[Hal. 15] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 lembar 14

Padang, 23 Desember 2008…

Mata ibu selalu mengawasiku bahkan saat aku hanya pergi ke warung internet dengan alasan mencari tugas kuliah. Ia seolah tahu bahwa aku datang ke sana untuk berkirim kabar lewat surel kepada Han,  karena hanya itu satu-satunya penghubung aku dengannya. Di saat aku begitu sedih dan menangis memikirkan kami, aku bisa tersenyum hanya dengan membaca ‘Apa kabar?’ di dalam tulisannya. Aku menjawab, ‘baik-baik saja’, padahal tidak demikian. Aku belum bisa mengatakan bahwa aku amat takut, bila nanti ia kembali ke Padang, aku bahkan tak bisa berjumpa dengannya.

Aku hanya ingin menyampaikan keinginanku untuk bersunting juga suatu hari nanti dengan lelaki pujaanku. Walau aku tahu itu tidak mungkin dan hanyalah sebuah harapan kosong. Tapi, segera aku hapus kembali pesan itu karena tidak mau ia menjadi gelisah di sana. Aku hanya mengharapkan kepulangannya ke sini, menemuiku untuk memastikan bahwa aku tidak sedang menunggu seseorang yang tak akan pernah kembali.

***

Ternyata Han kembali lebih awal. Meskipun perayaan Natal lebih meriah di Singapura daripada di Padang, ia tak peduli. Baginya, tak perlu perayaan yang meriah, asalkan doanya dalam misa tahun ini bisa dikabulkan, yaitu bisa bersama denganku. Aku jadi tak bisa menyampaikan bahwa kesalahan ini telah tercium dan aku telah menyalakan sebuah bom waktu yang menunggu meledak kapanpun. Aku kembalikan salib itu kepadanya, aku pakaikan lagi di tangannya, entah mengapa air mata aku menetes. Aku tahu, aku akan patahkan doa-doanya suatu hari nanti.

Han  selalu berkata, tak perlu takut. Ia memiliki jiwa lelaki pemberani yang pantang mencuri anak gadis orang dari jendela. Ia akan datang sendiri melewati pintu, datang tampak muka dan pergi tampak punggung

Walau ia tahu, sebelum tampak punggung bisa jadi ia diusir dan aku akan dipingit supaya tak bisa bertemu dengannya lagi. Setelah lelah rasanya bersembunyi sementara ia tahu bahwa aku menderita sendiri karena memikirkan cinta ini. Maka ia pun datang ke rumah, untuk memperkenalkan diri, meski aku sendiri tidak yakin.

Tapi, sambutan ayah dan ibu tak seperti yang kubayangkan. Tak ada wajah garang yang langsung mengusirnya karena matanya yang sipit, dan kulitnya yang putih, serta salib yang ia pasang di tanganya yang ia pakai saat bersalaman dengan ibu dan ayah.

“Zuri tidak pernah membawa teman lelakinya ke rumah. Kamu pastilah istimewa buatnya, Han," kata Ibu setelah menaruh secangkir teh hangat di atas meja untuk Han.

“Satu tempat kuliah?" tanya ayah, sikapnya tenang seperti menyambut tamu yang biasa datang ke rumah ini.

Sementara aku duduk di sebelah Han,  jantungku berdetak amat cepat. Mataku mengawasi sekecil apapun perubahan mimik wajah ayah yang bisa saja tiba-tiba menjadi tak senang.

“Tidak. Saya sekolah di Singapura. Kedokteran," jawabnya, seakan predikat itu bisa mengangkat dirinya. Tapi, ini bukan masalah harga diri, toh kenyataannya walau yatim piatu, Han tetaplah berasal dari keluarga yang kaya raya.

“Kamu sekolah di Singapura, bisa bertemu Zuri di Padang, bagaimana ceritanya?" tanya ayah, masih terlihat santai.

“Almarhum kakak saya berteman dengan Zuri," jawab Han yang mulai gentar. Mungkin karena akan membicarakan Liong yang bunuh diri di depanku dan tak mungkin orang tuaku tak akan terganggu.

“Mahasiswa yang melompat di depan Zuri itu?" ibu lah yang terlihat cemas kemudian.

Han  mengangguk. Sedikit tak enak pada mereka. Saat Ibu dan Ayah saling menatap. Mulai memvonis lewat tatapan mereka itu sehingga Han pun menjadi tak nyaman.

“Kamu lelaki yang gagah. Berapa usiamu?" tanya ayah, kembali membikin suasana menjadi normal.

“Saya dua puluh tiga tahun," jawab Han dengan pasti, mulai kembali percaya dirinya.

Ayah tersenyum kepadanya. "Apa yang membuat kamu tertarik dengan Zuri yang biasa saja sementara kamu berasal dari keluarga terpandang, dengan pendidikan yang tinggi pula? Seorang calon dokter lulusan luar negeri, tentu banyak yang suka denganmu”

“Saya tak punya alasan khusus untuk suka pada perempuan, entah apa karena dia cantik atau terpandang," jelas Han,  balas tersenyum. "Cantik itu tak bisa saya miliki, kedudukannya tak berguna bagi saya karena saya pun telah punya itu. Yang saya inginkan hanya hatinya yang telah menjaga abang saya ketika aku tidak ada. Meskipun abang saya akhirnya mengikutkan kehendaknya yang gegabah”

“Kalau begitu, apa kalian  tahu apa yang akan kalian  hadapi?" tanya ayah padanya, menatapku lalu Han yang tampak sudah siap menjawabnya segera.

“Saya tak akan memaksa Zuri mengikuti jalan saya hanya untuk sekedar meminangnya. Ada satu jalan di tengah, ketika perbedaan tak bisa disatukan. Bagi saya, satu-satunya yang bisa dipegang dari seorang lelaki adalah janjinya. Bila ia ingkar janji maka tak bisa ia disebut sebagai lelaki. Maka saya bisa berjanji tidak akan menyia-nyiakan Zuri, kalau tujuan bersama itu adalah untuk bahagia,"

“Bahagia? Bahagia yang seperti apa? Di luar dari semua hal tentang keduniaan, kamu ber-Tuhan, begitu pula dengan Zuri. Mana bisa bersama, bila memanggil Tuhan saja satu dengan nama Jesus dan satu lagi menyebut Allah dalam doanya? Satu ke gereja, satu ke masjid? Bagaimana aku akan menikahkan Zuri dengan lelaki yang tak bisa menjadi imam-nya?”

Han  terdiam. “Kalau begitu, saya akan melakukan apa saja," kata ia akhirnya.

“Jangan sekali-kali kamu berpikir berpindah agama hanya untuk menikahi seorang perempuan. Itu perihal besar yang tak bisa disepelekan. Pikirkanlah sekali lagi. Orang setaat kamu dalam agamamu, menyerahkan kepercayaan itu hanya untuk cinta yang bukan diperuntukan bagimu. Kamu masih muda, nanti menyesal”

“Saya tak akan menyesal. Karena itu aku datang kemari, meminta Zuri baik-baik, menjaga kehormatannya, menjaga agama dan budayanya juga. Saya tak akan merusak itu semua," tegas Han.

“Pernikahan beda agama itu bisa saja disahkan dalam hukum tapi tidak dengan agama. Kamu mengerti apabila tidak disahkan oleh agama, hubungan kalian  hanya berbuah dosa?" pertanyaan itu menohok. "Dan saya juga tidak ingin kamu memaksakan diri lantaran ingin bersama Zuri. Agama itu dijalankan dengan hati dengan keyakinan, bukan cinta kepada manusia, Han ”

“Saya percaya Tuhan akan menunjukan jalannya pada saya," kata Han akhirnya, tampak tak ingin memperpanjang perdebatan. "Kalau saya harus menunggu untuk membuktikan betapa cintanya saya pada Zuri, putri bapak, saya akan menunggu. Saya datang ke sini bukan untuk memaksa bapak menerima saya, tapi memberi tahu bahwa saya adalah lelaki yang mencintai Zuri saat ini dan saya akan melakukan apapun. Hanya itu”

***

Harus diakui, dia lelaki berani. Tampak bertanggungjawab dengan kata-katanya. Memang, lelaki seperti itu sudah jarang ditemui. Sayangnya, Han tetap tak bisa diterima. Bukan ayah membencinya karena berlain agama, tapi demi kebaikanku, ada baiknya hubungan itu tak diteruskan. Mengingat Han orang yang taat pada agamanya, bila ia memutuskan masuk Islam hanya untuk meminangku, nantinya akan menjadi pertentangan di dalam batinnya tentang apa yang sebenarnya ia percayai. Agama itu tak sama dengan jurusan perkuliahan, bila tak suka bisa pindah ke jurusan mana yang diinginkan. Agama itu sakral, pertanggungjawabannya kepada Tuhan, sangsinya berat yaitu dosa. Tak bisa keluar masuk seenaknya.

“Aku cinta dia, ayah…," kataku merengek, di depan ayahnya, tak lama setelah Han pergi membawa semua keyakinannya. “Aku tak pernah minta apa-apa. Semua kemauan ayah aku turuti, aku tak pernah membantah. Tapi, untuk kali ini aku mohon…”

“Memohonlah kepada Allah untuk ampunan, Zuri," kata ayah padanya, yang berpaling dari air mataku. "Jangan kepada ayah, yang tak punya kuasa untuk perasaanmu, juga perasaan lelaki itu. Berdoa lah pada-Nya, minta petunjuk. Kalau kamu memohon restu ayah, tentu kamu tidak dapat. Tak bisa ayah serahkan kamu kepada lelaki yang tak bisa menjadi imam-mu, sekalipun dia menjamin duniamu bahagia, tapi tujuan kita bukan hanya untuk dunia, akhirat juga. Tak ada yang abadi di dunia ini”

“Ini sama saja menggantungku tak bertali…," kataku lagi. "Aku pun bisa mati juga, Ayah…”

“Tak ada orang yang mati karena cinta. Hanya orang yang ingkar yang mau mati karenanya," kata ayahnya, sambil berdiri dari kursinya sementara aku jatuh berlutut di hadapannya. "Jangan paksa ayah untuk mengambil keputusan yang pada akhirnya menderitakan kamu sendiri. Kalau tak juga kamu selesaikan, ayah yang akan tuntaskan”

“Kenapa, Ayah?!” Aku berseru. "Seperti sekarang kah Uni memohon pada Ayah? Berharap ada pengertian sebagai seorang ayah bagi anaknya yang bimbang?”

Sang ayah berbalik. "Jangan coba ungkit semua yang sudah berlalu," tegasnya, suaranya melantang seketika. "Kamu mau mengikuti jejaknya?”

“Kenapa tidak?!” balasku, berurai air mata di pipinya. "Ini permohonan seorang putri pada ayahnya karena cintanya, karena hormatnya, daripada pergi tanpa permisi mengikuti keras hati. Tapi, di mata ayah semuanya salah. Cinta aku ini bukan kesalahan, Ayah. Cinta ini tulus. Dia datangnya dari Tuhan. Tuhan yang kita percaya….”

Ayah masih diam.

“Ayah boleh remehkan Nazia, oleh sebab dia tersisih dalam keluarganya. Tapi sepuluh tahun ia pergi dari rumah, tak pernah pulang. Ayah mengerti kenapa? Karena ia temukan apa yang tak pernah bisa ia temukan di rumah! Tak perlu ia pulang, hanya untuk mendengar keputusannya disalahkan," kataku lagi. "Pengertian, penghargaan dan cinta… tak ada di sini…”

“Jadi kamu juga melawan ayah? Untuk semua yang ayah lakukan demi baikmu, demi namamu, demi masa depanmu, Zuri?”

“Aku bukan melawan ayah… aku hanya…mengatakan apa yang aku rasakan. Karena tak pernah bisa bicara dengan Ayah. Aku tak mengerti kenapa lebih sulitnya meminta kepada ayah, sedang Allah  saja maha pengasih… sedang Allah yang menciptakan kita… sedang yang kita sembah itu hanya Dia…”

“Hentikan, Zuri!” teriaknya, seakan menggetarkan lantai tempat aku menjatuhkan lututku dengan penuh permohonan. "Hanya karena seorang lelaki, kamu rela melawan bapakmu sendiri? Apa Nazia telah meracunimu saat kamu bertemu dengannya?”

“Tidak, Ayah! Tidak ada hubungannya dengan Uni! Semua ini keinginanku, dari hatiku yang paling dalam”

“Lalu apa?!” teriaknya lagi. "Sekolahmu saja belum selesai, mau memikirkan tentang laki-laki pula?! Kalau begitu berhenti saja kuliahmu, pergilah dengan lelaki itu, membuat dosa seumur hidup! Selagi ayah hidup, jangan harap kamu dapatkan restu ayah! Ingat itu!”

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments