[Hal. 9] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 lembar 7

Padang, 20 Oktober 2007…

Aku berada di sana. Tepat di sisinya. Ketika dia kembali menggigil, dan aku bersandar di bahunya sambil berkata ‘kamu akan baik-baik saja’. Dan dia selalu menggeleng. Aku mulai menceritakan apa yang aku pikirkan untuk ditulis. Aku ingin menulis sebuah dongeng tentang dua orang pangeran kembar. Liong mengangguk. Belakangan dia mulai aneh. Sering diam, sering menyendiri dariku. Perlahan, dia mulai asing lagi, sama seperti saat pertama kali aku melihatnya di ruang dosen.

Tapi, hari ini dia kembali berdiri di sana. Menatapku sambil tersenyum dan aku pikir dia akan memberiku inspirasi untuk dongengku. Aku pikir dia menungguku, untuk duduk di sisinya. Tapi, dia hanya menoleh dengan sedih. Lalu, aku berlari secepat yang aku bisa ketika ia mulai merentangkan tangannya. Aku tahu aku bisa menghentikannya sebelum ia menjatuhkan tubuhnya saat angin bertiup. Aku meraih tangannya yang kurus tapi yang aku dapatkan hanyalah sebuah gelang salib yang terlepas darinya tatkala genggamanku tak cukup kuat.

Aku menyaksikan bagaimana angin yang bertiup tidak menerbangkannya menuju cakrawala. Mungkin hanya jiwanya, sedangkan raganya, di bawah sana. Tergeletak…bersimbah darah… dan mati. Dia pun juga meninggalkanku…

Kematian mendadak. Trauma berlebih. Di dalam kepalaku, aku memaksa diri untuk bangun dari mimpi buruk. Tapi, bukan mimpi ketika melihat sendiri Liong telah terbaring dalam peti mati di antara bunga-bunga. Wajahnya telah pucat. Jasadnya dipakaikan jas putih yang bagus menjelang kembali ke tanah. Semua orang berdatangan ke rumah duka, dari sanak keluarga sampai teman-teman kampus yang tampak bersedih.

“Aku ini selalu menjadi beban…," katanya satu kali. "Menyedihkan jika seorang lelaki dilahirkan dengan fisik yang lemah. Kena hujan demam, kena panas sakit kepala. Bisa sampai pingsan pula. Dari kecil aku tidak pernah olahraga. Saat Han bisa berlari sekeliling lapangan aku cuma bisa menonton. Kalau giliran bertengkar sama teman yang lain pasti dia yang pasang badan sampai dipukuli hanya supaya tidak ada yang menyentuhku. Pernah juga aku ditampar, dia mengamuk sampai tangan orang digigitnya”

“Sedekat itu kamu dengannya?" tanyaku.

“Kami hanya berdua. Sejak kecil, sekolah, sampai SMA. Sampai dia punya kekasih juga. Aku seperti pengecut yang senang di dalam rumah. Tak pernah pegang perempuan. Tak pernah juga yang namanya suka-sukaan. Takut karena perempuan itu pendusta. Manis di depan, busuk di belakang. Apalagi kepada orang yang tak bisa diandalkan sepertiku," jelasnya lagi. "Tapi, dia mau mati-matian demi perempuan. Katanya, jangan semua perempuan itu disamakan dengan ibu kami yang sudah pergi dengan lelaki lain dan membuat ayah kami jatuh miskin lalu mati bunuh diri pula. Kalau tidak ada keluarga yang memungut, kami tidak tahu bagaimana rasanya sekolah atau makan enak. Dia bilang aku terlalu manja, dan kita sudah dewasa. Aku tahu itu,  tapi aku hanya mencoba mengingatkan bahwa cinta hanya buat dia binasa sendiri, sementara yang dia cinta akan merasa bangga membuat seorang lelaki binasa di tangannya. Perempuan suka sekali menunjukan kepada semua orang bahwa dia bisa menaklukan seseorang sementara dia tak punya cinta untuk lelaki itu. Dia menjauhiku karena aku adalah penghalang. Lalu dia putuskan untuk pindah.”

“Tidak semua perempuan seperti itu," ujarku. "Banyak juga yang bisa mencintai dengan tulus”

“Ya, tapi di jaman sekarang ini, tidak punya uang, perempuan pasti juga berpikir. Bagaimana mungkin dia bisa menopangkan hidupnya sementara untuk dia sendiri saja begitu sulit. Di Jakarta semua perempuan lebih cinta uang daripada lelaki. Karena itu aku pulang," sambung dia. "Kamu sendiri, kalau ada lelaki yang suka tapi miskin, apa kamu langsung menerima?”

Aku terkejut. Kenapa pertanyaan itu malah ditujukan padaku?

“Walaupun lama di Jakarta, tapi aku tahu adat sini. Tak ada orang tua yang mau anak perempuannya bersuamikan orang melarat," katanya. "Mereka akan memisahkannya. Kalau lelaki itu berpangkat, mau saja mereka bayar uang jemput yang tak sedikit. Puluhan juta pun tidak ke mana. Dari mana uang sebanyak itu kalau tujuan mencari orang kaya dan berpangkat demi terbawa kaya dan berpangkat pula?”

“Ya, tidak semua adat Padang begitu, Liong”

“Kamu tidak suka uangkah?" tanya dia, menatapku lekat-lekat.

“Siapa yang tak butuh uang?" balasku. "Tapi, kalau cinta karena uang itu lain lagi, Liong. Itu bukan cinta. Apa lelaki tidak bisa membedakan?”

“Itu ajaibnya cinta. Seperti racun yang tidak ada penawarnya. Mana bisa dia lihat apa maksud perempuan kalau semua tingkahnya dipalsukan?" balasnya. "Ayahpun juga seperti itu, tak bisa terima dikhianati, menderita sendiri sementara yang dipikirkan bahagia. Dia tidak lihat kami butuh kasih sayang atau perhatian. Adikku menjadi penerus cinta yang tak bisa pupus. Suatu kali dia marah, suatu kali dia berteriak kenapa perempuan itu menyakiti. Tapi, tetap saja dia mencari yang lain karena tak puas sampai tega mempermainkan hati perempuan. Hingga dia lelah sendiri, lalu pergi”

“Mungkin dia belum menemukan apa yang dicari. Tapi, nanti pasti," ujarku, akhirnya. "Akan bertemu seseorang yang mencintainya dengan tulus”

“Ya, semoga saja.”

“Kalau ayah kamu bunuh diri kenapa kamu ingin juga? Kamu tahu ada banyak orang yang akan bersedih karena kematianmu.”

“Aku ini sakit. Tapi, aku diberi umur yang panjang, hanya merasakan penderitaan. Tidak adil bukan?”

“Mati pun tidak mengakhiri penderitaan”

“Memangnya seperti apa kematian yang tidak menderita?”

“Entah. Ada orang yang diambil cepat oleh Tuhan karena orang itu baik, Tuhan iba padanya karena kalau dia hidup lebih lama hanya menambah dosa-dosanya. Ada pula, orang yang diuji dengan rasa sakit yang amat sangat sebagai pembersih dosa-dosanya sebelum meninggal dunia. Ya…tapi, biar Islam atau agama lain, akan melarang bunuh diri”

“Memang siapa yang tahu kehidupan setelah mati?”

“Hidup hanya sekali, Liong…”

“Aku akan terlahir kembali. Tidak akan terpenjara oleh rasa sakit. Kamu… hanya tidak mengerti, bagaimana rasanya menjadi orang yang sakit, menunggu kematian sambil tersiksa. Ditinggalkan dan  dilupakan”

Ucapannya yang terakhir masih terngiang di telingaku. Entah mengapa dadaku menjadi sesak, seakan tahu bagaimana rasanya ditinggalkan dan dilupakan. Tapi,..

Aku pun menjauh dari peti mati. Membiarkan pelayat lain memandang Liong untuk yang terakhir kali sebelum dikremasi. Tapi, saat aku berbalik, aku menemukan ‘Liong’ lain tengah berjalan ke arahku. Wajahnya sama pucatnya dengan Liong yang sudah mati. Langkahnya pelan saat sekitarnya dikosongkan oleh kerabat yang lain yang sengaja memberi ia ruang untuk lewat dan melihat sendiri.

Wajah, mata dan hidung yang serupa. Tubuh yang sama tingginya. Kulit yang sama putihnya. Rambut yang sama lurusnya. Lesung pipi yang sama dalamnya. Mereka seperti sedang bercermin. Tapi,yang satu terbujur kaku, dan yang satu tengah menangis.

“Liong…," suaranya lirih, terdengar seperti tangisan tertahan. Dia tampak ingin memeluk Liong tapi salah seorang pria menariknya kembali agar tak menyentuh jasad itu.

Aku yang sudah berusaha menahan tangis sejak datang, jadi tak berdaya. Aku tidak sadar bahwa aku ikut menangis terisak di dekat lelaki itu. Tidak pernah ada hari semenyedihkan itu sebelumnya dalam hidupku lagi sejak Nazia pergi.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments