[Hal. 16] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 

lembar 15

Padang, 22 November 2008…

‘Pergilah dengan lelaki itu, membuat dosa seumur hidup!’. Tak bisa aku lupakan kata-kata itu. Siapa manusia yang ingin membuat dosa dengan sengaja bila hidupnya saja bernafaskan dengan doa? Perasaanku mencoba mengingkarinya, tapi pikiran  aku tahu itu benar. Keduanya tak pernah sejalan lagi. Tak pernah aku merasa begitu bingung akan hidup, akan masa depan, semua itu berganti menjadi amarah yang tak menentu. Ibarat kereta api yang lewat di atas rel yang renggang, lalu berhenti mendadak, hingga semua gerbongnya bertabrakan berdesakan ke depan dan terbalik.

Aku takut. Seakan berlari sejauh-jauhnya dikejar hewan buas, melewati hutan belantara, tapi diujung malah bertemu dengan jurang. Tak melompat, aku akan dimakan. Melompat, aku akan mati juga. Mengapa Tuhan anugrahkan aku cinta yang mendatangkan kesedihan bila bahagia yang paling indah di dunia ini hanyalah bahagia cinta? Aku bukan menyesal mencintai Han dan tak pernah berani aku berandai-andai Han tak berdoa atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Karena barangkali, jika dia seiman pun belum tentu Tuhan berikan cinta kepada kami. Aku tidak akan bisa membayangkan bila mana bukan dia, yang Cina dan penganut Katolik membuatku jatuh cinta. Justru karena berbedalah, Tuhan memberikan cinta ini, bukan? Penguji kesetiaan. Penguji Iman.

Jika benar, Tuhan tak pernah memberikan cobaan yang berat lebih dari yang bisa ditanggung oleh umat-Nya, apakah ini tak berlebihan? Aku tidak dapat menanggungnya lebih lama. Bila sebuah pembebasan telah disiapkan Tuhan di penghujung jalan, seperti apakah akhir dari rasa tersiksa ini?

Kematian? Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan?

***

“Apa?" Han menatapku tak percaya, akan apa yang baru saja kusampaikan padanya.

Aku mengangguk dengan putus asa. “Aku tidak bisa hidup seperti ini, Han …," pintaku, memegangi lengan baju Han sambil tertunduk, mengalirkan semua air mataku turun, pecah di atas tanah. "Apa yang harus aku lakukan kalau bukan lari? Aku sudah muak tidak bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan. Bukankah aku sudah bisa memutuskan sendiri ke mana aku ingin melangkah? Apa gunanya aku tumbuh, jika segala hal untuk diriku sendiri bukan aku yang putuskan?”

“Iya, aku mengerti. Tapi, ini akan membuat kita jadi makin bersalah…," ujarnya.

“Kita jatuh cinta saja itu sudah salah!” tegasku membuat Han tercekat. "Tapi, mau bagaimana lagi? Atau kamu ingin kita mengakhirinya saja daripada takut pada salah itu? Kamu bilang Tuhan yang berikan kita cinta… kenapa tidak kita perjuangkan?”

“Aku pasti perjuangkan kamu, Zuri. Tapi, keputusan yang kamu ambil bukan jalan keluar. Hanya membuat orang tua kamu semakin marah padaku. Sebenarnya orang tuamu bukannya benci padaku. Kita hanya perlu memikirkan semuanya baik-baik, untuk menunjukan bahwa kita benar-benar…bukan sekedar cinta-cintaan yang bermuka manis”

“Aku dipaksa berpisah denganmu!” teriakku, menarik lengan bajunya sekali sentak. "Tak ada jalan lain! Aku tidak mau, kamu tahu itu! Karena itu… kita pergi saja! Aku sudah tidak peduli!”

Han  terdiam amat lama. Menatapku, memperhatikan setetes demi setetes air mata yang mengalir di pipiku yang panas. Lalu ia pakai kedua tangannya untuk menghapus air mataku.

“Aku tidak ingin melihat kamu menangis…," katanya, pelan, dengan sedihnya, sampai ia sendiri tidak tahu harus berkata. "Aku tidak ingin kamu tersiksa…”

Aku kembali tertunduk, tanpa melepaskan lengan baju yang ia genggam dengan gemetar.

“Tapi, aku sendiri… bahkan tidak tahu lagi… ," katanya, tampak bingung. "Karena… apapun jalan yang kita ambil, kita akan sama-sama menderita”

“Kalau tahu begitu juga, kenapa tidak pergi saja kalau semua pilihan akhirnya sama? Menderita?" aku kembali mendesaknya. "Tapi, bersama sudah menderita, lebih menderita lagi berpisah. Kalau bersama, kita masih bisa bahagia. Daripada tidak? Aku bisa mati…”

“Zuri…”

“Kamu bilang di Singapura, tak akan ada yang peduli ras atau agama… kalau di sana kita bisa hidup, kenapa tidak?”

“Benar, tapi…”

“Kalau begitu, ayo kita pergi ke sana. Aku tak ingin berubah pikiran karena keraguanmu…”

Akhirnya, Han mengangguk. Walaupun, ia masih berusaha memikirkan jalan lain selain dari pergi, kabur, membawaku dengan jalan yang menjadi pantangannya. Tapi, ia tidak bisa menolakku. Cinta ini membuat kami hampir putus asa. Sedang ia sendiri juga tak kuasa harus berpisah, jika itu keputusan paling baik bagi kami? Rasanya aku mengerti kenapa akhirnya Uni memutuskan untuk pergi dari rumah.

Han memelukku dengan erat, beberapa saat sebelum ia lepaskan untuk mengatakan keputusannya juga. "Kita perlu menyiapkan banyak hal untuk pergi. Untuk sementara kita ke Jakarta dulu," ujarnya. "Kamu harus mengurus paspor, visa dan yang lainnya juga. Tapi, aku bisa mencarikan orang untuk mengurus semuanya nanti…”

Aku mengangguk. Apapun itu yang terbaik yang bisa dilakukan saat ini, aku akan mengatakan iya. Setuju saja, asal ia bisa segera pergi dari kota kelahiranku ini. Aku hanya perlu pulang sebentar, mengemasi semua baju dan pergi. Awalnya tidak terlalu sulit.

Tekadku sudah tak terpatahkan lagi, saat aku mengumpulkan pakaian dan memasukannya dengan tergesa-gesa ke dalam tas. Dengan rasa bersalah yang menyumbat di tenggorokan, aku melangkah keluar kamar dengan sangat pelan. Melewati ruang tengah tempat biasa ayah menonton TV sambil bersantai di sofa. Aku dapat melihat kepalanya tersandar di sana dan TV menayangkan berita politik yang biasa ia tonton setiap malam.

Ibu tidak terlihat. Biasanya sibuk mengurus mesin cuci di belakang, mengemasi pakaian yang ingin dijemur esok pagi.

Di depan pintu, aku sempat terdiam beberapa saat, memandang ayah yang tampak tak sadar bahwa aku hendak keluar membawa satu tas besar dengan mengendap-endap. Tapi, beberapa saat kemudian aku sadar ada yang aneh dengan ayah yang bergeming. Takut-takut, aku melepaskan tasku dengan pelahan dari genggaman, lalu menghampirinya untuk melihat betapa tenangnya ia sampai tak mendengar suaraku membuka pintu.

“Ayah?" seketika aku histeris menemukan ayah menegang, dengan mata membelalak ke langit-langit rumah, sementara tubuhnya gemetaran. Tak pernah aku melihatnya kejang seperti itu. "Ibu!” panggilku keras-keras sehingga Ibu pun menghambur dari belakang.

“Astaghfirullah al’adzim…," ucapnya dan segera menghampiri. Dalam sesaat ia pun menangis sudah di samping ayah yang kejang-kejang.

Bagaimana bisa aku pergi mengikuti keras hati sendiri?

***

Jam delapan malam, seharusnya aku sudah menemui Han di tempat kami berjanji. Tapi, ini sudah jam sepuluh dan aku masih di rumah sakit, menunggu Ayah sadarkan diri setelah serangan stroke yang kambuh. Ya Tuhan, aku bahkan lupa bahwa ayah memang menderita penyakit itu sejak lama.

Bingung, merasa bersalah, dan sedih tak mampu kuungkapkan lewat kata-kata. Melihat ayah terbaring lemah setelah berdebat denganku selama beberapa hari karena persoalan yang sama. Sekarang jelaslah sudah, bahwa aku tak bisa pergi ke mana pun.

“Apa maksud tas di depan pintu?" tanya ibu tiba-tiba, dan jantungku seakan tersambar oleh petir dan kilat bersamaan. "Kamu mau kabur?”

Biasanya ibu selalu lunak. Selalu menyabarkan, tapi kali ini matanya yang biasanya teduh, tampak melotot. Marah dan kecewa, mengetahui satu lagi putrinya berniat meninggalkan rumah hanya karena… karena lelaki.

Aku hanya menjawab dengan tertunduk.

“Kamu sudah tidak waras? Dalam keadaan begini pun kamu masih memikirkan diri sendiri?" tanya dia, hampir menangis lagi.

“Ibu, aku…”

“Pergilah kalau kamu ingin pergi. Kalau kamu tidak peduli, Ibu pun juga tidak akan peduli," cetusnya. "Anggap saja Ibu sudah melempar batu ke dalam laut, hilang sehilang-hilangnya. Seperti itu Nazia, seperti itu juga kamu. Tak usah ibu memiliki anak…”

“Ibu…”

Isakan tangis kembali terdengar, menatapku sedih ia pun menggeleng-geleng. "Setiap malam Ibu berdoa jalan yang terbaik bagi kalian. Ingin kalian  menjadi anak yang baik, shaleh dan berbakti… apa yang salah sehingga jadi begini? Dulu Nazia, sekarang kamu…”

“Maaf, Ibu, aku…”

“Pergilah, jika kamu memang keras hati. Daripada bertengkar dengan ayahmu terus, Ibu tak tenang mendengar kalian  berdebat…," katanya, membuat hatiku semakin teriris. "Ibu ingin ada ketenangan, mengurus ayahmu yang sakit, bukannya makan hati karena tingkah kalian  berdua…”

“Ibu, maafkan aku…”

Tiba-tiba Ibu membalikan badannya. Tampak tak ingin mendengar. Sembari memberiku isyarat untuk diam, ia pun pergi. Kembali masuk ke ruang tempat ayah di rawat.

Hatiku hancur. Aku harus memikirkan semuanya kembali. Segala hal yang mungkin terjadi bila aku pergi…

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments