๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Gue cuma tersenyum, berusaha nunjukin kalau gue baik-baik aja. Walaupun hampir gagal karena sebenarnya Gladys juga murung sejak kita pergi dari sana.
“Kita jadi pergi kan?” Gladys ngingatin gue kalau kita bisa pergi berdua setelah ngantar Starla pulang.
Mood gue langsung berubah. Masa bodoh sama halusinasi itu…
“Gue turun bentar ya…,” kata dia sambil ngelepas seatbelt-nya. “Mau ganti baju dulu,”
“Hah?” bukannya dia udah cantik pakai setelan kantoran itu?
Gladys senyum lagi, dan setiap kali gue ngelihatnya, pingin gue cium. Tapi harus sabar. Kalau tiba-tiba gue nyosor dan digampar, semua selesai. Game Over. Akhirnya gue ngizinin dia turun sebentar buat ganti baju di rumahnya. Nggak sampai sepuluh menit, Gladys balik dengan setelan yang dia pakai saat gue jatuh cinta sama dia. Jeans dan kaos oblong, plus sneakers.
Katanya, nggak asyik pergi dugem pakai setelan kantor. Gue bakal kelihatan kayak berondong jalan sama tante-tante. Brondong apaan? Gue sama Gladys seumuran kali! Tapi, setelan kantor itu bikin dia jadi kelihatan tua dan kaku. Padahal, sebenarnya dia tuh gila!
“Lo suka dugem juga?” tanya gueteriak-teriak di telinganya dia di bawah cahaya lampu yang menari-nari dan bikin gue mulai pusing. Udah lama gue nggak turun ke lantai dansa sama seorang cewek yang goyang kayak cacing kepanasan. Gue juga baru tahu kalau Gladys bisa juga bikin gue ikut-ikutan panas, bukan karena minum, tapi karena dia nempel-nempel di sekitar gue.
Mau taruhan berapa kalau mala mini gue bakal ‘selamat’? Udah lama juga gue nggak megang-megang cewek…
“Dibilang suka juga enggak,” dia baru ngejawab saat kita istirahat sambil duduk di meja bartender dan dia pesan minuman. “Kalau gue lagi bosen sama kerjaan, gue sama Tari ke sini,”
“Gue kira lo nggak suka ada di lantai dansa,” gue masih nggak habis pikir, cewek sneakers bisa dengan pede-nya seolah dia adalah cewek paling seksi di antara cewek-cewek yang pakai kemben dan tanktop.
“Tergantung,” kata dia, kelihatan senang saat sloki minumannya datang dan dia neguk minuman itu pelan. “Turunnya sama siapa,”
“Jadi gue mulai istimewa, gitu?” tanya gue, menatap dia serius, berharap dia ngasih jawabannya segera, supaya gue nggak kelamaan deg-degan dan bertanya-tanya, selama ini gue dianggap apa.
Gladys mulai menatap gue serius, nggak ada lagi sikap misterius yang seringkali bikin gue menarik kesimpulan yang salah soal dia. “Gue perhatiin mood lo daritadi siang nggak bagus,” jelasnya. “Gue nggak tahu lo punya masalah apa. Yang jelas…lo aneh….”
Gue terdiam. Nggak mungkin dong, gue cerita masalah begituan sama dia?
“Gue…cuma maubikin lo senang,” kata dia, tenang dan tetap mandangin gue, ada perhatian yang besar banget di matanya.
“Apa kesenangan gue itu penting buat lo?” gue bertanya, membalas tatapannya itu.Gue pastiin kalau malam ini gue nggak bakal ‘selamat’!
***
Komentar
0 comments