[Hal. 14] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Lembar 13

Padang, 21 Oktober 2008…

Di hari kemenangan ini, tak ada yang seindah kemaafan. Aku bersalaman dengan ibu bapak, untuk semua salah yang pernah aku lakukan. Aku ingin menangis sampai rasanya ingin mengakui masih ada kesalahan lain yang tak bisa aku katakan. Aku gamit tangan mereka, lalu aku cium penuh penyesalan, meskipun mereka tak menyadari ada perubahan besar di dalam diriku.

Setelah ini aku pun harus melepas Han pergi jauh. Dia membuatkan aku sebuah alamat surel untuk dapat menghubunginya jika ia sudah berada di sana. Ia tuliskan di bukuku untuk dapat diingat. Meski hanya beberapa bulan saja sampai Natal tiba, selama itu aku pasti akan merindukannya. Namun, aku tak bisa memandang salib itu hanya untuk mengingatnya. Itu adalah sebuah salib, simbol kepercayaan Nasrani. Dosakah jika aku jadikan benda itu amat berharga buatku hanya  karena kepunyaan Han yang aku cintai? Hatiku pun dapat membedakannya, tak akan berpaling dari Tuhan Allah yang selalu kuagungkan. Apakah masih dapat dimaafkan jika benar Tuhan Maha Pemaaf?

***

“Ada tamu, kenapa kamu di dalam saja, Zuri?" tegur Ibu yang menemukanku memandang salib itu, tapi segera kusembunyikan sebelum ibu sadar bahwa benda itu tak biasa. "Ini hari raya. Tak baik bersarang di kamar”

“Maaf, Bu…," ucapku segera memasukan benda itu diam-diam ke saku bajuku lalu ikut keluar  menemui kerabat yang datang bersilaturahmi.

Satu persatu, aku menyalami kerabat dari keluarga ayah. Mereka jauh-jauh datang dari Padang Panjang untuk menemui ayah yang merupakan anak tertua dalam keluarganya. Mamak kepala warislah judulnya dan ia punya banyak kemenakan, salah satunya  Kalani yang mau menikah. Silaturahmi itu juga bermaksud membicarakan pernikahan itu, tata cara dalam agama dan adat.

Tentu Kalani yang usianya hanya dua tahun di atasku ini bahagia. Ia akan segera dipakaikan sunting, bersanding di pelaminan dengan Uda-nya, yang mana impian setiap gadis Minang sekali seumur hidup. Begitu restu didapat, keluarga perempuan akan datang ke rumah si lelaki dengan membawa satu sisir pisang besar dan kue, untuk membicarakan kapan masak hitungan pernikahan putra dan putri mereka. Setelah mahar disepakati, kedua belah pihak akan menyiapkan pesta di rumah masing-masing pada hari yang ditentukan. Pada hari itu, pengantin pria yang disebut Marapulai diantar oleh keluarganya ke rumah sang pengantin wanita Anak Daro untuk bersanding di hadapan tamu undangan. Biasanya menurut adat Minang, setelah menikah mereka akan tinggal di rumah si perempuan.

Aku tentu ingin pula bersunting, dipersunting oleh lelaki pujaannya dan bersanding di pelaminan, diarak keliling kampung. Tapi, jangankan bersunting, aku bahkan tak tahu bagaimana caraku akan dinikahkan dengan seorang Katolik yang tak tahu ijab qabul, ayah juga pasti tak mau menikahkan, tak mungkin juga dengan pemberkatan di gereja oleh pendeta. Jika hulu sudah berbeda, mana mungkin bisa bertemu di ujung? Apalagi dalam Islam, sungguh diharamkan bagi perempuan muslim bersuamikan yang tak seiman, yang mana haram itu adalah dosa.

Setiap memikirkannya aku selalu gamang. Menikah di luar negeri bagi yang berkesanggupan pun, bisa saja. Tapi, hanya pernikahan yang diakui di atas kertas. Dalam kedua agama tetaplah dosa. Sudah pasti keluarga banyak yang tak setuju, terlebih adat Minang. Ia akan terbuang dari keluarga. Tak perlu jauh-jauh, itu sudah terjadi pada kakakku sendiri, yang tersingkir karena kecintaannya kepada seorang Hindu yang sudah memberinya dua putri. Jalan itu sebenarnya buntu, namun mengapa Han tak melihatnya? Mengapa masih juga ia membawaku berjalan ke arah sana?

***

Dua hari raya telah berlalu. Menjelang kembali pada hari semula, pekerjaan rumah sudah menumpuk. Membereskan rumah dan mencuci baju baru yang dipakai seharian yang sekarang bertumpuk di dalam keranjang. Tapi, saking lelah dan malasnya lantaran libur seminggu sebelum kuliah dimulai lagi, aku jadi melupakan sesuatu. Aku tak sadar kehilangan benda berhargaku yang rupanya ditemukan ibu di dalam tumpukan baju yang akan dicuci.

“Ini apa, Zuri?" Ibu menunjukan gelang salib giok yang ia genggam di tangannya. "Dari mana kamu mendapatkan ini?”

Suaranya tercekat. Ibu pasti mengira bahwa aku sudah berpaling pula kepada Tuhan lain yang dilambangkan dengan benda ini. Pikirnya mungkin saja aku telah didoktrin oleh Yayasan Nasrani itu sampai berbalik arah. Tak benar semua itu. Tapi, tahu yang sebenarnya pun juga aku tetap akan disalahkan.

Namun, sampai kapan mau bersembunyi? Jika hubungan kami yang bukan karena nafsu itu bukan kesalahan, meskipun berbeda keyakinan. Tak pernah Han berbuat senonoh kepadaku, tak pernah juga Han menyentuhku selain dari memegang tanganku. Tak pernah pula, Han mempengaruhiku untuk berpindah keyakinan hanya untuk bisa bersama. Han mencintaiku, Han menghargai agamaku dan pendirianku.

Apa yang salah mencintai seorang Katolik di saat setiap manusia di dunia ini dianugrahkan cinta oleh Tuhan-nya? Untuk apa cinta itu ada jika hanya membuat sengsara bagi mereka yang katanya beradat, beragama dan ber-Tuhan? Kalau begitu tak usah saja beradat, beragama, atau ber-Tuhan segala, jika anugrah malah membikin jadi sengsara…

“Lupakan, Zuri. Sebelum bapakmu tahu, rumah ini akan kembali jadi panas," ujar Ibu padaku setengah memohon. "Kita tak bisa lagi hidup di dalamnya, Nak…”

Aku menggeleng. Tak bisa mengiyakan, tak bisa memupus Han begitu saja, semua tak bisa selain dari bertahan di atas janji kami.

“Aku tak punya pilihan, Bu," katanya. "Jikapun aku bisa memilih, tentu aku tidak ingin seperti ini. Tapi, cinta untukku telah memilih datangnya dari Han,  aku tak bisa berbuat apa-apa. Sudah berulang kali aku pikirkan ini, sudah berulang kali aku paksa diriku untuk menolak. Tapi, hati ini tidak bisa, Bu. Hatiku tersiksa… aku sudah sangat terikat dengannya…”

“Ya Allah, Zuri, cobaan apa lagi ini…," Ibu tampak mengelus dada, menjauhiku.

Aku harapan satu-satunya yang tinggal  begitu Nazia putuskan harapan mereka dengan begitu kejamnya. Sekarang aku pun akan membakar tali pengharapan itu sampai ke pangkalnya demi seorang Cina?

Mereka pasti bertanya-tanya. Apa yang salah dalam membesarkanku? Tidak cukupkah ilmu agama dan shalat membendungku dari segala perbuatan musyrik kepada Tuhan dan agamaku? Atau kesetiaanku hanya diuji?

“Pikirkanlah sekali lagi, Nak. Ini tidak hanya tentang kehidupan di dunia, tetapi juga di akhirat. Orang yang tak seiman tentu tidak akan pernah menjadi imam. Ke mana dia akan membawamu nanti?" ibu kembali mengingatkan, dan terpatri dalam kepalaku.

Sebenar apapun cinta ini, keyakinan akan tetap menyalahkannya.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments