๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Dari toilet,” jawab gue ngeles.
Di tempat sewa kostum itu, udah ada beberapa teman Starla yang udah janjian di sekolah tadi. Dengan bangga, dia ngenalin kakaknya yang cantik ke teman-temannya terus mereka menyita Gladys untuk dimintai saran milihin kostum yang pas. Lagi, gue ditinggal sendiri karena nggak ngerti apa-apa. Gue jadi penasaran, Coppelia itu dongeng apa. Dari kecil sampai badan gue segede gini gue cuma tau Putri Tidur, Putri Salju, Putri Cinderella, dan putri-putrian yang lain.
Tapi, gue perhatiin, di tempat yang lumayan besar itu, ada banyak banget kostum yang katanya bisa disewain. Sepertinya, bakal butuh berjam-jam cuma untuk milih kostum. Ya ampun, deketin cewek begini banget ya? Tapi, selama gue nggak punya kesibukan yang lain nggak apa-apa, masalahnya masa gue disuruh nunggu sendiri kayak orang bego?
Bosan, gue mulai ‘menjelajah’, ikut melihat-lihat kostum. Menghilang di antara gantungan baju yang berjejer panjang sampai ke belakang.Sementara cewek-cewek itu nggak kelihatan, tapi suara mereka yang lagi ngomong dan ketawa masih kedengaran. Gue juga mulai melihat-lihat di antara kostum khusus cowok. Tempat ini ternyata punya kostum Jack Sparrow.
“Lo ngapain?” tegur Gladys yang nggak sengaja nemuin gue coba-coba pakai topi bajak laut dan dia ngakak. “Lucu banget!”
Gue nyengir terus bergaya ala gue, supaya dia sadar, pakai kostum aneh pun gue tetap keren. Dia malah ketawa, dan tiba-tiba ngobrak-abrik sesuatu di lemari aksesoris. Dia ngambil sebuah topi warna hijau yang ujungnya lancip lalu dipakain ke gue –topinya Peterpan. Khusus untuk buat dia ketawa makin ngakak –ngetawain gue. Nggak mau kalah, gue pun ngobrak-abrik lemari aksesoris dan nemu sesuatu yang lebih aneh lagi buat gue pakain ke dia –topi Asterix. Dan dia cekakak cekikik pakai topi itu.
Lalu gue nemu lingkaran bunga plastik berwarna putih di dalam lemari. Gue ambil topi Asterix-nya dan menggantinya dengan bandana itu. Gue lihat Gladys tersenyum senang. “Cantik…,” gue mendesis.
“Kak Gladys!” seorang anak cewek manggil dia.
“Iya!” sahut Gladys, yang buru-buru ninggalin gue. “Bentar ya….”
Dasar, nggak bisa ngelihat orang lagi senang apa?, gue ngedumel, dan jadi bete. Tapi, Gladys menengok ke belakang sebelum dia menghilang di antara kostum-kostum yang menggantung dan memenuhi tempat ini. Gue nyusul dia sampai ke tempat di mana tadi dia menghilang, dan yang gue lihat ada seseorang yang berbeda memakai lingkaran bunga itu di kepalanya. Cewek asing itu menengok ke gue –ternyata dia lagi.
“Hei…,” gue ngikutin langkah dia yang jenaka yang tampak berlari ngindarin gue. Dia masuk di antara kostum-kostum itu dan ngumpet entah di mana. Gue nggak ngerti, kenapa dia muncul di saat-saat seperti ini buat mainin gue lagi. Tapi, siapa dia? Kadang-kadang gue ingin tau, tapi gue sama sekali nggak punya petunjuk. Dan yang jelas dia bukan salah satu mantan gue yang bahkan gue nggak ingat namanya. Dia asing, tapi juga akrab.
Celah diantara gantungan baju itu kosong, seolah barusan dia nggak menyelip ke sana buat sembunyi dari gue. Gue bingung, kenapa dia selalu hilang dan timbul dengan cara seperti itu? Deretan baju-baju itu bergerak sedikit, dan gue refleks menoleh ke belakang! Dia lagi ngumpet lagi di antara kostum-kostum pajangan!
“Fer?!” wajah Gladys muncul seketika di depan gue sewaktu gue baru keluar di antara deretan kostum cewek.Dia mengernyit seolah yang gue lakuin barusan itu nggak masuk akal. “Lo bikin gue kaget tau?!”
Yang kaget itu gue! Wajar sih, tapi...gue sadar, yang barusan itu halusinasi gue lagi. Toh, bandana bunga itu masih ada di kepalanya Gladys.
“Lo bosen ya?” tanya dia dan gue cuma tersenyum. “Bentar lagi kelar kok. Tunggu ya?”
Gue mengangguk dan ngebiarin dia kembali sama anak-anak cewek itu. Sementara gue berusaha untuk tetap sadar. Ngucek-ngucek mata gue yang kayaknya mulai keterlaluan. Masa dengan mudahnya gue ngelihat penampakan? Tapi, syukur juga penampakannya bukan cewek rambut panjang baju putih. Bisa-bisa gue teriak sambil kabur.
Cewek manis itu tiba-tiba berdiri di depan gue, lagi. Dan gue terpana, mandangin dia tersenyum ke gue. Selama gue nggak berkedip, gue bisa dengan jelas melihat kalau dia umurnya mungkin nggak lebih dari 16 tahun, pakai seragam putih abu-abu dan dia BUKAN salah satu dari temannya Nela. Tangan gue bergerak, berusaha nyentuh wajahnya dan dia kelihatan nunggu, gue mendekat dan lebih dekat lagi…
Bibirnya bergerak, nyebutin satu kata, tapi gue nggak dengar apa-apa…
“Lo siapa?” gue bertanya, dengan harapan dia bakal menjawab bukan dengan senyuman. Tapi, sebuah kata –sebuah nama.
“Fer, lo ngomong sama siapa?” Gladys muncul lagi, dia berdiri di belakang gue. Seketika perhatian gue teralihkan.
Nggak ada lagi bandana di kepala Gladys. Dan gue sempat nengok ke belakang, cewek misterius itu udah raib lagi. Gladys kelihatan heran sama gue, mungkin dia mengira kalau tingkah gue aneh.
“Nggak kok!” gue langsung ngebantah.
Gladys ngangguk pelan, tapi ragu. Seolah terganggu sama yang dia lihat barusan –gue ngomong sendiri!
Oh no!, apa gue bakal dibilang freak?
Gue gelisah selama perjalanan balik dari tempat sewa kostum itu. Gue nggak bisa berhenti mikirin apa yang gue lihat belakangan ini. Kenapa? Kenapa harus gue yang ngelihat semua itu? Apa hubungan gue sama cewek itu?
***
Komentar
0 comments