[Hal. 18] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar lembar 17 Ubud, 
30 Desember 2009…

Hari terakhir di tahun tragedi ini, menggenapkan sebulan aku tinggal di Ubud bersama Uni dan keluarganya. Karena tak ada lagi rumah yang bisa aku tuju. Sedih rasanya menjadi yatim piatu. Andai saja aku bisa menikmati indahnya persawahan sengkedan Ubud ini bersama mereka… kenapa itu baru terpikirkan olehku sekarang?

Sebenarnya aku tak betah di Ubud. Aku ingin kembali ke Padang. Tapi, aku tak punya uang untuk bertahan hidup di sana sampai mendapatkan pekerjaan. Menyedihkan bukan? Lulusan terbaik sastra Inggris saja begitu susah mendapatkan pekerjaan. Bukannya tidak berusaha, tapi, di Bali sini kalaupun bisa berbahasa Inggris, akan lebih baik menjadi pemandu wisatawan asing. Hanya saja, fisikku tidak kuat untuk berjalan-jalan jauh dan mengatur para tamu rombongan.

Aku terbiasa tinggal di kampung. Makan masakan Padang, buatan ibu pula yang tak akan pernah bisa ditemukan di tempat mana pun. Tidak mengerti dengan adat Bali. Tidak biasa dengan nuansa Hindu yang pekat sekali di rumah Uni. Dupa, sesaji, patung-patung, dan bunga kemboja yang baunya khas. Bukan tak menghargai, aneh saja rasanya shalat di tempat seperti ini. Tapi, aku tak bisa mengatakannya. Tidak enak dengan Bli Made yang baik sekali, juga anak-anaknya yang ramah. Tapi, aku tidak bisa dekat dengan mereka atau mungkin akulah yang tak bisa menghadapi anak kecil. Entah mengapa, padahal mereka keponakanku sendiri, dalam adat Minang, saudara perempuan dari Ibu juga sama seperti ibu sendiri. Tapi, rasanya asing, apalagi melihat mereka mengenakan kebaya yang biasa mereka kenakan untuk pergi ke pura sembahyang.

Orang Padang bilang, ‘tak sebaun’, artinya baunya tidak sama.  Bukan aku menyalahkan agama atau perbedaan. Tapi, itulah yang pasti terjadi, ketika dalam satu rumpun tak sama. Belang-belang rupanya.  Namun bagitu, walau berbeda, tampaknya mereka bahagia. Tentu, kalau tidak sudah pasti Uni pulang dan menyesal telah pergi. Untuk saat ini, dia terlihat bahagia. Dengan suaminya, dengan anak-anaknya… apakah jika aku mengambil jalan yang sama, aku juga akan merasakan bahagia seperti yang aku lihat dengan mata kepalaku sekarang ini? Meskipun dunia ini menentang?

Entah…

***

Uni menceritakan kisahnya. Bagaimana ia bertemu dengan Made. Padahal satu di Indonesia Barat dan satu lagi di Indonesia Tengah. Jauhnya jarak yang mereka tempuh hanya untuk bisa dipertemukan oleh satu ikatan, cinta.

Hari-hari berlalu dalam lamunan tentang masa lalu yang kupunya di Ubud  saat pertama kali datang ke sini bersama Han. Terkadang terpikir jalan kembali kepada Han mengingat orang tuaku sudah tak ada. Aku tak punya siapa-siapa di sampingku jika itu disamakan dengan kekasih. Mungkin karena aku tak pernah mencoba untuk jatuh cinta lagi. Takut. Takut cinta yang baru akan menghapus Han dari benakku. Tapi, di saat yang sama aku ingat semua hal kejam yang kukatakan pada lelaki itu supaya memupus cintanya, sehingga aku kembali menjadi gelisah.

Saat ini, bukan cinta yang pupus, melainkan diriku sendiri. Badanku yang kurus kering dan penyakitan. Makanya aku tidak bisa punya pekerjaan tetap, karena sering sakit kepala sampai-sampai keluar darah dari hidung.  Baru sehari kerja saja, aku sudah minta izin sakit, sampai mundur sendiri karena tidak enak pada salah seorang teman Uni yang menolong mencarikan pekerjaan.

Ada apa dengan diriku? Aku bertanya dengan heran saat kupandangi helaian rambut di telapak tanganku yang banyak sekali. Mereka semua rontok tanpa sebab. Wajahku juga pucat. Rasanya bukan Zuri yang kulihat terpantul di cermin itu. Bayangan itu terlihat begitu sakit dan menderita. Belum sembuh satu penyakit datang lagi sakit yang lain. Tapi, yang paling menyakitkan itu adalah sakit kepala ini. Yang membuatku merintih, sampai berguling-guling di atas tempat tidur menahan sakitnya.

Lalu aku pergi ke tempat satu-satunya yang bisa menolongku. Menemui seorang dokter, awalnya untuk berobat. Sekedar mendapatkan analisa penyakit dan beberapa obat pereda sakit. Tapi, entah mengapa ia memintaku kembali beberapa kali untuk pemeriksaan lanjutan sampai kemudian dilakukan pemindaian MRI, barulah aku tahu apa yang terjadi padaku. Ada sesuatu yang akan membunuhku diam-diam

Apa yang aku lakukan ketika membaca hasil diagnosaku?

Tentu, terkejut, sedih, bingung sekaligus hampa. Aku berharap ini adalah mimpi. Beberapa hari aku tidak keluar dari kamar, mengurung diri, membayangkan masa depan yang tak pernah bisa kujangkau dengan tanganku, dengan usahaku selama ini. Semua itu telah menjadi sia-sia.

Aku sudah tak bermasa depan.

Mengapa Tuhan berikan musibah yang tiada henti padaku? Apakah karena aku dilupakan? Apa karena kesalahan yang pernah aku lakukan dan tak pernah kuingat?

Tidakkah ini terlalu berat bagiku?

***

Aku duduk di depan komputer Uni. Di saat seperti ini aku tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Yang terpikir olehku hanya dia, Han. Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa bertemu dengannya sekali lagi. Meminta maaf, memperbaiki semuanya jika itu masih mungkin. Tak ada salahnya mencoba untuk bicara. Aku pun mulai mengetik sebuah pesan lewat surel untuknya.

Untuk Han,

Apa kabar? Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarmu. Aku bisa tebak, kamu pasti sudah mengenakan seragam serba putih itu dengan stetoskop yang digantung di leher. Pastinya akan banyak pasien yang suka berobat denganmu. Aku pun juga, jika kamu tidak keberatan bertemu denganku, karena ada banyak hal yang ingin aku sampaikan.

Tapi, aku tidak bisa berbasa-basi denganmu bukan? Karena kamu pasti benci denganku, atas apa yang pernah aku ucapkan. Tapi, seperti yang kamu peringatkan, benar aku menyesal dengan keputusanku. Menulis pesan ini, kamu tahu, aku menelan harga diriku, untuk mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas malam itu. Sesungguhnya aku benar-benar tidak ingin mengatakan itu, kalau bukan terpaksa oleh ayahku yang sekarat dan tak mungkin aku tinggalkan. Aku tak punya pilihan. Bayangkanlah, jika kamu berada di posisiku saat itu apa yang kamu lakukan?

Han, kamu tahu, aku sudah kehilangan banyak hal? Aku sudah tak punya rumah untuk pulang, orang tuaku juga sudah pergi. Aku tahu aku tak pantas memohon atas apa yang pernah kubuang dari kehidupanku, tapi bukan begitu yang sebenarnya. Sejak hari itu, aku tak pernah berhenti memikirkanmu, tidak pernah berhenti mencintaimu. Betapa aku merindukanmu sejak kamu pergi. Sudah lama aku ingin mengatakannya, tapi saat ini… aku sudah tak punya banyak waktu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu…

Salam,

Zuri

Sejak surat elektronik itu terkirim, setiap hari aku menengok komputer. Setiap jam, setiap aku ingat. Setiap sujud aku berdoa, setiap nafasku juga. Tapi, balasan itu tak pernah datang. Sia-sia aku membukanya tiap sebentar. Hingga kemudian aku menyerah. Mungkin saja Han tak pernah membacanya, mungkin saja dia sudah tidak menggunakan surel yang lama. Mungkin juga ia sibuk. Tapi, sepertinya alasan kedua lebih tepat.

Semakin hari, semakin aku putus asa. Semakin juga tubuhku lemah. Hanya menunggu sengsara ini berakhir sebelum mati. Jika mati, selesailah sudah. Sekarang, aku jadi mengerti mengapa dulu Liong memutuskan bunuh diri saja daripada menjalani hidupnya dengan perasaan tersiksa.

Setelah hampir satu bulan, aku kembali memeriksa kotak surat elektronikku. Ya sesuai harapan, ada juga balasan yang kunanti dengan sepenuh jiwaku. Berharap sebuah jawaban membahagiakan.

Kepada Zuri,

Aku baik-baik saja. Ya, sudah satu tahun ini aku bertugas di rumah sakit yang ada di Jakarta. Kamu terlalu memujiku, tapi aku tidak seberuntung itu. Menjadi dokter itu tidak mudah.

Aku turut berduka cita atas meninggalnya Ibu dan Bapakmu, aku tidak pernah tahu sebelumnya. Tapi, sepertinya itu bukan urusanku. Kamu sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada tempat pulang selain Bapak dan Ibumu, jika aku mencampakanmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah semuanya kamu putuskan sendiri.

Maafkan aku. Tapi, jika kamu mengatakan semua itu hanya supaya aku kembali lantaran sudah tak ada tempat pulang bagimu, apakah itu adil buatku yang telah kamu hancurkan? Begitu tingginya harapanku kepadamu, begitu rapinya semua rencana yang aku buat atas desakanmu, sudah aku bayangkan bagaimana aku menjagamu nanti, karena kamu sangat berharga untukku. Aku pun juga mencintaimu sebelum kamu sengsarakan aku, sampai aku hampir gegabah seperti Liong karena ternyata yang Liong katakan tentang perempuan benar. Perempuan itu selalu berbuat sesukanya, merasa terluka dibanding siapapun dan suka menjilat ludah sendiri.

Aku pikir kamu berbeda. Tapi, ternyata tak ubahnya menepuk air di dulang, terpecak muka sendiri. Wajah buruk, cermin diretak. Kamu mempertanyakan perasaanku yang sudah mati kepadamu, Zuri? Sudah berapa lama ini? Tak bisakah kamu mencari tempat pulang yang lain selain mempertanyakannya kepadaku?

Bukan aku menyalahkanmu sepenuhnya atas apa yang menimpa kita. Tapi, benar kata ayahmu, hubungan kita hanya berbuah dosa. Dosa bagi agamamu juga agamaku. Aku tak ingin menjadikan kamu yang begitu taat beragama menjadi ternoda oleh cintaku.

Surat itu ia balas dengan kejamnya. Dengan kata-kata tajam yang merobek hati sehingga aku urung untuk membalasnya. Berarti sudah tak ada tempat di sisi yang kuharapkan selama ini. Kembali kupandangi hadiahnya –satu-satunya benda yang berusaha kucari setengah mati di reruntuhan rumah, buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang telah lusuh. 
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments