๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
lembar 16
Padang, 25 Desember 2008…
Sudah kukatakan semuanya. Mungkin tampak tanpa perasaan, ketika ia berulang kali tercengang mendengarkan ucapanku. Aku tahu, betapa kejamnya semua kata yang kulemparkan kepadanya setelah ia menungguku berjam-jam di tempat yang dijanjikan tapi aku tak pernah datang. Tampak penuh harapan, ia melihat ketika aku datang menemuinya. Mungkin untuk terakhir kali…
Akan lebih baik aku membuatnya benci kepadaku untuk menyudahi ini. Aku tahu ia sangat kecewa, lebih-lebih aku yang mengatakan bahwa kami tak akan benar-benar bahagia jika menyakiti hati orang lain , orang tua pula. Jika kita tak direstui, tentu bahagia kita tak akan kekal. Aku katakan padanya, bila mana jika keadaan berubah di antara kami, ke mana aku akan pulang jika aku tak diperbolehkan kembali setelah semua yang aku lakukan? Han sangat marah, hampir-hampir ia membalikan meja di hadapannya sambil berteriak ‘Kamu tidak mempercayaiku?’
Ia kembalikan semua permohonanku yang memaksanya untuk pergi bersama. Semua itu aku yang menginginkan, dan aku pula yang mengelak. Aku yang membahagiakan hatinya, dan aku pula yang hancurkan menjadi kepingan. Sebelum bicara sudah kuperas hati ini sampai tak sakit lagi, dengan begitu baru aku bisa katakan semua yang menyakitkan hatinya.
‘Aku takut berdosa’, kata-kata itu membuat sinar matanya yang merah menyala menjadi meredup seketika. Seakan teringat pada apa yang selama ini berusaha kami abaikan bila terus bersama. Tapi, tak pernah aku katakan padanya bahwa aku terpaksa karena ayahku yang sekarat. Karena itu akan tetap menumbuhkan pengharapannya kepadaku, kepada cinta yang tak pantas ini. Alangkah baiknya bila segalanya dipupus saja sampai tak bersisa, biar saja ia membenciku karena di dunia saja tak bisa bersatu, apalagi di akhirat. Payung yang akan membawa kami ke surga tak sama.
Sebelum pergi, ia mengingatkanku, bahwa cinta ini aku yang putuskan, dan semoga aku tak menyesal. Sungguh, ia tak tahu, bahwa aku sudah merasa menyesal saat aku membiarkan ia melangkah pergi dengan amarah yang ia bawa. Aku memberinya kado Natal tak terlupakan, yaitu perpisahan setelah kupatahkan doa-doa misanya.
Aku hancur saat menyaksikannya menghilang dari pandangan. Dada ini sesak, seakan tak ada udara di sekitarku. Hati ini perih, seperti ditusuk ribuan jarum. Aku berharap Tuhan mengangkatku dari dunia karena pedihnya yang hampir membunuhku, tapi kenyataannya aku masih akan terus hidup untuk menanggung kerinduan yang amat besar kepadanya…
***
Hampir setahun berlalu sejak perpisahan itu. Aku kembali menjadi mahasiswa yang disibukan oleh kegiatan belajar, tugas dan persiapan untuk wisuda : skripsi. Berusaha mengabaikan segala hal yang mungkin membuat jiwaku resah. Menghindari menyendiri dengan bergaul dengan teman-teman sekelas. Untungnya, aku masih bisa menganggap Attar sebagai seorang sahabat dan mulai ikut kegiatan sosial, pelang-merah-an, juga program mahasiswa lainnya.
Meski tak lagi bersama Asha, aku tak perrnah mengambil kesempatan untuk menjadi lebih dari sekedar teman. Aku sudah lupa pernah menyukainya setengah mati. Lagipula seluruh cintaku telah dibawa pergi oleh Han yang mungkin saja sudah menjadi dokter sekarang. Aku tak pernah lagi pergi ke atap, hanya mengembalikan Liong dan Han yang terkadang datang dalam mimpi. Aku merasa melihat kedua orang yang wajahnya serupa itu berdiri di pinggir atap. Tapi, di balik semua yang aku lakukan, ada hal yang berusaha untuk aku musnahkan, perasaan sedih akan cinta yang kandas.
Aku sudah memakai kaca mata sekarang, karena belakangan penglihatanku mulai mengabur dan kepala sering sakit. Terkadang, aku terbangun tengah malam atau bahkan tak bisa tidur karena sakit itu.
Suasana di rumah sudah kembali tenang –dari luarnya. Kembali menjadi anak yang patuh dan rajin tanpa pernah membantah meski tak pernah didikte lagi oleh ayah. Ya, bagaimana ia akan mendikteku lagi sekarang? Fisiknya sudah lemah. Penyakit stroke yang dideritanya itu makin hari makin melemahkan saraf-saraf perasanya hingga sekarang ia harus duduk di kursi roda, mengandalkan bantuan Ibu. Bicara pun ia sudah tak bisa, suaranya sudah tidak jelas.
Aku berusaha menunjukan bahwa semua yang dilakukan orang tuaku adalah demi kebaikanku. Tapi, sesungguhnya aku hanya berusaha terlihat kuat dan tegar di hadapan mereka, agar tak menambah beban. Benar, seperti apapun jalan yang kuambil, penderitaan itu akan sama besarnya, hanya wujudnya saja yang berbeda. Hingga terkadang aku menangis sendiri sambil mengenang cintaku yang telah pergi. Aku sudah tahu, bahwa hari ini akan datang ketika hari aku melepas Han demi kebahagiaan masing-masing.
Seperti biasa, aku menulis. Megungkapkan kesepian, kesedihan dan juga penyesalanku. Namun begitu, tak pernah aku merasa menyesal pernah mencintainya.
***
Hari yang dinanti itu datang juga. Hari ketika kerja kerasku selama tiga setengah tahun ini diumumkan juga. Aku dengan pakaian kebanggaanku, terpanggil ke podium dan mendapatkan apa yang ingin ayah capai selama ini dariku. Gelar cum laude membayar lunas semua usahaku yang mati-matian. Begitu bangganya ibu dan bapak yang datang ke acara itu. Melihat anak mereka mempersembahkan penghargaan itu kepada orang tuanya.
Aku melakukannya dengan sangat baik. Sangat baik, hingga tak kelihatan celahnya. Mungkin, jika masih bersama Han, belum tentu aku bisa menjadi lulusan terbaik. Aku tak akan mengutamakan belajar dan ujian, di atas Han. Bukannya menyalahkan, malahan terasa menyedihkan, karena aku mengutamakan belajarku karena tak punya pilihan lain. Aku mendapatkan ini karena paksaan agar tak terus menangisinya.
Tapi, siapa yang tahu tentang apa yang kurasakan? Aku tak bisa berbohong kepada diriku sendiri bahwa aku masih sering menangisinya, menulis tentangnya seakan Han akan membaca semuanya suatu hari. Aku begitu merindukannya. Sampai aku tulis namanya besar-besar di satu lembaran kosong, ada banyak gambar hati dengan tinta merah. Lalu aku kembali tersenyum sendiri, meski hampa, seakan baru jatuh cinta, hingga setetes air mata menetes di sana.
Aku tidak tahu berapa lama waktu yang bergulir dalam tangis di atas kertas sampai tulisan itu luntur. Tapi aku terbangun karena merasa pusing –bukan, tapi sekitarku seakan bergetar. Aku menenangkan diriku, menatap ke langit-langit kamar.
Seisi ruang juga ikut bergetar.
“Gempa?!” aku segera tersadar, sambil berlari keluar kamar teringat kepada dua orang tuaku yang pasti sudah panik lebih dulu, apalagi ayah yang tak bisa apa-apa. "Ayah?! Ibu?!”
Goncangan itu semakin keras. Saat aku sudah berada di ruang tamu.
“Keluar, Zuri! Keluar!” seru Ibu yang tampak mendorong kursi rodanya keluar dari ruang tengah.
Dengan patuh aku segera berlari ke luar rumah, mencari tempat yang lapang, lalu menunggu Ibu yang kepayahan membawa ayah keluar. Goncangan itu telah semakin kencang, menggoyangkan pohon-pohon dan tiang listrik yang hampir rebah. Sehingga aku putuskan untuk kembali ke dalam.
Aku harus membawa mereka keluar!
“Menjauh, Zuri!” seru Ibu sekeras yang ia bisa saat ia terlihat di depan pintu dengan lambaian tangannya, saat goncangan telah berhenti dan tak tahu berapa lama itu. Tapi, goncangan telah meretakan setiap jengkal dinding rumah.
“Ibu?! Ayah?!” jeritku. Lalu terdengar gemuruh hingga aku melihat debu mengepul dari rumah kami yang perlahan dipaksa berlutut sedang mereka masih berada di dalam. "Tidaaaaaaaaak!”
Harusnya aku tidak keluar lebih dulu. Harusnya aku membantu ibu mendorong kursi roda ayah. Harusnya mereka bisa keluar sesaat sebelum rumah kami runtuh. Aku menyaksikan sendiri bagaimana mereka tertimpa dan kemudian menjerit meminta tolong.
Bantuan yang datang terlambat membuatku benar-benar kehilangan mereka…
***
Komentar
0 comments