngelihat kakaknya terkulai di depan pintu dipapah sama seorang cowok yang agak mabuk. Tapi, dia senyum waktu gue pamitan pulang seolah berterima kasih balikin kakaknya tanpa kekurangan suatu apapun. Mungkin kalau sempat nggak mulangin Gladys, bisa aja adeknya ini berpikiran negatif sama gue. Tapi, udahlah, kepala gue sakit, mata gue ngantuk, dan badan gue lemes. Gue butuh tidur…
ooOoo
Komentar
0 comments