[Hal. 19] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

lembar 18

Ubud, 26 April 2010…

‘Aku akan berkata terus terang kepadamu, aku akan panggilkan kembali namamu sebagaimana dahulu pernah aku panggilkan, Zainuddin! Aku akan sudi menanggungkan segenap cobaan yang menimpa diriku itu, asal engkau sudi memaafkan segenap kesalahanku’.

 ‘Maaf? Kau meminta maaf Hayati? Setelah segenap daun kehidupanku kau regas, segenap pucuk pengharapanku kau patahkan, kau minta maaf?’

‘Mengapa engkau telah menjawab sekejam itu kepadaku, Zainuddin? Lekas sekalikah pupus dari pada hatimu keadaan kita? Jangan kau jatuhkan kepadaku hukuman yang begitu ngeri! Kasihanilah seorang perempuan yang ditimpa celaka berganti-ganti ini!"

Ya, demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walau pun kecil, dia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain walau pun bagaimana besarnya."

Mengapa jadi sama seperti ini? Aku tak mengharapkan, betapa pun aku sukakan buku itu, kisahnya terjadi dalam hidupku. Aku akan mati juga seperti Hayati, tapi dalam kesendirian, dalam kehampaan penyesalanku sendiri. Membaca buku ini berulang-ulang, seperti membaca kisahku sendiri. Seperti sebuah ramalan yang pasti akan terjadi.

“Pulanglah ke Padang," kata Uni menyodorkan sebuah amplop berisi uang.

Aku melongo, memandangi amplop putih itu.

“Uni tahu kamu tidak betah di sini. Bukannya mengusir, tapi… Uni tidak ingin melihatmu sedih. Seolah… hanya badanmu saja yang berada di sini, tapi jiwamu entah ke mana," katanya berujar, terlihat amat lunak ekspresi wajahnya yang iba. "Uang ini akan cukup untuk membiayaimu sampai bisa dapat pekerjaan di sana. Untuk menyewa kontrakan sementara… tapi kalau kamu kekurangan, jangan ragu untuk menelpon”

Aku ambil uang itu dari atas meja. Memandanginya dengan rasa syukur. Ya, aku akan kembali ke kampung halamanku yang penuh kenangan. Di sana aku akan menghabiskan semua waktu yang tersisa. Aku  sedikit merasa bersalah kepada Uni karena belum memberitahunya.

Tapi aku sudah tak sabar ingin segera kembali. Kembali kepada semua yang pernah kutinggalkan di kota tercinta. Meskipun semua kenangan buruk juga akan kembali padaku. Terlebih, belum setahun gempa 7.6 SR itu berlalu dan masih menyisakan kesedihan yang sama. Tapi, sepertinya akan ada banyak hal yang berubah di sini.

Suasananya telah berbeda. Entah karena hari ketika ia baru sampai di bandar udara suasananya ramai sekali. Spanduk-spanduk kegiatan promosi pariwisata yang tampaknya tengah digadang-gadangkan oleh pemerintah. Sebuah balapan sepeda berkelas internasional. Banyak orang yang datang untuk melihatnya.

Aku menggeret koperku sambil menyandang tasku yang berat. Rencana hari ini aku akan menginap sementara di rumah kerabat ayah sampai bisa mendapatkan rumah sewa. Aku belum memikirkan sebuah pekerjaan, aku bahkan tidak tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan. Tapi, saat ini aku hidup bagaikan burung yang bebas, hanya saja sebatang kara. Meski ada kerabat, entah mengapa aku merasa kesendirian akan menjadikanku lebih kuat dari yang sebelumnya. Dengan bergantung pada obat-obat yang diberikan dokter, rasanya aku masih mampu untuk mempertahankan hidupku sampai kaki ini tak bisa berjalan lagi.

“Zuri?!”

Samar-samar kudengar namaku disebut. Aku melihat ke sekitarku, mencari asal suara itu hingga aku menemukan seseorang tengah mendekat kemari dan ia tersenyum.

“Attar?" aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Attar, sahabat lamaku. Dia tampak sangat berbeda. Tubuh kurusnya yang dulu sekarang sudah berisi. Rambutnya juga sudah tidak kepanjangan, dipangkas rapi. Hanya gaya berpakaiannya masih sama. Antara kemeja dan jeans, serta ransel yang sudah jadi ciri khas-nya. Aku sudah tidak pernah melihatnya lagi semenjak wisuda.

“Kamu baru mendarat juga?" tanya Attar, kelihatan senang melihatku.

Aku mengangguk. "Aku baru kembali dari Ubud setelah berbulan-bulan sejak… gempa," jelasku. "Aku ingin pulang. Tidak betah di sana terlalu lama”

“Kamu bekerja di mana?" tanya Attar padaku dan aku tidak tahu harus menjawab apa.

Pekerjaan? Entah…. Rasanya seperti ditanyai sebuah teka-teki silang dan tak pernah ada jawaban yang benar. Itulah yang ingin kumiliki sekarang. Tapi,…

Aku hanya angkat bahu sambil tersenyum lebar. "Aku sedang mencari yang cocok," jelasku.

“Wah, kebetulan, aku butuh teman," kata Attar tiba-tiba menjadi begitu bersemangat. "Kamu sudah tahu tentang Tour de Singkarak?”

Aku menoleh ke belakang, tepat kea rah spanduk yang langsung terlihat dari pintu kedatangan.

“Ini adalah balap sepeda kelas internasional. Ada banyak atlit sepeda dari banyak negara yang ikut," Attar menjelaskan. "Ini program yang tetap dilanjutkan dari tahun kemarin untuk kembali membangkitkan Sumatera Barat setelah gempa tahun lalu. Ini balapan kedua, satu-satunya di Indonesia dan diakui di dunia seperti Tour de France. Kamu tahu Tour de France, Zuri!”

Aku menggeleng. Tapi, kedengarannya itu menarik.

Aku hanya mengangguk-angguk. “Jadi… apa yang harus kulakukan?" tanyaku, antara berminat dan tidak. Pekerjaan belum ada dalam rencanaku begitu pulang. Tapi, sebenarnya apa hubungan Attar dengan balap sepeda? Apa yang dia kerjakan? Lagaknya seperti orang sibuk, pegang telepon genggam dua di tangannya.

“Nanti aku beritahu," ujarnya. "Aku juga baru sampai dari Jakarta bersama rekan yang lain”

Aku memperhatikan sekitarnya tampak sekelompok orang tengah berdiri di satu titik. Ada yang mengobrol, ada yang sibuk sendiri memainkan telepon genggam. Dengan barang bawaan yang banyak sekali, mereka tampak sedang menunggu. Mungkin jemputan yang sudah disiapkan.

“Kamu menetap di Jakarta sekarang?" tanyaku padanya.

Attar  mengangguk. "Ya," jawabnya. "Di sana kehidupannya lebih maju. Daripada di Padang, masih sulit berkembang. Apalagi sekarang… banyak orang yang takut berwisata ke Padang karena rawan bencana. Kamu sendiri, sudah enak-enak di Bali, mengapa pulang?”

“Aku tidak betah…," jawabkku singkat dan Attar mengangguk-angguk.

“Kamu tidak punya jemputan?" tanya Attar kemudian.

Aku menggeleng. Aku tahu Attar tampak menawarkan bantuan untukku dengan menumpang bus yang sama dengan bus khusus rombongan panitia lomba balap sepeda itu. Mereka orang-orang dari Jakarta. Gaya dan penampilan mereka berbeda. Selama ini aku selalu beranggapan bahwa semua orang yang berasal dari ibu kota adalah orang-orang berduit. Pergaulan mereka lebih luas dan senang saja mendengar mereka berbicara satu sama lain di bus. Bahasa mereka enak didengar dan tidak kampungan. Aku ibarat katak yang baru keluar dari tempurung.

Attar juga berbicara seperti mereka. Ah, aku lupa, Attar sebenarnya berasal dari Bandung karena ibunya orang Sunda. Keturunan Minang dia dapatkan dari ayahnya. Bahkan juga Attar menghabiskan masa SD hingga SMA-nya di Bandung. Hanya pada saat kuliah saja ia memutuskan tinggal di kampung halaman ayahnya. Dulu, Attar pernah bercerita bahwa ia jatuh cinta dengan pemandangan alam di Sumatera Barat yang tiada duanya –danau-danaunya, bukit-bukitnya serta situs bersejarahnya. Aku saja yang orang Minang tak pernah begitu bangga dengan tanah asalku.

Sepanjang perjalanan, kami mengobrol tentang perubahan yang terjadi selama kami tidak bertemu. Aneh rasanya, padahal belum genap setahun kami tidak berjumpa. Tapi, rasanya seperti sudah bertahun-tahun  kami tak sedekat ini. Mungkin karena dulu, sejak masuk kuliah kami sangat jarang tidak terlihat bersama walaupun Attar sudah punya kekasih –aku baru sadar sekarang bahwa dibandingkan dengan Asha, Attar lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus denganku; tahu sendiri Asha juga punya teman-teman perempuan yang membuatnya sibuk. Attar adalah satu-satunya temanku saat itu, sebelum Liong hadir lalu Han menggantikannya.

Entah mengapa aku ingat bahwa sejak Liong meninggal, aku hampir tak pernah bicara dengan Attar. Aku sengaja mengabaikannya untuk membuat perasaanku jadi lebih baik. Tapi, sebenarnya aku tersiksa. Aku hampir saja mengungkapkan perasaanku pada Attar bila saja Han tidak muncul tiba-tiba dan mengalihkan semua perhatianku padanya.

Ya, sebenarnya aku merasa sangat tidak enak pada Attar saat ini. Aku menjauhinya hanya karena dia pernah melarangku untuk tidak pergi dengan Han. Dia orang pertama yang melihat bahwa aku sedang berjalan menuju kehancuranku sendiri. Aku mengingatnya, ketika dia menarik tanganku sambil berkata, “Jangan buta, Zuri! Berteman saja tidak apa-apa, tapi kalau soal cinta kamu harus berpikir ratusan kali!”.

Aku tidak mendengarkannya karena bagiku dia tidak pantas mencampuri urusanku. Sama seperti aku yang tak pernah memintanya meninggalkan Asha walaupun aku tahu Asha seringkali membohonginya. Aku tak pernah berpendapat karena aku tahu Attar bahkan rela mati demi gadis itu. Kupikir itu adil dan sejak saat itu kami tak benar-benar bicara lagi. Hanya pada saat wisuda, kami saling mengucapkan selamat lalu balik kanan mengambil arah berlawanan.

Tapi, hari ini, perselisihan itu seakan sudah tak berarti lagi. Begitu dia tahu bahwa aku dan Han sudah berakhir, dia tidak berkomentar. Dia tetap tersenyum untuk selanjutnya membicarakan hal yang lain. Untuk sesaat kami tidak pernah mengungkit masa lalu.

Bersyukur, aku dapat menginap di hotel yang sama dengan rombongan itu, sehingga tidak perlu pulang ke kerabat ayah untuk sementara. Katanya aku bisa menjadi pendamping atlet di dalam tim selama balapan. Sepertinya itu menyenangkan dan sudah lama aku tidak bersemangat seperti ini. Aku akan berinteraksi dengan banyak orang dan berada di sebuah keramaian yang besar saat dunia menyaksikan balapan itu.

Tapi, ketika kutatap kembali diriku di cermin, aku sadar aku tak akan bisa ke mana-mana. Membayangkan jauhnya perjalanan, teriknya matahari dan padatnya seminggu ke depan, aku seolah melihatnya hanya sebagai sebuah ilusi. Itu-tak-akan-terjadi.

Aku  terdiam sangat lama memandang wajahku yang pucat tak lama setelah menyisir rambut, setumpuk helaian rambut tersangkut dengan begitu mudahnya. Banyak sekali.

Seekor kupu-kupu dengan warna sayap seperti lukisan sepasang mata seram menempel di pinggir cermin –sebelah sayapnya terkoyak. Dan serbuk halus dari sayapnya berjatuhan. Orang Minang menyebutnya Ramo ramo dan meyakini, kehadirannya adalah sebuah pertanda kematian. Entah bagaimana ia bisa masuk ke sebuah kamar hotel yang jendelanya tak pernah dibuka.

Aku terpana memandangnya, saat tiba-tiba kurasakan sakit kepala yang amat sangat seakan ingin membunuhku dalam detik-detik itu. Tanganku menggigil mencoba meraih tempat berpegangan agar dapat berdiri kembali, tapi aku tahu aku tak akan bisa. Dalam sadarku, aku merasa tubuhku terpecah menjadi serpihan begitu terhempas ke lantai, lalu semuanya gelap.

***

Surat terakhir Hayati untuk Zainuddin, ‘Selamat tinggal Zainuddin, dan biarlah penutup surat ini kuambil perkataan yang paling enak kuucapkan di mulutku dan agaknya entah dengan itu kututup hayatku di samping menyebut kalimat syahadat, yaitu: Aku cinta akan engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenangkan engkau’.

Semalam aku bermimpi. Bermimpi didatangi oleh seseorang yang wajahnya begitu aku rindukan untuk bisa kulihat lagi. Aku tahu ia bukan orang yang aku harapkan karena dia sudah lama pergi. Ia masuk lewat pintu itu, lalu mendekat perlahan ke tempat tidurku. Dengan senyum berlesung pipi yang sangat aku ingat sekali, bukan kepunyaan Han,  tapi Liong. Dia berdiri di sisi tempat tidurku beberapa saat sebelum akhirnya aku tersentak dan terjaga. Rupanya aku telah berada di rumah pesakitan lagi…

***  

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments